Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Selamat Tinggal




"Sayang?" Panggil Axel Zayn dari dalam rumah hingga membuat Zayn Keenan lantas menoleh ke arah pintu dan Axel terhenti di sana. "Pergilah bersama ku untuk menghirup udara luar." Ajak Axel pada Violet yang berdiri di sana menatapnya.


Violet lantas mendekat lalu Axel merangkulnya bersama pergi meninggalkan Zayn Keenan yang terdiam memandangnya.


"Kakak akan mengajak ku kemana?" Tanya Violet.


"Kemana saja sebelum kamu kembali ke LA." Sahutnya.


"Apa orang-orang tuan Zayn akan mengikuti kita?"


"Itu sudah pasti."


Axel Zayn membawa Violet ke sebuah restoran bintang lima yang sangat mewah. Ia tarik kursi lalu Violet pun duduk sambil memegangi perutnya yang semakin membesar hingga membuatnya mulai kesulitan mengontrol nafas.


"Duduklah di sini, seseorang akan datang sebentar lagi." Ucap Axel.


"Seseorang? Siapa kak?" Tanya Violet.


"Kamu akan tahu nanti." Sahut Axel lalu pergi.


"Kak?"


Axel Zayn terus melangkah meninggalkannya. Membuat Violet terdiam memandang punggung kakaknya.


"Sayang."


Violet terkejut mendengar suara itu. Ia lantas menoleh sambil bangkit dari kursinya. Menatap dia yang membuatnya khawatir sejak kemarin malam.


"Joe~"


Joe Nathan tersenyum lalu mendorong lembut seorang Violet untuk kembali duduk. Ia lantas duduk di kursi yang ada di hadapan wanita itu.


"Kamu terkejut melihat ku?" Tanya Joe Nathan saat melihat Violet bungkam dengan tatapan mata yang sangat dalam memandangnya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Violet.


"Sudah aku katakan, jangan khawatir. Aku tidak akan mati di tangan suami mu."


"Apa yang terjadi malam itu?" Tanya Violet hingga membuat Joe Nathan terdiam mengingatnya.


"Saat itu penglihatan ku memudar. Aku melihat mu berteriak dan meronta, lalu jatuh di pelukannya. Jadi aku tidak akan menyerah pada hidup ku."


"Jadi malam itu masih berlajut?"


"Iya. Kakak mu datang dan berpihak pada ku, itu sebab aku bisa keluar dari rumah itu. Axel Zayn membantuku..."


"Kamu sudah tahu akhibat dari menemui ku. Lantas kenapa kamu masih berani mengulangi kesalahan yang sama Joe Nathan? Tidak kah kamu memikirkan diri mu sendiri? Apa yang kita lakukan saat ini bisa saja membuat tuan Zayn melakukan hal yang lebih keji pada mu. Aku tidak mau. Apa kamu juga tidak mementingkan perkataan dan perasaan khawatir ku pada mu? Joe... Aku mau kamu baik-baik saja dan aku mau suami ku pun sama."


"Saat pertama kali kamu pergi tanpa berpamitan pada ku. Membuat ku banyak berpikir hingga menjadi gila karena terus merasa apakah kamu membenci ku sampai-sampai kamu pergi begitu saja? Jadi aku tidak akan membiarkan kamu pergi tanpa berpamitan pada ku lagi. Setidaknya, dengan melihat mu saat ini, aku akan baik-baik saja nantinya."


"Aku mengerti."


Joe Nathan raih sebuah kotak berwarna merah maroon dari dalam saku tuxedonya. Ia buka kotak itu lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Violet. Kalung berlian bermata merah muda nampak sangat elegan dan mewah terlihat sangat indah di sana.


"Kalung ini hanya ada satu di dunia karena aku yang mendesainnya khusus untuk mu. Sekarang aku berikan kepada pemiliknya sebagai hadiah perpisahan kita." Ucap Joe Nathan lalu bangkit dari kursinya. Ia mendekat lalu meraih kalung itu dari tempatnya. "Izinkan aku memaikannya di leher mu sayang."


Kini Joe Nathan sudah berdiri di belakang Violet. Sejenak pria itu terdiam memandang sosok Violet dari belakang lalu tertunduk. Joe Nathan raih rambut panjang terurai milik Violet untuk ia mengedepankannya lalu terhenti saat melihat indah leher wanita yang sangat di gilainya selama ini. Wanita yang bukan miliknya dan tidak bisa ia miliki.


Joe Nathan pakaikan kalung mewah itu di leher Violet. Ia tersenyum lalu merapihkan kembali rambut panjang yang sangat harum milik wanita itu.


Violet tertunduk sambil meraih mata merah muda kalung pemberian darinya. Sungguh! Kalung itu sangat indah dan Violet sangat menyukainya. Namun Violet tidak berdaya untuk mengungkapkan itu semua.


"Setelah ini apa kamu akan baik-baik saja?" Tanya Violet, ia takut jika suaminya melihat apa yang di lakukan Joe Nathan lalu melakukan hal yang tidak ia inginkan seperti kemarin malam.


