
Mendengar Zayn Keenan berteriak memanggil namanya dari kejauhan. Racel Zayn segera berlari dan melompat ke atas tempat tidur, ia bersembunyi di balik selimut tebal sambil memejamkan mata sangat kuat.
"Aku tidak mendengar! Aku tidak mendengar! Aku tidak mendengar!" Ucapnya terus menerus.
Tok! tok!
"Racel Zayn! Buka pintunya!" Teriak Zayn Keenan. Ia sudah berada di balik pintu kamar Racel hingga membuat gadis itu terperanjak lalu melompat untuk bersembunyi.
"Ak-Aku sudah tidur ayah!" Sahutnya panik hingga tidak memperhatikan ucapannya. Ia bersembunyi di antara tempat tidur dan nakas, memeluk lutut sambil menggigit jemari tangannya sendiri.
"Matilah aku!" Batin Racel.
"Buka pintu atau ayah akan mendobraknya!"
"Gawat! Ayah marah besar!" Batin Racel.
"Ayah hitung sampai tiga! Buka pintu atau kamu akan terima akhibatnya! Satu!... Dua!..."
"Sudahlah tuan Zayn, aku tidak apa." Ucap Violet.
Racel tatap pintu kamarnya. Ia mendengar suara Violet di sana. "Cih! Sok membela ku! Dasar munafik!" Gumam Racel.
"Racel! Anak kurang ajar! Berani sekali mengerjai orang tua! Keluar sekarang!" Teriak Zayn Keenan.
"Ampun ayah!" Sahut Racel, ia segera berlari ke kamar mandi lalu menguncin pintu.
Braaakkk!!
Zayn Keenan tendang pintu kamar Racel hingga membuat pintu itu menghantam dinding. Ia masuk ke dalam kamar putrinya dengan membawa amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Racel!" Panggil Zayn Keenan.
"Sudahlah tuan Zayn! Jangan ribut!" Pinta Violet, ia memohon sambil menahan rasa pedas yang membakar sekujur tubuhnya.
"Anak itu mengerjai mu sampai seperti ini! Aku tidak terima!" Ucapnya lalu menatap pintu kamar mandi. "Aku akan menghajarnya!" Ucap Zayn Keenan lalu menghampiri pintu kamar mandi.
"Jangan! Tidak boleh tuah Zayn! Racel putri mu, dia pasti tidak sengaja!" Ucap Violet, ia tarik tangan suaminya.
"Racel! Keluar!" Perintah Zayn Keenan.
"Aku sedang pup ayah!" Sahut Racel, ia gemetar memegangi gagang pintu kamar mandinya.
"Jika tidak keluar sekarang! Ayah akan memberi mu hukuman dua kali lipat!"
"Bagaimana ini?" Gumam Racel, ia segera melempar diri ke sudut kamar mandi lalu memeluk lutut sangat erat. "Ampun ayah!" Sahutnya.
"Tidak ada ampun! Keluar sekarang!"
"Bagaimana ini? ... Tidak ada cara lain, selain..." Batin Violet.
"Haahhh! Pedas tuan Zayn! Aku mau minum!" Ucap Violet, ia bertingkah berlebihan.
"Sayang?! Kamu sungguh tidak apa?! Mau minum?! Ayo kita ke dapur!" Sahut Zayn Keenan lalu membawa Violet pergi menuju dapur.
"Syukurlah, setelah ini, tinggal membawa tuan Zayn pergi keluar rumah." Batin Violet.
...
"Tidak ada suara? Apa ayah sudah pergi?" Batin Racel.
Racel segera bangkit untuk membuka pintu kamar mandi. Ia mengintip dari dalamnya lalu keluar sambil menghela nafas dalam. "Syukurlah aku selamat!" Gumamnya sambil mengelus dada.
Melihat pintu kamarnya telah jebol. Racel segera berlari untuk mengeceknya. "Haahhhh... Pintu kamar ku sampai seperti ini? Kakaaaak..." Panggilnya setengah menangis memohon pertolongan. "Bagaimana aku bersembunyi nanti jika ayah kembali?" Gumamnya.
"Sudah tahu sifat ayah. Kamu masih saja kurang ajar." Ucap Axel Zayn.
Racel menoleh, lalu memeluknya. "Ayah jahat! Dia mau menghajar ku demi wanita hamil itu!" Ucapnya.
