SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
KISAH CINTA SOFI DAN RIFIN



Udin menyelimuti tubuh Ucok yang sudah terlelap di tempat tidur, ia baru saja membaringkan anak itu di kamarnya.


Ibu Ucok menemani Udin masuk ke dalam kamar si Ucok.


" Kasian Ucok, dia yang paling merasa kehilangan atas kepergian Sofi " Gumam Ibu Ucok sembari mengusap kepala anak bungsunya itu.


Udin hanya tersenyum menanggapi cerita Si Ibu, tidak mungkin ia mengatakan bahwa Sofi sebenarnya sudah meninggal.


Ibu Ucok menghela nafas berat, ia seperti menyimpan sesuatu yang menyesakkan dadanya.


" Kenapa Sofi terlalu dibutakan oleh cinta?"


Udin tertunduk, ia jadi teringat Wati yang dibutakan juga oleh cinta nya kepada Iksan. Sehingga nasib nahas menimpa dirinya.


" Maafkan Bibi ya, jadi curhat sama Nak Udin" Ibu Ucok menyadari jika apa yang ia lakukan membuat nya kurang nyaman.


"Nggak apa-apa Bi " Ucap Udin.


" Ya udah, Ayo Bibi anter ke kamar" Ibu Ucok keluar dan diikuti oleh Udin.


Ibu Ucok menyiapkan kamar untuk Udin istirahat tepat di kamar paling belakang. Selepas Ibu Ucok pergi Udin langsung menyusun strategi untuk mengungkapkan kematian Sofi.


Ia keluar diam-diam lalu melesat cepat dengan menunggangi Kujang ke tempat dimana ia bertemu sosok tanpa kepala dan kaki.


Udin dan Kujang berdiri di pucuk pohon Pinus, ia mengamati ke sekeliling kawasan tempat sosok itu keluar dari dalam tanah.


Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki mengendap-endap mendekati lokasi sosok itu dikubur. Ia celingukan seperti mencari sesuatu, setelah ditemukan pria itu langsung mencangkul tanah.


Dia terus mencangkul hingga ujung mata cangkul mengenai sesuatu. Pria itu langsung masuk ke dalam lubang, mengais sisa-sisa tanah menggunakan tangan nya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Pria itu memungut bangkai manusia yang sudah membusuk itu. Ia memeluk nya sembari menangis terisak-isak.


" Sofi... " Rintihnya parau sangat menyayat hati.


Benar sekali dugaan Udin, sosok tanpa kepala dan kaki itu adalah Sofi. Lalu siapa pembunuhnya? Apakah Rifin ? Kabarnya Sofi minggat bersama Rifin. Terus pria di bawah itu siapa ?


" Ternyata muncul juga kamu Rifin" Pekik seorang pria bersorban, Udin terhenyak! Ia sama sekali tidak menyadari jika di pohon Pinus tempat ia bertengger ada seseorang yang bersembunyi juga.


Udin memicingkan matanya, tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas karena pria bersorban itu tepat berada di bawah nya.


"Sepertinya itu Kakaknya Ucok " Kujang yang mempunyai penglihatan tajam langsung menebak. Oh iya, Udin baru ingat tentang Hamid.


" Ustadz, tolong... saya hanya ingin menguburkan Sofi secara layak " Rifin yang berada dalam keadaan tersudut di dalam lubang, memohon agar Hamid melepaskan nya.


" Seorang pezina itu lebih hina dari pada seekor an Jing, maka dia tidak pantas disucikan" Hamid menghunus pedang dari sarungnya. Ia bersiap untuk menebas kepala Rifin.


" Baiklah, jika ini memang takdir Allah. Maka aku ikhlas mati di tangan mu Hamid " Sinar mata yang semula ketakutan, kini berubah. Sorot mata Rifin seolah menahan kemarahan.


Bangkai tubuh Sofi ia rengkuh, kelopak matanya perlahan terpejam.


THASSS


Pedang yang terangkat tiba-tiba terlempar jauh, Hamid terhenyak kaget. Kepalanya berputar memperhatikan ke sekeliling.


Udin muncul dari balik pohon. Hamid terperangah, ia tidak percaya jika Udin bisa berada di tempat ini.


" Kenapa kamu bisa berada di sini? sedang apa kamu?" Hamid menginterogasi Udin.


