
Agung termenung seorang diri, pandangannya jauh ke alam lepas. Pikiran nya terbebani oleh tantangan dari Danuarta. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk nya menanggung rindu, tapi Lima tahun belum tentu cukup baginya untuk mensejajari derajat sang pujaan hati.
Bagaimana jika nanti ia gagal?? Hatinya sudah terlanjur mencintai Latuluna, ia tak kan sanggup jika akhirnya ia harus melihat sang pujaan hati bersanding dengan pria lain.
Meskipun tadi Latuluna sudah berjanji, jika seandainya Agung gagal untuk menepati janji. Maka Latuluna siap mati untuk membuktikan kesucian cinta nya.
Agung menggeleng cepat, ia sangat tidak ingin hal itu terjadi.
KHEM
Agung serta merta langsung menoleh begitu mendengar suara derheman. Rupanya Sonya sudah tiba.
Tadi mereka sempat berpisah di Bandara, mungkin Sonya takut jika ketahuan bersama dengannya, itulah pemikiran si Agung.
" Kok masih keliatan sedih, bukankah kalian baru saja melepaskan rindu" Goda Sonya seraya berdiri bersisian dengan Agung.
" Entahlah, aku takut ..." Agung menghela nafas berat.
" Apa yang kamu takut kan ? "Tanya Sonya.
" Aku takut hari ini adalah hari terakhir kami bersama "
" Jangan gitu ah, aku jadi merinding denger nya " Sonya memukul bahu Agung.
" Aku serius, jika aku gagal nanti untuk bisa memantaskan diri bersanding dengan Latuluna. Maka dia akan menikah dengan pria lain "
" Kamu membuat perjanjian?? " Sonya belum tahu apa yang terjadi sebenarnya di Bandara tadi . Yang ia tahu hanya Danuarta sudah merestui hubungan mereka.
Agung mengiyakan..
" Aku harus sukses setidaknya harus punya pangkat dalam kurun waktu Lima tahun"
" What's??? itu mustahil Gung, Om Danu saja naik jabatan setelah lima belas tahun "
Agung tertunduk, ia semakin insecure dengan dirinya.
Tapi Sonya tidak hilang akal, ia akan membantu Agung agar pria itu bisa lebih dekat dengan nya dan bergantung pada dirinya.
" Aku punya ide " Pungkasnya tiba-tiba, Agung mengangkat wajahnya.
" Ide apa ? "
" Untuk sekarang kamu jangan masuk ke kepolisian dulu. Kamu ikut aku ke tanah seberang"
Agung menautkan kedua alisnya, ia tidak memahami ke mana arah bicara Sonya.
" Di kampung kelahiran ku ada seorang dukun, semoga saja dia masih hidup. Konon dia bisa membantu orang yang datang padanya mencari kekayaan"
" Maksud mu pesugihan?? Tidak, itu berbahaya. Yang ada aku harus mengorbankan keluarga terdekat ku " Agung membantah dengan cepat.
" Ini tidak seperti itu, menurut cerita kita bisa mengorbankan sesuatu yang lain. Kita coba dulu yuk, kalau nggak gitu ? kamu tidak akan bisa menikah dengan Latuluna " Sonya tetap gencar merayu Agung agar mau melakukannya.
Mendengar nama gadis yang dicintainya, Agung jadi goyah. Ia sangat tidak ingin kehilangan Latuluna, cintanya sangat begitu besar kepada gadis tersebut.
Akhirnya Sonya dan Agung pun pergi ke tanah seberang. Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang , Sonya dan Agung pun sampai di kampung halaman.
Di sini Sonya sengaja tidak memberitahu kepada siapapun tentang kedatangannya. Ia langsung menuju ke tengah hutan mencari dukun yang konon katanya bisa membantu Agung mencapai semua tujuannya.
Hutan yang mereka lalui sangat curam dan terjal, sehingga membuat Agung patah semangat dan memilih untuk menyerah. Tapi Sonya tetap memberi semangat kepada Agung agar mereka terus melangkah maju ke depan.
Pada akhirnya mereka tiba juga di bawah bukit batu, yang mana di tengah-tengah bukit tersebut menggantung sebuah pondok kecil terbuat dari bambu.
