
Malam semakin larut, udara kota Seoul pun semakin dingin. Sellya membuka mata lalu terdiam saat menyadari Joe Nathan masih memeluknya.
“Apa yang harus aku lakukan? Menetap sesuai ingin ku. Atau, pergi sebelum Joe bangun dan membenci ku lagi?” Batin Selly.
Wanita itu menggelengkan kepala seraya ia memejamkan mata sangat kuat.
“Tidak. Jangan sampai aku merusak suasana hatinya lagi.” Batin Selly.
Selly mulai bergegas, ia singkirkan tangan kekar Joe Nathan dari tubuhnya secara perlahan untuk melarikan diri sebelum semuanya terlambat.
“Selamat malam Joe Nathan, tidur lah yang nyenyak dan mimpi yang indah.” Ucap Selly lalu mendekatkan wajahnya.
Cup~
Satu kecupan manis mendarat di leher bagian samping Joe Nathan. Sellya lantas pergi ketika ia melihat pria itu merubah posisi tidurnya. Sungguh! Sejujunya Selly sangat ingin berada di pelukan Joe sampai fajar menjelang di pagi hari. Tapi, ia tidak bisa melakukannya meski pria itu adalah suaminya sendiri.
“Terimakasih atas ciuman manis mu dan dekapan tubuh mu. Aku akan mengingatnya meski kamu akan melupakannya saat terbangun nanti. Aku… mencintai mu Joe Nathan.” Ucap Selly lalu menutup pintu.
Bersandar seraya memejamkan mata di daun pintu kamar suaminya. Sellya lantas menyentuh bibirnya sendiri saat ia mengingat bagaimana cara Joe Nathan menciumnya\, melu*matnya sampai menye*sapnya sangat lembut.
Kini tangan kanan wanita itu turun dan di sambut tangan kirinya yang mulai memaut, memeluk tubuhnya sendiri seraya ia menghela nafas panjang untuk menghirup aroma harum tubuh Joe Nathan yang masih tertinggal di tubuhnya saat ini.
“Aku sungguh mencintai mu, suami ku.” Batin Sellya.
Kembali membuka mata. Sellya lantas pergi dan menghilang di balik pintu kamarnya. Sementara itu, Joe Nathan mulai membuka mata saat sesuatu terasa menyengat lehernya.
“Ukh!” Joe Nathan berdesis sambil memegangi keningnya. “Pusing.” Gumamnya.
Joe mulai bangkit. Ia duduk di atas tempat tidur memegangi lehernya. “Aneh…” Gumamnya lalu menyingkirkan selimut. Joe bangkit dari sana dan rokok lah yang ia cari di dalam kamarnya.
Crass!
Menyalakan korek api untuk membakar ujung dari sebatang rokok yang kini terselip di mulutnya. Joe lantas mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu duduk di atas nakas di sisi sofa panjang. Ia duduk bersandar di sana dengan di temani kepulan asap yang memenuhinya.
Wajah Violet membayang di mana-mana, tidak memberinya kesempatan untuk sekerdar melupakannya sejenak. Paling tidak, sampai ia mulai tenang dan terlepas dari sisa mabuknya.
“Cih! Aku sudah gila.” Gumamnya lalu mengepulkan asap dari mulutnya ke atas.
Malam itu tepat pukul 23:00. Joe Nathan tidak bisa kembali tidur karena tidak sabar menunggu hari esok. Dia tersenyum dan entah apa yang di pikirkannya saat ini. Yang pasti, ia akan menghabiskan sisa malamnya dengan memikirkan dia dan mengepulkan asap dari mulutnya lagi dan lagi.
“Kamu pasti sudah tidur, kan?” Ucap Joe lalu ia hisap sebatang rokoknya dan mengepulkan asap ke langit-langit. “Jika kamu selalu hadir di dalam mimpi ku. Apakah aku selalu hadir di dalam mimpi mu? Sayang?” Tanya Joe Nathan.
“Cih! Sangat lucu jika di pikirkan. Kenapa aku terlahir dengan kebodohan ini? Kenapa tuhan menghadirkan diri mu di dalam hidup ku jika dia tidak mengizinkan aku memiliki mu?” Gumamnya.
“Kamu tersenyum bahagia di sisinya. Sedangkan aku? Merasakan derita setiap waktu karena perasaan ku pada mu. Memang aku yang salah, memang aku yang bodoh, memang… aku lah yang keras kepala.”
“Aku tahu. Rasanya memang sangat-sangat sakit dan pedih. Tapi… Entah kenapa aku tidak bisa berhenti? Aku masih saja menginginkan mu. Meski kamu tidak bersedia lagi. Sayang... Bisakah kamu tunjukan senyuman itu pada ku lagi?”
