
Mengalihkan pandangan ke depan seraya bersandar dengan tatapan kosong.
“Apa mungkin… Violet berada di kota Seoul?” Batin Joe Nathan.
“Apa ada sesuatu tuan?” Tanya Sekertaris Bian.
“Ikuti mobil mewah itu.” Perintahnya.
Sekertaris Bian melempar pandangan ke depan. Ia melihat mobil mewah yang tuannya maksud tapi tidak sempat melihat siapa yang berada di dalamnya.
“Baik.” Sahutnya lalu tancap gas mengikuti mobil yang di gunakan Axel Zayn.
Sepanjang jalan Axel tidak menyadari jika seseorang telah mengikutinya. Ia banting stir ke sebelah kiri lalu gerbang besar nan tinggi terbuka.
Mobil mewah itu masuk dan sekertaris Bian menghentikan laju mobilnya di sana, tepat di depan gerbang sebuah kediaman yang sangat mewah bak istana.
“Kediaman siapa?” Batin sekertaris Bian.
Sekertaris Bian tatap kaca spion tengah di sana. Ia perhatikan tuan yang saat ini terdiam menatap kediaman itu sangat tajam.
“Apa yang di lihat tuan Joe Nathan? Kenapa beliau sampai membeku seperti itu?” Batin sekertaris Bian.
Karena penasaran ia pun melihat ke mana arah tuannya menatap. Di sana sekertaris Bian melihat seorang tuan sedang memberikan sebuah buket bunga berukuran besar pada seorang wanita hamil.
“Manis sekali.” Gumam sekertaris itu ketika ia melihat ibu hamil di sana tersenyum saat menerima bunga dan langsung menciumnya sangat lama.
“Jalan.” Perintah Joe Nathan.
“Baik tuan.” Sahut sekertaris Bian seraya ia melihat tuannya dari kaca spoin tengah.
“Kenapa tuan Joe Nathan tiba-tiba jadi tidak bersemangat? Sebenarnya siapa mereka?” Batin sekertaris Bian.
Sekertaris Bian rupanya hanya mengenal nama Violet Grizelle namun dia tidak pernah melihat sosoknya. Pria itu lantas meninggalkan tempat itu Bersama tuan yang hanya diam bersandar di kursinya.
“Anda ingin ke Bar atau pulang saja tuan?”
“Temani aku minum.” Sahutnya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.
Bian menyadari sesuatu. Ia yakin jika tuannya menjadi tidak bersemangat setelah melihat pemandangan indah tadi. Itu berarti, wanita hamil dan tuan yang baru saja di lihatnya bukanlah sosok biasa di mata tuannya.
Di sepanjang jalan itu Bian hanya diam karena tahu situasi saat ini. Kini mobil mewah yang di kemudikannya telah sampai di area parkir Bar ternama di kotanya.
Joe Nathan keluar dari dalam mobil dan melangkah tanpa ragu, masuk ke dalam Bar itu seolah ia tidak tahan menahan rasa ingin minum sampai benar-benar puas.
Bian pun menyusulnya. Ia masuk dan duduk di dekat tuan yang sedang meraih sebuah gelas sloki pemberian dari seorang bartender. Ia juga melihat bartender itu mulai menuang wine dengan kadar alcohol yang cukup tinggi ke dalam gelas sloki milik tuannya.
Satu gelas sloki telah Joe Nathan minum dengan sekali tegukan. Tak! Pria itu menginginkan wine nya lagi dan bartender itu melayaninya. Di sana Bian hanya diam saja memperhatikan tuannya.
“Apa yang kau lihat?! Minum!” Perintah Joe dengan nada penuh penekanan.
“Aku tidak bisa minum tuan.” Sahut Bian.
Bohong adalah pilihannya saat ini. Bian tahu jika tuannya sedang stress, maka ia pasti akan mabuk sampai lupa diri. Jika itu terjadi. Lantas siapa yang akan membawanya pulang?
“Bodoh!” Ucap Joe Nathan.
Kata itu terucap dari mulutnya seraya ia menatap wine yang di tuang oleh bartender ke dalam gelasnya. 1,2,3 dan sekian banyak ia menenggak minuman beralkohol itu di sana. Bian melihat tuannya terlihat sangat santai seolah ia siap menghabiskan banyak waktunya. Joe telah melupakan segalanya saat ini. Kecuali…
“Kamu sedang mengandung anak si tua bangka itu?”
