
Udin kembali menendang sosok itu hingga terseret jauh. Lalu Udin mengeluarkan dua jimat saktinya.
Sosok itu membeliak lebar, rupanya ia baru menyadari jika Udin lah yang menyerangnya siang tadi.
Udin mengarahkan dua Jimat itu kepada sosok tersebut. Kecubung dan jimat pengasihan pengantin melesat menciptakan segelan kepada sosok tersebut.
" Lepaskan.. Lepaskan.. Jangan Bun uh aku lepaskan! "
Gadis itu histeris, rambut yang menutupi seluruh ruangan perlahan sirna. Kujang cepat masuk ke dalam menembus dinding, Sakhi pun melompat turun dan masuk juga ke dalam gudang tersebut.
" Lepaskan aku, Aku mohon... lepaskan aku " Gadis itu menangis sangat dramatis sekali.
Udin bingung, kenapa dia bersikap terlalu berlebihan seperti ini?? Biasanya setiap roh jahat pasti akan tetap sangar meskipun dirinya telah kalah.
" Lepaskan!! Aku akan lakukan apapun tapi tolong jangan Bu Nuh aku hiks hiks hiks"
" Aku tidak akan membu nuh mu " tukas Udin.
Sosok itu menggeleng lemah, Sakhi yang diam saja entah kenapa merasa penasaran? Ia mengulurkan tangannya menyentuh sosok tersebut.
WUZZZZZ
Angin kuat menyergap tubuh Sakhi, Udin gegas mendorong tubuh gadis itu hingga terpental membentur dinding.
Sakhi terduduk , kepalanya tertunduk, sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Matanya terpejam, ia seperti orang pingsan, namun bibirnya mengulum senyum mistis.
" Dia kerasukan" Bisik Kujang.
Udin diam, ia memperhatikan Sakhi dan juga sosok gadis yang masih tertawan oleh dua Jimat nya. Keadaan mereka tidak jauh berbeda.
" Aku Laras, anak dari seorang wanita yang bekerja kepada keluarga anak itu" Sakhi menunjuk ke Luis yang terkapar pingsan.
" Entah kenapa Ibuku mau saja bekerja tanpa digaji?? Mereka hanya merawat ku seperti anak sendiri. Hingga aku berusia tujuh tahun, mereka merayakan hari ulang tahunku lebih meriah dari ulang tahun ku yang sebelumnya"
"Aku yang tidak mengerti apa-apa saat itu, sudah pasti sangat bahagia. Banyak hadiah yang aku dapatkan dari keluarga mereka. Yah!! Hanya sekeluarga saja yang merayakannya, tanpa ada tamu orang luar"
" Aku merasa sangat beruntung, meskipun aku hanya anak dari seorang pembantu. Tapi kasih sayang mereka sangat luar biasa. Malam itu, Aku sibuk membuka kado. Ibuku datang dan mengajak ku untuk tidur"
" Kalian tahu?? seingat ku , Ibuku tidak pernah tersenyum, wajahnya datar, pandangannya kosong, namun belaian lembut tangannya sangat hangat sekali "
"Aku tidur dengan pelukan hangat ibuku, tapi karena perasaan yang sangat bahagia Membuatku susah untuk terlena"
"Hingga ku buka mataku, dan terkejut menemukan Ibuku menangis tapi matanya terpejam erat "
" Ku usap air matanya, tapi dia mengatakan agar aku cepat tidur. Aku memeluk Ibuku semakin erat, hatiku terenyuh melihat keadaan Ibuku saat itu "
" Saat ku buka mataku, aku terkejut menemukan kondisi ku yang di rantai dengan tubuh terlentang di atas sebuah batu "
" Aku dikelilingi oleh seluruh keluarga majikan Ibuku, dan ada satu orang wanita yang berdiri di dekat ku. Ia tersenyum seraya mengangkat tangan nya tinggi-tinggi sambil memegang pisau"
" Belum sempat aku bertanya, pisau itu sudah menancap tepat di jantung ku" Sakhi memegang dadanya sambil menangis sesenggukan.
" Lalu wanita itu menarik pisau itu dan menancapkan nya kembali ke bagian dada ku yang lain " Sebelah tangan Sakhi juga memegang dadanya sendiri.
" Ia melakukannya berkali-kali hingga aku tewas"
Sakhi mengangkat wajahnya, kedua bola matanya ternyata sudah memutih.
