Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
"Kita Pulang"




Pagi itu Joe Nathan dan ibundanya datang ke rumah sakit. Nyonya Rea masuk ke dalam ruang inap di susul putranya.


Selly pun terperanjak melihat kehadiran suaminya. Ia lantas bangkit saat melihat ibu mertuanya mendekat.


“Selly, bagaimana keadaan mu sayang?” Tanya nyonya Rea.


“Aku, sudah lebih baik tante. Tadi, dokter bilang, aku sudah bisa pulang hari ini.” Sahutnya terbatah.


“Benarkah? Bagus sekali.” Nyonya Rea tersenyum padanya lalu ia elus puncak kepala Selly sebagai tanda jika ia menyaynginya.


“Andai saja yang memperlakukan aku seperti ini adalah Joe, aku pasti tidak menginginkan apa pun lagi.” Batin Selly.


Melihat pandangan menantunya selalu terfokus pada putranya. Nyonya Rea lantas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


“Tante harus segera kembali.” Ucapnya lalu menoleh ke belakang. “Joe, jaga Selly.” Pintanyanya pada dia yang hanya duduk di atas sofa.


“Mmm.” Sahut Joe tanpa menoleh.


“Tante pergi sekarang, Joe akan menemani mu di sini. Kamu harus cepat sembuh Selly.” Ucap nyonya Rea.


“Iya tante, hati-hati di jalan.” Sahut Selly lalu di balas senyuman.


Kini di dalam ruang inap itu hanya ada Selly dan dia, pria yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


“Kamu, tidak… pergi ke kantor Joe?” Tanya Selly, ia ragu menanyakan itu karena takut Joe akan merasa tidak senang.


“Kamu ingin aku pergi ke kantor?” Sahut Joe menoleh lalu kembali melepar pertanyaan itu padanya.


“Tidak. Aku, aku suka kamu di sini.”


“Jika begitu aku akan di sini.”


Deg!


“Jika begitu aku akan di sini.” Ucapan itu mampu membuat Selly mematung menatapnya. Ia berdebar hebat meski Joe mengucapkan kata itu dengan raut wajah dingin menatapnya. Tapi, sungguh! Rasanya jantung Selly akan melompat keluar karena terlalu bahagia.


“Oh. Dokter bilang kau sudah boleh pulang?” Tanya Joe.


“I-iya, Ak-”


“Aku akan bereskan administrasinya, setelah itu kita pulang.”


Deg!


Lagi-lagi degup jantungnya memberontak. Selly tatap sosok tampan itu, ia yang saat ini bangkit dari duduk lalu melangkah dengan tegap keluar dari ruangan.


“Kyaaa!!” Selly berteriak kegirangan, sepasang telapak tangannya mengepal di sisi mulut karena dia sangat bahagia melebihi apa pun.


“Joe Nathan… Aku sangat mencintai mu, Aku sangat menginginkan mu, Aku ingin kamu menjadi milik ku.” Batin Selly.


“Jika begitu aku harus bergegas!” Gumamnya setelah beberapa saat.


Selly turunkan sepasang kakinya. Tapi, tulang kaki kanannya yang retak masih tidak di izinkan untuk banyak bergerak, hanya saja ia tidak mau merusak momen ini, maka ia tetap menapakkan kakinya di atas lantai dengan berpegangan ranjang.


“Aaauuu…”


“Apa yang sedang kau lakukan?”


Selly terperanjak mendengar suara itu. “Joe?” Ucapnya lalu menoleh. “Kamu, sudah kembali?”


“Iya, mommy sudah membereskan semuanya.” Sahut Joe lalu mendekat, membuat Selly mengerucutkan tubuh dan tertunduk di hadapan dia yang berhenti tepat di hadapannya. “Kau menginginkan sesuatu?”


Deg!


“Pertanyaan itu? Apa aku tidak salah mendengarnya?” Batin Sellya. Ia kembali menatap mata suaminya.


“Ak-aku, hendak berkemas.” Sahutnya terbatah.


“Berkemas?” Tanya Joe lalu ia mengalihkan pandangan. “Kau duduk saja, biar aku yang melakukannya.”


“Ya Tuhan, entah apa yang engkau lakukan padanya? Sungguh! Terimakasih.” Batin Selly.


“Joe…”


“Hmm.” Sahutnya tanpa menoleh.


