SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
MENYATUKAN DIRI



Dengan tanpa perasaan apapun kecuali dendam kesumat, Udin mematahkan leher Bilal dalam sekali cekalan.


Iksan membeliak lebar, mulut nya menganga menyaksikan tubuh putranya dicampakkan begitu saja oleh Udin.


" Bilal " Iksan berlari untuk menangkap tubuh Bilal, tapi Udin melesat lebih cepat menghantam leher Iksan.


BUGH


Tubuh Iksan terpental jauh menembus dinding hingga keluar dari rumah nya. Ia meringis kesakitan, pukulan anak itu lebih kuat berkali-kali lipat dari pada dulu.


Iksan semakin yakin, kekuatan Udin bertambah karena satu hal yang bukan berasal dari tubuh manusianya.


TRANG


Kepala Iksan mendongak ke atas langit rumah nya. Rupanya Udin melesat menembus atap lalu mendarat tepat dihadapannya.


" Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu sayang mati di depan mata mu? " Udin melangkah maju sejengkal demi sejengkal.


Iksan panik, ia menyeret tubuhnya mundur menjauh. Tapi dia adalah iblis, sifat licik adalah ciri khas nya .


" Hem, rupanya dendam Membuat mu tidak jauh berbeda dengan diriku "


Langkah Udin terhenti, ia menatap tajam Iksan yang juga menatap balik kepadanya.


" Kenapa diam?? Jika kau sanggup, bunuh aku sekarang!" Tantang Iksan.


Udin tak bergeming, disaat itulah Iksan diam-diam mentransformasikan kekuatan nya melalui udara untuk Bilal.


Bilal yang sudah mati perlahan hidup kembali, ia bangun . Kepalanya yang patah ia perbaiki sendiri. Bunyi kretek terdengar memecah rungu.


Bola matanya bersinar, kemudian ia melompat tinggi menembus genteng lalu melesat cepat dengan bidikan tubuh Udin.


Bilal berhasil mendarat di punggung Udin, ia melingkarkan tangannya ke leher Udin dengan kuat, lalu bersiap menggigit leher Udin.


Iksan yang melihat hal itu tersenyum miring, tapi senyum itu langsung sirna begitu menyaksikan Bilal kesusahan untuk menggigit.


Rupa-rupanya dua jimat milik Udin bereaksi, ia menahan serangan Bilal.


Udin melirik dengan ekor matanya, ia meraih kepala Bilal lalu dibanting nya anak itu ke tanah.


Udin menginjak kepala Bilal, tapi anak itu cukup kuat menahan kaki Udin untuk menyentuh kepalanya.


Iksan tidak tinggal diam, ia melolong bagai seekor gorila. Memukul dadanya beberapa kali, lalu mengeran kuat.


Sekujur tubuhnya tumbuh bulu yang lebat, kepalanya mengeluarkan tanduk, daun telinga nya melebar, jari jemari nya tumbuh kuku yang panjang, Postur tubuhnya pun menjadi lebih besar dan tinggi.


Langkah kakinya mampu mengguncang bumi, Ia mengangkat kakinya hendak menginjak tubuh Udin.


Namun Udin mampu menahan nya dengan hanya menggunakan satu jari. Sementara Bilal dikakinya sudah kehilangan banyak tenaga. Ia tak mampu lagi bertahan, hingga kaki Udin berhasil menginjak kepala nya.


Udin menekan sekuat tenaga hingga kepala Bilal hancur lebur.


Iksan yang sudah berubah wujud menjadi sosok aslinya melolong kuat. Ia murka melihat anaknya dibunuh oleh Udin.


Dengan kekuatan nya yang besar, ia menyepak Udin menggunakan tangan nya.


Tak pelak, tubuh Udin langsung terseret membentur dinding rumah.


Udin melirik jam ditangannya, ia berpikir harus segera menyelesaikan pertarungan ini. Karena itu ia melepaskan liontin kalung yang dikenakan.


Liontin itu pun berubah menjadi topeng kayu yang menyeramkan. Udin langsung memakai nya.


Sontak Iksan terbelalak lebar, ia mundur beberapa langkah ke belakang.


Perubahan wujud Udin membuat nya bergidik ngeri, Apalagi Udin mampu memegang ganggang pedang samurai itu dengan mudahnya.


" Ke kenapa ka kau memiliki ben da i itu "


Wajah Udin berseringai miring.


" Sekarang tamatlah riwayat mu " Dengan mengangkat tangan nya tinggi-tinggi, Udin mulai menebas tubuh Iblis Iksan.


CRAASSSSS


CRASSSSSSS


Udin melayang kan tebasan pedang nya sebanyak dua kali berturut-turut. Sehingga Tubuh Iksan terbelah menjadi empat bagian.


