SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
GONCANGAN



Surti mengaduh kesakitan, telapak tangannya tanpa sengaja tertancap paku yang menyembul ke permukaan.


Emosi bercampur dengan sakit hati semakin memupuk rasa dendam nya.


" Bude, jangan salah kan aku jika aku akan membalas perlakuan mu " Teriak Surti.


" Hem, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan Sur. Aku sudah jengah melihat mu, pergi sekarang kau dari sini! Jangan pernah kau menginjak kan kaki mu lagi di rumah ku " Nenek menunjuk ke arah pintu mengusir Surti.


Perempuan itu mengepalkan tangannya, ia sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakit di mata dan telapak tangannya.


Surti merangkak sambil meraba-raba, ia berniat ingin menemui Ki Kusumo. Berapa pun akan ia bayar dukun itu asal bisa melenyapkan Ibu Melati dan Melati sendiri.


Namun semua itu tidak lah mudah, dengan diamnya Udin mengeluarkan paku-paku kecil itu agar menyakiti Surti.


Setiap Surti merangkak, pasti telapak tangannya akan mengenai paku, kedua lututnya pun bernasib sama.


Ia meringis kesakitan, tapi dendamnya Membuat ia mengesampingkan rasa sakit di tubuhnya sendiri.


Anwar memalingkan wajahnya, ia tidak tega juga melihat Surti sedemikian rupa. Ditambah lagi perempuan itu tak kunjung menemukan pintu keluar. Ia hanya berputar-putar di tempat.


Melati ingin menolong, namun apa daya Ibunya tetap gigih menahan dirinya.


" Mas, bantu Surti Mas " Seru Melati kepada suaminya.


" Sayang, nanti kamu malah menyangka aku yang bukan-bukan " Anwar mengelak.


" Nggak Mas, cepat bantu dia "


Meskipun mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Anwar masih tak bergeming. Ia melirik mertuanya yang menjeling nya tajam.


" Mas... " Gertak Melati.


Tidak ada cara lain, Akhirnya Anwar terpaksa bangkit untuk membantu Surti.


Mendengar derap langkah kaki mendekat, Surti menyusun rencana singkat. Begitu Anwar memapah nya bangkit, ia mengambil pisau yang terselip di dalam bajunya lalu menusuk perut Anwar tanpa ampun.


Anwar yang tidak pernah mengira jika Surti akan menyerangnya tak dapat mengelak. Kedua matanya membeliak lebar, Surti tersenyum miring.


" Kau pikir aku akan diam saja Mas disaat kau mengacuhkan diriku tadi "


Ia menarik pisaunya lalu ia tusuk lagi hingga berkali-kali. Anwar melirik Surti, darah keluar dari mulutnya, karena Surti telah menusuk bagian organ inti.


Posisi kedua nya dalam keadaan memunggungi Melati beserta Ibunya.


Melati bingung kenapa dua orang itu diam saja? Ia saling berpandangan dengan Ibunya.


Namun sesaat kemudian Melati terbelalak melihat darah mengucur ke lantai. Bersamaan dengan itu, Anwar mendorong Surti menggunakan sisa-sisa kekuatannya.


" Mas.. " Melati berteriak histeris, Ia tidak perduli lagi dengan keadaan dirinya. Tubuh sang suami yang ambruk langsung ia peluk hingga keduanya terjerembab bersamaan ke lantai papan kayu.


"AWW "


Melati mengeluh kesakitan sebab Anwar menindih perut nya.


" Melati.. " Pekik Nenek, ia langsung menolong sang anak.


" Sa.. Sayang" Anwar tergagap, ia tidak menyangka jika dirinya justru mencelakai Melati.


Udin cepat bertindak, ia membantu Nenek menarik tubuh Melati agar tidak tergencet tubuh Anwar.


Pria yang sudah dihujani tusukan oleh Surti, kini tak berdaya. Nyawanya berada di ujung tanduk. Tangan nya terulur seolah-olah ingin menolong Melati yang kesakitan.


Sementara Surti masih dalam posisi terjelopoh di lantai papan setelah didorong oleh Anwar. Ia tersenyum puas mendengar keributan yang terjadi.


Melati merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Sepertinya ia mengalami kontraksi hebat saat terjatuh tadi.


" Ndok tenang Ndok... Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan" Nenek memberikan instruksi yang dipatuhi oleh Melati.


Air matanya meleleh ketika melakukan adegannya tiup-tiup sambil melirik suaminya yang masih menggelepar.


Udin bisa membaca situasi itu, ia tidak tega. Kembali masa lalunya bersama keluarga nya dulu terimbas dalam angan.


