
"Cih! Ja*lang, kau masih menginginkan aku?" Bisik Joe lalu tangan nakalnya menyelinap masuk ke dalam pakaian Sellya untuk ia menyentuh apa yang tidak seharusnya ia sentuh.
"Joe!" Panggil Selly ketika Joe Nathan ternyata hanya mempermainkannya. Pria itu pergi tanpa menoleh padanya. "Kamu terlalu jahat pada ku Joe Nathan!" Ucap Sellya pada dia yang bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. "Aaahh! Aku bisa gila!" Teriak Sellya. Kini Joe Nathan telah benar-benar lenyap dari pandangannya lagi.
Meninggalkan kediaman mewahnya. Di tengah malam yang dingin itu Joe Nathan menepikan mobilnya di tepi pantai. Roda mobilnya kini terhenti di atas pasir putih dan Joe Nathan keluar dari dalam mobil di sambut oleh angin pantai yang mengibas lembut rambut serta tuxedo-nya.
Sepi, hanya ada dirinya sendiri, dingin begitu menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Joe Nathan mendongak, menatap kehadiran rembulan terang di tengah hamparan bintang-bintang yang berkedip di atas sana. Ia lantas meraih beberapa kaleng Bir dan satu bungkus rokok, Joe lantas duduk di atas kap mobilnya.
Crass!
Ia buka satu kaleng Bir pertama lalu menenggaknya tanpa ampun. Joe Nathan lantas meremas dan melemparkan kaleng penyok itu sejauh mungkin. Ia berfikir untuk menghabiskan sisa malamnya di tempat itu.
Crass!
Suara itu kembali terdengar ketika korek api di genggaman tangan Joe mulai membakar ujung dari sebatang rokok yang terselip di antara giginya. Ia mengepulkan asap ke langit sambil memejakan mata lalu merebahkan tubuh di atas kap mobilnya. Joe menjadikan satu tangannya sebagai alas kepala.
Damai ia rasakan di temani gemuruh ombak yang menerjang bebatuan besar di tepi pantai, suara hewan-hewan kecil seolah menyampaikan pesan padanya, jika dia tidak benar-benar sendirian di sana.
"Kau benar Sellya. Aku memang kesepian." Ucap Joe lalu menghisap sebatang rokoknya lagi. "Tapi aku tidak sudi mengotori diri ku lalu memberikannya kepada Violet. Aku tidak mau Violet merasa jijik pada ku karena dia bukan yang pertama tidur di sisi ku nantinya." Ucapnya lalu mengepulkan asap dari mulutnya.
Sejenak Joe Nathan memejamkan mata untuk mengingat sosok cantik Violet Grizelle. Senyum bahagia lantas hadir di tengah-tengah kesepiannya saat ia melihat senyum wanita itu di dalam memory nya.
"I Love You Joe!"
"I Love You too sayang!"
"Hahahaha..."
Kembali membuka mata. Joe tatap bintang-bintang di atas sana lalu bergumam. "Aku milik mu dan hanya kamu satu-satunya wanita yang akan aku sentuh. Aku sangat mencintai mu sayang... Melebihi apa pun."
Seiring berjalannya waktu. Suara hewan-hewan kecil tidak lagi terdengar di telinga Joe Nathan, senyap, gemuruh ombak yang menyapu pantai pun tidak sebringas semalam. Dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang kini tidak lagi ia rasakan. Sekarang, Joe Nathan merasa sangat hangat hingga perlahan, ia mulai membuka sepasang kelopak matanya.
Mentari pagi hadir dari ufuk timur seolah menyambutnya, sinarnya yang lembut mampu menghangatkan seorang Joe Nathan yang kesepian dan hanya diam menatap kehadirannya di atas sana. Mentari indah itu seolah mengucap padanya. "Selamat pagi Joe Nathan, semoga hari ini jauh lebih baik dari hari-hari yang telah berlalu."
Ya, Joe Nathan tersenyum karena berfikir demikian tentang mentarinya. Meski itu konyol, tapi ia sedikit bahagia.
"Selamat pagi Joe Nathan."
Joe Nathan menoleh mendengar suara lembut milik wanita cantik itu, ia bangkit, duduk di atas kap mobil dengan rambut yang sedikit berantakan.
"Selamat pagi sayang." Sapa Joe Nathan, ia tersenyum pada gadis cantik bergaun putih yang sedang melambaikan tangan padanya. Gadis itu seolah menariknya mendekat ke sisinya.
Joe melihat senyuman gadis itu. Entah lah, ia merasa, mungkin dirinya telah benar-benar gila. Tapi, meski ia merasa telah gila. Joe tetap bergegas menghampirnya sambil melepas lalu melempar tuxedo-nya di atas pasir putih yang ia pijak.
Sungguh! Joe Nathan tidak sabar ingin mendekapnya lalu menahannya agar tidak pergi lagi.
"Selamat pagi sayang." Sapa Joe Nathan lagi kepada gadis bergaun putih itu, kini ia berada di bawah tubuh Joe Nathan di atas pasir putih yang tersapu air laut. Baru saja, Joe Nathan menyambarnya, lalu menahannya di sana.
Tanpa menjawab gadis itu hanya tersenyum. Joe Nathan terpaku melihat senyumannya, giginya yang putih dan rapih seolah menariknya agar semakin dekat dan lebih dekat lagi tanpa ia sadari.
