Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Tidak Akan Tergantikan




Sekilas curhat hati seorang author,


Kenapa di apk ini sangat sulit mendapatkan pembaca?


Tahu kenapa banyak author memutuskan untuk hiatus?


Jawabannya sangat mudah. Dia tidak mendapatkan apresiasi atas hasil berpikir dan begadangnya di tengah malam. 😭


Ayo gaes, berikan bunga kalian🌹, koment 🗨 dan jempolnya 👍.


Next....


🍁


Di pagi hari Selly keluar dari dalam kamarnya, ia lantas terhenti ketika melihat Joe Nathan juga keluar dari dalam kamar lalu menuruni satu per satu anak tangga di dalam kediaman mewah mereka.


Melihat pria itu tidak menoleh padanya meski hanya sedikit saja. Selly lantas menyusulnya dan terhenti di sisinya, tepat di dekat dia yang saat ini sedang duduk di kursinya, di dalam ruang makan.


“Selamat pagi Joe Nathan.” Sapa Selly.


Hanya diam Joe Nathan tidak menoleh, apa lagi menjawabnya seolah kehadirannya di sana tidak pernah ada.


“Apa pagi ini aku boleh sarapan bersama mu?” Tanya Selly seraya ia meraih kursi lalu duduk di sisinya.


Begitu kaku dan canggung. Joe tidak mengucap sepatah kata pun dan itu adalah alasan kenapa ruang makan saat ini terasa sepi dan sangat dingin.


“Sarapan yang banyak Joe.” Ucap Selly, ia meraih satu sandwich dan meletakkannya di piring Joe Nathan yang langsung berhenti mengunyah untuk menatap matanya.


Melihat tatapan tajam menusuk prianya. Selly lantas mengambil kembali sandwich itu dari piringnya. “Maaf Joe. Aku hanya…”


Kembali Joe Nathan melanjutkan sarapan. Di saat itu, barulah Selly menyadari akan sesuatu. Tangannya, dia melihat luka di tangan suaminya.


“Tangan mu! Kenapa? Apa yang terjadi Joe?”


“Diam!” Tandas Joe Nathan seraya ia bangkit dari kursinya ketika melihat Selly hendak meraih tangannya yang terluka berbalut perban.


Terkejut melihatnya marah. Selly lantas bangkit dan terdiam ketika ia melihat Joe Nathan malah tersenyum melihat luka di lehernya.


“Setiap kali. Kau sangat berisik dan mengganggu.” Ucap Joe.


“Aku hanya-”


“Ingin melihat mu enyah dari pandangan ku. Sekarang!”


Sangat tegas cara ia mengucap kalimat itu. Tidak ada rasa sesal ketika ia justru tersenyum lalu meraih wajahnya. Mencengkramnya tanpa rasa iba. “Kenapa? Orang itu tidak sekalian menghabisi nyawa mu saja?!” Tanyanya lalu ia hempaskan Selly hingga membuatnya terjatuh ke lantai dengan rambut panjang yang menutup separuh wajahnya.


Braaakk!!


Menendang kursi hingga membuat Selly terperanjak. Joe Nathan lantas menggertakkan giginya seraya ia mengucap. “Semakin lama, kau semakin memuakkan.”


Selly lantas bangkit ketika ia melihat Joe memutar tubuh untuk hendak pergi. “Apa kamu sungguh tidak perduli pada ku meski hanya sedikit saja? Joe Nathan.” Tanyanya.


“Cih!” Senyum lucu itu terlukis di wajah Joe seraya ia pergi begitu saja dari pandangan istrinya.


“Joe Nathan.” Panggil Selly seraya ia membuntutinya keluar dari ruang makan. “Kenapa kamu begitu angkuh memperlakukan aku? Apa salah ku?”


Terhenti. Joe Nathan lantas memutar tubuhnya untuk menatap Selly seraya tangan kiri pria itu begitu lurus menujuk pintu utama kediamannya. “Pergi.” Ucapnya, ia tidak berteriak. Tapi, satu kata itu mampu membungkam mulut Selly hingga membuatnya mematung di sana. Tepat di hadapan suami yang tersenyum lucu menatap dirinya. “Wajah mu, bahkan lebih tebal dari pada tembok.” Ucapnya lembut, namun sangat menusuk.


“Aaahhh!”


Craangg!


Berteriak sekuat tenaga saat ia melihat suaminya pergi lagi. Selly lantas menghempaskan segala benda yang ada di hadapannya tanpa ragu lalu mendekat ke arah pintu utama. Selly terdiam di sana memandang mobil mewah berwarna hitam milik suaminya telah pergi semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.


