SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERANG MATA



Surti masuk ke kamar Melati, semua mata kini tertuju kepada nya. Kresek hitam masih tetap ia jinjing.


" Sur, kok termenung disitu. Masuklah! " Ujar Melati lembut, Surti tersenyum hambar lalu ia masuk ke dalam dan duduk meleseh di sebelah Anwar.


" Apa itu Sur?" Tanya Melati melirik kresek yang dibawa oleh Surti.


" Es dawet Mbak " Jawab Surti.


" Banyak sekali kamu beli, ada untuk Mbak nggak? Mbak pengen minum Es nih "


Anwar menoleh ke arah Surti, Surti pun sama. Dengan gugup Surti menyerahkan satu kresek untuk Melati, lalu ia berikan satu lagi untuk Anwar.


Melati beringsut duduk, ia senang sekali bisa minum es dawet kesukaan nya saat bahang begini.


" Loh, itu sisanya untuk siapa Sur ?" Tanya Melati lagi, karena masih tersisa dua kantong plastik.


" Ini untuk Udin Mbak dan Bude " Surti menjawab.


" Ya udah kasih aja sama Udin, kok nggak dikasih " Tukas Melati.


" Udin nggak mau Mbak, katanya sakit amandel " Surti sengaja agar supaya Melati memaksa Udin untuk meminum es dawet nya.


Melati mengalihkan perhatiannya kepada Udin, Anak itu tersenyum penuh arti. Melati terdiam, ia berpikir pasti Udin punya alasan tersendiri mengapa ia menolak es dari Surti.


Kemudian Melati mengalihkan perhatiannya secara bergantian kepada Anwar dan Surti. Ia jadi ragu untuk meminum es dawet nya. Tapi tidak mungkin tiba-tiba ia mengembalikan es nya, karena Melati sendiri yang minta.


Melati kembali memperhatikan Anwar, pria itu sudah menyeruput es nya. Melati sigap merampas es milik Anwar, lalu memberikan es milik nya.


Anwar terpana dengan sikap Melati, Begitu pula dengan Surti.


" Aku pengen minum es kamu Mas, kayaknya enak sekali punya kamu " Melati cepat tanggap mencari alasan yang Mufid.


" Oh, seharusnya kamu minta saja . Jangan main rampas begitu Mel, kaget aku " Anwar maklum, istri nya kan lagi hamil. Ngidam bawaan bayi memang bermacam-macam.


Melati tersenyum simpul, Surti menatap saudara sepupunya itu begitu lekat. Ia merasa jika Melati mencurigai nya, Surti juga memperhatikan Udin. Yang pada saat itu juga tengah memperhatikan dirinya.


Terjadi lah perang mata diantara mereka, tapi itu tidak lah lama. Surti mengeluh karena matanya mendadak panas. Entah ini hanya kebetulan atau apa?


Surti melihat mata Udin keluar sinar kebiruan yang membuat matanya kesakitan.


" Sur, kamu kenapa?" Anwar refleks merangkul bahu Surti. Ia menunjukkan perhatian yang ketara.


" Mataku sakit Mas " Surti mengucek matanya, semakin dikucek semakin sakit sampai mengeluarkan darah.


Anwar terbelalak melihat hal itu, ia melemparkan pandangan nya kepada sang istri yang sejak tadi termangu melihat tindakan Anwar.


Perilaku seperti itu bagi suku adat di kampung nya adalah hal yang menyimpang. Karena bagaimana pun Surti adalah saudara Melati. Kecuali Surti itu saudara dari pihak Anwar, itu bisa dimaklumi.


" A anu sayang, Ini ini Surti butuh pertolongan" Anwar jadi gugup, jika sampai dirinya dipersalahkan maka sesuai hukum adat kampung itu. Anwar akan di arak tanpa busana keliling kampung bersama Surti.


" Biar kan saja dia!! " Teriak Nenek secara tiba-tiba muncul di depan pintu. Anwar terkejut, perasaan nya semakin tidak karu-karuan.


" Mas, apa kamu menyayangi Surti? " Melati masih ingin tahu lebih dulu jawaban suaminya. Ia tidak bisa langsung main hakim sendiri.


