
Gus Ikram menggeleng lemah, ia menatap Wati yang menundukkan wajahnya.
" Dek, kamu bisa jelaskan bahwa aku tidak berbuat apa-apa sama kamu Dek " Gus Ikram masih meyakini tentang kebenaran dirinya.
" Mbak jangan takut, ayo cepat katakan yang sebenarnya" Udin menyahut dari samping Wati. Ia dan Satrio mengapit Wati agar bisa lebih berani.
Wati meneguk saliva, tangannya mengepal pelan.
" Saya hamil Gus " Wati hanya mampu mengucapkan tiga kalimat, setelah itu ia merasa lehernya tercekik.
Semua orang yang mendengar ucapan Wati langsung riuh. Neng Rabi'ah pingsan di tempat, keadaan semakin kacau balau. Ia segera dibaringkan di kursi pelaminan.
" Dek, kamu tahu apa akibat dari perkataan mu " Gus Ikram mulai emosi.
" Tapi saya jujur Gus " Wati mulai berani mengungkapkan perasaan nya.
" Aku tidak berbuat apa-apa sama kamu dek, Sumpah!! " Gus Ikram mengucapkan sumpah nya dengan nada yang tegas.
" Ikram, jangan sembarangan mengucapkan sumpah nak " Kiai menegur putra nya dengan lembut.
"Tapi Ikram jujur Abah " Ikram meyakinkan Kiai agar percaya kepadanya.
Kiai memalingkan wajahnya kepada Wati. Gadis itu melawan tatapan sang guru disertai air mata.
" Mana ada maling ngaku, penuh penjara, polisi pasti enak kerjaannya" Sindir Satrio.
" Diam kamu !!! " Ikram tidak terima dirinya disindir, apalagi ia benar-benar tidak melakukan apapun kepada Wati.
" Pembohong!! Perempuan itu pembohong Kiai!! Jangan percaya kepada nya !!" Seruan lantang terdengar, semua mengalihkan perhatiannya ke arah datangnya suara.
Nampak Iksan maju, ia naik ke atas pelaminan ditemani oleh beberapa santri putra Lainnya.
Mereka seolah-olah menjadi pelindung bagi putra gurunya.
" Mereka bapak dan anak sama saja Pak Kiai, dari penampilan Bapaknya saja pasti sampean bisa menilai bahwa mereka orang-orang yang tidak bermoral. Anaknya ini masuk pesantren dengan niat agar ia dilihat sebagai gadis baik-baik"
" Dan saya sangat yakin seribu persen, dia mengaku dihamili oleh Gus Ikram supaya bisa menjadi menantu seorang Kiai " Iksan begitu sangat bersemangat menunjuk-nunjuk Wati dan Satrio dengan segala argumen nya.
Udin menggeretakkan gerahamnya, ia melompat naik lalu menghantam perut Iksan sehingga membuat pria itu terdorong ke belakang menabrak kursi pengapit pengantin.
Iksan kaku, ia tidak bisa mengambil nafas dalam sekian detik. Semua orang menganga melihat kejadian tersebut.
Sebagian tidak percaya karena melihat seorang anak kecil bisa memukul sekuat itu.
" Hati-hati kalau bicara, atau ku robek mulut mu " Gertak Udin lantang.
Tubuh Iksan membungkuk menahan sakit yang luar biasa di area perut nya.
" Dan kalian semua, seharusnya kalian malu menghadapi masalah ini menggunakan tuduhan yang tidak beralasan. Mbak ku benar-benar hamil, dan kau! " Udin menunjuk Ikram , pria itu mundur ketakutan.
" Kalau kamu memang tidak bersalah kau tidak perlu takut. Dan yang bisa membuktikan siapa yang menghamili Mbakku adalah anak yang dikandung nya. Jika nanti terbukti dia anakmu, maka kau harus menikahi Mbak ku. Tapi kalau kamu justru lari dari tanggung jawab, ingat!!! Dunia ini tidak selebar daun kelor. Aku akan mencari mu sampai ke ujung dunia "
Usai berkata demikian, Udin melompat turun lalu mengajak semua anggota nya untuk pulang.
Gus Ikram gemetar, tungkai kakinya lemas hingga ia tidak sanggup untuk berdiri. Santri putra yang berada di sekelilingnya langsung sigap menolong.
Pesta pernikahan itu pun berakhir dengan kericuhan. Serta menjadi buah bibir antara membenarkan Wati dan ada yang mendukung Gus Ikram.
