
Fajar tidak perduli lagi dengan sedikit perdebatan itu, ia langsung memeluk sang Kakak.
Cahaya pun membalas pelukan itu dengan hangat, keduanya sesaat meluahkan rasa dengan keheningan.
" Maafkan Fajar Kak " Fajar menundukkan wajahnya di depan Cahaya setelah pelukan mereka terlerai.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan" Jawab Cahaya, ia belai wajah sang adik yang lama tak dijumpai.
" Pa, ayo persilahkan Kakak untuk masuk " Tania menimpali.
" Oh ya, Kak... Perkenalkan ini istri ku, Ini Gading anak sulung ku. Dan ini Naya anak bungsu ku " Fajar memperkenalkan keluarga kecil nya.
" Alhamdulillah, keluarga mu begitu sempurna" Ungkap Cahaya.
" Tante, aku penggemar berat mu " Seloroh Gading.
Cahaya sedikit tak percaya itu, matanya bergulir menatap adiknya.
" Fajar memajang foto Kakak disetiap dinding rumah ini, dan Gading begitu terpesona dengan kecantikan Kakak. Jadi dia mengidealkan wanita yang akan menjadi istri nya harus secantik Kakak " Fajar menjelaskan.
Cahaya tersenyum simpul.
" Eh aku lupa memperkenalkan putra ku satu-satunya, Namanya Jamaluddin. Panggilan nya Udin " Cahaya menunjuk Udin yang tengah berdiri di samping nya.
" Udin ?" Celutuk Gading " Norak sekali" Ia mencemooh nama panggilan si Udin.
" Gading diam !" Gertak Fajar, matanya melotot menatap putranya.
" Nama norak, tapi ganteng" Naya yang semula diam-diam memperhatikan Udin pun berkomentar.
" Idih, begitu kau bilang ganteng" Gading tak terima Udin mendapatkan pujian.
" Gading" Fajar kembali menegur putra nya, Gading yang sememangnya takut dengan sang Ayah langsung diam.
" Ayo Kak, masuk lah... Pangeran, mari silahkan masuk, Udin... Ayo nak " Fajar menyebut keluarga kecil Kakak nya satu persatu untuk masuk.
Kini seluruh keluarga besar Idris sudah berkumpul. Mereka duduk mengitar di ruang tamu.
" Udin mirip sekali dengan mu Ca, dia dingin tidak banyak bicara" Idris mengomentari cucu barunya yang sejak tadi ia perhatikan.
Cahaya tersenyum, digenggamnya tangan sang anak yang duduk di sebelah.
" Tapi itulah daya tariknya Kek, Naya kurang suka cowok yang banyak bicara. Seperti kata pepatah, Tong kosong nyaring bunyinya" Naya melirik sang Kakak, Gading serta merta menoleh ke arah Naya.
" Kau menyindir ku? "
" Idih, padahal nggak nyebut merek, kok malah kepanasan" Balas Naya.
" Sudah sudah... Lagi ada tamu kok malah ribut terus " Tania menyahut, ia berusaha menghentikan perdebatan kedua anaknya.
" Kak Gading tuh Ma yang mulai" Naya mengadu manja.
" Idih, wong kamu yang nyindir " Balas Gading tak terima.
" Diam!!" Fajar berseru lantang. Sontak semua pun bungkam.
Cahaya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
" Maafkan anak-anakku Kak , mereka memang susah diatur" Fajar jadi merasa sungkan sekali.
" Nggak apa-apa, setidaknya rumah ini tidak sepi " Tanggap Cahaya.
" Kakak akan tinggal disini kan ?" Sambung Fajar, perasaannya was-was takut sang Kakak pergi lagi.
" Kalau boleh sih " Jawab Cahaya.
" Ya boleh dong Kak, dan itu yang aku harapkan" Fajar tersenyum lebar, baru kali ini Gading melihat Ayahnya tersenyum begitu. Biasanya hanya sekelumit saja, itupun susah. Rupanya hanya kehadiran Cahaya yang mampu membahagiakan Ayahnya.
" Ini kamar mu " Naya menunjuk kan kamar Udin yang berada di lantai yang sama dengan kamar nya.
Di rumah ini, Tania mengatur kamar anak-anak ada di lantai satu. Sedangkan kamar para orang tua ada di lantai dua. Lalu kamar pekerja serta kamar tamu ada dilantai G.
" Semoga kamu betah tinggal disini" Tambah Naya.
Udin mengangguk kecil.
" Ohya, katanya kamu baru mau naik ke kelas delapan ya? "
Udin mengiyakan.
