
Keluar dari dalam kamar. Langkah kaki Joe Nathan kian lebar menuju kamar Sellya Nara dengan membawa amarah bersamanya.
“Kepala pelayan!” Panggil Joe, lalu terhenti di depan pintu kamar gadis itu dengan sepasang telapak tangan yang mengepal kuat.
“Iya tuan.” Sahut kepala pelayan, ia merunduk sopan.
Braaakk!!
Tanpa mengetuk terlebih dahulu. Joe Nathan langsung mendobrak pintu kamar wanita itu dengan menggunakan kakinya, membuat Selly yang saat ini menangis di atas tempat tidur lantas terperanjak melihat sosok pria yang saat ini berdiri di depan pintu kamarnya. Selly lantas bangkit, ia berdiri di sana menatap amarah yang begitu pekat terpancar dari ke dua bola mata suaminya.
Ya, Selly tahu. Saat ini pasti akan datang setelah apa yang telah ia lakukan padanya, pada seorang pria seperti dia. Namun, kini Selly hanya diam menatapnya tanpa perlawanan.
Joe Nathan mendekat bersama kepala pelayan yang membuntutinya. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan wanita yang hanya diam menatap matanya penuh kesedihan.
“Di antara kalian berdua, siapa yang membuat teh lemon itu untuk ku?”
Joe Nathan bertanya, ia tidak berteriak. Hanya saja, tatapan mata itu begitu tajam menusuk dia, istrinya.
Kepala pelayan terdiam menundukkan kepala di dekat tuannya. Perlahan, ia mulai memainkan kuku dari jemari ke dua tangannya yang gemetar. Pertanda jika ia atau pun nonanya akan mendapat masalah besar akan hal itu.
Kepala pelayan mengangkat pandangan, ia tatap nona yang saat ini hanya diam dengan air mata yang membasahi ke dua pipinya, begitu dalam ia menatap suami yang saat ini menggertakkan gigi menatap matanya. Seolah pria itu menanti, kapan wanitanya akan menyerah dan menundukkan kepala di hadapannya.
“Ak-”
“Aku.” Sahut Selly. Ia memotong perkataan kepala pelayan yang hendak mengakui kesalahan yang sebenarnya, Sellya lah yang memang membuat dan membubuhi obat di dalamnya.
“Jika begitu, angkat kaki mu dari rumah ku.” Ucap Joe seraya ia menunjuk pintu kamar Selly.
“Aku minta maaf Joe.” Sahut Selly lalu ia menekuk ke dua lutut di hadapannya.
Melihat wanita itu semakin dalam menundukkan kepala penuh sesal di hadapannya, ia yang berlutut di kakinya. Tidak lantas membuat hati Joe Nathan yang telah mati dan membeku menjadi batu, lantas mengampuni dirinya.
Joe Nathan melempar pandangan seraya ia menghampiri ruang gandi Selly. Ia masuk ke dalamnya dan Sellya pun bangkit. Tapi, dia hanya mematung manatap ke arah suaminya menghilang saat ini.
Braakkk!!
Suara itu terdengar nyaring hingga membuat Selly dan kepala pelayan terkejut ketika Joe Nathan kembali dengan sebuah koper dan melemparkannya di hadapan Sellya.
“Kau telah melangar isi dari kontrak perjanjian kita. Sekarang, angkat kaki mu dari rumah ku.” Ucapnya lalu menunjuk pintu kamar Selly lagi.
“Tolong ampuni aku Joe Nathan.” Pinta Sellya, ia kembali berlutut, memeluk sepasang kaki jenjang suaminya sambil menangis memohon pengampunan atas segalanya.
Menghempaskan Selly. Joe Nathan lantas meraih koper itu lagi lalu ia raih pergelangan tangan Selly untuk membawanya paksa, keluar dari dalam kamar bersamanya.
Braaakkk!!
“Pergi!”
Perintah itu terucap dengan nada tinggi setelah Joe Nathan melemparkan koper istrinya ke tangga hingga membuatnya terjatuh dan kini tergeletak di lantai dasar rumahnya. Hancur.
“Aku tidak mau Joe Nathan… aku ingin bersama mu, aku mencintai mu, aku mau tetap menjadi istri mu.” Ucap Selly.
