
Satu minggu sudah Joe Nathan tidak kembali. Kepala pelayan bilang jika tuannya saat ini menginap di salah satu hotel miliknya di kota yang tidak ia sebutkan namanya.
Kenapa? Seperti apa yang pria itu ucapkan pada istrinya tepat satu minggu yang lalu, jika ia merasa semakin lama semakin muak dengannya. Rupanya, Joe sungguh berkata jujur akan hal itu.
Kini Selly semakin kesepian dan kualahan menghadapi rumah tangga kontraknya dengan dia yang menghilang tanpa kabar. Gadis itu lantas melakukan janji temu dengan teman wanitanya di sebuah café yang terletak tidak jauh dari kediamannya saat ini.
“Apa yang terjadi Sellya? Kenapa kamu murung?” Tanya Tiffani, dia adalah teman masa kecilnya.
“Entah lah.” Sahut Selly lalu ia bersandar di kursinya, termenung menatap kosong.
“Aku teman mu, kamu tidak percaya pada ku?”
“Aku hanya malu mengatakannya. Bagiku, ini aib dan sangat memalukan.”
“Kita saling tahu baik dan buruk diri satu sama lain. Lantas?”
“Tiffani, sejujurnya aku menikah dengan Joe Nathan hanya sebatas perjajian kontrak untuk saling menguntungkan satu sama lain. Aku tidak berhak atas dirinya tapi aku sungguh menginginkannya. Aku mau dia.”
Mendengarnya, Tiffani pun terdiam sejenak lalu ia mencicipi secangkir kopi hangatnya dan kembali menatap dia sahabatnya.
“Aku mengerti apa yang kamu inginkan.”
“Dia sangat jijik pada ku.”
“Jadi, selama ini dia belum pernah menyentuh mu sebagai mana mestinya seorang suami terhadap istrinya?”
“Iya, dia sangat membenci ku dan tidak ingin menjadikan aku sebagai ibu dari anak-anaknya kelak. Suami ku sangat menginginkan wanita lain.”
“Wanita lain? Siapa?”
“Entah lah, aku tidak tahu seperti apa dia. Tapi aku pernah melihat fotonya dan aku tahu namanya. Dia sangat manis dan terlihat sangat cantik, namanya Violet.”
“Siapa pun dia, tenang saja Sellya. Aku akan membantu mu mendapatkan Joe Nathan.”
“Katakan bagaimana caranya?”
“Tidak ada yang salah dalam cinta. Meski meraihnya dengan cara yang sangat menjijikan sekali pun.”
“Aku mengerti.”
🍁
Sempat ingin mengurungkan niat atas janjinya pada Violet untuk meminta maaf pada Joe Nathan. Nyatanya, Axel Zayn melakukan panggilan pada pria itu meski sedikit terlambat.
“Kau di mana?”
“Busan.”
“Aku ingin bertemu.”
“Biar aku yang menghampiri mu.”
“Temui aku di rumah ku.”
“Aku tidak akan membuang waktu.” Sahut Joe lalu ia akhiri penggilan telpon dari Axel Zayn.
“Axel Zayn, kali ini aku akan mendapatkan keuntungan dari petemuan kita.” Gumam Joe Nathan seraya senyum picik terlukis di wajahnya.
Menempuh perjalanan Busan-Seoul tanpa halangan suatu apa pun. Joe Nathan telah sampai di kediaman mewah bak istana milik Zayn Keenan di kota itu.
Dia keluar dari dalam mobil mewahnya seraya mengangkat pandangan lalu melepaskan kaca mata hitam untuk menyimpannya di dalam saku tuxedo selutut yang ia kenakan.
Menghampiri pintu utama. Joe Nathan lantas di sambut kepala pelayan yang sudah menunggunya atas perintah tuan muda mereka, Axel Zayn.
“Selamat datang di kediaman tuan besar Zayn Keenan, silahkan masuk tuan Joe Nathan.” Ucapnya lalu mempersilahkan Joe Nathan untuk mengikuti kemana ia membawanya.
Telah sampai di halaman belakang rumah itu. Kepala pelayan lantas merunduk sopan lalu pergi dari hadapannya.
Axel Zayn lantas muncul ke permukaan air saat ia menyadari kehadiran Joe Nathan di sana. Hanya menggunakan celana renang panjang selutut, tubuh kokoh pria itu terlihat nampak sangat jelas tetika ia hanya bertelanjang dada keluar dari dalam kolam berenang untuk menghampirinya.
Mengalihkan pandangan lalu duduk di sofa santai di sana. Joe Nathan melepaskan tuxedonya dan bersandar, menumpang satu kakinya di hadapan Axel Zayn yang saat ini berdiri dihadapannya sambil menenggak air mineral dari dalam botol.
