Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
“Setiap kali! Kamu selalu membuat ku frustasi!”




“Sayaaang…” Panggil Zayn Keenan pada wanita yang saat ini tertidur di pelukannya di atas tempat tidur.


“Hmm…” Sahutnya dengan sepasang kelopak mata yang masih tertutup rapat. Menjadikan lengan kokoh Zayn Keenan sebagai alas kepala.


Sepi kamar yang mereka tinggali saat ini, ketika wanita itu hanya menjawab “Hmm…” namun tidak kunjung membuka mata untuk memandangnya.


Zayn Keenan tersenyum lalu tanpa sadar telapak tangan dengan guratan otot menonjol kini mendarat di bibir wanita itu. Ia usap bibir kering yang tidak memiliki warna itu di sana, sangat dalam ia memandangnya, memberikan sentuhan lembut yang menandakan jika ia sangat menyayanginya melebihi dirinya sendiri.


Kini telapak tangan itu merapihkan anak rambut yang menutupi pandangannya atas wajah cantik wanitanya. Ia selipkan mereka di balik daun telinga wanita itu lalu senyum hangat kembali terukir di wajahnya. Zayn Keenan, ia merasa jika dirinya sangatlah beruntung, bahkan paling beruntung di bandingkan siapapun di dunia ini karena telah memiliki hati dan diri seorang Violet Grizelle yang telah ia jerat dengan cintanya. Membuatnya tidak dapat melarikan diri atau berhenti untuk mencintainya lagi.


“Kamu lelah?” Tanya Zayn Keenan.


“Hmm…” Sahutnya.


Wanita itu masih sama. Ia menjawab secukupnya karena terlalu lelah. Violet sungguh tidak ingin di ganggu untuk saat ini. Ia lantas merubah posisinya, berbalik membelakangi suaminya.


Zayn Keenan mendekat, melekat di sisi belakang tubuh wanitanya. Baru saja mereka bercinta sampai lelah di sana. Tapi, pria paruh baya itu seolah tidak memiliki rasa lelah, ia terus saja mengganggu istrinya yang sedang mengantuk berat.


“Sayaaang…” Bisik Zayn Keenan, suara psikopat gila itu terdengar sangat lembut hingga membuat senyum manis di wajah Violet terukir tanpa ia menayadarinya.


“Tidurlah tuan Zayn, jangan ganggu aku… aku lelah.” Sahutnya.


“Aku tidak bisa tidur.”


“Kenapa? Anda baru saja bekerja keras sampai aku gila.”


“Aku menginginkannya lagi.” Bisik pria itu.


“Lagi???” Tanya Violet. Dengan mata sayup ia menyingkir ke sisi tempat tidur untuk menjauh dari suaminya. Ia berharap prianya menyerah lalu tidur. Tapi, rupanya usahanya sangatlah sia-sia.


Zayn Keenan mendekat lagi, memeluknya dari belakang. Violet lantas meraih selimut lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya di balik selimut itu.


“Tolong jangan menyiksa wanita hamil. Anda sangat kejam.” Ucapnya di balik selimut.


“Sayaaang…”


Seolah tidak menyerah untuk memohon. Zayn Keenan tarik selimut itu lalu menyingkirkannya. Violet pun sama, ia tidak menyerah, maka ia kembali menarik selimutnya dan menenggelamkan dirinya di sana. Lagi.


“Pakai pakaian anda tuan Zayn.” Perintah Violet.


Ya, mereka bahkan berbaring masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang membalut tubuhnya. Hanya sebuah selimut tebal lah yang melindungi pasangan itu saat ini.


“Sekali lagi saja.” Pintanya. Kali ini, suaranya terdengar sangat menyedihkan.


Violet hanya diam dengan sepasang kelopak mata yang tertutup rapat sejak tadi. Pikirnya, bagaimana bisa tuan itu memohon, meminta “Sekali lagi saja.” Sedangkan ia sudah sangat menyiksanya karena telah melakukan itu berulang kali.


