
Sedangkan di bawah langit Seoul Selly sudah sangat cantik dengan gaun mewah berwarna putihnya. Ia tersenyum menatap diri dari dalam cermin ketika waktu akan segera mengantarkannya menuju karpet merah untuk mengucap janji suci pernikahan bersama Joe Nathan.
“Sempurna.” Ucap penata rias padanya.
Bagaimana mungkin seorang Selly tidak sempurna hari ini ketika tuan Jasson dan nyonya Rea begitu serius mempersiapkan acara pernikahan putranya? Daddy dan mommy Joe Nathan itu sangat mendukung Selly untuk memenangkan hati putra satu-satunya milik mereka mengingat Joe begitu sulit untuk melupakan Violet yang kini telah bahagia bersama dengan suaminya.
Tentu. Apa pun akan tuan Jasson dan nyonya Rea lakukan jika itu untuk kebahagian putra kesayangan mereka. Maka Selly adalah harapnya meski sesungguhnya mereka pun tidak sepenuhnya yakin akan hal itu.
Tapi, apa yang mereka perjuangkan untuk kebaikan Bersama saat ini. tidak berarti mereka berhenti menyukai sosok Violet Grizelle yang telah menyerah terhadap putra mereka. Demi apa pun! Sungguh! Tuan Jasson dan nyonya Rea akan tetap menyukai Violet sampai kapan pun mengingat gadis itu adalah wanita satu-satunya pilihan putra mereka. Terlebih, gadis itu jugalah yang pertama kali memenangkan hati mereka mommy dan daddy-nya.
Kini langkah demi langkah mengantarkan Selly menuju karpet merah berhias bunga lily orange di setiap sisi, sudut, pelaminan, bahkan setiap ruang di gedung mewah itu.
Selly tahu. Dari semua yang di siapkan ke dua orang tua Joe hanya ada satu yang merupakan permintaa Joe Nathan sendiri.
“Kenapa harus bunga lily orange Joe Nathan? Sedalam itu kah kamu tidak mengharapkan aku?”
Lily orange melambangkan kebencian, penghinaan dan kebohongan. dari semua yang mommy dan daddy-nya persiapkan untuknya. Hanya bunga lily orange lah satu-satunya permintaan Joe kepada ke dua orang tuanya.
Lantas? Tidak kah mommy dan daddy Joe mengerti akan apa arti dari bunga lily orange itu? Tentu mereka tahu dan tentu mereka pun menolak dengan bujukan sebisa mereka melakukannya karena mereka meyakini jika Selly pasti akan sangat sedih melihatnya. Tidak hanya Selly seorang. Kini para tamu undangan pun penuh tanya dalam fikirnya akan kenapa harus bunga lily orange yang mendominasi gedung itu? Bukankah bunga mawar merah atau putih jauh lebih baik?
Siapa yang mampu memberi jawaban dari semua tanya itu? Tentu tidak satu pun mampu memberi mereka semua jawabannya karena nyonya Rea sendiri pun begitu sedih saat ia melihat Selly tertunduk semakin dalam seraya sepasang kakinya terus melangkah di damping ke dua orang tuanya.
“Tidak apa sayang. Mama yakin kamu pasti bisa memenangkan hati Joe Nathan nantinya.”
“Jangan bersedih Selly. Maafkan papa.”
Bisik papa dan mama yang saat ini ikut tertunduk di sisinya. Selly mengerti jika saat ini yang merasa sangat terhina bukan hanya dirinya seorang. Melainkan ke dua orang tuanya pun ikut menerima hinaan pria itu.
Pendeta telah menantinya. Maka Selly pun menghentikan langkah kakinya tepat di hadapannya. Gadis itu menoleh ke arah di mana seharusnya Joe Nathan berdiri saat ini. Tapi, pada kenyataannya pria itu tidak berada di sisinya saat ini. Entah ia berada di mana?
“Tidak apa kamu menghina ku Joe. Tapi tolong, datanglah… tolong datang Joe Nathan.”
Waktu terus berlalu. Tak henti detik waktu terus berputar menanti kehadiran mempelai pria hingga kini gelisah mulai menguasai pendeta yang akan menayatukan ikatan mereka ke dalam sebuah pernikahan.
