
“Nona Violet? kenapa tiba-tiba nona Selly menanyakannya?” Batin kepala pelayan.
“Kepala pelayan?” Panggil Selly ketika ia melihat kepala pelayan hanya diam nampak kebingungan.
“Ah~? iya nona?” Sahutnya.
“Ada apa? apa pertanyaan ku terlalu rumit untuk di jawab?” Tanya Selly.
“Soal itu.. lebih baik nona tanyakan sendiri pada tuan.” Sahut kepala pelayan seraya ia tertunduk ketika melihat kehadiran tuannya.
Melihat kehadiran Joe Nathan. Selly segera bangkit dari duduk lalu menarik kursi untuk pria itu. Namun ia pun terdiam, melihat Joe Nathan menarik kursi yang lain lalu duduk di sana.
Segera menyadarkan diri untuk tidak terlarut dengan keadaan. Selly pun hendak membalik piring tengkurap yang ada di hadapan Joe untuk ia melayaninya layaknya seorang istri. Tapi, ia kembali terdiam. Melihat Joe membalik piringnya sendiri sebelum Selly menyentuhnya.
“Kepala pelayan.”
“Baik tuan.”
Tidak ingin di layani istrinya. Joe Nathan lebih memilih di layani oleh kepala pelayan di kediamannya dan ia mulai menikmati makan malam tanpa menghiraukan apa pun yang ada di sekelilingnya saat ini. Termasuk seorang Selly.
Hanya diam Selly memperhatikan suaminya. Gadis itu lantas mengalihkan pandangan lalu duduk di kursinya kembali.
“Bukankah kau sudah selesai makan?” Tanya Joe Nathan.
“Iya…” Sahut Selly dengan lembutnya.
“Lalu untuk apa kau masih di sini?” Tanya Joe.
“Joe… aku ingin menemani mu makan.” Sahut Selly pada dia yang tidak juga menatapnya meski saling berbicara.
“Kehadiran mu hanya membuat ku kesulitan menelan makanan ku.” Ucap Joe dengan datarnya. Sikapnya yang dingin dan tidak mau menatap Selly pun lantas membuat gadis itu tertunduk semakin dalam.
“Jika begitu aku kembali ke kamar sekarang.” Sahut Selly lalu beranjak pergi.
“Kau.” Panggil Joe.
Memanggilnya dengan sebutan “Kau” dan bukan “Selly” yang mana adalah Namanya. Selly pun terhenti lalu tersenyum. Ia menoleh pada Joe dan senyuman gadis itu kembali memudar ketika ia melihat Joe masih tidak sudi untuk menatapnya.
“Setelah malam ini. Aku tidak ingin makan di satu meja yang sama dengan mu lagi.” Ucap Joe.
Hanya diam Selly mendengarkan ucapannya. Entah kenapa mendengar permintaan Joe lantas membuat jantungnya seolah bergetar. Seperti ia terjatuh dari ketinggian dan semua itu cukup membuatnya merasakan sakit di lubuk hati terdalam.
“Lantas aku harus bagaimana Joe Nathan?” Tanya Selly.
“Kau bisa makan lebih dulu atau bila perlu kepala pelayan bisa mengantarkan makanan ke kamar mu.” Sahutnya sambil ia menikmati makan malamnya.
“Aku mengerti dan akan mematuhinya Joe.” Ucap Selly lalu kembali memutar tubuh untuk pergi.
“Dan” Ucap Joe dan Selly pun kembali terhenti. Tidak menoleh padanya. Selly pun tertegun ketika ia mendengar permintaan Joe Nathan yang ke dua padanya.
“Jangan pernah kau masuk ke dalam ruang pribadi dan kamar ku. Atau berusaha mencari tahu tentang Violet.” Ucap Joe lalu menoleh untuk menatap wanita yang berdiri membelakanginya.
Menoleh seorang Selly. Maka gadis itu pun melukis senyum di wajahnya ketika kini sepasang bola matanya mulai memerah dan berkaca. “Iya. Aku akan mematuhi semua ucapan mu Joe Nathan.” Sahutnya dengan suara yang gemetar.
“Bagus. Sekarang kau bisa pergi dan berusahalah untuk tidak menampak-kan diri di hadapan ku.” Ucap Joe lalu ia kembali menyantap makan malamnya.
Memutar tubuh lalu mendongak untuk menahan air mata agar tidak terjatuh. Selly pun pergi dengan langkah kakinya yang kian lebar untuk menjauh dan menghilang dari pandangan suaminya. Karena itu adalah ingin-nya.