Joe Nathan tersenyum-senyum mengingatnya. Hingga kemudian, senyuman di wajahnya lenyap begitu saja ketika ia teringat senyum bahagia Zayn Keenan saat pria itu memberikan buket bunga mawar merah kepada wanita yang sangat di inginkannya.
“Zayn Keenan.” Gumam Joe Nathan dengan kilap tatapan mata yang sangat tajam. Ia bahkan meremas sebatang rokoknya di genggaman tangan meski rokok itu masih dalam keadaan menyala. Joe tidak merasakan sakit meski hanya sedikit saja.
“Jika saja… Pria gila itu tidak pernah muncul di hadapan mu. Tentu saja kamu adalah milik ku.” Gumam Joe Nathan seraya kepalan tangannya semakin kuat serta urat-urat di wajah dan tangannya menonjol.
Craaang!!
Joe tinju meja kaca di hadapannya lalu senyum getir terlukis di wajahnya. “Hahaha…”
Craaang!!
“Hahaha…”
“Sayaaaang! Violet!” Teriaknya.
Cara ia memanggil wanita itu sampai ke telinga istrinya, Sellya. Ia membuka mata di atas tempat tidurnya.
“Violet!” Teriak Joe Nathan.
Craaang!!
Hanya diam Selly mendengarkannya. Ia lantas bangkit dan duduk termenung di atas tempat tidur.
“Sayang!” Teriak Joe Nathan.
Craaang!!
Braakk!!
Selly menoleh lalu ia tatap jam dinding di dalam kamarnya. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 23:51. Wanita itu lantas tertunduk memejamkan mata.
“Kamu telah benar-benar gila karenanya Joe.” Gumam Selly.
Craaang!!
🍁
Semalaman suaminya mengamuk, dan semalaman juga Sellya tidak tidur mendengarkan suara benda-benda yang telah di hancurkan olehnya. Semalaman itu, pandangannya terus menerus menatap jam dinding di dalam kamar yang saat ini telah menunjukkan pukul 06:35.
Sudah 30 menit ia tidak mendengar suara gaduh dari dalam kamar prianya. Mungkinkah? Dia sudah tenang dan bisa di temui?
Sellya beranjak, dia yang sejak tadi berbaring menyamping mengerucutkan tubuhnya. Kini mulai bangkit dari sana untuk membersihkan diri sebelum menemui Joe Nathan lagi.
Ya, aroma harum tubuh Joe Nathan masih melekat di tubuhnya. Tentu saja ia harus membesihkan diri terlebih dahulu jika ingin bertemu dengannya lagi. Jika tidak? Bukan kah pria itu akan semakin menggila dan bisa saja ia menghancurkan semua benda di dalam rumahnya.
Selesai membersihkan diri, Sellya menuju kamar Joe dan dia terhenti tepat di depan pintu. Ingin sekali mengetuknya tapi dia sangat takut.
Lama ia berdiri sambil menimbang niatnya. Tapi tidak ada suara di dalam, membuatnya lantas mengetuk pintu itu lalu membukanya perlahan.
Langkahnya ragu, terhenti lalu maju dan terhenti lagi. Sungguh! Kamar rapih yang ia tinggalkan semalam, kini telah berubah total. Selly memilih jalan mana yang harus di ambilnya karena pecahan kaca mendominasi di atas lantai marmer kamar mewah itu. Kursi kayu, sofa, nakas, lampu duduk, semua terbalik. Bahkan cermin besar di sana telah hancur tak berbentuk menyerupai wajahnya ketika ia menatap cermin itu.
“Semarah apa kamu Joe? Sampai-sampai semua benda hancur tidak tersisa.” Batin Sellya.
Sekilas Selly tidak melihat kehadiran Joe di sana. Ia lantas melanjutkan langkahnya hingga darah yang mengotori lantai di bawah sofa panjang dapat di jangkau pandangannya. Langkahnya kian cepat. Selly melihat darah itu masih menetes, maka ia meyakini Joe ada di sana.
“Joe~”
Selly gemetar, berdiri menatap dia yang tertidur pulas di atas sofa dengan kemeja yang tidak lagi memiliki kancing. Mungkin, Joe melepaskan kemeja itu terlalu kasar hingga membuat seluruh kancingnya menghilang entah kemana.
Tapi itu tidak lah penting. Bagi sellya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara membuat suaminya terlepas dari penderitaan ini.
Selly menekuk ke dua lutut di hadapannya. Ia raih tangan terkulai yang masih meneteskan darah segar itu, membuatnya terdiam tidak dapat berkata-kata.
“Tangan mu sampai seperti ini Joe.” Batin Selly.
Tanpa sadar bola matanya memerah dan air mengambang di sana, ketika ia melihat punggung telapak tangan Joe telah di penuhi luka menganga yang pasti sangat menyakitkan.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......