
Fajar menyingsing di telan teriknya mentari. Axel Zayn keluar dari dalam ruang rapat di dampingi Ben, sekertarisnya.
"Jadwal mu berikutnya menemui Mr. Carl dari One Zayn Group Inggris Plan pukul 13:20 nanti." Ucap Ben.
"Membahas apa?" Tanya Axel, ia tidak menghentikan langkahnya.
"Kau tahu, Produk sepatu terbaru dari Brand Eagle Eye yang di luncurkan oleh One Zayn Group 1 bulan lalu. Senilai 461000 USD telah hilang, lenyap begitu saja dari gudang penyimpanan One Zayn Group Inggris Plan." Sahut Ben.
"Polisi sedang memproses kasusnya bukan? Setelah itu?"
"Iya, hanya saja belum ada titik terang. Setelah itu kau harus menemui Mr. Park dari Bea dan Cukai. Selanjutnya-"
"Selanjutnya reschedule."
"Tapi-"
"Selama adik ku berada di kota Seoul. Aku tidak akan pulang larut."
"Cih! Kakak yang sangat manis."
"Aku akan pergi makan siang bersama Caramel."
"Gadis itu terlalu pendiam."
"Lebih baik diam daripada banyak bicara tapi tidak ada maknanya."
"Kau menyukainya?"
"Mungkin."
"Kau mencintainya?"
"Entah lah."
"Axel Zayn, kau terlihat tidak serius dengannya."
"Aku hanya butuh wanita, lalu untuk apa terlalu serius?"
"Cih! Aku pikir kau akan segera menyusul Joe Nathan?"
"Untuk apa kau memikirkan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh ku?"
"Usia mu semakin bertambah. Kau tidak ingin menikah?"
"Kunci mobil." Sahut Axel dan Ben lantas melemparkannya.
Praakk!
Langkah kaki Ben melamban, ia tatap sahabat sekaligus tuan yang saat ini meninggalkannya. Ya, Ben tahu jika saat ini Axel Zayn sangat rumit. Hanya saja, ia ingin Axel segera mengambil cintanya dari Violet lalu memberikannya kepada wanita lain.
Axel Zayn masuk ke ruangan Divisi Desain. Di sana sudah mulai sepi karena saat ini adalah jam makan siang.
"Presdir Axel Zayn." Sapa Nadine, ia mendekat lalu membungkukkan badan di hadapan Axel. "Selamat siang." Ucapnya.
"Siang." Sahut Axel.
Nadine kembali berdiri tegap, ia tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam pelukannya.
"Undangan?" Tanya Axel saat wanita itu memberinya sebuah undangan.
"Maaf aku telah lancang karena berani mengundang anda Presdir. Tapi sungguh aku akan sangat bahagia jika anda menyempatkan waktu untuk hadir." Ucap Nadine, ia terlihat sungkan.
"Kenapa sungkan? Tentu saja aku akan meluangkan waktu untuk hadir di acara pernikahan mu. Kau teman baik Violet." Sahut Axel lalu ia melihat undangan itu, di sana terdapat 2 undangan sekaligus.
"Emm... Jika berkenan, aku minta tolong untuk memberikan undangan pernikahan ku kepada Violet juga, aku merindukannya."
"Jika kau mengundangnya, itu artinya kau juga mengundang ayah ku."
"Aku tidak berani." Nadine segera menunduk.
"Tapi kau harus siap, karena di mana ada Violet, maka di situ ada Zayn Keenan."
"Aku akan merasa sangat tersanjung jika Tuan Besar Zayn Keenan berkenan menghadirinya." Sahut Nadine, dia segera membungkukkan badan kembali di hadapan Axel Zayn.
"Baiklah, aku akan berikan undangan ini pada Violet."
"Terimakasih Presdir."
"Oh iya... Di mana Caramel? Dia biasanya bersama mu?" Tanya Axel lalu sepasang bola matanya kembali menjelajah.
"Caramel di ruang rapat." Sahut Nadine.
"Ini jam makan siang."
"Aku akan menemuinya." Ucap Axel lalu pergi meninggalkan Nadine menuju ruang rapat.
Nadine pandang sosok Axel Zayn dari belakang. Sosok kokoh yang mengagumkan itu ternyata sangat ramah padanya.
"Cara anda mengucap nama Violet, terdengar sangat lembut tuan Presdir." Gumam Nadine lalu pergi.
Sedangkan di dalam ruang rapat. Caramel melangkah kesana kemari sambil mendengarkan ocehan ayahnya.
"Hah... Aku bisa gila." Batin Caramel.
"Aku akan menemuinya, tapi sebagai teman kencan ayah, bukan sebagai tunangannya." Ucap Caramel.
"Baik, untuk saat ini saling bertemu dulu, setelah itu baru kita bicarakan tentang perjodohan." Sahut ayah Caramel.
"Perjodohan? Aku masih sangat muda untuk menikah. Lagi pula aku akan mencari pasangan hidup ku sendiri ayah, aku bukan anak kecil."