" Apa salah ku?? Apa salah ku ? Apa karena aku anak dari perselingkuhan Ibuku dan majikannya?? Sehingga kalian semua menjadi kan aku tumbal, hah ???!!"
" Kemana Ibumu sekarang?? " Tanya Udin menyela.
Sakhi menggeleng..
" Dia sudah ma ti, pria itu adalah generasi ke empat keluarga mereka " Sakhi menunjuk Luis.
" Arwah ku tidak tenang, setiap generasi yang lahir akan ku binasakan satu orang. Dan akan ku jadikan kaki tangan ku untuk generasi yang lain "
" Mereka menumbalkan aku untuk kekayaan yang mereka nikmati sekarang "
Udin diam menyimak, jadi Harta yang dimiliki oleh Luis adalah hasil dari penumbalan.
Sakhi tersenyum miring.
" Wanita itu lah yang banyak menderita, dia hamil karena kebiadaban majikannya. Tapi dia yang harus menanggung sengsara. Istri majikannya ternyata sudah membuat Ibuku seperti kerbau yang di cocok hidung nya"
" Aku tidak akan meninggalkan keluarga itu, sebelum ku habisi mereka semua"
" Kalau begitu, habisi mereka semua sekarang. Jangan semakin menjauhkan jarak mu kepada Ibumu. Aku lihat, dia sedang menanti mu " Tanggap Udin.
Sakhi tertunduk, Tiba-tiba ia terkulai lemas tak berdaya.
Roh jahat itu pula terjelopoh, Udin menarik dua Jimat nya melepaskan sosok itu.
Kemudian ia pergi meninggalkan semuanya begitu saja.
" Apa yang akan kamu lakukan Din ?" Tanya Kujang mengikuti Udin.
" Tidak ada, roh penumbalan tidak bisa dilenyapkan kecuali atas keinginan nya sendiri. Karena jiwanya terikat dengan perjanjian iblis si majikan" Udin menjelaskan.
" Lalu?? Kau akan membiarkannya begitu saja" Ujar Kujang.
" Dia tidak akan menggangu ku lagi "
Prilly berlari memeluk Udin begitu ia melihat pria itu datang.
" Syukur lah kamu tidak apa-apa" Ungkap Prilly dalam pelukannya.
Udin diam saja, ia sama sekali tidak merespon pelukan Prilly.
" Aku tadi terpaksa nelfon Mama untuk minta bantuan" Sambung Prilly begitu ia meleraikan pelukannya.
" Tidak usah berlebihan" tanggap Udin.
" Tapi aku khawatir kamu diapa-apain sama Luis "
" Telfon mereka agar tidak perlu datang" Udin melangkah mendahului untuk pulang, Prilly mengambil langkah cepat mengimbangi gerakan Udin.
" Aku antar kamu pulang ya " Pinta Prilly
" Tidak usah, rumah ku dekat kok. Kamu pulang lah " Udin menolak, Ia mempercepat langkahnya agar gadis itu tidak mengikutinya lagi.
Dan benar saja, Prilly memilih untuk diam sembari membuang nafas kesal.
Padahal tadi Udin bersikap manis padanya, kenapa sekarang malah balik cuek bebek?
Latuluna heran mendapati putri nya datang dengan muka ditekuk. Prilly menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk, kakinya di angkat ke atas meja, Keningnya ia picit sebisanya.
" Kenapa nih ? Kok datang-datang malah manyun? Nggak cium Mama lagi " Tegur Latuluna.
Prilly diam tidak menjawab.
" Tadi Udin kenapa sayang? Kok sampai kamu minta Mama buat kirim orang datang ke sekolah?? Terus tiba-tiba kamu batalin, padahal mereka udah mau sampai di sekolah kamu ? " Imbuh Latuluna.
" Nggak tahu lah Ma, Pusing mikirin Udin " Jawab Prilly.
Latuluna mengernyitkan keningnya, ia kurang paham apa maksud dari ucapan sang anak.
" Kamu tengkar sama dia ? "
Prilly menggeleng.
" Ma, Prilly cantik nggak? " Tiba-tiba Prilly ingin tahu pendapat Mamanya mengenai dirinya.
" Cantik lah, Anak Mama kan bintang sekolah masa nggak cantik" Puji Latuluna.
" Kalau cantik? Kenapa Udin bersikap acuh sama Prilly?? Seolah-olah Prilly nggak ada harganya sama sekali di matanya "
Latuluna tersenyum simpul, jadi anaknya manyun disebabkan masalah hati.
"