“Di mana mempelai prianya? Tuan Joe Nathan?”
Pada akhirnya pertanyaan itu terucap dari mulut pendeta yang sejak tadi menahan diri untuk bersabar menunggunya. Bagaimana mungkin mempelai pria terlambat selama itu? Sungguh! Kenayataan ini membuat Selly hanya diam tertunduk terlihat sangat menyedihkan.
Pandangan gadis itu tidak luput darinya. Pria tampan dengan sepasang bola mata merah serta aroma alcohol yang begitu pekat menusuk indra penciumannya. Joe Nathan memang datang. Tapi itu hanya raganya saja.
Selly pun mulai mengalihkan pandangan untuk ia menghadap pendeta meski ia sungguh tidak mampu mengangkat pandangannya.
Tanpa kata pria itu berdiri dengan letihnya, sayup matanya, semua kancing jasnya terbuka bahkan dasi pun tidak terpasang dengan benar di leher kemeja mewahnya saat ini. Dia mabuk. Tapi Selly tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Tepatnya, apa yang membuatnya sehancur saat ini?
Janji suci terucap dari mulut Joe Nathan ketika kini Selly pun mengucapkannya dengan tatapan dalam memandang dia yang tidak tertarik untuk menoleh padanya. Selly sungguh sangat cantik hari ini dan Joe akan melewatkannya begitu saja tanpa sesal.
Tepuk tangan mendominasi Gedung itu ketika kini mereka telah sah sebagai suami istri secara hukum. Maka mereka pun harus melakukan hal yang memang semestinya mereka lakukan. Saling berciuman di hadapan pendeta. Semua pengantin baru melakukan hal itu dan mereka pun seharusnya sama.
Para tamu undangan yang berdiri telah menantinya. Menanti Joe Nathan mencurahkan rasa cintanya pada sang istri melalui ciuman manisnya.
Selly pun mendekat seraya Joe Nathan hanya diam menatapnya. Menghadap dirinya.
“Cih!” Senyum getir itu terdengar dan tertoreh di wajah seorang Joe Nathan ketika ia melihat Selly mulai memejamkan mata di hadapannya.
Selly dapat mendengar senyum tanda hinaan pria itu seraya Joe Nathan pun mengalihkan pandangan lalu pergi ketika perlahan Selly kembali membuka sepasang kelopak matanya. Menoleh perlahan untuk menatap kepergian suaminya.
Dalam langkah lebarnya Joe Nathan pun meraih bunga mawar merah yang terselip di saku jasnya. Tanpa ragu ia melemparkannya ke lantai lalu menginjaknya ketika bunga tanda cinta itu menghalangi jalannya.
Tatapan mata merahnya sangat tajam penuh amarah, kesedihan dan kehancuran. Bagaimana mungkin ia menodai harapnya untuk menikah hanya satu kali seumur hidupnya? Tentu hanya dengan Violet sebagai pengantinnya. Bukan Selly!
Menatap punggung kokoh seorang Joe Nathan yang meninggalkannya tanpa ragu di acara pernikahan mereka yang belum usai. Maka Selly pun tidak mampu melakukan apa pun selain hanya bisa menundukkan kepala untuk menayadri diri akan siapa dirinya di sana. Ia bukanlah siapa-siapa di mata suaminya.
Brakk!!
Suara itu menggetarkan gelas berisi air mineral yang berada di atas nakas ketika Joe Nathan membanting pintu kamarnya. Ia melemparkan tubuh ke sofa lalu bersadar di kepala sofa itu sambil melepaskan dasi dari lehernya sangat kasar.
Tatapan mata pria itu masih sama. Tajam bagikan pedang namun kosong. Siapa pun! Tidak akan mampu menenangkan hati pria itu karena hanya ada satu sosoklah yang mampu membuatnya tersenyum saat ini. Tapi, wanita itu tidak akan mungkin berada di sisinya meski hanya sedetik saja. Tidak akan mungkin!
Dia sangat jauh dan Joe tidak akan mampu untuk menggapainya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......