“Ajaib sekali pria ini. Apa dia bukan manusia?” Batin Violet.


“Sayaaang…” Bisik Zayn Keenan.


Sungguh! Pria itu membuat Violet stress dan tidak bisa tidur sama sekali. Violet berbalik kesal, ia perlihatkan wajah cemberutnya pada pria yang malah tersenyum melihatnya.


“Satu kali lagi. Pegang ucapan anda tuan Zayn.” Ucap Violet, seolah tidak berasal dari dalam hatinya.


Zayn Keenan tersenyum lalu mencium bibirnya di sana, di atas tempat tidur mewah di dalam sebuah kamar utama kediamannya.


Menarik diri lalu menciumnya lagi, melu*mat dan menye*sapnya sampai ke duanya memejamkan mata. Perlahan namun pasti, rasa kesal Violet pun berubah jadi nikmat, membuat sepasang telapak tangannya meremas sprai sangat kuat di saat Zayn Keenan menjajah seluruh tubuhnya, menggunakan ke dua tangan kekarnya untuk menikmati dia, memenuhi dirinya hingga mendesah bersamanya.


“Cukup! Aku akan benar-benar gila!” Batin Violet.


🍁


Langit biru dengan awan putih yang bergejolak tergerus waktu, kini, mega merah kembali menyertai kehidupan mereka para insan penghuni bumi. Hari telah sore.


Langkah kaki Axel Zayn terhenti ketika ia melihat ayahnya keluar dari dalam kamar hanya dengan mengenakan jubah handuk. Entah pria bertubuh kokoh itu akan kemana? Yang pasti, Axel Zayn tahu jika ayahnya baru saja selesai mandi. Itu terlihat sangat jelas dari rambutnya yang masih setengah basah dan sedikit berantakan.


Axel masih mematung di dekat kamar ayahnya. Ia lantas mendekat ke arah pagar pembatas lantai dua dan melihat pria itu sedang duduk di atas sofa di ruang utama. Ia terlihat sangat santai mengobrol dengan seorang General Manager bagian Personalia dari One Zayn Group. Mungkin, mereka sedang membicarakan terkait kosongnya posisi General Manager di Divisi Keuangan, mengingat Mikka akan angkat kaki setelah satu bulan ia menandatangani surat pengunduran dirinya.


Di lihat dari sisi mana pun. Sejauh apa orang-orang menganggapnya kejam dan mengerikan. Sejujurnya Axel Zayn sangat mengaggumi sosok Zayn Keenan terlepas dari apa yang sudah terjadi selama ini. Tepatnya, selama ia hidup di bawah perlindungannya.


Zayn Keenan, pria kaya raya yang memiliki wajah rupawan serta tubuh tegap dan kokoh, dia yang sangat berkarisma, memiliki wibawa, kecerdasan melebihi rata-rata, ia mampu membuat siapa pun menundukkan kepala hanya karena tatapan matanya.


Kini pria itu tertawa di sana, duduk bersandar dengan sebatang rokok di genggaman tangannya. Rasanya, apa yang ia lihat saat ini membuatnya merasa hangat. Rasanya, sifat gila ayahnya perlahan hilang sejak Violet memutuskan untuk tinggal di sisinya. Sejak wanita itu membalas perasaanya dan mau hidup di dalam belenggu kehidupan seorang tuan besar yang sudah pasti tidak akan melepaskannya sampai ia habis usia.


Mengingat wanita itu, tiba-tiba saja Axel tertunduk di sana. Sekejap ia lupa atas kekagumannya pada Zayn keenan dan mulai menggenggam pagar pembatas dengan ke dua telapak tangan yang mencengkram.


“Kenapa kamu sangat bodoh adik ku sayang? … Keputusan mu untuk tinggal di sisinya. Adalah akhir dari segala kebebasan di sisa hidup mu. Sekarang, mungkinkah kamu sungguh bahagia bersamanya? Sementara ayah ku menjerat mu dengan belenggu cintanya yang tidak biasa.” Batin Axel Zayn.


Klak!


