
" Kau.... Kau yang telah membuat Sofi melawan ku. Kau lah yang menjadi penyebab kematiannya, BUKAN AKUUUU!!" Hamid berteriak semakin kehilangan kontrol.
" Sebelum dia mengenal mu, sebelum kau menghasut pikiran nya, Sofi adalah gadis yang baik, dia sangat menghormati ku, menyayangi ku.. Dia gadis kecil kesayangan ku. Tapi kamu... Kamu telah membuat dia berani membantah ku, melawan perkataan ku" Hamid menuding Rifin menggunakan pedangnya.
Meskipun pria bersorban itu terlihat murka, tapi dapat dilihat dari sudut matanya mengalir air mata.
Ia seolah-olah tidak ikhlas adiknya mati, meskipun kebenaran nya Sofi mati ditangan nya sendiri.
" Sebenarnya sikap ego mu yang merubah diri mu Hamid, Sofi tidak pernah berubah. Dia selalu mengatakan padaku bahwa kau sebenarnya orang baik, kau sangat menyayangi nya. Tidak ku sangka, kau tega membu-nuh seorang gadis yang begitu menyayangi mu dan menghormati mu" Perkataan Rifin seperti bensin yang disiram ke dalam api.
" AKU TIDAK MEMBUNUH NYA, AKU HANYA MEMUSNAHKAN PERZINAAN!!" Hamid berteriak kuat sembari menepuk dadanya sendiri.
" Hamid... "
Semua menoleh ke arah sumber suara, nampak Ibu Ucok beserta Ucok berdiri tidak jauh.
" Siapa yang kau bunuh Nak" Bergetar suara seorang Ibu mendengar anak yang disayangi nya telah menghabisi nyawa adiknya sendiri.
Kedatangan Ibu Ucok beserta Ucok adalah disebabkan panggilan dari roh Sofi sendiri. Saat Ucok terlelap, Roh Sofi datang membangunkan nya. Dan ketika Ucok keluar dari kamar, Ibunya yang tengah mengambil minum terheran-heran.
Ia mengikuti Ucok secara diam-diam menuju ke dalam hutan Pinus. Begitu Ibu Ucok mendengar keributan yang lantang, Ia segera berlari mengejar Ucok. Karena takut anaknya nanti kenapa-napa.
" Bu, Mbak Sofi mengajak Ucok kesana " Ucok menunjuk ke tempat pertikaian itu terjadi.
" Jangan bahaya malam-malam Cok, itu orang lagi tengkar " Ibu Ucok menghalangi.
" Tapi disana ada Mbak Sofi Bu " Bantah Ucok.
" Sofi?? " Ibu Ucok tidak percaya, tapi karena Ucok terus meyakinkan. Akhirnya ia mengikuti kemauan Ucok untuk mendekat.
Sehingga ia mendengar semua pengakuan Hamid yang telah membu-nuh Sofi.
Ibu Ucok langsung merasa lemas sekujur badan. Ia tidak pernah mengira jika Hamid bisa sekejam itu kepada Sofi.
" Ibu.. " Hamid tergamak melihat Ibunya sudah berada di tempat ini " Ibu kenapa disini? Bukankah sepatutnya Ibu berada di rumah, istirahat. Ngapain Ibu ada disini?"
" Kamu juga ngapain disini hah?" Ibu Ucok mengalihkan perhatiannya kepada seonggok bangkai manusia yang dipeluk oleh Rifin.
Dan tanpa sengaja Ibu Ucok melihat bagian perut bangkai itu yang terdapat seutas benang terikat. Itu adalah benang yang Ibu Ucok ikat sendiri sejak Sofi masih bayi.
Semakin bertambah dewasa, maka seorang Ibu akan menambah benang tersebut. Dalam setiap ikatan memiliki sampul tersendiri, karena benang itu dipercaya sebagai jimat pelindung bagi seorang anak perempuan.
" Sofi" Tubuh Ibu Ucok menggigil, tungkai kakinya gemetar hingga tak sanggup menopang tubuh nya. Ia terjelopoh ke tanah, memegang tangan yang sudah membusuk.
" Sooofiiiii " Hati Ibu mana yang sanggup melihat putri satu-satunya hanya tersisa sebujur bangkai. Itu pun tanpa kepala dan kaki.
Ibu Ucok bersujud mencium tangan mayat Sofi. Punggungnya bergetar hebat karena isakan yang parau.
