
Pak Agung tercengang, begitu juga dengan para polisi yang tengah berkumpul disana.
Pria itu segera merangkul bahu Prilly agar pergi dari tempat itu, namun Prilly berontak. Ia sama sekali tidak perduli bahwa kejadian ini akan menjadi tontonan gratis untuk bawahan Ayahnya.
" Prilly nggak mau pergi sebelum Papa jelasin semuanya"
Pak Agung kebingungan, ia juga malu jika masalah rumah tangganya akan terbongkar disini. Wajah pria yang masih menyimpan ketampanan alami nampak memerah.
" Yoko!!! Yoko!!! " Pak Agung memanggil ajudannya, seorang pria berumur tiga puluh tahunan datang menghadap.
" Iya Pak !" Jawab Yoko tegap disertai hormat.
" Bawa Nona masuk mobil "
" Siap ! "
Yoko menarik tangan Prilly dan dipaksa nya untuk mengikuti. Tapi Prilly terus berontak, hanya saja ia kalah tenaga. Yoko sama sekali tidak bisa berkompromi untuk melepaskan Prilly.
Pak Agung memang cerdik, dia tidak bisa bersikap kasar kepada putri nya. Tapi ajudannya akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh nya.
" Hey !!! Jangan kasar sama perempuan!! " Tiba-tiba Udin datang kembali dan mencoba menghentikan aksi Yoko yang menarik paksa Prilly pergi.
Gerakan kuat Yoko spontan terhenti, Prilly tidak membuang kesempatan ini. Ia melepaskan diri lalu berlari ke dekat Udin yang masih berada dibalik pintu jeruji besi.
Wajah Pak Agung mengetat, ia menahan amarahnya terhadap Udin yang telah menggagalkan niatnya membawa pulang Prilly.
" Loji!! " Pak Agung melirik Pak Loji. Sipir kepala polisi itu jadi gelagapan. Ia mencoba menarik tangan Prilly, tapi gadis itu cukup tangkas menepis nya.
" Aku mau anak ini dibebaskan, berapa uang yang harus ku bayar" Prilly justru menantang yang berhasil membuat para staf polisi terkejut mendengar nya.
" Prilly!! Apa-apaan kamu !" Gertak Pak Agung.
" Kalau Papa memang mencintai Mama? bebaskan anak ini! Aku mau dia datang menemui Mama dan menyembuhkan Mama " Prilly sama sekali tidak gentar menghadapi Papanya.
" Prilly, Mama sakit,,,, jadi yang bisa menyembuhkan Mama adalah Dokter. Bukan seorang penjahat!! " Bantah Pak Agung tidak setuju.
" Aku tidak mungkin bisa dibebaskan, karena aku tahanan seumur hidup. Kecuali, aku keluar secara bersyarat dalam beberapa hari" Udin menjelaskan situasi dirinya kepada Prilly.
Prilly menatap dalam laki-laki yang pasti umur nya tidak jauh berbeda dengan nya. Sepasang mata hitam kebiruan itu sangat begitu indah, sehingga berhasil menciptakan getaran cinta di dalam dirinya.
" Baiklah, aku ingin mengeluarkan dia secara bersyarat untuk beberapa hari!! Berapa tebusan yang harus ku bayar? " Tukas Prilly kemudian.
Pak Agung semakin kalut, jika ia menolak? Maka putrinya tidak akan berhenti sampai disini saja. Ia tahu Prilly seperti apa ?
Pandangannya mengedar, tatapan mata para bawahannya seolah-olah menunggu apa yang bisa dilakukan oleh seorang perwira polisi seperti dirinya?
" Baiklah!! Loji, tolong selesaikan urusan ini. Dan bawa anak itu ke rumah ku " Akhirnya Pak Agung akur dengan keputusan Prilly.
" Tidak !!" Potong Prilly cepat " Aku akan pulang bersama nya " Tidak semudah itu Prilly untuk percaya. Dia akan memastikan sendiri Udin akan keluar dari penjara dan tiba di rumah nya secara selamat.
" Prilly, proses nya nggak sebentar" Pak Agung berusaha menjelaskan agar anaknya mengerti.
" Aku punya banyak waktu untuk menunggu Pa , dua hari? tiga hari?" Tatapan mata Prilly beralih ke Pak Loji yang langsung gelagapan.
" Tiga Jam " Jawab Pak Loji cepat.
