
Hahahaha
Iksan tertawa puas karena kemenangannya, ia duduk menyilangkan kakinya di kursi kebesaran Pak Haji Kamil.
Sedangkan si bayi Iblis duduk di pangkuan nya . Iksan sudah mewanti-wanti si bayi agar bersikap normal selama tinggal di rumah Pak Haji Kamil. Karena ia ingin berbaur dengan masyarakat tanpa dicurigai.
Tidak lupa ia memasang pagar gaib agar keberadaan nya tidak terdeteksi oleh penjaga topeng legendaris. Karena Iksan tidak ingin wujud nya kembali hancur oleh tebasan pedang samurai itu.
Di lain tempat, Cahaya merasakan energi anaknya semakin kuat. Ia belum mengetahui jika Bayi Jamal sudah tidak tinggal di panti. Hanya saja ia selalu mendeteksi kekuatan anaknya melalui keberadaan dua Jimat yang ia berikan kepada Udin.
" Hampir delapan tahun ya sayang" Gumam Pangeran As'ad yang mendatangi sang istri. Seperti biasa Jika Cahaya diam menatap langit, berarti dia tengah merindukan sang anak.
" Tinggal enam tahun lagi " Jawab Cahaya. Pangeran As'ad menganggukkan kepalanya, ia memeluk Cahaya dari belakang sambil menikmati langit malam bersama.
" Ca... Cahaya"
Cahaya mendongak mencari arah datangnya suara, nampak si Wewe gombel terseok-seok melewati dahan pohon menuju ke gubuk nya.
" Cahaya, apa kau tahu?? Anak iblis telah lahir" seru Wewe gombel, ia bertengger di dahan pohon beringin di tepi rumah.
" Lahir ?? Anak Iblis yang mana lagi ?" Tanya Cahaya, bukankah dia sudah menebas habis Iblis merah beberapa tahun yang lalu.
" Anak Iblis merah, ternyata dia dibangkitkan kembali oleh pemuja nya melalui tubuh anak manusia. Dan sekarang dia sudah berhasil memiliki keturunan " Wewe gombel menjelaskan.
" Kau tahu dari mana?" Tanya Cahaya.
" Aku baru saja jalan-jalan shopping ke luar hutan"
Cahaya menarik nafas dalam-dalam, rengkuhan suaminya sedikit menenangkannya.
" Apa kamu akan turun gunung?" Tanya Pangeran As'ad .
" Tapi aku tidak tahu sekarang Iblis itu berada di mana , sepertinya dia akan berusaha untuk tidak diketahui oleh kamu " Imbuh Wewe gombel.
" Aku akan menunggu anakku, jika Iblis itu memiliki anak , maka anakku lah yang akan menghabisi nya " gumam Cahaya, kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah.
" Aku tidak setuju jika kau akan memberikan topeng itu kepada Jamal, aku tidak mau dia menderita kehilangan anak-anaknya seperti apa yang telah kita lalui" Bantah Pangeran As'ad .
" Aku tidak akan memberikan topeng itu, topeng itu hanya bisa dijaga oleh seorang perempuan. Tapi aku akan meminjamkan nya untuk menumpas Iblis beserta keturunannya yang menggangu manusia " Jawab Cahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kasus yang menimpa Udin mengalami ketimpangan. Karena polisi yang mengusut kasus ini tidak menemukan tanda-tanda bahwa Udin lah pelakunya.
Dokter forensik yang mengotopsi para jenazah pun ragu jika Udin yang melakukan pembunuhan sadis itu.
Luka yang ada di leher Satrio dan Siti tidak cocok dengan sketsa rahang si Udin. Dan juga luka di perut Wati yang sangat jelas bahwa perutnya dirobek dari dalam. Serta keadaan Rahul yang mati dengan tubuh mengerut.
Semua bukti tidak bisa mengarah kepada Udin. Namun kepala polisi yang sudah dipengaruhi oleh Iksan mengatakan bahwa Udin tetap bersalah.
