
" Siapa dia? " Udin justru fokus dengan wanita bertudung itu.
Sakhi menoleh, ia tidak percaya jika Udin justru tertarik dengan Kakaknya yang berwajah buruk.
Syifa Kakak kandung Sakhi menundukkan wajahnya dengan lebih mendalam.
" Kenapa Lo jadi pengen tau sama Kakak gue ?" Sakhi balas bertanya.
" Ku rasa kamu tahu kenapa aku bertanya" Udin justru ingin Sakhi menjawab pertanyaan nya sendiri.
Sakhi diam, ia memperhatikan Kakak nya. Hem sudah pasti Udin melihat sesuatu yang selama ini Sakhi lihat.
Tapi Sakhi tidak bisa berbuat banyak, Ia sudah mencoba untuk mengobati penyakit Kakaknya kepada orang pintar atau ustadz tersohor sekali pun.
Tetap saja hasilnya sama saja.
Udin mengulurkan tangannya, meminta agar Syifa menyambut nya. Tapi gadis itu nampak ragu, ia justru menyembunyikan wajahnya di balik kerudung nya.
Di lain tempat, Prilly mendatangi rumah tempat tinggal Udin. Ia berniat mengajak Udin sarapan di rumah nya atas persetujuan Latuluna.
Tapi Prilly tidak menemukan siapa-siapa di rumah Udin. Akhirnya terpaksa Prilly melacak nomor telepon Udin dan mencari keberadaan nya.
Saat Prilly sudah menemukan jejak Si Udin , Ia terbakar api cemburu melihat Udin memegang tangan seorang wanita. Dan disana juga ada Sakhi.
Prilly melangkah cepat dan panjang menghampiri mereka, Ia melerai tangan Udin dan Syifa secara kasar.
" Pri.. " Pekik Udin.
" Apa ? Kamu ngapain sih pakek pegangan tangan sama dia ? hah? Atau jangan-jangan Sakhi sudah menghipnotis kamu ya? Iya kan " Prilly langsung melemparkan tuduhan hasil dari pemikiran yang dilandasi api cemburu.
" Kamu jangan keterlaluan ya, kamu nggak lihat keadaan kakak ini ? " Balas Udin.
Prilly melirik Syifa, dia baru menyadari jika tubuh Syifa dipenuhi oleh luka membusuk yang dikerubungi oleh belatung. Wajahnya pun hitam legam.
Prilly membeliak lebar, ia mengangkat kedua tangannya memerhatikan telapak tangan yang menyentuh kulit Syifa.
Dapat ia lihat dua ekor anak belatung melekat di kulit nya.
AAAAAKKKKKHHHHHH
Prilly melompat-lompat ketakutan, ia berusaha mengibaskan tangannya agar belatung itu terlepas.
Tapi tak berhasil, Prilly semakin histeris. Membuat Sakhi tak nyaman, ia mengeluarkan sebotol air agar Prilly mencuci tangan nya.
Akhirnya Prilly mencuci tangan nya dengan bantuan Sakhi sampai airnya ludes.
" Ada lagi nggak airnya? " Tanya Prilly, ia masih was-was dan sering kali bergidik geli.
" Habis " Jawab Sakhi.
" Itu udah bersih" Tanggap Udin.
" Belum, aku masih merasakan gerakan belatung nya " Prilly merengek manja.
" Udah jangan berlebihan, Aku ingin mencoba membantu mengobati Kakakmu. Kalian tinggal dimana ? " Tanya Udin beralih topik.
" Nggak jauh dari sini, Ibuku buka lapak gorengan di dalam pasar. Sekarang aku tengah membantu Ibu, Kalau tidak keberatan kamu bisa ikut Kakak ku ke rumah " Sakhi menghentikan pola bicara gaulnya, karena bahasa yang digunakan Udin hanya bahasa biasa saja.
Udin mengiyakan.
" Aku ikut Din " Prilly memohon.
" Ya udah Ayo"
" Tapi aku bawa mobil "
" Nggak apa-apa parkir disini aja Pri, nggak bakalan hilang kok " Sahut Sakhi, Prilly mendengus saja. Ia masih kesal dengan Sakhi.
KISAH SYIFA
Syifa adalah gadis yang sangat cantik rupawan, Bisa dibilang dia adalah kembang desa.
Karena kecantikannya, banyak sekali pria yang datang meminang. Meskipun saat itu usia Syifa masih enam belas tahun.
