SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
KEMANA ANDI??



" UDIN !!! "


Sebuah seruan membuat Udin dan Prilly menoleh. Sakhi melambaikan tangannya lalu berlari ke arah mereka.


Sebelum Sakhi melakukan hal yang tidak diinginkan, Prilly cepat bergerak menghalangi.


Refleks kaki Sakhi ngerem mendadak.


" Mau apa Lo ?" Tanya Prilly ketus.


" Em gue cuma pengen ngucapin makasih, Kakak gue udah sembuh" Jawab Sakhi disertai senyuman kebahagiaan.


" Oh bagus lah, Udin juga udah denger apa yang mau Lo sampaikan ke dia " Balas Prilly.


Udin yang berada di balik punggung Prilly hanya geleng-geleng kepala. Ia pun berbalik masuk ke dalam kelas.


" Udah pergi sana ke kelas Lo, kami mau belajar" Prilly mengusir Sakhi, gadis itu tersenyum meskipun enggan.


Prilly masuk ke dalam kelas meninggalkan Sakhi yang masih menengok ke dalam kelas si Prilly. Ia berharap Udin sudi keluar lagi untuk menemui nya.


Tapi cowok itu seperti tidak perduli, Prilly yang menyadari Sakhi belum beranjak pergi, melambaikan tangannya mengusir Sakhi.


Karena tidak ada respon dari Udin, Sakhi pun pergi dengan hati kecewa.


Saat jam istirahat, Prilly duduk berdua bersama Udin di depan sekolah. Ada aja yang akan diceritakan Prilly, meskipun Udin hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


" Din "


Tiba-tiba Sakhi datang sembari menyodorkan segelas minuman dingin.


Prilly langsung merampas nya sebelum Udin menerima pemberian Sakhi.


" Apa-apaan sih Lo Pri?? Gue kan mau ngasih ke Udin bukan ke Lo " Sakhi protes, ia tidak bisa terus menerus membiarkan Prilly mengintimidasi dirinya.


" Dalam rangka apa Lo ngasih ke Udin, hah ?" balas Prilly.


" Emang apa salahnya sih Pri gue beliin dia es teh? Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih " Sakhi tidak mau mengalah.


Udin mengambil es teh yang dipegang Prilly lalu ia menyeruput nya sedikit. Di luar dugaan, setelah Udin mencicipi es teh tersebut, ia menyodorkannya ke hadapan Prilly.


" Enak " Ucap Udin, Prilly tersenyum tipis ia pun meminum es teh itu dari tangan Udin.


Sakhi otomatis cemburu, perlakuan Udin begitu sangat romantis.


" Emmm seger, makasih ya Sakhi atas es teh yang kamu kasih ke kita " Prilly menyindir Sakhi dengan bangganya.


Sakhi mengangguk, dengan menyimpan rasa kesal di dalam hatinya.


BUGH


Tubuh Sakhi terdorong dari belakang hingga memeluk Udin. Untung Udin sigap menahan tubuhnya, sehingga ia dan Sakhi tidak terjungkal ke belakang.


" Sakhi" Pekik Prilly, ia menarik Sakhi menjauh dari Udin.


" Lo nih ya, pinter banget cari kesempatan"


Sakhi menggeleng, orang yang menabraknya sudah melarikan diri.


" Sudah sudah dia nggak sengaja, lagian dia siapa yang main kabur gitu aja habis nabrak orang? " Udin menyela memperhatikan siswa yang sudah ngacir.


Prilly turut memperhatikan cowok yang nabrak Sakhi barusan.


" Kayak dikejar syetan aja " Celutuk si Prilly .


" Kamu kenal? " Tanya Udin.


" Sepertinya itu si Andi , tumben dia nggak sama gank motor nya ya" Prilly sedikit mengenal Kakak kelasnya itu.


" Andi ? Tim basket itu ?" Tanya Sakhi, Prilly mengiyakan.


" Barusan di kantin ada anak-anak bilang kalau Yus, Wira , dan Sahib sudah meninggal semalam "


Prilly terkesiap kaget.


" Serius Lo ?" Bola mata Prilly membeliak lebar.


Sakhi mengangguk yakin.


" Mereka kan sahabat nya Andi semua" Gumam Prilly .


" Ini ada yang tidak beres, yuk kita cari anak itu " Ajak Udin.


" Anak siapa ? " Tanya Prilly .


" Yang barusan nabrak Sakhi " balas Udin.


" Oh Andi, dia Kakak kelas mu loh. Malah disebut anak.."


" Ah sama aja, yuk " Udin menarik tangan Prilly untuk ikut dengan nya.


Sakhi cemburu lagi karena dirinya dibiarkan begitu saja. Tapi pantas kah dia cemburu? Kan Udin emang calon suami nya Prilly .