“Nona Selly, kenapa aku tidak bisa memahami sikapnya yang berubah-ubah? Dia, terlihat sangat jauh berbeda jika di bandingkan dengan nona Violet.” Batin kepala pelayan.


🍁


Sedangkan di One Zayn Group Seoul. Menjelang jam makan siang Axel Zayn menghampiri Caramel lalu ia duduk di atas meja gadis itu tanpa mengucap sepatah kata pun atau hanya sekedar menyapanya.


Menyadari akan hal itu. Caramel lantas segera menyingkir untuk pergi makan siang bersama dengan Nadine yang sampai saat ini masih bertahan di perusahaan besar itu dan menjadi teman baiknya. Tepatnya, itu semua terjadi karena perintah Axel pada Nadine untuk mengajari Caramel bagaimana cara menjadi diri seorang Violet Grizelle saat berhadapan dengannya.


“Mau kemana?” Tanya Axel seraya ia meraih pergelangan tangan Caramel hingga membuatnya terhenti dan menoleh. “Seperti ini cara mu memperlakukan aku tuan mu?” Tanya Axel lalu ia bangkit dari duduk dan menariknya mendekat lalu berbisik di telinganya. “Sudah sangat mirip dengan sikap Violet pada ku dulu. Tapi, kali ini aku mau kamu patuh.”


“Aku sudah sangat patuh pada semua perintah anda Presdir. Mulai dari yang wajar, sampai pada yang tidak wajar sekali pun.” Sahutnya lalu mencondongkan tubuh ke belakang saat Axel Zayn menyatukan tubuhnya tanpa celah.


“Kau akan mendapatkan hadiah untuk itu.” Bisik Axel lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah cantik seorang Caramel.


Menatap bibir manis milik gadis itu. Perlahan, Axel Zayn semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung keduanya kini saling beradu. Tapi, entah kenapa Axel terhenti. Ia nampak ragu dan pada akhirnya, pria itu mengalihkan pandangan seraya ia melepaskan Caramel dari belenggunya.


“Kenapa? Anda menyadari jika aku bukanlah dia? Maka itu anda tidak bisa melakukannya pada ku?” Tanya Caramel.


Menoleh untuk menatapnya. Axel Zayn lantas mengelus rambut panjang bergelombang milik Caramel lalu membelainya seraya ia tersenyum padanya. “Rambut panjang mu terlihat sangat indah, aku menyukainya.” Ucapnya lalu pergi begitu saja.


Menatap kepergiannya. Caramel lantas menoleh ke belakang saat ia mendengar seseorang memanggil namanya.


“Cara.”


“Kak Nadine.”


“Ayo pergi.”


Menuju kantin bersama. Caramel lantas memberanikan diri untuk bertanya padanya.


“Kak Nadine.”


“Iya?”


“Kak Violet, apa aku sungguh terlihat mirip dengannya?” Tanya Caramel.


“Sejujurnya tidak.” Sahut Nadine lalu ia menoleh dan tersenyum padanya.


“Lalu?”


“Presdir sangat menyukai Violet dan kamu hadir sebagai penggantinya. Aku hanya berpikir, mungkin semua itu terjadi karena dia yang belum bisa menerima kenyataan jika Violet adalah adik kandungnya. Atau, di manatanya, melihat kamu bagaikan melihat dirinya.”


“Jadi? Aku tidak mirip dengannya?” Gumam Caramel, ia sedikit merasa kecewa akan kenyataan itu.


“Caramel. Violet adalah Violet. Kamu, aku, atau siapa pun di luar sana. Satu pun tidak akan ada yang bisa menyamainya. Dia unik dan berbeda, sampai kapan pun, sebesar apa kamu berusaha menjadi wanita itu. Kamu tetap tidak akan pernah bisa menggantikannya dan aku pun tidak akan mampu mengubah mu menjadi sama sepertinya.” Ucap Nadine.


“Aku mengerti.” Sahut Caramel lirih.


“Seharusnya aku senang mendengarnya. Tapi, kenapa aku merasa kecewa? Mungkinkah aku memiliki perasaan pada Presdir Axel Zayn? hingga tanpa sadar aku selalu patuh saat dia meminta ku untuk bersikap sama seperti kak Violet? Apakah, perlahan aku mulai menikmati kedaan ini?”


“Caramel?” Panggil Nadine padanya. Pada dia yang termenung di sisinya.


“Iya kak?” Sahut Caramel. ia tersentak dari lamunan.


“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?”


“Tidak ada.”


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......