SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
KERINDUAN CAHAYA



" Hemmmhh bermacam-macam kehidupan manusia yang sungguh sangat rumit untuk dijelaskan" Udin mendesah panjang sembari terus melangkah melanjutkan perjalanan bersama Kujang.


Harimau putih itu mengangguk..


" Kau baru seupil tahu mengenai hal itu Din, lah aku?? sudah sejak berabad abad yang lalu" Kujang menambahkan.


" Nggak bosen Jang "


" Bosen sih, tapi mau gimana lagi? Kita harus menjalani semua yang sudah tertulis dalam takdir"


Udin manggut-manggut tanda mengerti. Mereka terus saja berjalan sambil bertukar pikiran.


Tak terasa setelah dua hari perjalanan, mereka tiba di sebuah tepi sungai yang jernih serta dangkal. Hingga ikan-ikan di dalamnya nampak dengan jelas.


Di ujung seberang sungai, terlihat seorang pria tengah menangkap ikan menggunakan tombak. Pria itu sangat terlatih sekali, dalam sekejap ia sudah menangkap ikan begitu banyak.


Udin menelan air liur saat melihat betapa segarnya ikan-ikan itu. Ditambah lagi aroma ikan bakar yang menggugah selera, cacing-cacing di dalam perut nya langsung bernyanyi ria.


" Hey anak muda " seru pria itu, Udin tersentak dari lamunannya. Ia melihat pria itu melambaikan tangan ke arah nya.


Tanpa pikir panjang Udin langsung menyebrang sungai dangkal itu untuk menghampiri pria yang memanggil nya. Eh rupanya Pria itu tidak sendiri, ada perempuan cantik tengah duduk sambil bakar ikan di celah batu.


Udin memperhatikan perempuan yang tersenyum lembut ke arah nya. Dari pakaian yang dikenakan, sama persis dengan wanita bertopeng.


" Kok bengong" Tegur pria penangkap ikan yang tidak lain adalah Pangeran As'ad , Ayah dari Udin sendiri.


" Ah maaf paman" Udin gelagapan, ia malu sekaligus takut dinilai kurang A jar karena tertangkap basah menatap perempuan itu.


" Sepertinya kamu berasal dari tempat yang jauh, kemarilah! Kau pasti kelaparan" Cahaya memanggil Udin untuk mendekat. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menahan gejolak di dalam dadanya.


Udin pun menyanggupi panggilan itu, ia duduk di bongkahan batu besar bersisian dengan Cahaya. Pangeran As'ad pun turut duduk di samping Udin. Ia tersenyum lebar karena akhirnya ia bisa melihat putra kandung nya.


" Namamu siapa Nak ?" Tanya Pangeran As'ad .


" Udin Paman "


Pangeran As'ad tercengang, Udin ?? susah payah dia memberikan nama yang bagus, Kenapa justru dipanggil Udin? Kampungan sekali. Padahal Jamaluddin adalah nama seorang sultan muslim yang hebat. Dan anaknya pun pada dasarnya adalah seorang Sultan agung. Pewaris tahta tunggal dalam garis besar keturunan yang sah. Karena hanya Cahaya yang benar-benar menikah dengan keturunan kesultanan.


" Nama yang bagus " Cahaya justru memuji nama itu bagus, ia membelai rambut anaknya dengan penuh kasih.


Udin terdiam, tangan hangat itu?? Yah , ia yakin sekali jika perempuan ini adalah penjaga topeng legendaris yang diceritakan oleh Kujang. Ia kenal betul dengan sentuhan hangat yang membelai pipinya tempo hari.


" Bibi.. "


Cahaya mengangkat kedua alisnya.


" Apakah Bibi yang menolong ku tempo hari? Saat aku kalah melawan Iblis bertanduk itu ?" tanya Udin.


Cahaya tidak segera menjawab, matanya bergulir ke arah sang suami. Pangeran As'ad mengangguk memberi tanda.


" Kau mengenalku?? Padahal aku memakai topeng, tapi kamu langsung tahu itu adalah aku " Sergah Cahaya.


Udin tersenyum lebar, akhirnya ia bertemu dengan penjaga topeng legendaris.


" Syukur lah jika itu benar Bibi, aku jadi lega "


" Kenapa? Apa kamu memang mencari istri ku ? " Sambung Pangeran As'ad .


" Iya Paman, aku datang kesini untuk mencari Bibi " jawab Udin berterus terang.