Axel Zayn raih ke dua sisi lengan Racel lalu mendorongnya agar menyingkir. Ia menatap mata adik wanitanya sangat tajam terlihat berbeda dengan tatapan kakak yang sangat menyayanginya dulu. Tepatnya, sebelum Axel mengetahui jika Violet adalah adik kandungnya. Ya, sikap Axel pada Racel kini telah berbeda.
"Kakak mau! Ini adalah yang terakhir kamu mengerjai Violet! Jika tidak. Bukan lagi ayah yang akan menghukum mu. Tapi kakak lah yang akan melakukannya." Ancam Axel Zayn.
"Cih!" Racel tersenyum kecewa sambil melempar pandangan ke sisi lain saat ia mendengar ancaman kakak laki-laki kesayangannya.
"Camkan itu Racel Zayn!" Ucap Axel Zayn lalu pergi.
"Aku adik mu!" Sahut Racel, ia tatap punggung kokoh Axel Zayn sambil menggertakkan gigi. "Apa kau lupa bagaimana cara memanjakan aku?! ... Kakak?"
"Violet sedang hamil. Kondisi tubuhnya jauh lebih lemah dari biasanya. Kamu tahu itu Racel." Ucap Axel lalu memutar tubuh untuk membalas tatapan mata tajam seorang Racel Zayn. "Kau telah membahayakan Violet dan anak yang ada di dalam kandungannya. Apa kau sadar?! Kau telah membahayakan adik ku!"
"Adik? Adik ku kata mu? Hahahaha... Kakak! Aku mohon... jangan naif!" Sahut Racel.
"Racel Zayn!"
"Apa?! Cih! ... Sadar atau pun tidak! Kakak adalah pria munafik dan naif!"
"Racel Zayn! Jaga ucapan mu!"
"Kau mengancam ku bukan karena aku mencelakai adik mu! Tapi... karena aku mencelakai wanita yang kau cintai..."
"Sudah ku katakan jaga bicara mu Racel Zayn!"
"Kau mencintainya! Sangat-sangat mencintainya sampai saat ini! Itu sebab kau tidak terima jika aku menyakitinya! Itu lah kenyataanya kakak ku sayang! Kau melupakan aku! Ayah melupakan aku! Semua orang melupakan aku karena wanita sialan itu!"
"Hentikan!"
"Dan! Jangan berharap aku akan menerimanya sebagai ibu tiri ku! Jangan berharap aku akan menganggapnya sebagi adik kandung mu karena hanya aku! Racel Zayn! Satu-satunya adik dari Axel Zayn! Ak-"
Plakk!
Axel tampat wajah Racel untuk membuatnya berhenti. "Maaf. Tapi kamu layak mendapatkannya." Ucap Axel lalu pergi tanpa menoleh.
"Aku membenci mu kakak!" Ucap Racel namun Axel sungguh tidak perduli.
Melihat kakaknya pergi. Racel mendongak untuk menahan air mata agar tidak terjatuh. Hatinya sakit dan sesak saat ia baru menyadari jika Axel Zayn tega memukulnya. "Kakak jahat!" Ucap Racel lalu air matanya terjatuh juga. "Semua ini karena Violet!" Gumamnya lalu menghampiri sofa, ia raih tas miliknya lalu pergi meninggalkan kamar.
"Racel!" Panggil Zayn Keenan, ia keluar dari dalam salah satu ruangan bersama Violet.
Tapi Violet segera meraih tangan kokoh suaminya. "Jangan tuan Zayn, Racel menangis." Ucap Violet saat melihat gadis itu melangkah kian lebar sambil menyeka air matanya. Racel Zayn tidak berhenti meski Zayn Keenan memanggilnya. "Anda membuatnya ketakutan!" Ucap Violet.
"Racel bukan gadis yang cengeng. Aku bahkan belum menghukumnya!"
Violet terdiam sambil menghela nafas dalam. Ia lantas memijat kening karena stress dengan keadaan kacau yang di ciptakan oleh Racel di hari pertama kepulangannya.
"Aku akan pergi ke taman belakang." Ucap Violet lalu pergi.
Zayn Keenan segera membuntutinya lalu terhenti ketika Violet mengucap. "Aku ingin sendiri! Jangan ikuti aku!"
"Tapi aku ingin menemani mu sayang."
"Lebih baik anda panggil seseorang untuk memperbaiki lantai, meja dan pintu kamar Racel! Tangan dan kaki anda sangat lincah merusak segala benda." Ketus Violet.
"Aku hanya-"
"Aku tidak mau dengar!" Sahut Violet, ia terus berjalan sambil menutup telinga dengan ke dua telapak tangannya.
"Sayang ku..."
🍁
Axel Zayn
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...