
Membuka mata. Sejenak Joe Nathan terdiam lalu bangkit. Ia duduk di atas sofa sambil melepaskan kemeja dari tubuhnya, Joe bersandar di sana, menatap ke langit-langit kamarnya.
Pusing akhibat mabuk belum menghilang, sakit di tubuh juga masih ia rasakan. Tapi sedikit pun Joe Nathan tidak menyesali diri atas kekacauan ini.
Dalam kebisuan itu ia mengangkat tangan kanannya. Semalam ia menggunakan tangan itu untuk meninju segala benda yang di lihatnya. Namun sekarang, tangan itu sudah terbungkus perban hingga membuat darah tidak lagi mewarnainya.
Joe Nathan terdiam menatap tangan itu. Ia dapat meyakini jika istrinya lah yang telah membalut lukanya. Tapi Joe nampak biasa saja. Ia tidak terlihat terkejut atau sekedar luluh atas apa yang di lakukan Wanita itu. Toh, di mata Joe, siapa pun bisa melakukan apa yang telah ia lakukan. Tanpa Joe berfikir atas ketulusannya. Itu tidak akan pernah ada, karena dia tidak lagi memiliki hati untuk Wanita lain. Selain Violet seorang.
“Kamu sudah bangun Joe?” Sapa Sellya. Dia masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah nampan berisi mangkuk beraroma kan bubur dan segelas air berwarna jernih.
Wanita itu mendekat dan Joe Nathan mengalihkan pandangan. Sekelilingnya tidak lagi sama seperti semalam. Joe melihat kamarnya telah rapih kembali meski tidak ada barang-barang lagi. Kecuali, foto dirinya dan Violet yang masih utuh tidak berani ia sentuh.
“Sarapan dulu Joe, aku buatkan bubur untuk mu.” Ucap Selly lalu ia duduk di sofa tepat di sisi Joe Nathan.
Selly letakkan nampan yang ia bawa di atas meja lalu menyendok bubur dari dalam mangkuknya. Katanya, itu adalah bubur buatannya.
“Kenapa kau membuatkan aku bubur? Aku tidak sedang sakit.” Ucap Joe.
“Bubur tidak hanya untuk orang yang sakit.” Sahutnya terdengar lembut.
“Aku akan makan nanti.” Sahutnya lalu mengalihkan pandangan.
Kembali Selly menarik uluran tangan karena Joe Nathan tidak bersedia menerima suapan itu darinya. Senyum di wajah Wanita itu perlahan memudar, lenyap bersama dia, pria yang saat ini termenung di sisinya.
“Kamu tidak ke kantor?” Tanya Selly. Sebisa mungkin, ia tidak akan membiarkan Joe Nathan melamun.
“Aku akan berangkat siang.” Sahutnya. Dia tidak menoleh.
“Minumlah dulu Joe, kamu baru bangun tidur, pasti kepala mu juga pusing kan?” Ucap Selly seraya ia meraih gelas berisi air lalu memberikannya kepada Joe Nathan.
“Aku tidak menginginkan apa pun.” Sahutnya.
“Jika begitu aku akan siapkan air hangat untuk mu mandi ya.” Ucap Sellya. Ia letakan kembali gelasnya lalu bangkit dari duduk.
Joe Nathan hanya diam dan Selly meninggalkannya. Sesampainya di pintu kamar mandi, Selly terhenti lalu memutar tubuh untuk memandang suaminya lagi.
...
“Bagaimana cara membuat mu bahagia saat bersama ku Joe? Andai saja, kamu bisa melupakannya, mungkin aku akan sedikit mendapat kan tempat di dalam hati mu.” Batin Selly.
Sellya Nara sangat dalam memandangnya. Suami yang kembali menikmati sebatang rokoknya di sana. Dia masih membisu dengan pandangan kosong, Joe seperti ling lung dan tidak memiliki tujuan di dalam hidupnya lagi. Padahal, jika saja ia teringat akan tujuannya menjadi sukses untuk membuat Violet bahagia bersamanya. Seperti harapnya selama ini. Dia pasti akan kembali bersemangat. Hanya saja, kali ini dia melupakan itu semua, dia tidak dapat memikirkan apa-apa selain hanya rasa sakit pada jiwa dan raganya.
Semua karena Joe yang tidak bisa melupakan dia, Violet Grizelle. Wanita yang sangat di inginkannya sejak dulu. Wanita satu-satunya yang membuat Joe menginginkan sebuah Rumah Tangga seperti yang di idamkannya. Memiliki keturunan darinya, kebahagiaan sebuah keluarga bersama dia, Violet, sebagai istrinya.
Tapi kenyataan berkata lain. Wanita itu tidak berada di sisinya lagi, dia tidak tersenyum untuknya lagi. Kini Wanita itu telah bahagia, tapi, bukan dirinya yang berperan sebagia suami untuknya. Bukan.
Melihat Joe Nathan mengepulkan asap dari mulutnya. Melihat dia termenung menatap ke luar jendela. Semua itu sangat menyakitkan, meski itu bagi Selly yang hanya melihatnya. Lantas, bagaimana dengan Joe yang telah menjalaninya?