" Untuk apa kamu mencari ku ?" Cahaya pura-pura tidak tahu.


" Emmm menurut cerita dari Kujang, katanya hanya topeng yang bibik pakai tempo hari itu yang dapat menghabisi Iblis. Aku sangat membutuhkan topeng itu Bi, aku ingin membu-nuh Iblis yang sudah membantai seluruh keluarga ku "


" Bagaimana ceritanya Iblis bisa membu-nuh seluruh keluarga mu? " Cahaya ingin tahu ceritanya lebih detail lagi.


Akhirnya Udin menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tentang kematian Siti, Wati , Satrio, dan Rahul.


Cahaya manggut-manggut menanggapi cerita itu, Pangeran As'ad pun demikian.


" Menurut dari cerita mu, sepertinya Iblis yang terkunci dalam tubuh Iksan adalah salah satu Iblis yang ku hancurkan. Tapi ternyata ia tidak sepenuhnya musnah, campur tangan Ki Cokro lah yang membuat nya bisa tersegel didalam tubuh Iksan "


Udin mengiyakan.


" Hemmm lalu kamu berniat meminjam topeng itu ?" Imbuh Cahaya, Udin langsung membenarkan.


" Nak, bukan aku tidak ingin memberikan topeng itu untuk kamu pinjam. Tapi, tidak sembarangan manusia bisa menggunakannya. Jika sampai salah orang, maka orang itu akan sakit dan mati secara perlahan " Cahaya menjelaskan bahayanya topeng iblis itu.


" Aku tidak perduli Bi, masalah mati itu semua sudah ditakdirkan" Jawab Udin yakin.


" Jangan bicara seperti itu Nak, baiklah kalau begitu. Aku akan menyertai perjalanan mu dan akan ku Bu Nuh iblis itu untuk mu " Cahaya mencoba untuk tidak mengecewakan putranya.


Tapi Udin justru menolak.


" Aku ingin melakukan nya sendiri Bi, agar aku puas. Karena terlalu sakit hati ini setiap saat aku mengenang kematian keluarga ku "


Cahaya saling berpandangan dengan suaminya. Pangeran As'ad pun tidak bisa berkata-kata.


" Baiklah, jika itu yang kamu mau. Tapi setidaknya kamu harus memiliki separuh dari kekuatan ku. Mungkin itu bisa membantu mu"


Udin tersenyum lebar, ia pun menyanggupi nya.


***


" Sayang " Pangeran As'ad menghampiri Cahaya yang tengah duduk di halaman rumah. Saat itu Udin sudah istirahat selepas makan.


" Apa kamu serius untuk mengijinkan anak kita menggunakan topeng itu?"


Sejak tadi Pangeran As'ad kepikiran, karena topeng itu akan merenggut nyawa pemakainya jika bukan orang yang dikehendaki.


" Ini sedang aku pikirkan Mas, gimana baiknya. Aku juga sudah menyampaikan hal ini kepada arwah Ibu. Kita tunggu saja, apa Ibu berkenan untuk membantu? "


Pangeran As'ad mengangguk mengerti, ia sudah lega jika istri nya juga memikirkan hal yang sama.


Kujang menghampiri dua pasutri itu, melihat kedatangan Kujang Cahaya mengangkat kedua tangannya. Kujang mendekat lalu keduanya saling berpelukan.


" Terimakasih Kujang, kamu sudah membawa nya kesini " Ungkap Cahaya.


" Sama-sama... " jawab Kujang.


" Bagaimana kabar adikku dan Papa ?" tanya Cahaya ingin tahu.


" Mereka baik-baik saja, datang lah kunjungi mereka. Sepertinya mereka sangat merindukanmu "


Cahaya menggeleng lemah.


" Kau jangan menipu ku Kujang, hanya aku yang merindukan mereka. Aku tidak mungkin dirindukan oleh mereka, karena aku sudah membuat Ibu meninggal "


Kujang mengelus wajah Cahaya dengan bulu di pipinya.


" Roh Soraya sudah menjelaskan semuanya melalui mimpi. Semua itu Lucy yang melakukan nya untuk mu. Mengetahui hal itu, Idris sangat menyesal. Adikmu juga , dia selalu menitipkan salam kepada ku bila bertemu dengan mu, untuk mengajak mu pulang " Kujang menjelaskan perihal Ayah dan adik Cahaya.


Cahaya membuang pandangannya jauh, rasa rindu kepada Fajar begitu membuak dihati nya.