Sementara Iksan terpaksa dibawa ke rumah sakit, ia tidak bisa menegakkan punggungnya dikarenakan sakit di perutnya.
Dokter pun menganalisis bahwa Iksan mengalami cedera parah di bagian perut bawah. Sehingga kemungkinan besar dia akan impoten.
Jika Iksan impoten, berarti dia tidak akan bisa mempunyai keturunan.
Pak Kades dan istrinya sangat shock mendengar kabar tersebut, begitu juga dengan Syela. Ia tak henti-henti nya menangis meratapi nasib Iksan.
Tapi mereka tidak bisa mengatakan apapun saat sekarang. Hanya diam dengan segala kekecewaan yang terpendam.
" Aku akan menuntut Satrio atas apa yang terjadi dengan Iksan" Ucap Pak Haji Kamil dengan emosi.
" Kita penjara kan saja dia Pak " Istrinya menambahkan.
" Percuma Besan, Meskipun sampean sudah memenjarakan dia. Tetap saja kondisi Iksan tidak akan berubah seperti sebelumnya" Pak Kades menjawab, Pak haji Kamil sedikit tersinggung dengan ucapan Pak Kades.
" Besan tenang saja, saya akan menyembuhkan anak saya sehingga dia bisa seperti sedia kala " pungkas Pak Haji Kamil yakin.
Pak Kades hanya menghela nafas panjang. Ia memberi kode kepada Istrinya untuk pulang.
Istri Pak Kades mengangguk patuh, ia menggaet lengan Syela dan diajaknya pulang.
Tapi Syela menolak, ia ingin menunggu Iksan sadar.
" Kasian Kak Iksan Bu, Syela mau disini dulu"
Pak Kades membantu istrinya menarik paksa Syela, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun.
" Bah, sepertinya Pak Kades kecewa karena tahu anak kita bukan pria tulen lagi " Bu Haji Kamil mengeluh kepada suaminya.
" Biarkan saja Mi , toh anak kita pasti bisa sembuh. Nanti kalau sudah sembuh mereka akan ku buat menyesal seumur hidup " Pak Haji Kamil merasa sakit hati, ia menyimpan dendam di dalam dirinya.
*
Neng Rabi'ah baru saja sadar dari pingsannya, Gus Ikram beserta kedua keluarga besar mereka berkumpul di sana.
" Kanda ... "Neng Rabi'ah memanggil sang suami.
" Iya Neng " Jawab Gus Ikram, ia belai hijab yang masih dihiasi singer Sunda itu.
" Gimana?? Perempuan itu hamil anak siapa?? "
Gus Ikram bingung, ia juga tidak tahu pasti Wati hamil anak siapa?
" Lagian ngapain Ikram berteman dengan perempuan seperti itu " Ibu Ikram menimpali.
" Maafkan Ikram ummi, Bukan Ikram bermaksud membenarkan hubungan Ikram. Ikram hanya menganggap Wati seperti adik Ikram sendiri, dia mirip sekali dengan almarhum Zahra " Ikram menjelaskan kepada sang Ibu dengan penuh santun.
" Memang niat kamu baik, tapi lihat lah ! Kebaikan mu disalah gunakan oleh perempuan nggak bener itu " Tegas sang Ibu.
Ikram terdiam, ia juga tidak bisa menyalahkan Wati. Karena sepertinya ada seseorang dibalik terjadi nya scandal ini.
Sebenarnya, setelah kejadian hari itu, Ikram selalu kepikiran. Apa benar ia sudah menodai Wati?? Tapi hati kecil nya sangat yakin, dia tidak melakukan apa-apa.
Tapi kenapa dia bisa berada di cangkruk itu berdua dengan Wati?? Santri putri tidak bisa melewati gerbang tanpa ijin. Sedangkan cangkruk itu ada di tengah-tengah pematang sawah di luar kompleks pesantren.
Dan seingat Gus Ikram, Wati pingsan sesudah minum air yang ia berikan. Itu pertanda air itu mengandung sejenis obat yang bisa membuat seseorang kehilangan kesadaran.
Dan Gus Ikram ingat betul bahwa ada seseorang yang memukul kepala nya dari belakang. Sehingga dirinya pun jatuh tidak sadarkan diri.
Gus Ikram ingin membicarakan hal itu dengan Wati, tapi gadis itu sudah pulang dan tidak pernah datang lagi.
Hingga ia datang kembali bersama rombongan nya Membuat kericuhan di pesta pernikahan Gus Ikram dan Neng Rabi'ah.