Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Kesalahan Terbesar




Memendam amarah tanpa sebab yang jelas. Axel Zayn tidak akan meninggalkan Los Angeles sebelum Violet memaafkan dirinya.


“Aku akan menetap di LA sampai kamu mau bicara dengan ku.” Ucap Axel seraya ia meletakkan mangkuk kosong bekas sarapan pagi Violet.


“Apa yang sudah kakak lakukan pada Joe Nathan?” Tanya Violet.


“Joe Nathan? Jadi, dia bersikap seperti ini pada ku karena pria itu? Racel…”


“Apa yang kamu tahu?” Tanya Axel.


“Kakak telah melukainya.” Sahut Violet.


“Kamu tidak bisa menerima jika dia terluka?” Tanya Axel. “Kenapa sayang?”


“Jangan bertanya kenapa karena aku tidak ingin menjawabnya.” Sahut Violet lalu ia alihkan pandangan ke sisi lain.


“Kamu masih memiliki perasaan itu padanya. itu sebab kamu tidak bisa menerima jika seseorang melukainya. Meski itu aku kakak mu atau pun ayah suami mu?”


Mendengarnya Violet lantas kembali menatap sepasang bola mata kakaknya lagi lalu ia berteriak. “Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padanya! Aku hanya tidak suka kakak ku melukai orang lain!”


Melihat Violet berteriak hingga membuat sepasang bola matanya memerah dan berkaca bahkan membelalak padanya. Axel lantas meraihnya untuk memeluknya. “Cukup sayang.” Pinta Axel.


“Jangan pernah lagi kamu melukai orang lain kakak! Aku sangat membencinya!” Ucap Violet. Ia menangis di pelukan Axel yang terdiam mendengarkannya seraya ia berusaha mereda amarah Violet padanya. “Di dunia ini aku tidak memiliki siapa pun lagi! aku hanya memiliki mu. Hanya kamu…”


Lupa akan hal itu. Axel Zayn lantas semakin erat memuluknya. “Aku minta maaf telah membuat mu marah dan melukainya. Aku janji, aku akan meminta maaf padanya sayang. Tolong jangan menangis lagi.” Pintanya.


“Dia sudah pernah terluka parah hingga membuatnya koma karena perbuatan tuan Zayn. Bagaimana kakak bisa berpikir untuk mengulanginya lagi? Bagaimana jika dia…”


“Tidak, dia tidak terluka seperti yang kamu bayangkan.”


🍁


Sedangkan di kota Seoul. Joe Nathan keluar dari dalam mobilnya ketika dokter sudah mengizinkannya untuk pulang. Selly pun bergegas meraih lengan suaminya dengan niat ingin memapahnya. Tapi…


“Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Joe seraya ia menghindarkan tangannya sebelum Selly bisa menyentuhnya.


Hanya diam Selly lantas membuntuti Joe Nathan dan ia tersenyum lalu mendekat lagi. “Kamu mau mandi air hangat Joe? Aku akan siapkan untuk mu.” Tanya Selly.


Hanya diam Joe Bahkan berlalu lagi. Tapi, Selly kembali membuntutinya hingga kini mereka telah sampai di ruang utama.


“Kepala pelayan.” Panggil Joe Nathan seraya ia terus melangkah menuju kamarnya di ikuti Selly di belakangnya.


“Iya tuan?” Sahut kepala pelayan. Ia mendekat dengan sigap lalu merunduk sopan pada tuannya.


“Siapkan air hangat untuk ku mandi.” Perintahnya.


“Biar aku saja kepala pelayan.” Ucap Selly seraya ia mendekat.


“Maaf nona, tapi tuan meminta ku.” Sahut kepala pelayan lalu ia merunduk sopan pada Selly dan segera menyusul tuannya.


Kembali terdiam Selly memandang suami yang saat ini semakin menjauh dari pandangannya. Suami yang tidak memperdulikan dirinya sama sekali semenjak pernikahan mereka terjadi.


“Tunggu! Aku bisa buatkan teh jahe untuknya. Iya, setelah banyak berbaring pasti tubuh Joe sangat lelah.” Gumam Selly lalu ia segera pergi ke dapur.


Sedangkan di dalam kamar Joe Nathan. Kepala pelayan segera menemui tuannya ketika ia telah selesai menyiapkan air hangat untuknya. “Air hangatnya sudah siap tuan.” Ucapnya pada tuan yang sedang melepaskan kancing kemeja satu per satu lalu membukanya hingga membuat kepala pelayan segera tertunduk ketika ia tanpa sengaja melihat tubuh kokoh seorang Joe Nathan.