Joe tertunduk dalam dengan sepasang siku yang ia jadikan sebagai tumpuan di atas meja. Bian masih memperhatikan semua geraknya. Tapi, Joe sungguh tidak menyadari apa pun.
“Apa yang membuatnya sampai seperti ini?” Batin Bian.
Wine telah memenuhi gelasnya lagi dan Joe menenggaknya untuk ke sekian kali.
“Kamu tersenyum padanya, kamu menerima dan mencium buket bunga mawar merah itu darinya. Cih! Hehee~ kamu suka bunga mawar merah ya sayang? Tunggu, besok aku akan mengirim bunga yang jauuuh lebih besar dan indah pada mu.” Gumamnya sambil tersenyum-senyum.
“Tuan, anda sudah minum terlalu banyak.” Ucap Bian. Ia berusaha menahan tuannya.
Joe Nathan tidak menghiraukannya, atau mungkin, ia tidak mendengar ucapan sekertarisnya.
“Lagi!”
Kata itu terucap berulang kali. Botol-botol wine yang telah kosong kini hampir memenuhi meja di hadapan tuannya. Kini pria itu merebahkan kepala di atas meja tanpa menggunakan tangan sebagai alasnya. Ia putar-putar gelas slokinya di atas meja dengan menggunakan jari telunjuk sambil tersenyum. Sepasang bola matanya sudah sangat merah, kelopak matanya juga telah sayup dan dia sudah tidak bisa duduk tegak lagi.
“Hahaha…”
Joe Nathan tertawa sendiri lalu melemparkan gelas slokinya ke wajah sekertaris Bian. Craaang! lalu gelas itu jatuh dan hancur berserakan di lantai.
Sekertaris Bian hanya diam saja duduk di sisinya. Ia tidak terlihat marah atau ingin membalasnya meski kini wajahnya telah basah tersiram wine dari gelas tuannya.
“Berikan aku wine lagi!” Perintahnya tandas.
Kini Bian tidak memintanya untuk berhenti. Ia anggukan kepala kepada bartender yang menatapnya, seolah meminta persetujuan darinya atas keinginan tuan mabuk itu.
“Minumlah sampai anda melupakan segalanya.” Ucap Bian seraya ia mendorong gelas sloki yang baru dengan wine yang memenuhinya.
“Besok! Beli buket bunga mawar merah yang besar! Lalu, kirimkan, pada wanita itu~” Perintahnya terpenggal-penggal.
Joe mulai memaksa mengangkat kepalanya lagi lalu ia tenggak wine itu hingga membuatnya berceceran dan membasahi pakaiannya.
Tak! Braak!
Ia letakkan gelasnya seraya ambruk hingga kepalanya membentur meja. “Bodoh! Bodoh! Kenapa? … Kamu~ sangat, bodoh… Sayang kuuu!” Gumamnya lalu meninggikan nada ucapannya.
“Sudah cukup.” Ucap sekertaris Bian pada bartender lalu di jawab dengan anggukan kepala.
Joe Nathan telah menghabiskan banyak wine dalam waktu singkat. Kini ia telah mabuk. Tidak sanggup menggerkkan tubuhnya sendiri dan hanya tersenyum-senyum dengan sepasang bola mata merahnya yang terlihat sangat lelah.
Sekertaris Bian memberikan sebuah kartu pada bartender lalu mulai meraih tangan tuannya untuk ia memapahnya keluar dari dalam bar setelah selesai membayar semua wine yang di minum tuannya.
Terkulai lemah. Joe Nathan tidak beradaya menghadapi perasaannya sendiri. Ia sungguh tidak bisa mengangkat pandangannya dan hanya bisa tertunduk dengan langkah tanpa arah. Tentu saja, sekertaris Bian kesulitan membawanya masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana dengan ku, sayaaaang~! Aku, juga, mau keturunan… dari, mu.” Gumamnya.
Sekertaris Bian membuka pintu mobil dan Joe Nathan ambruk di kursinya. Pria itu lantas mengangkat ke dua kaki jenjang tuannya secara bergantian hingga membuat nafasnya mulai terpenggal-penggal.
“Anda berhutang “Terimakasih” pada ku. Tuan.” Ucap Bian.
Usai melepas lelah Bian pun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Bar untuk membawa tuannya kembali ke kediamannya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......