Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Permohonan




"Joe~"


"Joe Nathan~"


"Sayang~"


Suara itu terdengar sangat lembut dan menyejukan hati Joe Nathan. Siapa dia? Samar-samar Joe melihatnya. Ia yakin, dia adalah seorang wanita yang sangat di rindukannya selama ini.


Sosok itu memutar tubuhnya lalu tersenyum padanya. Joe Nathan pun bereaksi atas hal itu. Ia lantas mengulurkan tangan, berharap bisa menggapainya.


"Tunggu! Jangan pergi lagi sayang!" Pinta Joe Nathan. Tapi, wanita itu tersenyum lagi padanya.


"Aku merindukan mu Joe Nathan. Kenapa kamu tidak juga menemui ku?" Tanyanya.


"Aku juga merindukan mu sayang. Tunggu di situ, aku akan datang." Sahut Joe Nathan seraya langkah kakinya kian cepat untuk mendekat.


Tapi, wanita itu terus melangkah mundur. Menjauh darinya meski ia terus mendekat.


"Kenapa? Kamu bilang merindukan ku? Tapi kamu menjauh dari ku?" Tanya Joe seraya ia terus melangkah. "Sayang! Tunggu!" Teriak Joe Nathan.


Lagi-lagi, untuk kesekian kali wanita itu hadir. Membuatnya lekas bangkit dari tidurnya dan menyisakan kesedihan untuknya.


Kini Joe Nathan tidak lagi melihat wanita itu. Ia yang terbangun lalu terperanjak, bahkan mulai kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya.


Joe menoleh ke sisi kanan, di sana ia melihat sinar nampak menyala dari jendela kamarnya yang tertutup rapat. Hari telah berganti. Memang, Joe sadar akan hal itu. Hanya saja ia tidak tahu akan melakukan apa? Pergi ke kantor atau ke bandara.


"Kamu bilang rindu aku? Meski itu hanya di dalam mimpi ku. Aku harap kamu sungguh merasakannya sayang, karena aku pun tersiksa merasakan hal yang sama." Batin Joe.


Tok... tok...


"Tuan, sudah siang." Sapa kepala pelayan yang saat ini berdiri di balik daun pintu kamarnya. "Nyonya Rea sudah menunggu anda di ruang kerja anda." Lanjutnya.


Hanya diam Joe tidak ingin menjawab atau menemui ibundanya. Ia tahu, wanita paruh baya itu pasti akan memintanya untuk menemui Selly di rumah sakit.


"Tuan? Apa anda belum bangun?" Tanya kepala pelayan.


"Aku akan menemuinya setelah mandi." Sahut Joe.


"Baik."


Kepala pelayan pun pergi dan Joe Nathan mulai bangkit kembali dari tempat tidurnya.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya putra kesayangannya datang. Joe mendekat lalu duduk di atas sofa tepat di hadapan ibundanya. Meja kaca menyisakan jarak di antara mereka berdua yang hanya diam saling memandang.


"Mommy datang untuk minta maaf." Ucapnya.


"Kenapa harus minta maaf? Memangnya apa yang terjadi di antara aku dan mommy?" Sahut Joe.


"Mommy telah menampar mu semalam, mommy menyesalinya Joe Nathan."


"Hanya sebuah tamparan, aku tidak merasakan apa pun saat mommy melakukannya."


Kembali diam nyonya Rea. Sungguh penyesalan nampak sangat jelas di wajahnya.


"Jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku akan pergi sekarang." Ucap Joe.


"Pergi kemana? Kamu tidak mau mengobrol sedikit lebih lama dengan mommy?" Tanya nyonya Rea.


"Aku akan ke bandara." Sahutnya.


"Bandara? Untuk apa? Perjalanan bisnis?"


"Aku akan menetap di Amerika untuk semenatara waktu."


"Amerika? Lalu kamu akan meninggalkan bisnis mu di sini? Bisnis yang sudah kamu bangun dengan kerja keras mu ini? Apa yang sebenarnya kamu cari?"


"Ada apa di Amerika?"


"Aku pergi sekarang." Sahut Joe lalu bangkit.


"Violet?" Tanya nyonya Rea, ia pun bangkit dari duduknya.


Joe terhenti dan wanita paruh baya itu menatap punggungnya. Sungguh! ia tidak tahu bagaimana cara mengendalikan putranya.


