
Mengintip dari jendela ruang utama kediaman Joe Nathan. Kepala pelayan lantas berlari kecil menuju dapur ketika ia melihat mobil mewah tuannya sudah memasuki halaman rumah.
Seperti yang Selly perintahkan padanya untuk segera melapor saat Joe Nathan pulang. Kini kepala pelayan menghadap nonannya seraya ia mengucap. “Tuan sudah pulang.”
“Sudah pulang?” Sahut Selly lalu ia bergegas menuang air panas ke dalam cangkir berisi teh jahe yang sedari tadi ia siapkan khusus untuk Joe Nathan.
“Aku tidak akan menyerah Joe Nathan. Aku akan terus berusaha memenangkan mu lalu menyingkirkan wanita itu dari dalam hati dan pikiran mu.”
Selesai mengaduk teh jahe buatannya. Dengan cepat Selly meletakkan sendok di sembarang tempat lalu ia bawa nampan berisi teh jahenya keluar sebelum Joe Nathan masuk ke dalam kamarnya.
Tapi, seketika itu juga Selly terhenti.
Craaannggg!!
Terjatuh hingga air panas menyiram sepasang kakinya ketika kini cangkir berisi teh jahe buatannya telah hancur berserakan di lantai.
Dalam kebisuan itu Selly mulai melangkah lagi seolah ia tidak merasakan panas di kakainya. Ia terus mendekat ke arah Joe yang melangkah sempoyongan menaiki satu per satu undakan anak tangga menuju kamarnya. Antara sanggup dan tidak. Joe tidak ingin di ganggu oleh siapa pun untuk saat ini. Termasuk Sellya, istrinya sendiri.
“Joe~” Panggil Selly seraya kini ia terus membuntutinya. Menaiki setiap undakan anak tangga tepat di belakang tubuh suaminya.
Meski mendengar Selly memanggil namanya. Joe sungguh tidak perduli dan tidak ingin bicara padanya, maka pria itu hanya bungkam seraya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Apa yang terjadi pada mu Joe Nathan?” Tanya Selly.
Lirih suara gadis itu bertanya padanya. Sungguh waspada ia terus berada di belakang tubuhnya untuk berjaga kalau-kalau Joe bisa saja terjatuh kapan saja. Joe pun menggertakkan giginya ketika rasa sakit itu semakin mendominasi dirinya.
“Hati-hati Joe!” Ucap Selly ketika ia melihat Joe terhuyung pada satu pijakkan anak tangga yang terakhir.
“Jangan menyentuh ku!” Tandas Joe Nathan ketika sepasang tangan Selly memegangi lengan kirinya.
Hanya berniat untuk membantunya berdiri. Selly pun terkejut ketika Joe Nathan justru menghempaskannya hingga membuatnya hampir terjatuh dari tangga lagi.
“Kamu terluka. Ayo ke rumah sakit Joe.” Pinta Selly seraya ia kembali membuntuti suaminya. Hendak meraih lengannya lagi karena Selly melihat Joe tidaklah sanggup berdiri sendiri.
Plakk!!
Kembali terhempas seorang Selly ketika Joe menepis tangan gadis itu sebelum ia berhasil menyentuhnya lagi.
“Pergi! Aku tidak membutuhkan mu! Aku tidak ingin melihat wajah mu!” Tandasnya lalu ambruk di pelukan Sellya.
“Joe Nathan!” Teriak Selly.
🍁
Langit gelap berganti terang. Sebuah maskapai penerbangan menempuh jarak 10.751 km antara Korea Selatan - Amerika Serikat dengan kecepatan 900 km/jam telah Landing di waktu penerbangan 11 jam 56 menit.
Axel meraih pergelangan tangan Racel untuk kakak beradik itu keluar dari dalam kabin pesawat dan di sambut oleh ibunda mereka yang tidak lain adalah Selena Clarisha Bersama Mario Choi suaminya. Malam ini, mereka akan menghadiri pesta perayaan kehamilan Violet yang pertama di Los Angeles.
“Axel Zayn! Racel Zayn! Mamah di sini!” Teriak Selena seraya ia melambaikan tangan pada putra dan putri miliknya yang kini telah dewasa.
Melihat kehadiran ibundanya. Axel dan Racel pun segera menghampiri untuk mereka mencium dan memeluknya.