Sakhi menarik nafas dalam-dalam, lalu ia berlari menyusul Udin dan Prilly .


Prilly mencari Andi ke dalam kelas nya, tapi kata teman-teman se kelasnya, Andi tidak ada. Malah ada yang bilang Andi tidak masuk sekolah.


Prilly dan yang lainnya saling berpandangan satu sama lain. Kalau Andi tidak masuk sekolah, barusan itu siapa?


Lagi-lagi Sakhi merasa cemburu, lama-lama bisa metong si Sakhi karena terus terusan menahan cemburu.


" Kita cari Andi kemana? " Sakhi mengalihkan perhatian dua sejoli itu, agar tidak bermesraan terus menerus.


Prilly dan Udin mengedarkan pandangannya, mereka sama sekali tidak menemukan jejak si Andi.


" Ya udah kita balik ke kelas aja dulu, sebentar lagi jam istirahat sudah habis " Udin mengajak dua cewek itu untuk pergi. Mereka pun mengangguk setuju.


Sampai waktu pulang sekolah, Udin dan Prilly tidak melihat kelibat si Andi.


" Aku yakin banget deh, tadi itu Andi" Prilly celingukan kesana-kemari.


" Enggak kamu enggak salah liat" Udin meyakinkan.


" Terus ke mana dia ?"


" Sudah jangan terlalu dipikirkan, biarkan saja" Udin menggiring Prilly untuk pulang.


" Kamu pulang jalan kaki lagi Din?" tanya Prilly .


" Terus mau naik apa ?"


"Kenapa nggak beli sepeda motor aja ? Atau sepeda listrik gitu biar nggak usah beli bensin. Kan enak nggak usah capek-capek jalan kaki"


Udin tersenyum simpul.


" Hitung-hitung olahraga " UDin menjawab simpel.


" Tumben kamu nggak bawa mobil pinky mu?" kini giliran UDin yang bertanya.


" Lagi di servis " Prilly menjawab sekedar alasan kosong, padahal ia memang sudah berencana untuk mampir ke rumah Udin.


" Din, aku laper nih. Kamu masak nggak hari ini ? "


" Belum sih, tapi nyampe rumah aku langsung masak. Kenapa?? Mau makan di rumah ku lagi ?"


Prilly cengengesan.


" Kalau diijinkan? "


Udin tersenyum simpul, ia sudah banyak tersenyum sekarang. Karena hatinya mulai sayang sama Prilly .


Udin seperti kembali memiliki sebuah keluarga ketika Prilly selalu bersama nya.


" Eh jambret jambret!! "


Prilly dan Udin menoleh ke belakang saat mendengar suara Ibu-ibu berteriak keras.


" Tolong jambret"


Dua anak manusia itu melongo ketika pencopet yang dimaksud lewat di depan mereka.


" Woy jambret toloooong " Si Ibu semakin histeris meminta tolong. Tapi semua terpaku diam tak bergeming.


" Din ada jambret" Kujang segera menyadarkan si Udin, sepertinya si pencopet memakai ilmu serep agar semua orang bingung.


" Hah..." Udin gelagapan, apes! Udin terkena serep juga.


" Pri.. Pri.. " Udin menepuk pundak Prilly , gadis itu langsung tersadar.


" Ya"


" Ada jambret"


" Hah? ya udah kita tolong"


Udin bingung juga, kalau ia menggunakan kekuatan nya di siang bolong begini. Pasti akan berdampak pada dirinya, entah itu berdampak baik atau tidak baik.


Prilly mencegat teman satu sekolah nya yang tengah menaiki sepeda motor ninja.


" Pinjam dulu, mau ngejar copet" Pinta Prilly .


" Tapi gue mau pulang Pri " Cowok itu enggan memberikan pinjaman.


Prilly mengeluarkan uang beberapa lembar ratusan, dan berhasil memikat si pemilik sepeda motor agar mau meminjami sepeda motor nya.


" Ayo Din " Ajak Prilly , ia menyerahkan kunci motor kepada si Udin.


Tapi anak itu justru bingung harus bagaimana.


" Kok bengong, ayo buruan. Entar keburu jauh tuh si pencopet" Gertak Prilly .


" Aku nggak tahu naik sepeda motor " Udin mengaku dengan jujur.


" Aduh " Kujang menepuk jidatnya sendiri.


" Ya udah biar aku yang nyetir, cepat naik " Akhirnya Prilly mengambil alih mengemudi motor sport itu.


Dengan sekali tarik, motor itu melaju cepat mengejar si pencopet.


" Pri, ini kita bukan ngejar pencopet. Tapi ngejar malaikat maut... jangan cepet-cepet Pri, perutku bisa kembung karena kebanyakan udara yang ku makan " Seru Udin ketakutan. Ia memegang erat bahu Prilly .


Tapi gadis itu justru tersenyum senang.