"Joe Nathan." Ucap nyonya Rea. Ia mendekat lalu melingkarkan sepasang tangannya untuk memeluk Joe yang terdiam. "Apa kamu sempat berpikir? Setelah kamu sampai di Los Angeles. Apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Datang ke rumah Violet? Lalu? Apa lagi? Mengemis cinta padanya? Dia sudah memiliki suami nak. Dengan pergi, apa yang akan kamu dapatkan?" Ucapnya.


Iya, memang, apa yang wanita paruh baya itu katakan sangat lah benar. Sesampainya di sana, apa yang akan ia lakukan?


Joe Nathan pun tertunduk. Rupanya ia sangat bodoh karena tidak memikirkan hal itu. Yang ada di dalam pikirnya hanyalah bertemu dia, lalu ia akan merasa bahagia. Tapi, apa dengan begitu saja sudah cukup? Bagaimana jika ia tidak puas hanya dengan melihatnya saja? Bagaimana jika sifat serakah kembali menguasai dirinya lalu berharap memiliki dia seutuhnya? Entahlah. Ia telah buta karena cintanya.


Joe lepaskan lingkaran tangan wanita itu dari tubuhnya lalu ia berbalik badan untuk menatap matanya.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku menginginkan dia." Ucapnya.


"Cobalah lihat Selly, cobalah berlajar mencintainya, dia istri mu."


"Bagaimana jika sampai akhir aku tidak bisa mencintai istri ku?"


"Jika begitu kamu membuat mommy sedih sampai akhir."


"Aku tidak bermaksud begitu." Ucap Joe lalu ia peluk ibundanya. "Aku sangat rumit."


"Mommy mengerti." Sahut nyonya Rea seraya ia mendekap tubuh kokoh putranya. "Tolong jangan sakiti Selly Joe Nathan. Mulai sekarang, cobalah menerimanya." Pintanya.


"Semakin lama dia berada di dekat ku. Aku akan semakin menyakitinya."


"Apa yang kamu katakan?"


"Sejak awal aku berniat mengakhiri pernikahan ini saat Violet di tinggal mati suaminya. Jika aku melihat istri ku, lalu aku berusaha memberi cinta untuknya, itu akan semakin menyakitinya ketika ia tahu, jika kita tetap akan berpisah."


"Joe Nathan!"


"Aku mohon mommy! Ini jalan ku, aku akan menanggung apa yang sudah menjadi keputusan ku."


"Jika begini, tidak akan ada malaikat kecil di pelukan mommy."


Nyonya Rea menangis, kenapa semua ini harus terjadi pada putranya? Andai saja Violet tidak memilih pria itu, tentu semua akan berbeda.


"Jika ini keputusan mu. Mommy mau kamu berjanji."


"Katakan."


"Selama Violet masih bersama suaminya. Bisakah kamu membuat Selly bahagia di sisa waktunya bersama mu? Sebagai istri mu. Menetaplah di sini dan hargai Selly. Setelah itu, kembali lah pada Violet saat dia telah sendiri. Satu hal, jangan kamu melukai siapa pun, jangan kamu berubah, jadi lah baik Joe Nathan. Sampai akhir."


"Aku..."


"Kamu bisa kan? Menetap di sini dan perlakukan Selly layaknya istri. Hanya untuk sementara waktu saja. Sampai semua harapan mu bisa tercapai."


"Baik, aku akan coba melakukannya. Tapi mommy harus tahu, aku melakukan itu untuk mommy. Bukan untuk ku."


"Iya. Tidak apa."


"Tidak apa Joe, lakukan semua itu demi mommy. Karana mommy berharap, suatu saat, entah kapan. Semua yang kamu lakukan pada Selly, bukan lagi untuk mommy, Tapi, untuk diri mu sendiri. Itu harap mommy."


"Berhentilah menangis." Pinta Joe seraya ia menyeka air mata yang membasahi kedua pipi ibundanya. "Aku akan di sini, aku akan mencobanya. Oke? Mommy cengeng sekali. Hee~"


Cup~


Joe kecup kening wanita itu. Nyonya Rea pun tersenyum lalu memukul dadanya sekuat tenaga.


"Ayo temui Selly." Ajak nyonya Rea.


"Iya."