Udin memutuskan untuk membantu, ia mengerahkan kekuatan nya menggunakan dua jimat sakti milik nya . Ia dorong bagian perut Melati, Agar bayi di dalam cepat keluar.


AKH


Melati menegang, rupanya dorongan yang diberikan Udin berhasil mengeluarkan kepala bayi. Namun hal itu juga mengakibatkan sobekan di area inti milik Melati.


Nenek bersemangat sekali begitu tahu kepala bayi sudah keluar.


" Cepat dorong Ndok... sekali lagi" Teriak Nenek.


Melati menarik nafas panjang, lalu ia mengeran kuat. Dalam sekali dorong bayi itu langsung keluar disertai tangisan kuat.


" Alhamdulillah.. " Anwar bergumam, ia tersenyum tipis. Rasa syukur ia panjatkan karena masih bisa melihat anaknya meskipun keadaan dirinya sudah sangat sekarat.


Surti terdiam setelah mendengar suara tangisan bayi. Hatinya semakin sakit, bau-bau kebahagiaan tercium . Ia sangat tidak suka melihat Melati lebih beruntung daripada dirinya.


Sejak dulu, Melati adalah seorang primadona. Dalam keluarga ia adalah keponakan kesayangan, Ibu dan Ayah Surti sendiri lebih menyayangi Melati daripada anaknya sendiri.


Saat menikah pun Melati mendapatkan suami yang tampan. Semakin iri lah si Surti sehingga ia berniat menikung suami saudara sepupunya sendiri.


Dan niat itu tercapai, apalagi Anwar yang mudah sekali diimingi dengan uang.


Surti teringat dengan garam pemberian Ki Kusumo, ia diperintahkan untuk menabur garam itu ke darah yang keluar dari peranakan Melati.


Maka dari itu, ia segera melancarkan aksinya. Surti merangkak menuju ke arah suara tangisan bayi. Dan tanpa sengaja menyenggol tubuh Anwar.


Pria itu mencekal lengan Surti, meskipun Anwar bukan orang baik, tapi ia tidak akan mengijinkan Surti melukai anaknya.


" Lepaskan... " Sekali hentak cekalan tangan Anwar terlepas.


" Mau apa kau " Teriak Nenek, ia tidak tahu jika Surti sudah menggenggam garam di tangan nya.


Gerakan Surti terhenti begitu tangan nya menyentuh benda cair berbau amis . Ia tersenyum iblis, tanpa ba-bi-bu lagi Surti langsung menabur garam tersebut.


Tiba-tiba saja asap hitam mengepul, meliuk-liuk ke atas . Hawa dingin menyeruap, Surti menyeret tubuhnya mundur.


Kujang mempunyai firasat buruk, ini seperti pelepasan sihir yang tertahan.


" Udin, hati-hati" Kujang melompat ke hadapan Udin.


" Nek, tolong menyingkir " Pinta Udin kepada Ibu Melati. Nenek mengiyakan, ia merangkak mundur sambil membantu Melati, bayi dalam gendongannya menangis kencang. Sepertinya bayi itu juga merasakan firasat buruk.


Asap hitam yang membumbung tinggi kini berubah menjadi sosok hitam besar serta bertanduk. Dua bola matanya merah menyala. Memberikan kesan menyeramkan kepada lawannya.


Makhluk tersebut menarik nafas dalam-dalam, menikmati aroma darah segar. Air liur nya menetes saat melihat genangan darah tersebut. Ia berjongkok untuk meminum darah itu.


Tapi Kujang tidak membiarkan hal itu terjadi, ia menghentakkan dua kaki depannya ke lantai. Menyebabkan guncangan hebat.


Makhluk itu mengangkat wajahnya, tatapannya nyalang. Ia tidak suka jika waktu makannya diganggu. Dan berniat memberikan Kujang pelajaran.


Tangan besarnya mengibas tubuh Kujang, namun Kujang melompat lincah menghindari serangan makhluk itu.


Kujang mengibaskan ekornya menghantam wajah makhluk tersebut, sehingga si Makhluk bertanduk hitam itu terjejer ke belakang.


" Kurang A jar" Makhluk itu semakin marah, ia memukul Kujang menggunakan sihirnya. Lagi-lagi Kujang menghindar, dan pukulan itu lurus ke arah Udin.


Dengan santai Udin menahan pukulan tersebut, lalu ia membalikkan pukulan sihir kepada pemiliknya.


BOMMM


Senjata makan tuan, Makhluk hitam besar itu dipukul oleh sihir nya sendiri. Tubuhnya terpental hingga mengakibatkan guncangan.


Melati, Nenek, Surti dan Anwar, hanya dapat merasakan goncangan itu. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.