Suara pintu terbuka membuat Axel Zayn menoleh sekaligus mematung di sana, memandang wanita cantik pemilik hatinya kini tersenyum manis padanya.


“Di lihat dari senyuman manis mu saat ini. Sepertinya, kamu sungguh bahagia hidup di dalam belenggunya. Adik ku sayang…” Batin Axel Zayn.


Hanya diam saling memandang. Senyum manis di wajah Violet pun memudar ketika ia melihat Axel Zayn mendekat dengan tatapan yang tidak biasa. Kakak laki-lakinya itu mengerutkan alisnya seolah ingin melihat dengan jelas apa yang ia lihat saat ini.


Setelah menemukan jawaban. Axel Zayn lantas meraih pergelangan tangan Violet lalu ia menariknya dan menahanya di sisi dinding, di mana kehadiran mereka tidak akan di jangkau oleh penglihatan Zayn Keenan.


Violet terkejut! Apa yang terjadi? Kenapa Axel Zayn menariknya lalu menahannya di sana? Kini pria itu bahkan meraih ke dua lengannya sangat kuat dan menyakitkan. Membuatnya meringis sekaligus tidak mengerti.


“Kakak?” Panggil Violet berusaha menyadarkannya. “Sakit…” Ucapnya menahan remasan ke dua tangan kokoh Axel Zayn.


“Apa yang baru saja kamu lakukan dengan ayah?! Kenapa tubuh mu banyak… noda merah?!” Tanya Axel. Ia menekan nada di akhir pertanyaan itu.


Noda merah berada di mana-mana, meski begitu Violet sudah mengenakan pakaian tertutup hingga ia menghabiskan waktu lama untuk menutupi semuanya. Hanya saja, beberapa memang tidak bisa di sembunyikan. Lantas? Apakah ia harus diam di dalam kamar sampai semua noda itu menghilang? Entah kapan?


“Ap- apa…?” Sahut Violet ragu saat ia melihat Axel menggertakkan gigi dan cengkaraman tangannya semakin kuat.


Violet tahu. Kakaknya akan semakin marah jika ia menjawab baru saja bercinta dengan Zayn Keenan. Ayah Axel sendiri. Tapi, apa salahnya? Zayn Keenan adalah suaminya.


“Setiap kali! Kamu selalu membuat ku frustasi!” Ucap Axel. Ia terlihat sangat marah hingga sepasang bola matanya memerah dengan tatapan yang sangat tajam menusuknya.


“Ak- aku? Apa aku melakukan kesalahan? Ke-kenapa kakak semarah ini pada ku?” Tanya Violet. Ia mulai mengerucutkan tunuhnya.


“Masuk ke kamar mu sekarang!” Perintah Axel Zayn lalu melepaskan cengkramannya.


Violet melangkah menjauh darinya. Sepasang bola matanya memerah dengan air yang mengambang di sana. Wanita itu lantas melempar pandangan lalu pergi saat melihat sepasang telapak tangan kakaknya mengepal kuat.


“Hahh!”


Axel mendesah kesal lalu pergi sambil mengacak rambutnya sangat kasar. Zayn Keenan menoleh dan melihat putra sulungnya itu hendak pergi.


“Axel Zayn.” Panggil Zayn Keenan.


Pria itu terus saja melangkah, ia tidak menoleh apa lagi menjawabnya hingga membuat Zayn Keenan merasa heran dengan sikap putranya itu.


“Ada apa dengan anak itu?” Gumamnya saat melihat Axel menghilang di balik pintu utama.


“Pemuda terkadang sulit di tebak.” Sahut General Manager lalu Zayn Keenan pun tersenyum dan mereka kembali melanjutkan perbincangannya. Hingga kemudian, Zayn Keenan menoleh, mendongak ke atas menatap pintu kamarnya yang masih tertutup rapat sama seperti semula saat ia meninggalkannya.


Pria itu pun tidak merasa khawatir lalu kembali mendengarkan ucapan General Manager tentang topik yang sejak tadi mereka perbincangkan.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......