Seperti yang telah dijelaskan di awal, Syifa dan Sakhi adalah kakak adik, mereka terlahir dari keluarga menengah ke bawah.
Kedua orang tua Syifa masih memegang filosofi kata orang dulu. Jadi saat ada orang meminang, Ayah dan Ibu Syifa langsung menerima.
Apalagi keluarga pria memberikan hantaran yang cukup banyak, entah itu berupa harta bernyawa ataupun emas permata.
Syifa yang memang anak yang penurut, ia menerima saja perjodohan tersebut. Apalagi pria yang dicalonkan untuk nya cukup tampan.
Pada suatu malam, Syifa terjaga dari tidurnya. Karena merasakan wajahnya panas sekali. Ia berlari ke kamar mandi dan merendam wajahnya hingga panasnya berkurang.. Dan tiba-tiba...
AAAKKKKHHHHHHH
Syifa menjerit kuat setelah melihat wajahnya di depan cermin. Ia terkulai pingsan.
Ayah Ibu Syifa yang mendengar suara jeritan, Gegas bangun dan berlari menuju ke asal datangnya suara.
Mereka terpaksa mendobrak pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam.
Alangkah terkejutnya pasangan suami istri itu ketika menemukan seorang gadis dengan wajah hitam legam.
Awalnya mereka kurang yakin siapa gadis itu? Tapi setelah memperhatikan baju yang dikenakan, barulah mereka tahu jika itu anak sulung mereka, yaitu Syifa.
" Pak, itu Syifa" Ucap sang Ibu.
" Kok ?" Bapak Syifa kebingungan sendiri dengan perubahan wajah sang bunga desa.
" Ayo Pak cepat angkat bawa masuk ke dalam"
Bapak Syifa hanya mengangguk, tapi dia tak bergeming sedikitpun.
" Pak " Istrinya terpaksa memukul pundak si suami agar cepat bertindak.
Sejak kejadian itu, Syifa tidak mau keluar kamar. Ia tidak bisa terima dengan perubahan wajahnya itu.
Begitu juga dengan Bapaknya Syifa, ia stres hingga melakukan bunuh diri.
Beliau memang sangat menspesialkan Syifa dari pada Sakhi, yang pada saat itu masih berumur sebelas tahun.
Ketika musibah ini menerpa, Si Bapak tidak dapat berdamai dengan keadaan hingga mengakhiri hidupnya.
Keluarga tunangan Syifa pun tak dapat berbuat banyak, tunangan Syifa kabur hilang entah kemana?
Syifa semakin terpuruk, di tambah lagi tubuhnya yang diserang gatal-gatal hingga menjadi borok dan dikerubungi oleh belatung.
Untung sang Ibu sangat lah kuat, ia berusaha
menguatkan Syifa agar tidak melakukan hal yang sama seperti Bapaknya.
Beliau bekerja keras untuk bisa mengobati Syifa, semua petunjuk orang-orang pintar ia lakukan. Tapi nihil...
" Aku selalu melihat makhluk seperti genderuwo menghampiri Kak Syifa saat tidur, dia datang meniup wajah Kak Syifa lalu meludahi seluruh tubuhnya. Dan hal itu pasti terjadi setiap malam Jumat Kliwon" Sakhi menjelaskan lebih detail setelah ia menyuguhkan minuman dan beberapa potong gorengan yang ia bawa dari warung nya.
Syifa sejak tadi tidak pernah mengangkat wajahnya, begitu lah ketika Syifa berhadapan dengan orang-orang di sekitar nya kecuali Ibu dan adiknya.
Prilly acap kali bergidik geli melihat kondisi Syifa, ia menahan mual hingga wajahnya pucat pasi.
" Boleh aku masuk ke kamar Kakak mu " Pinta Udin.
" Boleh, ayo aku anter " Ajak Sakhi.
" Aku keluar dulu ya " Prilly justru berlari cepat keluar dari rumah Sakhi, ia sudah tidak tahan lagi ingin muntah.
" Sudah, biarkan saja dia " Udin mengalihkan perhatian kakak beradik itu, yang pasti terasa hati dengan apa yang terjadi pada Prilly.
Sakhi tersenyum lalu melanjutkan langkahnya mengantar Udin ke kamar Syifa. Syifa pun turut serta, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh teman adiknya itu.