" Kita bisa satu kelas dong nanti, pasti Papa akan menyekolahkan kita di sekolah yang sama. Biar barengan kalau berangkat sekolah "
Udin tak bergeming, kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya.
" Kamu sudah tahu namaku kan ?" Naya yang cerewet tidak memberikan kesempatan Udin untuk masuk ke dalam kamar.
Udin mengiyakan.
" Siapa? " Naya memancing Udin untuk bicara.
" Uhhh so sweet... suaramu seksi sekali" Naya gemes sendiri.
" Nay,,,, " Tania muncul diantara mereka, ia sudah menduga jika Tania pasti akan kumat sifat bawelnya kalau sudah ketemu sama cowok yang disukai.
" Iya Ma... "
" Biarkan Kakakmu istirahat, dia pasti capek banget" Ucap Tania.
" Ok deh, selamat istirahat ya.. kalau butuh apa-apa kamar ku disitu. Ketuk saja " Naya menunjuk kan kamar nya.
Udin mengiyakan tanpa melirik sedikit pun ke kamar Naya. Lalu ia sedikit membungkukkan badannya memberi penghormatan kepada Tania seraya kemudian masuk ke dalam kamar.
" Uh sopannya dia Ma " Tania menggenggam tangannya sendiri.
" Dia sepupu mu Naya, jangan macam-macam " Tania memberikan peringatan.
" Kenapa?? Sepupu nikah tuh nggak apa-apa Ma" Naya membenarkan diri.
" Jangan gila kamu " Tania menarik tangan Naya agar segera pergi dari tempat itu.
Udin menajamkan pendengarannya, setelah yakin tidak ada orang lagi di depan pintu, Ia gegas duduk di perbaringan untuk menghubungi Prilly .
Udin berniat untuk memberi tahu jika dia sudah pindah ke rumah Ibunya.
" Hallo Din.." Prilly menjawab cepat telfon dari Udin. Ia sampai tidak perduli jika di sampingnya ada Yoga yang tengah bermain gitar bersama nya.
" Gimana kabar kamu ? "
Mendapatkan pertanyaan yang sangat langka terucap, membuat mata Prilly berkaca-kaca.
" Aku merindukanmu" Ungkap Prilly terus terang.
Udin tersenyum simpul, kalimat itu sudah lebih dari yang dia harapkan.
" Kok diam sih, aku boleh liat wajah kamu nggak? " Prilly berharap Udin mau video call dengan nya, rasanya ia terlalu rindu sekali.
Tanpa mengatakan apapun, Udin langsung menekan tombol kamera.
Prilly tersenyum lebar, senyuman yang dicemburui oleh Yoga.
Saat keduanya saling bertatapan di camera, tidak ada satu pun yang bicara. Mereka diam seribu bahasa, hanya dada bergemuruh tanpa suara.
CUP
Tiba-tiba Yoga melayang kan ciuman di pipi Prilly , yang sontak mengagetkan Prilly dan Udin.
" Yoga!! Apa-apaan sih? "
Yoga tersenyum tipis tanpa dosa.
" Siapa dia?" Sergah Udin, hatinya mendadak ngilu sekali.
" Dia, dia Yoga.. " Prilly merasa sangat bersalah.
" Siapa Yoga ?" Udin ingin tahu lebih dari nama saja.
" Teman ku " Prilly tertunduk takut.
" Teman?? Hanya teman tapi berani mencium mu ? Teman apa itu? "
Prilly menjeling Yoga tajam, pria itu acuh dengan memainkan tiap not di gitar nya.
" Pri liat aku !!" Tegur Udin tegas, Prilly langsung melihat ke camera.
" Kau jangan membohongi ku " sambung Udin, Prilly menggelengkan kepalanya.
" Nggak, aku nggak akan berani membohongi mu "
Udin menatap tajam gadis di layar ponsel nya itu, selama ia mengenal Prilly . Prilly gadis yang selalu mengatakan apa adanya, gadis itu tegas dan tidak plin-plan.
" Kamu dimana sekarang?" tanya Udin mulai melunak.
" Di rumah "
" Masuk ke dalam, jangan pernah temui pria itu lagi "
Prilly mengangguk, ia pun bangkit lalu mengikuti perintah Udin.
Yoga melongo melihat Prilly meninggalkannya.
" Pri, mau kemana?" Tanya Yoga, Tapi Prilly tak mengindahkan nya. Ia terus masuk berlari kecil menuju kamar.
Latuluna heran melihat sang putri berlalu tanpa menyapa. Yoga sendiri termangu di ambang pintu hendak menyusul Prilly .
" Kenapa Yog ?" Tanya Latuluna, Yoga mengedikkan bahunya. Tatapan nya mengikuti langkah Prilly yang lenyap di balik dinding.