Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Membalut Luka




"Aku pergi."


Kata itu membuat Ben membuka mata lalu terperanjak, terdiam duduk di atas sofa panjang ketika menyadari jika itu hanyalah mimpi nyata yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.


Khawatir mulai menguasai dirinya. Entah kenapa? Ben hanya merasa tidak nyaman hingga membuatnya segera bergegas menghampiri tempat tidur lalu meraih ponsel.


"Dia tidak mengirim pesan atau pun memanggil ku lagi?" Gumam Ben, rasanya ia sedikit kecewa namun juga merasa tenang.


Meski ragu akhirnya Ben melakukan panggilan pada wanita itu. Berulang-ulang kali namun kenyataanya Racel tidak juga menerima panggilan darinya.


"Kau di mana?" Tanya Ben pada poselnya. Ia lantas mengecek keberadaan wanita itu dengan menggunakan sebuah aplikasi. "Bar?" Ben terkejut hingga dahinya berkerut.


Segera pria itu meraih kunci mobil dari atas nakas. Racel akan membuatnya menyesal seumur hidup jika sesuatu buruk sampai menimpa dirinya. "Gadis bodoh." Gumam Ben.


Hari semakin larut. Ben telah sampai di Bar tempat Racel berada. Ia segera masuk ke dalamnya lalu mencari di mana keberadaan gadis itu.


"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya seorang pelayan saat ia melihat pandangan mata Ben menjelajah, menatap satu per satu wajah pelanggannya.


"Gadis cantik, dia menggunakan dress merah, rambutnya panjang sedikit bergelombang di bagian bawah, dia memakai gelang seperti ini. Apa kau melihatnya?" Tanya Ben seraya memperlihatkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Itu adalah gelang couple yang ia hadiahkan untuk Racel.


"Nona cantik dengan dress merah? Tadi seorang pria membawanya. Nona itu mabuk berat." Sahut pelayan.


"Pria? Pria siapa?!" Tanya Ben, ia terkejut hingga meninggikan nada suaranya.


"Maaf tuan. Tapi saya tidak tahu." Sahut pelayan, ia merunduk sopan lalu pergi.


Rasa khawatir semakin menguasai dirinya saat ia tahu jika seorang pria telah membawa pergi wanita mabuk itu. "Gadis bodoh! Kenapa kau tidak memiliki rasa waspada sama sekali!" Ucap Ben seraya mengecek kembali keberadaan ponsel milik Racel. Tapi sayang, ponsel gadis itu tidak dapat terlacak kembali olehnya. "Racel!" Ucap Ben marah lalu bergegas pergi untuk mencarinya.


Di waktu yang sama. Sebuah mobil mewah melesat dengan kecepatan tinggi. Seorang pria dengan tatapan tajam lantas menyeringai saat ia melihat Racel sungguh tidak dapat berbuat apa-apa.


Beberapa saat yang lalu pria itu masuk ke dalam Bar dan mengambil duduk di sisi wanita mabuk itu. Wanita mabuk yang hanya bergumam tanpa satu orang pun berada di sisinya.


Tentu saja, pemandangan itu mampu membuatnya tersenyum. Tanpa membuang waktu pria itu mengurungkan niatnya untuk minum. Ia lantas membayar semua wine yang di nikmati wanita cantik itu lalu pergi membawanya.


"Apa kau tahu Racel Zayn? Ini adalah kali pertama aku merasa sangat bahagia bertemu dengan gadis angkuh seperti mu." Ucapnya.


Pria itu menepikan mobilnya dan terhenti di depan gerbang besar nan tinggi kediaman Zayn Keenan. Seorang petugas keamanan lantas menghampirinya lalu membuka gerbang ketika melihat nonanya berada di sana.


Mobil mewah itu pun masuk ke dalam saat petugas keamanan memberi hormat. Kediaman mewah bak istana keluarga Zayn di lengkapi banyak CCTV dan patung hidup di setiap sisi.


"Cih! Rumah mewah bak istana. Aku pikir, tempat ini lebih layak di sebut penjara." Gumam pria itu.


Kini pria itu menghentikan laju mobil mewahnya tepat di halaman depan. Ia matikan mesin mobilnya ketika para bodyguard di sisi kanan dan kiri begitu tajam menatap ke arahnya.


"Cih! Aku tahu ini bodoh dan gila. Tapi, aku tidak perduli asalkan bisa bertemu dengannya." Gumam pria itu sambil menatap Racel lalu tersenyum.


Bug! Bug! Bug!


"Aaahhh~" Pria itu mengerang kesakitan ketika dengan sengaja ia memukuli lengannya sendiri. Entah apa yang ia lakukan? "Bagaimana kamu akan menghadapi aku?" Gumam pria itu. Wajahnya memucat, darah kembali mengalir mengotori lengan tuxedonya.