" Seharusnya saya yang bertanya sama Ustadz, kenapa Ustadz berada disini?? Kenapa Ustadz berbohong kepada Ucok ? Kenapa Ustadz tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa Sofi sudah meninggal?" Udin berbalik mengintimidasi Hamid, sejak tadi itulah kesimpulan yang ia dapat di otaknya.


" Itu bukan urusan mu anak kecil" Sergah Hamid menghindar dari menjawab pertanyaan Udin.


" Dia tidak mungkin mengatakan tentang kematian Sofi, karena dialah yang membunuh adiknya sendiri" Rifin berseru lantang menjawab pertanyaan Udin.


" Diam kau pendosa!!!" Teriak Hamid berang, " Seharusnya kamu pun mati bersama nya saat itu juga! "


Hamid melompat ke arah lubang, namun Udin berhasil memeluk tubuh Hamid dari belakang. Lalu ia melemparkan tubuh Hamid ke atas tanah.


" Bajin9an!!! " Hamid mengeram marah, Ia tidak menyangka jika anak sekecil Udin mampu melemparkan tubuhnya.


Disaat Hamid tersungkur, Udin menggunakan kesempatan itu untuk menarik Rifin dari dalam lubang. Rifin membawa serta bangkai tubuh Sofi tanpa kepala dan kaki itu.


Hamid Mengangkat wajahnya, ia melihat pedangnya berada tak jauh dari tempatnya. Gegas Hamid merangkak mengambil pedangnya lalu ia bangkit berdiri dengan tegak gagah berani.


" Aku tidak pernah mengira, jika jihad ku akan menelan banyak nyawa" Hamid tersenyum iblis. Ujung mata pedangnya berkilau diterpa cahaya rembulan.


" Itu bukan jihad, kau sudah tersesat Hamid. Aku dan Sofi saling mencintai, sejak kapan cinta itu adalah dosa "teriak Rifin lantang.


" Cinta bukanlah dosa, tapi kalian telah berzina!!" Balas Hamid tak kalah lantang.


" Aku dan Sofi tidak pernah melakukan apapun, kau yang su'udhon kepada kami "


" Jika laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berada dalam satu tempat, apakah itu bukan Zina ?"


" Aku sama sekali tidak menyentuh nya Hamid " Balas Rifin tidak mau kalah.


" Lataqrobuzzina!! Jangan sekali-kali kamu mendekati Zina. Apa yang kalian lakukan adalah mendekati zina? Allah sangat mengecam itu "


" Aku akan menikahi Sofi, tapi kamu menghalangi. Pada saat itu Sofi mengajakku untuk kawin lari, tapi aku menolak. Karena aku ingin menikahi Sofi dengan baik-baik. Meskipun kamu memandangku sebagai laki-laki yang tidak baik, aku sama sekali tidak pernah mengambil kesempatan atas keridhoan Sofi atas dirinya padaku "


" Tapi kamu !! Kamu sama sekali tidak pernah memberikan kesempatan kepada Sofi untuk menjelaskan. Saat kau membu nuhnya, dia masih suci Hamid, dia masih suci !!" Rifin berteriak sambil memeluk bangkai tubuh Sofi yang sudah membusuk.


Rifin mencium bangkai tersebut tanpa rasa jijik sama sekali.


Hamid terdiam, bayangan saat ia menebas kepala adiknya tanpa ampun terimbas kembali dalam ingatan.


Sofi memohon ampunan kepada sang Kakak, tapi Hamid sudah murka. Ia tidak perduli dengan semua apa yang dikatakan oleh adiknya.


Hamid beringas, menebas kepala Sofi menggunakan pedang wasiat dari sang Ayah. Kepala Sofi menggelinding, Rifin yang pada saat itu baru saja datang dari mengambil air minum. Terbelalak melihat kesadisan Hamid memutilasi tubuh Sofi.


Rifin gemetar ketakutan, tiba-tiba ia melihat roh Sofi menghampiri nya lalu berbisik.


" Lari "


Dengan sisa-sisa kekuatan nya Rifin lari pontang-panting tak tentu arah. Untung Hamid tidak sempat melihat kedatangan Rifin. Ia hanya menemukan air yang tumpah dari botol nya.