Ingin sekali Selly bertanya padanya. “Apa yang terjadi pada mu? Kenapa kamu bersikap baik pada ku? Kamu bilang “Kita pulang” Apa kamu tahu apa itu “Kita?”, apa kamu tahu arti dari sikap mu pada ku hari ini?” Namun semua tanya itu hanya sebatas terucap di dalam hatinya. Ia sudah sangat puas akan perubahan ini dan tidak akan merusaknya meski hanya seujung kuku saja.


“Ayo pulang.” Ucap Joe lalu ia gendong tubuh Selly.


“Dia menggendong ku? Dia… sungguh menggendong ku?” Batin Selly.


Kini Joe mendudukannya di atas kursi roda lalu ia mendorongnya keluar dari ruang inap.


🍁


"Selamat ya tuan Zayn. jenis kelamin anak anda laki-laki."


Sepenggal kalimat itu mampu membuat Zayn Keenan tersenyum-senyum sendiri.


"Tuan Zayn, fokus lah menyetir." Pinta ibu hamil yang saat ini sedang bersandar cantik di kursinya seraya ia mengelus lembut perutnya yang semakin hari semakin membesar.


Mendengarnya. tangan kekar Zayn Keenan lantas mengelus lembut puncak kepala istrinya lalu turun ke perutnya.


"Sehat-sehat ya putra ayah." Ucapnya lalu meraih telapak tangan Violet untuk ia menciumnya. "Kamu juga harus selalu sehat sayang." Ucapnya.


"Iya suami kuuu." Sahutnya seraya senyum manis tertoreh di wajah. “Seharusnya aku sudah tidak merasa mual lagi kan? Aku sangat tersiksa.”


Mendengarnya Zayn Keenan pun tersenyum. Selesai dari rumah sakit itu mereka menuju bandara, seperti yang telah di rencanakan beberapa waktu lalu jika ia dan istrinya akan pulang ke Korea. Maka hari ini adalah waktunya.


Perjalanan panjang yang melelahkan. Akhirnya mereka telah sampai di kota Seoul di jemput oleh Axel dan Racel. Ke dua putra dan putri Zayn Keenan itu melambaikan tangan dari kejauhan dengan senyum di wajah mereka.


“Ayah.” Sapa Racel lalu mereka saling memeluk.


“Berikan koper itu pada ku ayah.” Pinta Axel dan Zayn Keenan lantas memberikannya.


“Bagaimana kabar mu?” Tanya Zayn pada Axel.


“Aku baik.” Sahut Axel.


“Apa kau sudah menemukan wanita cantik? Bawalah ke rumah, kenalkan pada ayah.”


“Cih! Belum ada, aku tidak terburu-buru.”


“Usia mu semakin bertambah, bagaimana mungkin kamu bilang tidak terburu-buru?”


“Aku akan membawanya pada ayah saat aku sudah yakin.” Sahut Axel pada ayahnya. Tapi, tatapan matanya begitu dalam kepada Violet yang berjalan di samping ayahnya.


Zayn Keenan menyadari itu. Ia lantas tersenyum sambil merangkul Axel yang mulai mengalihkan pandangan ke depan.


“Iya. Yakinkan dulu baru ajak ke rumah. Ayah akan menerimanya jika kamu merasa bahagia bersamanya.”


Mendengar percakapan itu Violet pun menoleh, ia tatap mata kakaknya yang saat ini sedang menatapnya. Entahlah? Apa yang saat ini Axel lihat dari wajah adik kandungnya itu. Yang jelas, sekarang dia tersenyum ketika Violet melukis senyum untuknya.


Violet alihkan pandangan. Ia melihat Racel hanya diam berjalan di dekatnya tanpa mengucapkan apa pun. Mungkin, wanita itu masih kesal padanya kerena telah menyiramnya saat di pesta beberapa bulan yang lalu.


“Racel.” Sapa Violet.


Menoleh pun tidak. Racel justru mempercepat langkah kakinya. Ia meninggalkan keluarganya lalu masuk ke dalam mobil lebih dahulu.


“Violet memanggil mu, kamu tidak dengar?” Tanya Axel seraya ia memasang sabuk pengaman.


“Tidak dengar.” Sahutnya ketus.


“Kekanakan.” Ucap Axel.


Mobil mewah keluarga kaya itu melaju meninggalkan area parkir bandara. Zayn Keenan berencana menetap di kota itu selama satu bulan. Ya, ia tahu betul jika kondisi tubuh Violet selama hamil tidak terlalu baik. Maka ia akan memberi jeda padanya untuk beristirahat agar bisa melakukan perjalanan yang memakan waktu lagi.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......