"Aku mencintai mu." Ucap Joe Nathan lalu mencium bibir manis milik gadis itu, Violet Grizelle.
đ
Sedangkan di kediam Zayn Keenan. Pria bertubuh kokoh itu menarik kursi untuk istrinya lalu di susul olehnya, ia duduk di sisi wanitanya.
Duduk tegap di kursi yang menunjukkan jika dirinya adalah seorang pemimpin, baik itu di dalam rumah mewahnya, atau di Perusahaan besar miliknya. Kini Zayn Keenan terdiam ketika ia melihat Axel Zayn begitu dalam menatap adiknya, Violet.
"Tuan Zayn." Sapa Violet, ia genggam telapak tangan suami yang terdiam menatap putra sulungnya.
"Iya sayang?" Sahut Zayn Keenan, ia menoleh.
"Ehmm!" Axel Zayn berdehem sambil mengalihkan pandangan dengan ke dua tangan yang sibuk merapikan dasi.
"Aneh." Gumam Violet, wanita itu lantas menyendok nasi goreng untuk suaminya.
"Anda menghabiskan seluruh tenaga, jadi harus makan banyak." Sahut Violet seolah lupa jika di sana ada kakaknya.
"Ehmm!" Axel Zayn kembali berdehem namun kali ini terdengar lebih nyaring. "Tiba-tiba aku merasa kenyang dan udara di sini sangat panas." Ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang makan.
"Axel Zayn." Panggil Zayn Keenan. Tapi pemuda itu tidak menghentikan langkah kakinya.
"Sarapan dulu kak!" Ucap Violet dan Axel segera menghentikan langkah kakinya.
Zayn Keenan menoleh lalu mentap mata putra sulungnya sangat tajam seolah ia ingin menghakiminya.
"Aku ayahnya, dia bahkan tidak berhenti saat aku memanggilnya. Tapi, dia segera berhenti saat istri ku yang memanggil. Anak ini." Geram Zayn Keenan di dalam hati.
Menghela nafas dalam karena kesal. Ya, Zayn Keenan berpikir. Apakah ia terlalu memanjakan anak-anaknya? Entah lah, nyatanya pria itu justru mengucap. "Sarapan dulu." Pada Axel Zayn.
"Aku akan sarapan di kantor ayah." Sahut Axel.
"Mana boleh pergi dengan perut kosong? Kemarilah kakak!" Ucap Violet seraya ia menyendok nasi goreng lalu meletakkannya di piring Axel Zayn.
Melihat Violet melakukan itu untuknya. Axel Zayn lantas teringat masa lalu, masa di mana Violet melayaninya di rumah usangnya yang dulu. Pria itu lantas tersenyum lalu mendekat kembali.
"Sayang, biarkan Axel melakukannya sendiri." Perintah Zayn Keenan, ia berusaha menahan gerak tangan istrinya.
"Biarkan adik ku melayani ku ayah." Ucap Axel, ia menggenggam pergelangan tangan Zayn Keenan hingga membuat sang ayah itu melepaskan pergelangan tangan istrinya. "Tiba-tiba aku sangat lapar dan udara di dalam ruang makan ini terasa sejuk." Ucap Axel lalu kembali duduk dengan senyum bahagia di wajahnya. "Terimakasih sayang." Ucap Axel pada Violet yang kembali duduk lalu menyuap makanan ke mulutnya.
"Ehmm!!!"Â Zayn Keenan berdehem sangat kuat di barengi sepasang telapak tangan yang mengepal di atas meja. Tatapan mata tajamnya kembali menusuk mangsa yang saat ini tersenyum menatapnya.
"Selamat makan ayah." Ucap Axel, sarapan pagi ini sangat membahagiakan untuknya hingga ia tidak perduli jika pun ayahnya marah seperti saat ini.
"Kakak suka telur?" Tanya Violet, wanita itu sungguh tidak peka!
"Suka." Sahut Axel.
"Aku tidak terlalu suka, jadi telur milik ku untuk kak Axel saja." Ucap Violet seraya memindahkan telur mata sapinya di piring Axel Zayn.
"Terimakasih sayang." Sahut Axel.
"Ehmm!!! Tiba-tiba aku merasa kenyang dan udara di sini terasa sangat panas!!!" Ucap Zayn Keenan.
"Kepala pelayan?" Panggil Violet.
"Apa ini? Sayang? Kamu tidak perduli?" Batin Zayn Keenan.
"Iya nona?" Sahut kepala pelayan, ia masuk lalu menghadap nonanya.
"Ambilkan remote AC, tuan Zayn kepanasan." Perintah Violet dan kepala pelayan segera bergegas.
"Ini nona." Ucapnya menyerahkan remote terkutuk itu.
"Terimakasih." Sahut Violet seraya ia mulai menggunakannya.
"Apa benar jika wanita sedang hamil akan menjadi bodoh?" Batin Zayn Keenan.
"Masih panas tidak tuan Zayn?" Tanya Violet dengan polosnya. Membuat Zayn Keenan menggertakkan gigi menatapnya.
"Kenapa anda menatap ku seperti itu?" Tanya Violet lalu melempar pandangan ke arah Axel yang saat ini tertawa kecil.
Braakkk!!
Zayn Keenan menggebrak meja hingga piring dan gelas di atasnya melompat dari tempatnya. "Habiskan sarapan kalian!!" Perintahnya.
đStay With Me Violet 3đ
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......