🍁
Pada malam hari Violet berhias di depan cermin di bantu oleh stylish pribadinya. Di usia kandungannya yang masih sangat muda itu, ia tidak menggunakan meke up namun terlihat segar dan bersinar.
“Saya permisi nona.” Ucap stylish seraya ia merunduk sopan lalu bergegas pergi ketika ia melihat kehadiran Zayn Keenan.
Violet mengangguk seraya ia menoleh ke belakang ketika ia melihat sosok suaminya dari pantulan cermin.
“Tuan Zayn.” Sapa Violet dengan senyum manis yang melengkapi kecantikannya.
Terdiam seorang Zayn Keenan. Bagaimana bisa segala sesuatu di dalam dunia ini bisa berubah seiring berjalannya waktu? Sungguh! ia sanggat kagum dan takjub atas selaganya. Ia sungguh mensyukuri semuanya.
“Dulu. Saat aku datang dan melihat mu sedang bercermin membelakangi ku. Sedikit pun kamu tidak berniat untuk menoleh apa lagi menyapa ku, memberikan senyum manis mu pada ku. Sayang... Aku sangat mencintai mu.”
Seperti itu ucapnya di dalam hati seraya ia semakin mendekat ke arah Violet yang saat ini mengulurkan tangan padanya.
Tanpa ragu Zayn Keenan segera meraih sepasang telapak tangan istrinya untuk ia menggenggam dan mengaitkan jemarinya di sela-sela jemari tangan wanitanya. Melekat menjadi satu hingga membuatnya semakin kokoh.
Saling beradu pandang, kening dan hidung mancung. Zayn Keenan dan Violet pun terdiam di keheningan kamar mereka ber dua. Bertukar hembusan nafas bersamanya.
“Aku sangat mencintai mu istri ku.” Ucap Zayn Keenan.
Mendengarnya Violet pun tersenyum lalu memejamkan mata ketika kini Zayn Keenan mencium bibirnya. Sangat lembut ia melakukannya hingga perlahan semakin kuat rasa ia menyesapnya. Membuat sepasang tangan ke duanya semkain kuat melekat tanpa celah.
Saling menarik diri. Zayn Keenan lantas meraih pinggang Violet untuk membawanya keluar dan menyapa para tamu yang telah hadir.
Ramai ucapan penuh doa dan selamat pun mulai terdengar dan meramaikan acara itu ketika Violet dan suaminya telah hadir di tengah-tengah mereka.
Axel Zayn yang sedang berdiri dengan segelas wine bersama rekan bisnis One Zayn Group Amerika pun lantas menoleh ke belakang lalu ia selipkan telapak tangan kirinya ke dalam saku celana ketika ia melihat kehadiran adiknya yang sangat cantik malam ini. Ia tersenyum memandangnya. Memandang dia yang berdiri dengan senyum lebar di sisi ayah-nya.
“Sangat Cantik.” Ucap Axel lalu ia menenggak wine nya dengan sekali teguk.
Takk!!
Meletakkan gelas kosong bekas pakainya di atas meja. Axel Zayn lantas kembali tersenyum ketika ia melihat Violet menoleh ke arahnya lalu menghampirinya.
“Kemarilah adik ku sayang.”
Seperti itu ucap di dalam hatinya seraya ia kembali meraih satu gelas wine untuk menenggaknya lagi.
Takk!!
“Kak Axel.” Sapa Violet.
Meletakkan gelas kosong bekas pakainya di atas meja lagi. Kini Axel melepakan gagang gelas itu untuk ia menghampiri adiknya.
“Selamat sayang.” Ucap Axel lalu ia meraihnya ke dalam pelukan.
Tapi, kali ini Violet merasakan hal yang berbeda pada pelukan kakaknya saat ini. Axel memejamkan mata seraya ia merebahkan kepalanya di puncak kepala Violet yang membisu. Ia pun berulang kali mencium puncak kepala adiknya dengan rasa yang ia sendiri pun tidak memahaminya.
“Selamat sayang. Aku mau kamu selalu sehat bersama dengan janin yang saat ini ada di dalam rahim mu. Makan lah yang banyak, tidur yang cukup, dan berolahraga.” Ucap Axel.
Mendengar getar suaranya, Mencium aroma wine yang mendominasi tubuhnya. Itu semua mampu membuat Violet sadar jika saat ini kakaknya sedang tidak dalam keadaan baik.
“Kakak… Aku akan mematuhi semua ucapan mu.” Sahut Violet dengan pandangan kosong.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......