Para polisi pun tidak bisa berkata apa-apa, Udin tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman seumur hidup.
Udin diam tanpa bantahan saat vonis dijatuhkan, ia sama sekali tidak gentar. Justru dia bisa bertindak dengan aman jika ia berada di penjara.
Tentu Iksan tidak akan terlalu khawatir karena merasa Udin telah ditahan. Jadi dia akan mengurangi kewaspadaan terhadap Udin.
Di saat itulah Udin akan membalas kematian seluruh keluarganya. Terutama bayi Iblis itu, Udin harus memiliki rencana yang matang untuk bisa menumpas nya.
Enam Tahun berlalu , Udin tumbuh menjadi seorang pemuda berumur empat belas tahun yang sangat tampan.
Ia disegani oleh para napi yang lain karena sifatnya yang sangat dingin dan tegas. Udin juga tidak mudah ditindas oleh napi yang lebih dewasa.
Sebagian dari mereka tahu siapa Udin karena preman kampung anak buah Satrio kerap kali menjenguk nya di lapas.
Para Polisi juga baik dengan Udin, mereka tahu jika Udin tidak bersalah. Namun Udin sama sekali tidak pernah membahas ketidak bersalahnya. Dia cenderung menerima saja apapun takdirnya.
" Din " Paman Sam mendekati UDin yang tengah berolahraga dengan bergelantungan di dahan pohon. Otot-ototnya menyembul kokoh saat tangan nya menarik tubuhnya naik turun.
Udin melompat ke tanah menyudahi olahraga nya. Ia mengelap tubuh nya dengan handuk kering.
" Kau boleh tolong aku Din " Sambung Paman Sam.
" Ada apa Paman??" Udin dan Paman Sam duduk bersebelahan di sebuah batang kayu.
" Aku selalu kepikiran dengan putriku satu-satunya yang aku tinggalkan. Di tahun pertama aku ditangkap, dia masih sering menjengukku . Tapi setelah tahun kedua dan sampai tahun ketiga sekarang ini , dia tidak pernah menjengukku lagi. Bisakah kamu membantu ku melihat keadaan nya?? " Paman Sam mengutarakan maksud kedatangannya menemui Udin.
Paman Sam ditangkap atas kasus pencurian, dia hanya di vonis Lima tahun penjara. Dan tahun sekarang dia masuk tahun ketiga. Ia tahu dari para napi lain, Jika Udin sering menyelinap keluar dari penjara dengan kemampuannya melompat cepat. Jadi sudah menjadi rahasia umum mengenai kehebatan Udin.
Sipir lapas pun tahu itu, tapi mereka membiarkan nya saja karena Udin pasti kembali sebelum subuh. Entah apa yang dilakukan bocah itu di luar, tapi tidak ada yang berani mengorek informasi dari Udin sendiri.
" Hanya dia keluarga yang aku miliki Din, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini" Paman Sam berusaha membujuk Udin.
" Dia tinggal dengan siapa ? " Tanya Udin mulai tertarik.
" Dia tinggal dengan Bude adik dari almarhum istri ku. Tapi setahuku mereka kurang baik dengan kami, jadi aku sangat khawatir sekali. Terakhir aku bertemu Lia, tidak sengaja aku melihat memar di lengannya. Aku takut dia disiksa oleh Bude nya Din " Paman Sam bercerita panjang lebar.
" Tinggal dimana dia ? "Tanya UDin kemudian. Paman Sam tersenyum, dengan penuh semangat ia mengeluarkan secarik kertas yang sudah ia isi dengan alamat tempat tinggal putrinya.
Udin menerima kertas tersebut, tidak lupa Paman Sam menyodorkan uang kepada si Udin.
" Ini untuk ongkos kamu pergi ke sana " Sambung Paman Sam.
Udin menerima nya, meskipun ia tidak butuh itu.
" Terimakasih Din terimakasih banyak" Paman Sam merasa terharu sekali, Udin mengiyakan.