" Hanya tiga Jam Pa, kalau Papa sibuk? Prilly bisa pulang sendiri" Prilly tersenyum penuh kemenangan.
Ayah dari Mamanya Prilly, Ibu Latuluna. Latuluna pun bukan wanita biasa, ketika dia masih gadis, dia adalah seorang polwan yang cerdik. Banyak kasus yang berhasil dipecahkan berkat kemampuannya. Semua orang memprediksi bahwa dialah yang akan menjadi seorang perwira polisi.
Tapi nasib berkata lain, setelah menikah dengan Pak Agung yang merupakan sejajaran polisi sipir biasa. Ibu Latuluna mengundurkan diri dengan dalih ingin menjadi seorang ibu rumah tangga saja.
Entah apa alasan yang sebenarnya, banyak yang menyayangkan keputusan Ibu Latuluna tersebut. Apalagi Pak Agung hanya polisi biasa yang jauh dari kehebatan Ibu Latuluna sendiri.
Namun tak disangka, ternyata Pak Agung bisa sampai dititik ini. Menyandang sebagai perwira polisi di umur yang kurang dari empat puluh tahun.
Sudah banyak pencapaian Pak Agung dalam menangani banyak kasus, termasuk kasus gank ******* yang berhasil menaikkan jabatan nya sampai menjadi Perwira polisi. Sungguh tidak percaya menduga sebelumnya.
" Kamu sudah makan ? " Tanya Prilly saat dalam perjalanan pulang. Ia menengok ke jok paling belakang mobil, dimana Udin duduk sendiri di sana. Sebenarnya tidak sendiri, Kujang juga ikut serta.
Udin hanya mengangguk kecil. Tapi perut Udin berkata lain, cacing-cacing di dalam perutnya bernyanyi keroncong menggunakan pengeras suara sehingga dapat di dengar oleh Prilly.
Gadis cantik itu tersenyum lucu, Membuat Udin jadi malu.
" Mangkanya jangan sok , ditawarin makan malah nggak mau . Hehehehehe giliran perutnya keroncongan kan jadi malu " Goda Kujang.
Udin membuang muka.
" Pak, tolong cari restoran terdekat ya " Seru Prilly kepada supir di depannya.
" Nggak usah, makan di rumah aja " Bantah Pak Agung yang duduk bersebelahan dengan Prilly di pintu tengah. Namun dua kursi mereka ada renggang untuk jalan ke jok belakang.
" Kok gitu Pa, dia kan sudah lapar"
" Ingat Prilly, dia hanya bebas bersyarat dalam tiga hari saja. Kalau dia kabur nanti pas kita di restoran, kamu mau tanggung jawab" Gertak Pak Agung tegas.
Prilly pun tidak bisa membantah, karena apa yang dikatakan oleh Papanya itu benar.
" Ya udah Pak, cepet pokoknya pulang ke rumah " Tandas Prilly pada akhirnya.
Setibanya di rumah, kedatangan rombongan Prilly di sambut oleh Sonya. Sonya adalah sepupu Ibu Latuluna. Semenjak Latuluna sakit, Sonya yang merupakan sepupu sekaligus sahabat Latuluna berinisiatif untuk membantu merawat Ibu Latuluna.
Tapi senyuman wanita berparas ayu itu langsung hilang begitu melihat kehadiran makhluk lain diantara tiga manusia.
Ia mundur dan langsung lari masuk ke dalam.
" Tante Sonya kenapa? " Tanya Prilly.
Pak Agung berlari mengejar, ia merasa khawatir dengan keadaan Sonya.
Perasaan Prilly jangan ditanya lagi, ia marah melihat Papanya sangat perhatian dengan Sonya.
" Ayo, nama kamu Udin kan ?" Prilly mengalihkan perhatiannya kepada Udin.
Udin mengiyakan.
" Namaku Prilly, aku bawa kamu langsung ke kamar Mama " Prilly mengajak Udin masuk, dan Udin pun tidak menolak. Ia dan Kujang mengikuti langkah Prilly menuju kamar Ibu Latuluna.
Dan begitu pintu dibuka oleh Prilly, Udin dapat melihat banyak nya roh hitam memenuhi kamar Ibu Latuluna.
GEEERRRRRR
Kujang mengeran menunjukkan taringnya, Membuat semua roh hitam itu melesat keluar dengan cepat.