
Mengundang Ben. Kini Joe Nathan telah siap, sama seperti Axel Zayn, ia bertelanjang dada hingga kokoh tubuhnya nampak sangat jelas di pandang mata.
“Bersiap.” Ucap Ben pada ke dua pria yang saat ini mulai mengenakan kaca mata renang, saling menatap sangat tajam lalu kembali menatap lurus ke depan. “Mulai!”
Byarr!!!
Dengan prinsip kuat keduanya, tidak satu pun dari mereka berniat untuk mengalah. Satu sisi Axel Zayn tidak sudi memberikan alamat tinggal Violet di Los Angeles Amerika. Sedangkan di sisi lain, Joe Nathan tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan alamat rumah wanita yang sangat di gilainya sejak saat kuliah dulu.
“Sudah ku katakan. Kita pasti bertemu lagi sayang.” Batin Joe Nathan.
“Joe Nathan!” Ucap Ben, yang berarti Joe Nathan lah pemenangnya.
“Shit!”
Praakk!
Merasa kecewa. Axel Zayn lantas memukul permukaan air dengan menggunakan kepalan tangannya di hadapan Joe yang tersenyum menatap kekalahannya.
🍁
Memakaikan dasi di leher Zayn Keenan, Violet lantas tersenyum ketika kini suaminya tengah mencium keningnya sangat lembut.
Hari ini Zayn harus pergi ke One Zayn Group di kota itu untuk rapat. Semenjak Violet hamil, Zayn sudah berjanji padanya jika ia akan terus berada di rumah untuk mengawasi istri kecilnya itu. Setiap pagi Zayn biasanya melakukan video conference untuk memantau perkembangan bisnisnya di semua anak cabang yang tersebar di beberapa negara. Hanya saja, terkadang beberapa rapat penting harus di hadiri secara langsung olehnya.
Zayn Keenan menekuk lutut di hadapan istrinya. Ia cium perut buncit wanitanya lalu mengucap lembut di sana. “Daddy pergi sebentar, sayang jangan nakal.”
Cup~
Satu kecupan lembut mendarat di perut buncit Violet dan di susul elusan hangat telapak tangan besar milik Zayn Keenan.
“Aku mencintai mu sayang.” Ucap Zayn seraya ia bangkit lalu mencium bibir wanita cantik itu.
Saling menarik diri, Zayn Keenan lantas tersenyum lalu pasangan itu keluar dari dalam kamar untuk sarapan.
“Tuan Zayn.”
“Iya sayang?”
“Belakangan aku merasa mudah lelah.”
“Sayang, jangan terlalu banyak beraktivitas.”
“Iya, dan… untuk kembali ke Seoul, bagaimana jika bulan depan saja?”
“Semua terserah pada keputusan mu sayang.”
“Pagi ini aku akan pergi bersama kepala pelayan ke super market, apa boleh? Aku bosan.”
“Boleh. Asal, kamu jangan ikut berkeliling. Biar kepala pelayan yang melakukan semuanya mengerti?”
“Mmm.” Sahut Violet seraya Zayn menarik kursi untuknya.
“Jeon akan mengantar kamu dan kepala pelayan ke super market.”
“Biar supir saja. Tuan Zayn, setiap kali anda selalu mengutus bodyguard untuk mengikuti ku kemana pun secara diam-diam. Aku tahu, dan aku tidak suka.”
“Mereka menjaga mu sayang.”
“Ini Los Angeles, bukan Seoul. Apa yang anda khawatirkan?”
“Bodyguard tetap harus selalu mengawasi mu, dengan begitu kamu selalu berada di bawah pengawasan ku. Di mana pun kamu berada.”
“Anda selalu memutuskan sendiri, meski aku tidak setuju.”
Merasa jika percakapannya dengan Violet memanas. Zayn Keenan lantas meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja seraya ia menatapnya. Istri kecil yang melempar pandangan ke sisi lain.
“Kamu marah?” Tanya Zayn lalu ia raih telapak tangan Violet untuk menggenggamnya.
“Tidak.” Sahutnya, namun tidak mau menoleh.
"Kenapa tuan Zayn tidak mengerti maksud dari sikap ku ini?"
Menghela nafas panjang lalu menghembuskannya sangat kasar di hadapan Zayn Keenan. Violet lantas bangkit lalu pergi meninggalkannya.
