Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Sabuk




"Maaf Joe~ Maaf..." Ucap Violet. Ia melepaskan dekapan Joe Nathan lalu pergi dengan langkah cepat.


"Sayang..." Panggil Joe Nathan.


Terdiam Joe Nathan memandangnya. Dia yang pergi tanpa menoleh membuat Joe merasakan sesak di dada.


"Nona?" Sapa Nana. Ia menghampiri nonanya.


"Bereskan semuanya, kita pulang." Sahut Violet.


Nana menoleh lalu memutar tubuhnya. Nona itu bicara tanpa menghentikan langkahnya atau sekedar mengangkat pandangan untuk menatapnya. Terlepas dari apa yang telah terjadi. Nana segera menuju kasir.


Baru satu langkah, Nana kembali terhenti ketika baru saja Joe Nathan melewatinya dengan langkah kian lebar. Nana bisa melihat. Pria itu telah benar-benar gila.


Greb!


"Tolong beri aku kesempatan untuk bersama mu lebih lama lagi." Pinta Joe Nathan. Ia memeluk Violet dari belakang saat wanita itu hendak membuka pintu mobilnya.


"Lepaskan aku Joe! Tuan Zayn akan semakin marah jika melihat mu seperti ini!" Ucap Violet.


"Aku tidak perduli meski dia membunuh ku sekali pun!" Sahut Joe.


"Tapi aku tidak rela!" Ucap Violet lalu berhasil terlepas darinya. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menguncinya dari dalam.


"Cepatlah Nana!" Batin Violet.


"Sayang! Buka pintunya!" Pinta Joe Nathan. Ia terus menerus mengetuk pintu mobil Violet.


"Aku mohon! Cepatlah Nana!" Batin Violet.


Resah dan gelisah. Violet hanya bisa duduk memainkan kuku dari ke dua tangan di pangkuannya. Ia pejamkan mata lalu menutup telinga.


"Aku tidak ingin melihat mu Joe! Aku tidak ingin mendengar suara mu! Sejauh ini aku sudah susah payah agar bisa melupakan mu. Dan sekarang? Bagaimana aku akan menghadapi hari ku setelah bertemu dengan mu lagi?" Batin Violet.


Nana telah kembali. Ia masuk ke dalam mobil lalu mulai mengemudikan mobil untuk meninggalkan area parkir meski Joe Nathan terus memanggil nonanya.


"Sayang!" Panggil Joe Nathan.


Violet tidak memberinya kesempatan untuk bisa bersama sedikit lebih lama. Dia tahu, permintaan itu hanya akan membuat Joe Nathan semakin sakit nantinya.


Kini mobil mewah itu semakin jauh dari pandangan mata. Membuat Joe Nathan menghentikan langkahnya dengan nafas terengah memandangnya.


"Haahhh!!" Joe Nathan berteriak di sana. Melihat mobil itu pergi sungguh membuatnya frustasi. Kini pria itu memutar tubuh dan berjalan cepat menghampiri mobilnya dengan emosi yang tidak dapat terkendali lagi.


Langkahnya mengambang. Sesak terasa seperti dunia ini telah menghimpitnya. Bagaimana bisa ia menjadi sangat bodoh karena seorang wanita? Membuatnya lupa akan segala-galanya.


Joe Nathan masuk ke dalam mobil. Ia duduk bersandar di kursi kemudi dengan keringat dan nafas yang terpenggal-penggal. Kenyataan ini telah mempermainkannya! Membuatnya terasa ingin mati saja jika sungguh tidak bisa menghabiskan sisa hidup bersama dia, Violet.


"Haaahh!!"


Bug!


Joe Nathan kembali berteriak di dalam mobilnya seraya membenturkan kepala di atas kemudi.


"Andai saja kamu tahu dan dapat merasakan sedalam apa perasaan ini sayang!" Ucap Joe Nathan.


Bug!


Bug!


"Mungkin~ Kamu akan berubah pikiran..." Gumamnya di barengi air terkutuk yang pada akhirnya terjatuh juga dari ke dua sudut matanya.


🍁


Sesampainya di kediaman Zayn Keenan. Violet merapihkan diri lalu keluar dari dalam mobil. Ia lantas terdiam di pintu saat melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu utama memandangnya.


"Tuan Zayn sungguh patuh pada ucapan ku? Dia sungguh tidak mengikuti ku kan?" Batin Violet.


