
Hari ini langit Los Angeles mulai meredup, mega merah menyala mulai nampak semakin indah menyertai Mentari yang kian tenggelam bersamanya. Hari telah sore.
Braaakkk!!
Sebuah ponsel mewah mendarat di wajah Jeon lalu jatuh dan hancur di lantai ketika Zayn Keenan baru saja melemparkannya sekuat tenaga.
“Aku hanya pergi selama 30 menit! Bagaimana cara kalian menjaga istri ku?! Bodoh!” Teriaknya pada Jeon lalu melempar pandangan kepada puluhan pelayan yang ketakutan, mereka semakin menundukkan kepala saat melihat tuan besarnya mungamuk.
“Aku akan perintahkan lebih banyak bodyguard untuk mencarinya tuan.” Sahut Jeon, ia hanya menundukkan kepala karena tidak berani menatap mata mengerikan milik tuannya.
Menggertakkan gigi lalu meraih kerah kemeja Jeon. Zayn Keenan menariknya mendekat sangat kasar lalu mengucap tepat di wajahnya. “Jika terjadi sesuatu pada istri ku. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?!"
Braakk!!
Terhempas hingga tersungkur di lantai bersama dengan sebuah kursi yang baru saja di terjangnya. Jeon langsung bagkit dan kembali menundukkan kepala di hadapan tuannya.
“Dan kalian.” Ucap Zayn lalu ia lemparkan tatapan mata tajamnya pada mereka para pelayan di rumah mewahnya. “Jumlah kalian sangat banyak. Lalu bagaimana bisa istri ku luput dari pandangan kalian? Apa saja yang sebenarnya kalian lakukan?! Hah!”
Braakk!!
Melihat Zayn Keenan menendang meja hingga terbalik di hadapan mereka. Para pelayan lantas semakin dalam menundukkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan darinya.
“Cari istri ku! Cepat!” Perintahnya pada para pelayan yang langsung merunduk sopan lalu berhamburan keluar dari rumah untuk mencari nona yang menghilang.
Kembali menatap Jeon. Zayn Keenan mendekat lalu terhenti tepat di hadapannya. “Satu saja goresan di tubuhnya. Kau akan membayar mahal untuk itu. Jeon. ”
Menelan ludah, Jeon hanya bisa diam menundukkan kepala di hadapannya. “Aku mengerti tuan.” Sahut Jeon penuh sesal.
“Jangan kembali, sebelum kau menemukannya. Pergi!” Perintahnya lalu ia hempaskan apa saja yang ada di dekatnya.
Craangg!
“Baik tuan.” Sahut Jeon lalu pergi dengan langkah kian lebar.
Kini tidak ada lagi Jeon atau pun para pelayan di hadapannya setelah para bodyguard utusannya sudah mulai mencari keberadaan Violet.
Dengan urat-urat yang menonjol di wajah dan tangan kekarnya. Zayn Keenan lantas merapikan dasi lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya yang telah hancur di rumah mewah itu untuk mencari di mana keberadaan istri yang sedang mengandung buah hati mereka.
“Selama aku masih hidup. Kau tidak akan bisa pergi kemana pun. Sayang…”
Sedangkan di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Violet nampak sangat bahagia dengan sebuah jajanan khas Korea berada di genggaman tangannya.
Ia berjalan di tengah keramaian sebuah pameran yang terdapat banyak jenis makanan dari berbagai negara, termasuk juga Korea Selatan negara asalnya, Violet sangat merindukan makanan-makanan dari negara itu meski ia sempat datang bersama dengan suaminya beberapa bulan yang lalu.
Hanya dengan membawa kartu sakti berwarna hitam pemberian dari Zayn Keenan, serta uang cash yang selalu tebal di dalam dompetnya. Tentu saja, Violet bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Apa pun, tidak terkecuali.
Habis jajanan di genggaman tangan. Kini Violet kambali menjilat air liurnya yang hendak menetes ketika ia melihat corndog Korea. Violet lantas mengelus perut buncitnya lalu mendekat.
“Mommy akan menjadi babi gemuk hari ini sayang!” Gumamnya lalu tersenyum. “Aku mau itu! dua! Ah tidak, tiga! Boleh tambah satu lagi!”