“Huhuhuhu…..”
Tangis tak lagi terbendung. Entah dosa apa yang ia lakukan semasa dulu hingga membuatnya terperangkap dalam keadaan konyol ini?
Deeerrrttt…..
Bergetar ponsel di dekatnya. Selly pun hanya diam menatapnya lalu ia tenggelamkan wajahnya di atas bantal.
“Huhuhuhu….”
🍁
Tiga hari telah berlalu begitu saja. Kini Selly hanya diam berdiri di dekat jendela kamarnya yang terbuka untuk merasakan sejuknya angin sore itu.
“Nona Selly.” Sapa kepala pelayan lalu Selly pun menoleh padanya.
“Makanlah dulu.” Pinta kepala pelayan padanya. Pada dia yang hanya diam membiarkan makannya dingin berulang kali.
“Aku tidak lapar.” Sahut Selly.
“Anda akan sakit jika tidak makan nona.” Ucap kepala pelayan padanya.
“Siapa yang akan perduli? Suami ku bahkan tidak pulang selama tiga hari.” Sahut Selly lalu ia menjatuhkan air matanya lagi.
Melihat nonanya menangis. Kepala pelayan yang tahu betul bagaimana keadaan rumah tangga majikannya itu pun hanya diam seraya ia mulai tertunduk di sana. Tidak bisa melakukan apa pun untuk membantunya meski hanya sekedar mereda kebencian seorang tuan yang entah apa sebabnya.
🍁
Menghentikan langkah kaki tepat di hadapan dua makam dengan dua batu nisan yang terukir indah nama Harry dan Clara. Joe Nathan lantas melepaskan kaca mata hitamnya lalu menekuk lutut untuk meletakkan dua buket bunga yang ia bawa di sana. Tepat di atas makam ke duanya.
“Ayah. Kau menitipkan putri mu pada ku. Tapi aku bahkan tidak mampu menahannya untuk tetap tinggal di sisi ku.” Ucap Joe lalu ia mengalihkan pandangannya untuk menatap batu nisan dengan nama Clara di sana. “Nyonya Clara. Putri mu tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat mirip dengan mu. Ayah bilang jika anda sangat keras kepala dan sifat itu nampaknya juga ada pada Violet putri anda.” Ucap Joe lalu menundukan kepala di sana. Tepat di antara ke duanya. “Zayn Keenan telah merenggut nyawa mu ayah. Dia juga yang merenggut putri mu dari aku calon suaminya yang sangat kau sayangi. Sekarang aku datang untuk mengadu. Tolong restui aku.” Ucapnya dari lubuk hati terdalam.
🍁
Sedangkan di Los Angeles Violet sedang serius membuat tiramisu dessert ketika beberapa minggu terakhir ia telah mengikuti kursus memasak di sana. Kini seyum Bahagia terlukis di wajahnya ketika ia melihat tiramisu buatannya adalah yang paling cantik di antara buatan teman-temannya di dapur itu.
“Bereskan semuanya sebelum pulang.” Ucap Chef master yang memimpin kelasnya.
Patuh. Violet dan teman-temannya di sana mulai sibuk ke sana kemari untuk membereskan semua alat masak bekas pakainya. Selesai dengan itu semua mereka pun mulai melepaskan celemek yang di gunakan untuk di simpan kembali.
Satu per satu hasil karya mereka di cicipi oleh Chef dan seperti biasa, Hasil karya Violet lah yang selalu menjadi yang terbaik di sana. Di antara teman-temannya.
Untuk ke sekian kali Violet keluar dari dalam Gedung mewah tempat kursunya dengan senyum dan tawa.
“Tuan Zayn!” Sapanya dari kejauhan seraya ia melambaikan tangan ke atas dengan antusias.
Zayn yang saat ini duduk di atas kap mobil untuk menjemputnya pun mulai bangkit ketika ia melihat istrinya berlari dan melemparkan diri ke dalam dekapannya.
“Aku yang terbaik! Aku lah yang terbaik tuan Zayn!” Ucap Violet.
Mendengarnya. Zayn Keenan pun tersenyum ketika ia melihat kebahagiaan menyertai Violet di sisinya. Violet yang selalu Bahagia dengan apa pun meski itu hal sederhana sekali pun.
“Istri ku yang terbaik. Aku selalu bangga pada mu sayang.” Ucap Zayn Keenan lalu menghadiahi Violet dengan kecupan manis di puncak kepalanya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......