Pria itu menyalakan lampu di dalam mobil hingga membuat para bodyguard terperanjak saat melihat wajahnya, mereka semua waspada.


Tapi, semua menjadi berbeda saat Racel Zayn berada di tangannya. Ya, pria itu menggendong nona mereka lalu menuju pintu utama. Satu orang bodyguard lantas mendekat untuk membuka pintu.


Klak!


"Nona Racel." Sapanya terlihat khawatir.


"Panggil nyonya muda mu." Perintah pria itu.


"Nona Violet?" Tanya pelayan lalu bergegas menuju dapur.


Violet terkejut saat kepala pelayan berlari ke arahnya. "Nona, biar aku yang melanjutkan membuat susu. Di depan ada pria membawa nona Racel."


"Racel?"


"Iya, nona Racel tidak sadarkan diri!"


"Apa?!"


Violet segera meninggalkan dapur dan kepala pelayan. Ia menuju ruang utama dengan langakah lebarnya. "Apa yang terjadi pada Racel?" Gumam Violet. Ia sangat khawatir terhadap gadis yang telah mengerjainya sore tadi.


"Racel?!" Panggil Violet lalu langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sosok yang menggendong tubuh gadis itu.


"Joe?" Batin Violet.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi, sayang..." Batin Joe Nathan.


"Apa yang terjadi Joe?" Tanya Violet, ia mendekat lalu menutup mulut dengan ke dua telapak tangan saat melihat darah mengotori lengan Joe Nathan. "Kamu terluka?!" Ucapnya terlihat sangat panik.


Joe Nathan tersenyum puas melihatnya. Violet yang terlihat khawatir sungguh membuat Joe Nathan merasa jika wanita itu sesungguhnya masih memiliki rasa yang sama. Hanya saja, wanita itu selalu berusaha menyangkalnya.


Violet mendekat sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh lengannya. Joe Nathan hanya diam saja menatap wajah cantik seorang wanita yang telah membuatnya gila hingga berani masuk ke dalam kandang singa seperti saat ini.


"Aku senang kamu mengkhawatirkan aku sayang." Ucap Joe Nathan hingga membuat Violet terhenti lalu menarik kembali tangannya. Ya, pria itu telah menyadarkannya.


"Ak-Aku tidak bermaksud..." Sahut Violet lalu mengalihkan pandangan ke arah Racel. "Tangan mu sedang terluka, tolong segeralah rebahkan tubuh Racel di atas sofa. Jika tidak darah di lengan mu akan terus mengalir." Pinta Violet seraya mendekat ke arah sofa lalu meletakkan bantal sofa itu di atasnya. "Joe..." Ucap Violet ketika ia melihat Joe Nathan hanya diam saja memperhatikannya, menatap matanya.


Joe Nathan lantas mendekat lalu merebahkan gadis itu di atas sofa. Saat itu Violet terdiam memandang wajah Joe Nathan yang memucat karena darah di lengannya semakin meluas mengotori pakaian.


"Jangan dulu pergi, aku akan membalut luka mu." Ucap Violet lalu pergi.


Joe Nathan tersenyum melihatnya. Bagaimana pun, ini lah yang dia inginkan. Pria itu dengan bodohnya menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapatkan secercah perhatian dari seorang Violet Grizelle.


Joe Nathan duduk sambil melepaskan tuxedonya, ia juga melepaskan satu per satu kancing kemeja lalu melepaskannya di sana, tertunduk memejamkan mata menahan rasa sakit.


Saat itu Violet kembali dengan kotak P3K di genggaman tangannya. Ia terdiam melihat tubuh kokoh seorang Joe Nathan yang pernah mendekap tubuhnya, memberinya rasa hangat dan nyaman saat ia tidur di dalam dekapan tubuh itu.


Joe Nathan menatapnya. Violet yang mendekat lalu duduk di sisinya. Ia perhatikan semua gerak tubuh wanita itu, termasuk saat dia menundukkan kepala seolah tidak ingin melihat tubuhnya yang saat ini bertelanjang dada di hadapannya.


"Dimana suami mu?" Tanya Joe Nathan.


"Dia pergi bersama Jeon untuk membereskan sesuatu." Sahut Violet, ia mulai melepaskan perban yang melilit di lengan Joe Nathan. "Luka ini terlihat bukan lah luka baru. Joe? Kenapa tubuh mu di penuhi luka lebam membiru?"


"Aku di serang sekumpulan orang saat pulang dari pesta pernikahan Nadine."


"Syukurlah kamu selamat, aku janji ini tidak akan menyakitkan." Ucap Violet lalu mulai mengobati luka di tubuh Joe Nathan.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...