Selly mengalihkan pandangan lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia terhenti ketika cermin besar berada tepat di hadapannya. Memperlihatkan sosoknya yang sangat menyedihkan dan tidak berarti apa-apa di mata suaminya.
Selly tatap gambaran dirinya di dalam cermin itu. Ia rapihkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan lalu memaksakan diri untuk tersenyum.
“Andai saja kamu bisa melihat Joe, Aku Sellya sangat lah cantik, tubuh ku sangat mengagumkan dan membuat Wanita-wanita di luar sana menatap iri ke arah ku. Mereka bilang, aku Wanita yang sangat sempurna.” Ucap Selly lalu tertunduk. “Tapi sayang, kamu telah di butakan olehnya hingga tidak bisa melihat itu semua dari diri ku.”
Bangkit dari duduk. Joe lantas mendekat ke arah tempat tidurnya lalu ia raih foto dirinya dengan Violet. Joe membisu, hanya bisa memandang dia sambil mengelus wajahnya. Senyuman manisnya. Sungguh dia sangat menggilainya tapi tidak dapat melakukan apa-apa. Joe merasa jika dirinya adalah pria terbodoh di dunia karena belum juga menampakkan diri di hadapannya.
“Huuustt… Jangan menjawab pertanyaan ku. Tetaplah tersenyum sepeti ini saja. Melihatnya, aku sudah sangat bahagia.” Ucap Joe seraya ia letakan jari telunjuk di bibir foto Violet.
“Joe.” Panggil Selly.
Joe Nathan mendengarnya. Ia lantas meletakkan foto itu di atas tempat tidurnya lagi lalu memutar tubuh, menatap Wanita yang tersenyum sendu di hadapannya.
“Air hangatnya sudah siap.” Ucap Sellya, pandangannya begitu dalam menatap foto Wanita cantik itu bersama dengan suaminya.
“Terimakasih.” Sahut Joe lalu pergi meninggalkannya.
Selly menoleh, menatap punggung kokoh milik suaminya. Dia melihat Joe meraih ponsel yang tergeletak di atas sofa untuk melakukan panggilan. Entah dia sedang berusaha menghubungi siapa? Tapi Selly akan segera mengetahuinya.
“Bian, jemput aku sekarang.” Ucap Joe Nathan. “Kita pergi ke toko bunga.” Lanjutnya sambil melangkah semakin jauh dari pandangannya.
“Toko bunga? Apa… Joe akan memberi ku bunga di hari ulang tahun ku?” Batin Selly.
Senyum manis mulai terlukis indah di wajahnya.
🍁
Sedangkan di apartment Caramel. Gadis itu kedatangan ke dua orang tuanya sejak kemarin dan hari ini mereka akan berpamitan pulang sekalian mengantar putrinya pergi ke kantor.
“Pria yang pergi bersama mu semalam itu…” Ucap ayah Cara, ragu. Dia adalah tuan Darendra. Seorang dokter bedah jantung di sebuah rumah sakit ternama kota Seoul.
“Apa dia putra tuan Zayn Keenan? Pemilik One Zayn Group? Orang dengan nama besar itu?” Tanya nyonya Siena, ibunda Cara. Dia berusaha melanjutkan ucapan suaminya.
Caramel lantas berhenti mengunyah. “Habiskan sarapan ayah dan mama. Jika terus bicara aku akan terlambat.” Sahutnya. Cara terlihat seperti menghindar dari pertanyaan ke dua orang tuanya.
“Ayah sudah katakan. Lanjutkan kuliah mu di bidang kedokteran agar kamu bisa menjadi seperti ayah, Caramel.” Ucap tuan Darendra.
“Tapi aku tidak bisa seperti ayah.” Sahut Cara.
“Kenapa? Bukankah kamu bilang, bekerja di One Zayn Group hanya sebentar? Kamu bilang hanya ingin mencoba bekerja dulu setelah lulus S1?”
“Tapi sekarang lain ayah, aku masih ingin bekerja di sana. Aku merasa nyaman.”
“Apa karena pemuda bernama Axel Zayn itu? Presdir mu? Kamu jadi plin plan seperti ini?”
“Bukan begitu ayah ak-”
“Cara. Carilah pria yang sepadan dengan kita. Jangan muluk-muluk.”
“Aku tidak seperti yang ayah pikirkan…” Sahut Cara, ia tertunduk di kursinya.
“Presdir mu. Dia putra orang yang tidak biasa. Tuan Zayn Keenan, sampai kapan pun kita tidak akan pernah sepadan dengannya. Tolong jangan libatkan diri mu dengan mereka keluarga kaya raya nak. Ayah tidak ingin mereka sampai menginjak harga diri mu kelak dan membuang mu. Orang-orang kaya bisa membeli segalanya, juga membuang apa yang tidak di inginkannya dengan mudah. Mereka memiliki kuasa dan uang. Tidak seperti kita.”
“Jangan berpikir terlalu jauh ayah. Aku dan Presdir Axel hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak lebih.”
“Pokoknya ayah tidak mau mendengar kamu memiliki hubungan dengan Presdir itu. Jika ada waktu, ayah akan kenalkan pemuda yang berprofesi sama dengan ayah. Dia sangat sopan dan kita sepadan. Kamu akan cocok dengannya saat kamu melihatnya.”
“Iya ayah.”
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......