SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERHATIAN KECIL



Prilly melihat Udin dan Sakhi datang ke arahnya. Ia sejak tadi enggan masuk lagi ke dalam karena tidak tahan dengan keadaan Syifa.


" Gimana? Udah ? " Tanya Prilly yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Udin.


Prilly mengernyitkan keningnya setelah mendapatkan wajah Sakhi yang diam-diam menangis dan mengusap air matanya secara sembunyi-sembunyi.


" Lo kenapa? " Tanya Prilly.


Sakhi menggeleng cepat dengan wajah yang berpaling jauh.


" Kalau nggak kenapa-napa, kenapa Lo nangis? "


Sakhi tetap bungkam.


" Sudah sudah, ayo kita kembali ke pasar lagi " Ajak Udin menetralisir keadaan.


Prilly mengedikkan bahunya lalu mengikuti langkah si Udin.


Prilly menemani Udin belanja, Sakhi pun ikut serta. Merupakan sesuatu yang baru bagi Prilly belanja di pasar memakai teknik tawar menawar.


Apalagi tawaran yang Udin berikan ala ala Ibu Ibu . Membuat Prilly menakup mulutnya, ia terpana dengan kelihaian Udin.


Harga yang Udin Patokan membuat Prilly kegirangan, karena jauh dari kata cukup terjangkau.


" Kamu pinter banget sih Din, kayak udah pengalaman banget " Puji Prilly.


" Ini adalah yang aku lakukan dulu bersama Kakak ku Wati " Udin tak dapat menyembunyikan kesedihannya ketika mengenang sosok Wati.


Prilly bisa memahami perasaan Udin saat ini, karena ia sempat membaca artikel kasus Udin dan keluarga nya yang dikumpulkan oleh Ibunya.


" Maafkan aku Din " Prilly memegang lengan Udin dengan hangat. Si Udin tersenyum hambar.


Sakhi yang berada diantara mereka otomatis merasakan cemburu , Tapi ia diam saja.


Usai berbelanja, Udin meminta kepada Sakhi untuk bisa bertemu Ibunya. Sakhi pun tidak keberatan, tapi Prilly sedikit ogah-ogahan.


" Bu " Sakhi mendekati Ibunya yang tengah Membuat adonan tepung.


Ibu Syifa/Sakhi mengangkat wajahnya, cekungan di sekitar matanya memperlihatkan betapa lelahnya dia.


Udin menyalami Ibu Syifa, Prilly pun melakukan hal yang sama. Wanita yang sudah terlihat tua itu tersenyum hambar.


Sakhi mengambil alih kerjaan Ibunya karena ada beberapa orang pembeli datang.


" Kalian duduk lah dulu di situ" Sakhi mempersilahkan kedua temannya untuk duduk di kursi yang terbuat dari plastik.


Dengan cekatan Sakhi menggoreng ote-ote menggunakan cetakan khusus.


" Itu nggak dicuci dulu Sa " Tegur Prilly melihat cara Sakhi menggoreng.


" Kalau dicuci entar rusak karena lengket" Jawab Sakhi.


" Emang Lo yakin itu nggak ada kuman nya ? "


Sakhi tersenyum tipis.


" Kalau pun ada pasti udah pada jadi rempeyek "


Udin melengos menahan tawa, sedangkan Kujang tertawa terpingkal-pingkal membayangkan kuman jadi rempeyek.


" Udin, kamu mentertawakan aku ya " Prilly merengut kesal.


" Nggak kok " Udin mengelak tapi bibirnya tersenyum semaksimal mungkin.


" Ah bohong, itu kamu senyam-senyum" Prilly menunjuk wajah Udin.


Pria itu melengos menutup mulutnya.


" Lagian Lo juga Pri, ada ada aja " Timpal Sakhi.


" Kalau mau bercanda jangan sambil kerja " Tiba-tiba Ibu Syifa menegur dengan suara dingin.


Senyum Sakhi langsung sirna.


" Iya Bu " Sakhi melanjutkan kembali pekerjaan nya, hatinya semakin sakit. Kini ia tahu kenapa sikap Ibunya sangat dingin terhadap dirinya? Rupanya ia mengira kalau Sakhi lah yang telah mengguna-guna Syifa.


" Din kita pulang aja yuk " Prilly berbisik dengan suara rendah, Udin pun setuju.


" Ok!! Makasih ya atas kunjungannya " jawab Sakhi, ia meletakkan semua alat-alat penggorengan nya.