“Ini nona, silahkan.”
“Terimakasih.”
Kembali makan sambil berjalan-jalan sendiran. Entah kenapa? Kali ini Violet tidak merasa sungguh-sungguh sendirian di tempat itu meski memang sangat ramai.
Sepasang kaki jenjangnya berhenti melangkah, ia lantas menoleh ke belakang dan tidak ada apa pun di sana kecuali pedagang dan pasangan-pasangan yang berlalu lalang.
“Aneh?” Gumam Violet seraya ia kembali melanjutkan langkahnya sambil makan.
Terlalu asyik dengan makanan di genggaman tangan kanan dan kiri, dompet yang ia selipkan di ketiak bahkan tidak dapat dirasa jatuh olehnya hingga kemudian Violet pun terhenti saat seseorang menepuk pundaknya.
“Dompet anda jatuh nona.” Ucapnya.
Kulitnya putih, dia lebih tinggi dan di lihat dari postur tubuhnya, Violet dapat memastikan jika dia adalah pemuda seusia dengannya. Kini, pria itu mengulurkan tangan untuk mengembalikan dompetnya yang terjatuh.
“Terimakasih.” Ucap Violet seraya ia menerima dompetnya kembali.
Tanpa menjawab, pria itu berlalu pergi melewati Violet. Tapi, Violet menyadari sesuatu hingga membuatnya lantas memutar tubuh untuk menatap punggung pria itu.
“Leon!” Panggil Violet padanya, pada dia yang tidak menghentikan langkah kakinya. “Leon Park!” Panggilnya lagi, dan kali ini pria itu terhenti. “Aku tahu itu kau.” Ucapnya lalu mendekat.
“Anda salah orang nona.” Sahutnya tanpa menoleh.
“Tidak!” Sahut Violet dengan pasti.
“Bagaimana anda bisa seyakin itu?”
“Karena aku mengenal aroma tubuh mu.”
Mendengar jawaban Violet, pria itu lantas tersenyum seraya ia memutar tubuh dan kini Violet terhenti tepat di hadapannya, menanti ia membuka topi berwarna putih dan kaca mata hitamnya.
“Nona sedang hamil, tidak kah merasa mual mencium aroma tubuh ku?” Tanya pria itu seraya ia membuka topi dan kaca mata hitamnya. “Aku memang Leon Park.” Ucapnya lalu tersenyum pada Violet.
Bug!
Tidak mengucap apa pun. Violet justru memukul dada Leon hingga membuat pria itu tersenyum kian hangat padanya.
“Apa sejak tadi kau menyadari jika ini aku? lalu kau berpura-pura tidak mengenal ku? Pergi meninggalkan ibu hamil seperti ku? Leon park! Sudah lama kita tidak bertemu…” Ucap Violet begitu cepat.
Tapi, mendengar cara wanita itu mengucap bagaikan mengomel. Bagi Leon, sikap itu sangat manis dan dia menyukainya, membuat dia ingin menggoda Violet lagi.
“Tunggu!” Ucap Violet ketika ia menayadari akan sesuatu. “Apa yang kau lakukan di LA? Bukankah seharusnya kau berada di Korea?”
Lenyap sudah senyum hangat di wajah Leon Park ketika ia mulai mencari alasan untuk menjawab pertanyaan itu.
“Kamu makan terlalu banyak.” Sahutnya seraya ia merampas corndog dari genggaman tangan Violet untuk mengalihkan pembicaraan.
“Itu milik mu! Aku sedang memakannya!” Ucapnya seraya ia berusaha merampas corndog miliknya kembali. “Leon Park! Jika lapar kau bisa memakan corndog milik ku yang masih belum tersentuh.”
“Aku tidak tertarik.” Sahutnya lalu melahap habis corndog bekas makan Violet dan mengunyahnya di hadapan mata wanita itu.
Bug!
“Kau menyebalkan!” Ucap Violet, ia memukul pundak Leon Park sekuat tenaganya.
“Ibu hamil tidak boleh marah-marah.” Sahut Leon lalu ia raih pergelangan tangan Violet untuk membawanya pergi.
“Mau ke mana?” Tanya Violet.
“Kamu akan segera tahu.” Sahutnya.
🍁
Zayn Keenan
Leon Park
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......