“Sayang.” Panggil Zayn.
“Tuan Zayn tahu jika aku benci di awasi sejak dulu. Tapi dia selalu saja mengabaikan tentang itu! Semua selalu berdasarkan keputusanya sendiri!” Batin Violet.
Violet tidak menoleh, Zayn Keenan pun hanya diam duduk di kursinya di dalam ruang makan mewah itu. Memang, ia tahu jika sejak dulu wanitanya sangat benci jika di awasi oleh bodyguar-bodyguard utusannya. Tapi, Zayn tahu jika istrinya sangat cantik, maka ia selalu saja merasa ketakutan dan tidak bisa membiarkannya luput dari pengawasan.
Meraih ponsel dari dalam saku jas. Zayn lantas melakukan panggilan pada Jeon.
“Halo tuan Zayn Keenan.”
“Siapkan supir untuk mengantar ku ke One Zayn Group. Dan kau, antarkan istri ku pergi ke super market, perintahkan satu bodyguard untuk mengawasinya. Tapi kau tetap harus selalu berada di dekatnya. Mengerti?” Perintahnya.
“Mengerti tuan.”
“Laporkan semuanya pada ku jika ada sesuatu yang menurut mu mencurigakan.”
“Baik tuan Zayn.”
“Jangan biarkan istri ku banyak berjalan, laporkan pada ku apa yang dia makan dan semua yang dia lakukan.”
“Iya, baik tuan.”
🍁
Kembali ke rumah setelah satu minggu menghilang. Joe Nathan melangkah cepat menaiki satu per satu undakan anak tangga menuju kamar dengan sebuah tiket pesawat di genggaman tangannya. Axel Zayn telah kalah, maka kini Joe Nathan bisa tersenyum karena alamat rumah Violet sudah berada di tangannya.
Masuk ke dalam kamar, Joe lantas meraih koper lalu mulai mengemasi pakaiannya. Tanpa sadar, Violet telah mengalihkan dunianya, segalanya seolah tidak lebih penting bagi Joe selain hanya wanita itu. Ia telah buta, tuli bahkan gila.
“Kamu mau kemana lagi Joe Nathan?” Tanya Selly dengan secangkir teh lemon di atas nampan yang ia bawa, wanita itu terhenti di dekatnya dengan tatapan heran menatap dia yang kembali pulang hanya untuk berkemas.
Joe tidak menjawabnya, ia bahkan tidak menoleh padanya.
“Joe?”
“Aku akan menetap di Amerika untuk beberapa lama.” Sahut Joe seraya ia melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Amerika? Kenapa? Untuk berapa lama?” Tanya Selly.
Melemparkan pakaian bekas pakainya ke atas tempat tidur. Hanya bertelanjang dada Joe lantas meninggalkannya menuju kamar ganti. Tapi, Selly terus membuntutinya, menatap kekar punggung suaminya.
“Joe Nathan? Sampai berapa lama?” Tanyanya lagi.
“Sampai aku memutuskan untuk pulang.” Sahutnya lalu meraih kemeja dari dalam lemari dan mulai menggunakannya di hadapan Selly.
“Untuk kepentingan apa?” Tanya Sellya.
“Untuk kepentingan apa?” Sahut Joe lalu mendekat dan terhenti di hadapannya. “Sejak kapan kau berhak mencampuri urusan pribadi ku?”
“Aku istri mu.”
“Istri? Apa kau hilang ingatan? Ada apa di balik status kita? lantas, kau menganggap diri mu sungguh seorang istri untuk ku? Hahahahaha… Sellya, kau sangat naif.”
Mendengarnya Selly pun tersenyum manis lalu ia semakin mendekat. “Jika begitu, sebelum pergi minumlah dulu, kamu pasti haus bukan?” Ucapnya seraya ia menatap mata Joe.
Joe Nathan lantas menatap secangkir teh lemon yang Selly bawa untuknya, ia menerimanya dan langsung meminumnya saat itu juga.
Tak!
“Sudah. Sekarang kau bisa tinggalkan kamar ku.” Ucapnya.
“Baik.” Sahut Selly, ia memutar tubuh meninggalkan Joe di ruang ganti itu, lalu senyuman kembali menghiasi wajahnya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......