"Aroma harum tubuh tuan Joe Nathan tertinggal di tubuh anda nona. Pakailah jas ku agar tuan tidak curiga." Bisik Nana.


Mendengarnya. Violet lantas menoleh pada Nana. "Terimakasih Nana." Bisiknya.


"Segera lah masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Aku akan memarkirkan mobil." Bisik Nana.


Di saat seperti ini Nana bagaikan seorang kakak baginya. Membuat Violet berfikir, apakah dia harus bersyukur dengan apa yang telah ia miliki saat ini?


Wanita cantik itu mulai mengambil langkah meski ia hanya menundukan kepala. Sepasang kakinya membayang, se-isi dunia ini berputar.


"Akh! Pusing sekali." Batin Violet.


Terus melangkah. Violet tidak tahu harus bicara apa dan seperti apa menghadapi suaminya saat ini. Ia terus mendekat dengan perasaan was-was yang muncul sangat tiba-tiba saat melihat tatapan mata mengerikan seorang Zayn Keenan.


"Sudah pulang?" Sapa Zayn Keenan. Ia lantas memeluk Violet seraya tangannya melepaskan jas milik Nana dari tubuh istrinya.


"Iya." Sahut Violet, ia merebahkan kepala di dada kokoh suaminya.


Nana mendekat. Tapi, dia terhenti. Melihat tatapan mata tuan besar yang sedang memeluk istrinya di depan pintu. Nana lantas mengalihkan pandangan. Entah kenapa? Ia merasa jika tuan-nya mengetahui sesuatu.


Violet menarik diri dan Zayn Keenan tersenyum padanya, Mengelus pipinya sangat lembut dengan ke dua telapak tangannya.


"Istirahatlah di kamar." Pinta Zayn Keenan.


Violet hanya diam. Tapi, ia mulai bergegas meninggalkan suaminya menuju kamar.


Zayn Keenan memandangnya. Istri tercinta yang kian jauh dari pandangan matanya.


Perlahan, Zayn Keenan mengalihkan pandangan hingga kini tatapan mata tajam pria itu beradu dengan tatapan mata seorang Bodyguard utusannya, Nana.


Nana mendekat seolah ia tahu atas apa yang telah terjadi. Ia menghadap lalu tertunduk di hadapan Zayn Keenan dengan sepasang tangan yang menyatu di belakang tubuhnya.


Zayn Keenan lantas melepaskan sabuk yang melingkar di perutnya. Ia mendekati Bodyguard itu lalu mencengkram rahangnya sangat kasar.


"Kau tahu kesalahan mu?" Tanya Zayn Keenan.


"Tidak tuan." Sahut Nana dengan wajah datarnya.


"Tidak? Hahaha..." Tanya Zayn lalu tertawa.


Nana hanya diam dan tidak berniat melaporkan apa yang telah terjadi di luar siang ini.


"Kau tidak jera meski pernah ku hukum sampai hampir mati?" Tanya Zayn.


Melihat Nana hanya diam dengan wajah datarnya, seolah Zayn Keenan tahu jika wanita itu tidak akan bicara apa-apa.


"Kau menantang ku!" Bisik Zayn Keenan lalu melilit sabuk miliknya di leher Nana. Membuatnya tercekik tanpa melakukan perlawanan. "Bicara sekarang atau kau tidak akan pernah bisa bicara lagi." Bisik Zayn Keenan.


"No-Nona, hanya, per-gi, ma-kan siang, tuan." Sahut Nana.


"Hanya pergi makan siang?" Bisik Zayn Keenan seraya ke dua tangannya semakin kuat menjerat leher Nana hingga membuat wajah wanita itu memerah dan membiru.


"I-Iya." Sahutnya.


"Kau pikir aku bodoh!" Tanya Zayn Keenan dengan nada kian tinggi. Pria itu mulai meninggikan tangannya hingga membuat sepasang kaki Nana tidak lagi menapak di lantai.


"Ukh!"


"Bagaimana bisa kau membiarkan pria selain aku menyentuh istri ku!" Teriak Zayn Keenan lalu menggertakkan gigi di sela senyum mengerikannya. "Aku percaya dengan indra penciuman ku." Ucapnya lembut dengan guratan otot yang menonjol di ke dua tangan yang menjalar ke leher sampai ke wajahnya yang merah. "Bodyguard sial*an!" Tandasnya.


"Tuan Zayn!"


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......