" Sudah jelas dia sangat menyayangi Surti, kenapa kamu masih bertanya Melati? " Timpal Nenek, beliau sudah geram karena anaknya tetap saja tidak bisa bersikap tegas terhadap dua pengkhianat itu.


Anwar serta merta melepaskan Surti lalu menghampiri istrinya.


" Sayang, jangan berprasangka buruk dulu. Kamu tahu kan aku hanya mencintai kamu, dan sebentar lagi kita akan segera punya momongan" Dengan nada lembut Anwar merayu Melati. Ia sangat yakin jika Melati pasti tidak akan mudah termakan hasutan Ibu mertua nya.


Sementara Surti meraba-raba ke sekitarnya, Ia mencari Anwar yang justru mengabaikan dirinya yang tengah terluka. Ia tidak terima jika Anwar akan meninggalkan nya begitu saja.


" Mas kamu dimana? Aku tidak bisa melihat Mas, mataku sakit " Rintih Surti berharap Anwar akan berpihak padanya.


Anwar memperhatikan Surti, kedua belah mata wanita itu terus mengeluarkan darah berbau anyir. Ia jadi jijik sekali melihatnya.


" Bu... " Melati mengalihkan perhatiannya kepada sang Ibu yang tersenyum puas dengan keadaan Surti.


" Biarkan saja Mel, ini hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat. Dia tidak pernah mau memandang Ibu yang selalu membantu nya, dia juga tidak pernah melihat persaudaraan kalian yang terbina sejak kecil lagi. Memang lebih baik dia buta saja, dari pada melihat tapi hanya untuk dengki dengan keluarganya sendiri " Cetus Nenek tanpa sedikitpun rasa iba terhadap Surti.


" Bude... tega Bude mengatakan hal itu kepada ku " Surti semakin tersakiti setelah mendengar ucapan Nenek.


" Kau juga tega Sur, mengkhianati Melati.. Jangan kamu pikir aku bisa percaya ucapan mu dan Anwar. Bahwa kalian hanya sebatas ipar " Balas Nenek.


" Bu, sudah Bu... Kasian Surti.. Ayo kita bawa dia ke Rumah Sakit " Pinta Melati, hatinya memang mudah sekali tersentuh dengan penderitaan orang. Sekalipun orang itu pernah menyakiti dirinya.


" Apa kamu lupa Mel kejadian semalam? Kau hampir mati Ndok " Pekik Nenek tak kuasa menahan pilu dihati nya.


Melati tertunduk, ia bingung harus bagaimana?


" Mbak.. " Surti merangkak dengan meraba-raba untuk mendekati Melati. Ia berharap Melati Sudi menolongnya membawa ke Puskesmas terdekat. Tapi Nenek sigap menghalangi Surti menyentuh Melati, ia mendorong Surti hingga terjengkang ke atas lantai papan kayu.


" Bu.. Jangan!!! " Melati ingin menolong Surti, tapi Ibunya menahannya. Sementara Anwar diam saja, ia ingin mengamankan posisinya dengan tidak perduli lagi terhadap Surti.


Lagi pula apalagi yang dia harapkan dari Surti, tanah yang Surti janjikan akan dijual rupanya masih dalam kekuasaan Melati dan Ibunya.


Pada saat itu Anwar sudah jengah serta ingin mengakhiri hubungan nya dengan Surti. Tapi Surti malah ingin menguasai seluruh harta Baharuddin dengan cara membu-nuh Melati.


Anwar yang sememangnya hanya ingin uang saja pun setuju. Lagi pula Surti lebih mudah ia bodohi dari pada Melati. Jika Melati tewas, masalah mertuanya akan lebih mudah untuk disingkirkan.


Maka Anwar bisa menguasai seluruh harta warisan Baharuddin yang terbilang cukup banyak. Setelah semua berada dalam genggaman, Anwar berniat untuk kabur ke kota dan memulai hidup baru disana sebagai orang kaya raya.


Tapi semua itu masih dalam tahap rancangan semata, sekarang sudah terlalu banyak masalah yang harus dihadapinya. Anwar perlu menyelamatkan diri, jika tidak? Sudah pasti dia akan gagal total. Harta tak dapat, nyawa pun bisa melayang kapanpun. Karena ia tahu peraturan adat setempat sangatlah ketat.