Prilly menepuk pundak Sakhi, gadis itu seperti menguatkan hati Sakhi. Meskipun ia belum tahu apa yang terjadi selama Udin berada di dalam rumah Sakhi.


" Aku akan berusaha membantu" Udin pun berusaha menenangkan Sakhi.


" Terimakasih " Sakhi jadi sebak, air matanya mengambang siap meleleh kapan saja.


" Emang Sakhi kenapa sih Din ? Kok dia tadi kayak nahan tangis gitu ? terus sikap Ibunya judes sekali sama Sakhi. Emang dia Ibu tiri apa ? " Prilly mencerca banyak sekali pertanyaan sambil sibuk mengemudi.


" Entah lah, aku tidak tahu kebenarannya seperti apa? Tapi Kakak Sakhi dan Ibunya mencurigai Sakhi yang telah mengguna-guna Syifa" Jawab Udin.


" Apa ?? Kok bisa gitu?? Syifa dan Sakhi kan kakak beradik?? Ya nggak mungkin lah Sakhi berbuat seperti itu?? Alasannya apa coba ?"


" Entahlah " Udin membuang nafas panjang, persoalan ini cukup rumit dan harus berhati-hati sekali.


Malam nanti Udin berniat akan beraksi untuk menemui NYI Blorong.


Setibanya di rumah yang ditempati oleh Udin, Prilly turun dari mobil. Ia membantu Udin membawakan beberapa barang belanjaannya.


" Udah kayak emak-emak kamu Din " Komentar Prilly sambil senyum-senyum.


" Biasalah namanya penghematan" Balas Udin, Keduanya melangkah beriringan masuk ke dalam rumah Udin yang memang tidak begitu besar.


Hanya berukuran lima kali empat meter saja, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, kitchen merangkap dengan ruang tamu.


Tapi di desain dengan unik dan minimalis oleh Latuluna.


" Kamu mau masak apa hari ini? Boleh nggak aku ikutan makan ? " Tanya Prilly sembari menyusun semua bahan-bahan ke dalam kulkas.


" Cuma mau goreng tempe sama buat sambal orek "


Udin kembali menahan sakit di dadanya, karena makanan itu adalah kesukaan Rahul.


" Itu aja, padahal kamu belanja banyak sekali" Prilly bangkit, tidak lupa ia mencuci tangan nya di wastafel.


" Emang kamu mau aku masakin apa ?" Tanya Udin.


" Emmm Steak?? "


Udin tersenyum simpul membuat Prilly semakin terpesona oleh ketampanan nya.


" Aku orang kampung yang besar di penjara, jadi nggak tahu tuh caranya masak makanan barat seperti itu. Jangan kan masak, makan aja belum pernah" Tukas Udin menjelaskan.


" Oh begitu, ya udah terserah kamu deh mau masak apa untuk aku. Racun pun akan ku makan jika kamu yang menyuguhkan nya untuk ku " Prilly menggoda.


Udin tersenyum simpul.


Tidak butuh waktu lama untuk Udin menyelesaikan masakannya. Ia terlihat mahir sekali dan semakin membuat Prilly bertambah kagum.


Udin menambahkan ayam goreng untuk Prilly, karena tidak mungkin ia hanya menyuguhkan tempe goreng dan sambal orek saja.


" Hem enak banget nih sambal , tapi pedas gila " Prilly berkomentar dengan mulut yang masih penuh oleh makanan.


" Hati-hati"


Prilly hanya mengangguk menanggapi ucapan Udin. Ia begitu lahap menyantap makanan nya.


Udin melihat bibir Prilly sangat belepotan, ia pun sigap menyeka bibir Prilly menggunakan tisu.


Prilly terkesiap, secara refleks ia berhenti mengunyah. Tubuhnya dibuat panas dingin oleh sikap lembut si Udin.


Ketika hendak menelan saliva, Prilly tersedak oleh makanan di dalam mulutnya.


Udin dengan sigap mengambil kan air minum untuk Prilly.


Gadis itu hanya mengangguk lalu menenggak air minum nya hingga habis.


" Terimakasih" ucap Prilly setelah batuknya mereda.


" Cuma di usap bibirnya aja langsung salting, gimana kalau sampai dicium " Udin berkomentar dengan cueknya, Sembari melanjutkan makannya.


" Apa-apaan sih Din Ah " Prilly melengos, ia malu ditegur seperti itu oleh Udin.


Tapi siapa coba yang nggak salting dengan perlakuan Udin yang begitu lembut dan perhatian. Kucing aja pasti udah salto kanan salto kiri, Apalagi Prilly yang memang menaruh hati pada pria itu.