"Caramel, kamu mulai membantah ayah?"
"Bukan begitu, maksud ku... Halo? Ayah?"
Caramel lemparkan tubuhnya di atas kursi. Kesal, dia sangat kesal pada sang ayah yang begitu menentang hubungannya bersama Axel Zayn meski Caramel sudah menjelaskan, jika dirinya tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar Atasan dan bawahan.
Gadis itu memijat keningnya sendiri. Kenapa dia memiliki ayah yang aneh? Pikirnya. Semua ayah akan bahagia jika putrinya bisa menjalin kasih dengan pemuda kaya raya. Tapi, itu semua nampak tidak berlaku untuk ayah Caramel. Dia menginginkan putrinya hidup tenang layaknya manusia normal dan hidup atas kerja keras yang akan membuatnya lebih terhormat.
"Aku tidak perduli jika harus di anggap gadis yang mendapatkan segala sesuatu secara instan. Itu bukan hal yang penting bagi ku, karena yang terpenting adalah, aku menyukainya, terlepas dari segala apa yang dia miliki." Batin Caramel.
Menghela nafas dalam. Caramel bangkit dari kursi lalu bergegas kembali. Tapi, dia terhenti. Melihat kehadiran Axel Zayn yang saat ini sedang berdiri di pintu menatapnya.
"Ikut aku." Ucap Axel lalu pergi.
Wajah dingin tuan itu membuat Caramel menciut. Ia lantas membuntutinya, hanya saja, Caramel terlalu jauh memisahkan diri dari Axel Zayn karena ia tidak berani memandangnya terlalu dekat, atau sekedar menghirup aroma harum tubuhnya yang memikat.
"Aku bilang ikuti aku!" Ucap Axel, dia berhenti dan mengucap dengan nada tinggi.
"Aku sedang mengikuti anda Presdir." Sahut Caramel, dia juga menghentikan langkah kakinya.
Menghela nafas dalam. Axel Zayn lantas memutar tubuh lalu mendekat dengan wajah garang. Ia raih pinggang Caramel lalu menariknya hingga menjadi satu dengan tubuhnya.
"Presdir? Apa yang anda lalukan? Ini tempat umum, bagaimana jika karyawan lain melihat?" Ucap Caramel, dia sangat khawatir.
Axel hanya diam seraya menatapnya, ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Caramel yang terus menjauh lalu memalingkan pandangan.
"Tatap mata ku." Perintah Axel.
Caramel hanya diam saja seolah tidak berniat patuh pada ucapannya. Axel Zayn lantas menarik satu sudut bibirnya lalu mencium leher Caramel hingga membuat gadis itu membelalak.
"Aku tidak merasakan apa pun." Ucap Axel setelah dia mencium leher gadis itu. "Bagaimana jika aku mencobanya di tempat yang lain?" Tanyanya lalu mengangkat pandangan.
"Aku akan pergi makan siang." Ucap Caramel lalu mendorongnya.
Braakkk!
Tapi Axel Zayn segera meraih pergelangan tangannya lalu menahannya di sisi dinding.
"Bagaimana jika aku mencium bibir mu? Mungkin, aku akan merasakan sesuatu." Ucap Axel.
"Aku bukan kelinci percobaan anda Presdir." Sahut Caramel.
"Axel. Panggil aku Axel." Bisik Axel Zayn.
"Jam makan siang ku akan segera habis Presdir." Sahut Caramel, ia membeku di tempatnya berdiri.
"Cih! Apa aku harus menghukum mu dulu, baru bisa memanggil nama ku?" Bisik Axel Zayn.
Sungguh! Caramel tidak berdaya di dalam belenggunya. Tatapan matanya, wajahnya yang sangat tampan, cara ia bicara seolah mendominasi serta aroma tubuh yang menariknya agar masuk ke dalam perangkap.
"Aku tidak mengerti anda, jadi tolong biarkan aku bekerja di sini dengan tenang layaknya Staff Desain yang lain." Pinta Caramel.
"Jadi aku tidak membuat mu tenang? Apa kau menyukai ku?" Bisik Axel.
"Tidak." Sahut Cara lalu mengalihkan pandangan lagi.
"Tidak? Kau tidak menyukai ku? Itu sebab kau akan pergi berkencan dengan pria tidak jelas bahkan akan bertunangan dengannya?" Tanya Axel, tatapan matanya semakin tajam.
"Apa yang anda tanyakan di luar dari pekerjaan, aku rasa, waktu istrirahat ku akan benar-benar habis sekarang."
Axel mengangguk kecewa seraya melangkah mundur. Caramel lantas melangkah maju saat melihat pria itu memutar tubuh lalu pergi meninggalkannya tanpa menoleh.
"Sekarang aku sudah bisa merasakan sakitnya, dan kita akan semakin sakit jika melanjutkan hubungan aneh ini Presdir." Batin Caramel.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......