" Itu rumahnya" Tunjuk Sonya, nafasnya ngos-ngosan karena kecapekan.
Agung mengedarkan pandangannya, ia sama sekali tidak menemukan cara untuk mendekati rumah tersebut.
" Kita kesana naik apa ?" tanya Agung, Sonya tersenyum tipis. Ia mencari sesuatu di dinding batu dengan cara meraba. Setelah menemukan nya, Sonya menarik sebuah benda yang mirip palu namun terbuat dari kayu.
Ia memukul dinding batu tersebut, Agung terperangah karena batu yang dipukul oleh Sonya berbunyi mirip gong.
Tiba-tiba dari atas terlempar sebuah tali yang diikat simpul mirip tangga. Sonya mengajak Agung untuk menaiki tali tersebut, Pria itu pun menurut.
Setibanya di atas rumah itu, Agung melihat seorang wanita berambut panjang beruban. Anehnya meskipun sudah beruban, kulit perempuan itu masih terlihat segar dan kencang.
Yang lebih aneh lagi, wanita itu duduk bersila namun mengambang di udara. Terlihat seperti sulap tapi bukan sihir.
" Kalian susah payah datang kemari, pasti punya tujuan tertentu. Katakan lah, apa keinginan kalian?" Tanya wanita itu dengan suara menggema.
Agung dan Sonya saling berpandangan satu sama lain, Sonya mengangguk memberi tanda disertai senyuman.
" Emmm begini Bu, saya memiliki keinginan. Saya ingin sukses jadi polisi dan mempunyai pangkat yang tinggi " Agung pun mengatakan apa tujuan nya.
Wanita itu manggut-manggut...
" Baiklah, ada tiga syarat yang harus kamu lakukan. Dan untuk menjalankan syarat tersebut, kamu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.. Apa kamu sanggup? " Tanya wanita itu.
Mendengar kata syarat, Agung langsung gemetaran.
" Apa syarat nya Mbah ?" Sonya langsung mendahului, karena ia tidak ingin Agung menggagalkan semuanya.
" Yang pertama, Mandilah kalian didua sumber mata air yang berdampingan. Tapi berbeda jenis, Yang kedua, setiap malam satu suro! Kalian harus menyediakan janin yang berumur tiga bulan dalam keadaan masih segar selama tiga tahun berturut-turut . Yang ke empat, bawalah gentong kecil ke sini, aku akan menyempurnakan hajat kalian agar bisa terlaksana "
Agung meneguk saliva, syarat yang diajukan sangat lah berat. Ia sudah tidak yakin akan sanggup melakukannya.
Berbeda dengan Sonya, Iya justru dengan sangat yakin menyanggupi syarat tersebut.
" Kamu sudah gila ya Sonya" Tegur Agung saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
" Apanya yang gila sih Gung ? "
" Dari mana kita akan dapat janin segar yang berumur tiga bulan? "
" Kalau kita tidak bisa mendapatkan nya, maka kita harus membuat nya " Sonya sudah tahu bahwa semua syarat yang diajukan oleh dukun wanita itu hampir sama.
Karena dulu disaat ia pulang ke Kalimantan, ia pernah mendengar perihal syarat tersebut. Dan juga tempat yang sangat spesifik menurut legenda.
Hal ini lah yang ingin Sonya lakukan, ia akan menjerat Agung agar berhutang budi kepada nya. Sehingga Agung tidak akan mungkin mampu menolak keinginan nya kelak.
Syarat yang pertama sangat mudah di lakukan, karena sekarang sudah banyak tempat wisata yang menyuguhkan pemandian air panas dan juga air dingin yang berdampingan.
Syarat kedua ini yang membuat Agung ragu, tapi Sonya justru dengan santainya mengatakan untuk menjadikan tubuhnya sebagai alat untuk membuat bayi yang menjadi syarat tersebut.
Tentu Agung menolak, selain tidak cinta, Agung sangat pantang untuk menyentuh wanita sebelum menikah.
Tapi Sonya tidak kehilangan akal, ia memberi Agung obat perangsang agar mereka bisa melakukan hubungan intim.