Amarah yang menggebu membuat Udin merasakan sakit di dadanya. Tungkai kakinya lemas, namun ia menjadi kan pedang di tangan nya sebagai tongkat untuk menyanggah tubuhnya.


Kini dendam nya sudah terbalas kan, waktunya ia mengembalikan topeng itu kepada sang Ibu.


Tiba-tiba saat Udin ingin menyantolkan topeng itu kembali menjadi liontin, tangan Udin seperti tergigit sesuatu sehingga secara refleks Udin membuang topeng itu.


" Hahahahahaha "


Udin terbelalak, ia kaget melihat topeng itu bergerak seakan hidup. Topeng itu juga tertawa lepas menggema ke segala penjuru.


Udin memeriksa tangan nya, memang ada bekas gigitan kecil di jari manisnya.


" Kau sudah tidak bisa melepaskan diri ku, karena aku sudah menghisap darah mu " Seru Topeng itu.


" Hah?? Apa maksud mu ?" Udin bingung dengan perkataan topeng legendaris itu.


" Hahahahaha aku sudah memilih mu sebagai Tuan ku, Maka kemana pun kau pergi, Aku akan mengikuti mu "


Udin terdiam, itu tidak mungkin ia lakukan. Karena Ibunya sudah mewanti-wanti agar mengembalikan nya kalau urusan nya sudah selesai.


Udin menghampiri topeng itu lalu mengambil nya. Si topeng tersenyum lebar.


" Kau adalah milik Ibuku, aku harus mengembalikan mu padanya" Bantah Udin.


" Tidak bisa, aku sama sekali tidak memiliki ikatan dengan nya. Aku hanya dijaga saja oleh Ibumu. Tapi dengan mu, aku sendiri yang memilih mu. Seperti mendiang Lucy "


Udin memilih diam, entah apapun yang dikatakan topeng itu ia tidak tergiur sama sekali. Karena ia membutuhkan topeng itu hanya untuk memusnahkan Iksan dan juga anaknya.


" Apa kamu bersedia?" Lanjut si topeng, Udin tak menjawab. Ia melesat terbang untuk pulang.


Cahaya yang sejak tadi mengintip di satu tempat tersembunyi memperhatikan semua yang terjadi pada anaknya.


Ia mendadak cemas karena Udin kini telah menyatu dengan topeng itu. Lucy pernah bercerita padanya, bahwa topeng itu bisa memilih dengan siapa dia akan menjadi tuan nya.


Dan sekarang topeng itu sendiri memilih putra nya. Cahaya jadi takut hal buruk seperti yang sudah ia alami akan terjadi kepada Udin.


" Semua sudah menjadi takdir"


Cahaya terkejut mendengar sebuah suara di belakangnya. Ia menoleh, rupanya roh suci Ibunya datang.


" Ibu.. "


Tidak seperti biasanya, Lucy datang tanpa dipanggil.


" Jangan bersusah hati, biarkan anakmu menjalani takdir nya " Lucy tersenyum hangat.


" Tapi Ibu, aku tidak mau dia seperti diriku. Harus kehilangan anak-anak ku, Apalagi saat ini dia mengatakan jika dirinya telah memiliki kekasih? Aku ingin anakku menjalani kehidupan yang sempurna Ibu "


Lucy mengangguk mengerti dengan jalan pikiran Cahaya.


" Jangan terlalu takut terhadap sesuatu kemungkinan. Tawakal lah, semua belum terjadi " Imbuh Lucy.


Cahaya menarik nafas berat, sungguh hidup ini tidak bisa diprediksi. Dia sudah memantapkan diri untuk tidak menurunkan topeng itu kepada putra nya. Tapi justru topeng itu sendiri yang memilih Udin sebagai Tuannya.


Pangeran As'ad menyambut kedatangan sang istri di balkon kamar. Ia sudah tidak sabar menanti cerita apa yang terjadi kepada putra nya? Karena Cahaya pergi cukup lama.


" Bagaimana? " Tanya Pangeran As'ad .


" Apa Udin datang ke sini? " Cahaya balik bertanya, Pangeran As'ad menggeleng.


" Aneh, padahal dia sudah pergi lebih dulu" Gumam Cahaya.


" Memangnya apa yang terjadi? "


" Iblis itu sudah dibakar Oleh Udin, mereka tidak mungkin bisa bangkit kembali. Hanya saja,," Cahaya menggantung kalimatnya.


" Hanya apa ?" Pangeran As'ad semakin penasaran.


" Topeng itu telah meminum darah anak kita "


Pangeran As'ad terbelalak lebar.


" Maksud nya apa ?"


" Dia dan topeng itu sudah terikat satu sama lain, Topeng itu sendiri yang memilih anak kita "


Perasaan Pangeran As'ad langsung tak tenang, ia tidak ingin Udin jadi terhubung dengan topeng iblis tersebut.