Semua orang hanya bisa diam menyaksikan kepedihan seorang Ibu kehilangan putri nya.
" Tega kau Hamid... Tega sekali kau kepada adikmu... Apa salah dia Hamid? Apa salahnya?? " Ibu Ucok meracau, tangisan nya semakin menjadi.
" Ibu, dia seorang pendosa.. Dia berzina Ibu " Hamid masih tetap menuduh Sofi dengan tuduhan tanpa bukti.
Rifin menggeleng cepat.
" Tidak Bi tidak, saya dan Sofi sama sekali tidak melakukan apapun. Saya sangat menjaganya, karena saya sangat mencintai nya Bi"
Ibu Ucok mengangkat wajahnya, dipandang nya Hamid dengan sinar mata nyalang.
" Ibu... " Hamid ingin menghentikan ceramah Ibunya, tapi Ibu Ucok cepat mengangkat Lima jarinya sebagai tanda agar Hamid diam.
" Cukup.. Kau jangan pernah berkata apa-apa lagi, sebelum kesabaran ku habis"
Hamid pun diam mengikuti keinginan sang Ibu.
Ibu Ucok bangkit, ia mengambil alih tubuh Sofi dari pelukan Rifin. Lalu Ibu Ucok menggendong mayat Sofi di atas pinggangnya selayaknya dulu ia menggendong Sofi saat masih kecil.
" Maafkan Ibu Nak, Ibu tidak bisa melindungi mu dari kekejaman Kakak mu " Ibu Ucok membelai leher yang sudah tertebas itu.
" Ibu, Hamid hanya ingin melindungi Agama dan Ajaran Allah" Hamid menimpali karena tidak terima dengan ucapan sang Ibu.
" Diam!! jangan bicara Agama di depan Ibumu. Meskipun Ibumu ini tidak mengenyam pendidikan di pesantren seperti dirimu, tapi Aku..." Ibu Ucok menepuk dadanya sendiri " Aku lebih dulu bersujud kepada Allah dari pada diri mu. Jangan sombong kau Hamid, jangan sombong "
Ucapan yang disampaikan penuh penekanan mengikuti emosi yang tertahan di dada.
" Sekarang pergi kau dari hadapanku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Anggap saja hubungan Ibu dan anak diantara kita sudah berakhir"
Hamid terperangah mendengar ucapan sang Ibu. Harga dirinya seperti terluka karena tidak ada yang sepemahaman dengan nya. Semua orang justru menyalahkan tindakan nya.
Tangan Hamid gemetar sambil memegang pedang nya. Emosinya membuncah di dada. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh sang Ibu yang sejak dulu tidak pernah sekalipun memarahinya.
" Ibu... Apakah Ibu tahu hukuman bagi orang yang mendukung Zina? "
" Oh, jadi kamu akan menganggap Ibu juga seorang pendosa. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Hah? Kau mau membu-nuhku juga ?"
Ibu Ucok semakin menantang, Membuat tangan Hamid semakin gemetaran. Bagas memburu tak tertahan kan.
AAAAAAAAAA
Hamid berteriak kuat mengangkat pedang nya tinggi-tinggi, ia sudah tidak bisa mengontrol emosi nya hingga ingin membu-nuh perempuan yang telah melahirkannya.
Udin tidak tinggal diam, ia meng karate tangan Hamid hingga tulang lengannya patah.
KRATAP
Semua orang yang melihat bagaimana kedua tangan Hamid patah hingga tangannya bengkok menjuntai ke bawah, terbelalak lebar.
AAAAAAAAAAAHHHH
Hamid berteriak kesakitan, tungkai kakinya lemas karena sakit yang luar biasa di tangan nya. Ia bertekuk lutut di hadapan sang Ibu yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
AAAAAAAAHHH
" Ibu... sakiiiiiit" Hamid merintih parau, ia menangis kesakitan.
Ibu Ucok tercengang, semua seperti mimpi. Karena gerakan Udin begitu cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini jasad Sofi sudah lengkap, Hamid mengaku dimana ia mengubur kepala dan kaki sang adik.
Namun karena permintaan Ibunya, Ia tidak dilaporkan kepada polisi. Apa yang terjadi pada Hamid sudah cukup sebagai balasan yang setimpal atas perbuatannya.
Kedua tangannya sudah cacat, setiap saat ia menangis kesakitan. Tidak ada obat yang mampu meredakan rasa sakitnya. Tulang nya sudah menjadi cacat permanen, dengan posisi menggantung.