Sungguh! Joe Nathan sangat muak mendengar itu semua. Pria itu lantas pergi meninggalkannya kembali menuju kamar.
“Cepat pergi sebelum habis kesabaran ku.” Sahut Joe, ia lantas melanjutkan langkahnya setelah ia bahkan tidak menoleh pada istrinya.
“Aku tidak mau! Jika kamu memaksa ku! Aku akan lompat!” Ancam Selly hingga membuat Joe terhenti lagi, menoleh lalu memutar tubuhnya.
Hanya diam pria itu semakin habis kesabaran. Bagaimana bisa ia bertemu wanita gila yang mengancam akan lompat dari lantai dua kediamannya? Tentu, Joe ingin tahu, apa dia akan segila itu. Atau, segalanya hanya sebatas omong kosongnya saja.
“Lakukan. Aku ingin melihatnya dengan mata kepala ku sendiri.” Sahut Joe.
Mendengarnya, Selly lantas menorah senyum sendu di wajahnya lalu ia tatap setiap undakan anak tangga di dekatnya.
“Jika aku mati. kamu harus tahu, mati ku… Karena cinta ku pada mu Joe Nathan.” Ucap Selly, lalu ia menoleh untuk menatap mata tajam suaminya. “Dan aku akan merasa bangga.” Ucapnya memejamkan mata seraya tetes air mata terakhirnya terjatuh.
“Nona!”
Teriak kepala pelayan saat ia melihat nonanya mencondongkan tubuh ke belakang dan berakhir di lantai dasar dengan luka di kepala yang membanjiri lantai dengan darahnya.
Hanya diam Joe Nathan menatap ke arah Sellya berdiri tadi. Kini wanita itu menghilang dari pandangannya di susul kepala pelayan yang berlari menuruni anak tangga setelahnya. Ya, wanita itu sungguh gila. Dan atas kegilaanya, kini sepasang kepalan tangan Joe Nathan mulai terbuka seraya langkahnya mulai mengayun kian lebar.
🍁
Malam semakin larut, Joe Nathan mengepulkan asap dari mulut dengan sebuah tiket pesawat di genggaman tangannya. Seharusnya, saat ini pesawat sudah take off menuju Los Angeles Amerika Serikat dan ia harus melewatkannya begitu saja.
“Tunggu sebantar lagi.” Gumamnya.
Joe Nathan hanya bisa menenangkan dirinya sndiri dengan ucapan itu. Entah lah? Semua terasa melehakan baginya.
Melipat lalu menyimpan kembali tiket pesawat ke dalam saku kemeja. Joe Nathan lantas meninggalkan balkon untuk kembali masuk ke dalam ruang inap VIP di sebuah rumah sakit terbaik kota Seoul.
Ia membuka lalu menutup pintu perlahan. Dalam kebisuan, ia mendekat ke arah wanita yang saat ini berbaring lemah di atas ranjangnya. Dia belum bangun dari tidurnya setelah beberapa menit membuka mata saat dokter menolongnya.
Kini Joe Nathan terhenti di sisi wanita itu, ia raih selimutnya untuk merapikannya, menaikkannya sampai menutup dada. Ya, ruang inap VIP itu cukup dingin baginya.
“Keberangkatan ku gagal karena mu, bagaimana kamu akan bertanggung jawab untuk itu? Sellya…”
Mengalihkan pandangan, Joe Nathan lantas menghampiri sofa panjang di sana lalu ia rebahkan tubuhnya. Tidak ada yang dapat ia lakukan untuk saat ini, itu baginya.
Menatap lurus ke langit-langit. Joe lantas memejamkan mata lalu senyuman mulai terlukis di wajahnya ketika ia mengingat sesuatu yang membuanya bahagia.
“I Love You Joe!”
“I Love You Too sayang!”
“Hahahaha…”
Detak waktu terdengar dan terus berputar. Lelah dan stress kini mengantarkan dia yang berbaring di atas sofa lantas melenyapkan senyumannya ketika ingatan menyakitkan hadir dan mengantarkannya ke dalam lelap.
“Aku ingin melihat mu bahagia, meski tidak bersama ku… Joe Nathan.”
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......