“Busan-Seoul. Seberapa cepat kau mengendarai mobil mewah mu untuk sampai ke tempat ku?” Tanya Axel lalu ia letakkan kembali botol air mineralnya di atas meja, di hadapan Joe Nathan.
“Cih! Kau terlalu gigih.” Ucap Axel lalu ia duduk di sana setelah memakai jubah handuknya di hadapan dia, pria yang tidak memilki hubungan baik dengannya sejak lama. “Itu baik. Juga buruk.”
Melihat senyuman itu Joe Nathan lantas mengalihkan pandangan dengan senyum misteriusnya. Ia tidak perduli akan hal itu.
“Aku harap, kau tidak membuang waktu ku secara cuma-cuma.” Ucap Joe lalu ia kembali menatap matanya seraya senyuman di wajahnya lenyap begitu saja.
“Hahaha”
Tawa Axel Zayn lantas mendominasi indra pendengaran Joe Nathan yang saat ini menatapnya sangat tajam.
“Jangan tergesa-gesa Joe Nathan, wine ku sudah menunggu mu sejak tadi.” Ucap Axel lalu ia tuang wine-nya ke dalam gelas sloki. Ia lantas tersenyum padanya sebagai tanda jika ia mempersilahkan pria itu untuk meminumnya.
“Terimakasih.” Ucap Joe lalu ia menenggak wine itu dengan sekali teguk.
“Violet.” Ucap Axel lalu ia tuang lagi wine-nya untuk Joe Nathan yang terdiam menanti kelanjutan dari ucapannya. “Kenapa diam? Tidak sabar ingin mendengar tentangnya dari ku?” Ucap Axel seraya senyum meledek kini terlukis di wajahnya.
Mendengar ucapan dan senyum mengesalkan pria itu. Joe Nathan lantas meraih wine-nya lalu ia menenggaknya dengan sekali tugukkan lagi.
Tak!
Suara gelas sloki itu nampak nyaring ketika Joe Nathan meletakkannya sangat kasar di hadapan dia yang terdiam melihat perubahan begitu banyak terjadi pada pria yang saat ini duduk di hadapannya.
“Ceritakan apa yang kau tahu tentang adik kesayangan mu.” Sahut Joe lalu senyum meledek kini terlukis di wajahnya yang tampan.
Mendengar kata “Adik kesayangan” terucap dari mulut pria itu. Axel Zayn lantas menatapnya sangat tajam seolah ia tidak menerima akan hal itu, meski itu nyata.
Meraih sebatang rokok untuk ia menikamatinya di sana. Joe Nathan lantas tersenyum seraya ia mendorong rokoknya tepat di hadapan Axel Zayn yang membisu.
“Tidak perlu di masukan ke dalam hati.” Ucap Joe Nathan lalu ia kepulkan asap rokoknya di hadapan Axel Zayn.
“Tentu saja.” Sahut Axel lalu ia raih sebatang rokok untuk menikmatinya di sana. Sama seperti dia yang tersenyum sangat mengesalkan menatapnya saat ini.
“Katakan apa yang ingin kau sampaikan?” Tanya Joe.
“Atas kejadian beberapa waktu lalu, aku minta maaf untuk itu.”
“Luka yang kau berikan tidak sebanding dengan luka yang adik mu berikan pada ku. Lantas? Menurut mu pengampunan ku sangat berguna untuk mu?”
“Iya, pengampunan mu sangat berguna bagi ku. Karena Violet menginginkannya.”
“Tentu saja.” Sahut Axel lalu ia kepulkan asap dari mulutnya.
“Aku akan mengampuni mu. Hanya saja, dengan satu syarat.”
“Katakan.”
“Aku menginginkan alamat rumah adik mu di LA.”
“Cih! Untuk itu, aku sangat bosan mendengarnya. Kau bahkan tidak menyerah?”
“Semakin kau menghindar. Semakin aku akan mencari tahu.”
“Baiklah, sepertinya sangat sulit menolak keinginan pria batu seperti mu. Tapi, kau tentu harus berjuang untuk itu.”
“Kau memohon pengampunan dari ku. Menurut mu? kau berhak bernegosisai dengan ku?”
“Katakan iya untuk kesepakatan kita.”
“Cih!”
“Aku tahu kau bukan pecundang.”
“Katakan.”
“Aku dengar kau pernah mendapatkan medali emas sebagai atlet renang saat kuliah dulu. Hari ini, buktikan pada ku dan kau akan mendapatkan alamat rumah Violet jika kau berhasil mengalahkan aku.”
“Cih! Tentu saja, kau ingat? Jika aku tidak memiliki kemampuan itu. Mungkin aku sudah mati saat ayah mu, Zayn Keenan berusaha membunuh ku.” Sahut Joe Nathan, ia tersenyum kecut lalu bangkit dari duduk. “Kau harus menempati janji.”
“Tentu saja.” Sahut Axel lalu ia bangkit dari duduk untuk saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan di antara keduanya .
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......