“Joe, aku buatkan teh jahe untuk mu.” Ucap Selly seraya ia masuk ke dalam kamar dan terhenti ketika ia melihat punggung polos suaminya.


Kembali mendekat perlahan. Joe Nathan lantas menoleh lalu memutar tubuh seraya ia menyerahkan kemeja bekas pakainya pada kepala pelayan hingga membuat Selly kembali terhenti ketika ia melihat ukiran indah sebuah nama di dada sebelah kiri suaminya.


“Violet… bagaimana bisa suami ku melupakan mu jika nama mu bahkan terukir indah di dadanya? Di dalam hatinya.”


Kembali melukis senyum di wajah. Selly pun mendekat dan terhenti tepat di hadapan nama wanita yang ada di dada suaminya.


“Teh jahe akan menyegarkan dan menghangatkan tubuh mu Joe Nathan.” Ucap Selly. Ia berikan senyum terbaiknya pada pria yang sangat membenci senyumannya.


Tanpa kata Joe Nathan pun meraih gagang cangkir berisi teh jahe buatan istrinya hingga membuatnya bahagia.


“Joe menerimanya?”


Melihat Joe Nathan meniup lalu mencicipi teh jahe itu. Selly pun tersenyum lebar dengan sepasang telapak tangan yang menyatu di dadanya seolah ia tidak sabar untuk bertanya. “Bagaimana rasanya Joe? Enak?”


Hanya diam terlihat datar wajahnya. Joe Nathan lantas menatap mata istrinya lalu tersenyum padanya.


“Dia tersenyum pada ku? Ini pertama kalinya! Joe pasti sangat menyukai teh jahe buatan ku!”


“Rasanya tidak lebih baik dari teh jahe buatan Violet. Sellya… kau memang tidak berguna dan sangat tidak layak menempati posisinya.” Sahut Joe lalu senyuman di wajahnya memudar begitu cepat tergantikan dengan dinginnya cara ia menatap wanita yang membisu di hadapannya.


Bergetar jantung seorang Sellya Nara ketika ia mendengarnya. Pria itu menatapnya penuh kebencian dan hinaan.


“Lain kali aku akan membuat yang lebih-”


“Tidak ada lain kali.” Sahutnya memotong pembicaraan lalu memutar tubuh seraya tangannya menyerahkan cangkir bersisi teh jahe itu kepada kepala pelayan. “Buang ke tempat sampah.” Perintahnya lalu pergi dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


“Joe Nathan…”


“Permisi nona.” Ucap kepala pelayan seraya ia merunduk sopan pada Selly lalu pergi.


“Tunggu kepala pelayan.” Ucap Selly seraya ia memutar tubuh untuk menatap kepala pelayan yang terhenti lalu menoleh padanya.


Dalam kebisuan itu Selly menghampirinya lalu ia terhenti tepat di hadapannya. “Jangan di buang. Biar aku saja yang meminumnya.” Ucap gadis itu seraya ia mengambil alih cangkir teh jahe buatannya untuk ia meminumnya tepat di posisi Joe mencicipinya tadi.


“Biar kamu tidak penah mencium bibir ku. Joe Nathan… aku anggap ini sebagai ciuman pertama ku untuk mu. Ciuman pertama kita.”


Minum dari satu cangkir yang sama dengannya. Selly menganggap bekas minum Joe yang ia nikmati saat ini adalah ciuman pertamanya dengan pria itu. Dengan sepasang bola mata yang semakin merah dan kilap air mengambang di sana, Selly mengusap mulut dengan menggunakan punggung telapak tangannya lalu ia berikan cangkir kosong itu kepada kepala pelayan.


“Sekarang kau boleh membuangnya.” Ucap Selly lalu ia raih kemeja bekas pakai suaminya. “Kemeja ini biar aku yang mencucinya.”


“Baik nona.” Sahut kepala pelayan lalu pergi setelah ia merunduk sopan padanya.


Melihat kepala pelayan telah pergi. Selly lantas menoleh ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat seraya ia menciumi kemeja bekas pakai suami yang saat ini berada di pelukannya untuk ia mencium aroma harum tubuh Joe yang tertinggal di sana.


Selly pun menangis ketika ia membayangkan jika kemeja itu adalah sosok Joe Nathan dan harum tubuhnya adalah sungguh dia yang mendekap tubuhnya untuk mereda rasa sakit di dalam hatinya.


“Kesalahan terbesar ku adalah menyukai mu, suami ku.” Ucap Selly.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......