"Iya, aku akan baik-baik saja setelah melihat mu tersenyum pada ku."


"Jika begitu pegang ucapan mu Joe~" Ucap Violet lalu senyum manis terlukis indah di wajahnya untuk Joe Nathan.


"Banyak sekali luka di tubuh mu. Apa kamu sungguh baik-baik saja sekarang? Aku tahu pasti rasanya sangat sakit bukan? Kenapa kamu malah menemui aku sedangkan seharusnya kamu berada di rumah sakit? Joe~ Aku sungguh merasa kamu tidak perduli pada diri mu sendiri." Tanya Violet.


Joe Nathan tersenyum sambil tertunduk di kursinya. Ia lantas mengangkat pandangan lalu menjawabnya. "Aku tidak perlu menghawatirkan diri ku karena sudah ada kamu yang mewakilinya."


"Apa setelah ini kita akan benar-benar berpisah?" Tanya Violet, air mulai menyelimuti sepasang bola mata merahnya.


"Apa sekarang kamu merasa tidak rela?"


Violet terdiam menatap matanya. Ia lantas tersenyum lalu tertunduk di kursinya. "Aku percaya kehidupan kita akan lebih baik nantinya." Ucap Violet.


"Mungkin."


Joe Nathan bangkit kembali dari duduk lalu ia mendekat ke arah Violet untuk meraih sepasang telapak tangan wanita itu. Violet pun bangkit, menatap mata dia yang begitu dalam memandangnya.


"Aku tahu aku salah karena masih mengharapkan kamu. Meski kita tidak bisa bersama sekarang. Tapi kita bisa bersama di waktu yang akan datang. Entah kapan? Aku tidak perduli. Sayang... Mata mu berkata jika kamu masih miliki rasa itu, kamu masih mencintai ku. Aku mengerti kenapa kamu selalu menyangkalnya, aku mengerti jika kamu tidak hanya memikirkan diri mu sendiri. Tetapi kamu memikirkan anak mu bukan? Seperti yang pernah kamu katakan jika kamu ingin membesarkan anak mu bersama ayah kandungnya. Aku menghargai itu semua. Tapi, kamu hanya perlu mengingatnya. Datanglah pada ku jika kamu merasa cukup lelah. Atau aku yang datang pada mu saat waktunya tiba. Jangan pernah kamu merasa sendirian. Karena aku akan menjemput mu nanti. Untuk saat ini dan seterusnya, aku hanya mengharapkan kamu hidup bahagia." Ucap Joe Nathan.


"Apa ini adalah kata-kata perpisahan mu Joe?" Tanya Violet dan Joe Nathan hanya tersenyum.


Joe seka air mata Violet dengan ke dua telapak tangannya. Ia cium kening wanita itu seraya mengucap. "Selamat tinggal, aku menunggu mu, aku sangat mencintai mu."


Violet menangis saat melihat Joe Nathan pergi meski ia tahu jika jalan ini adalah yang terbaik untuk semuanya.


Axel Zayn pun datang untuk memeluknya. Menyembunyikan dia di dalam dekapan tubuhnya. Isak tangis Violet kian pecah, ia gemetar, kenapa kali ini dadanya terasa sangat sakit dan sesak? Mungkinkah karena dirinya lah yang tidak bisa mengiklaskannya?


"Ayah sudah menunggu kita. Kakak akan mengantar mu ke bandara." Ucap Axel Zayn.


Violet dan Axel Zayn pun pergi tanpa menyentuh makanan atau pun minuman yang telah di pesan sebelumnya. Mereka kembali ke kediaman Zayn Keenan untuk bersiap.


Di sepanjang jalan Violet terdiam menatap ke luar jendela. Ia seka air matanya berulang kali lalu Axel Zayn menggenggam tangannya.


"Jangan bersedih sayang, semua akan baik-baik saja." Ucap Axel.


Mendengar ucapan itu. Violet justru semakin tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia menangis tersedu-sedu menatap keluar jendela sambil meremas tangan kakaknya semakin kuat.


Sesampainya di kediaman Zayn. Axel Zayn mengantarkan Violet sampai ke depan pintu kamarnya. Ia tersenyum, lalu mencium kening Violet sambil mengucap. "Kakak menyayangi mu sayang." Lalu Axel pergi meninggalkan wanita itu seolah yakin jika semua akan benar baik-baik saja.


Klakk...


Violet buka pintu kamarnya, ia masuk, memutar tubuh lalu terdiam di pintu saat melihat Zayn Keenan sedang menatap layar Ipad nya. Ya, Violet tahu apa yang sedang suaminya lakukan dengan Ipad itu.


Sadar betul jika Zayn Keenan mengetahui semua yang telah ia lakukan. Violet pun tidak berniat beranjak dari posisinya saat ini.


Zayn Keenan tatap sang istri yang hanya diam menundukkan kepala di dekat pintu kamarnya. Ia pun tahu jika wanita itu pasti sangat takut padanya, maka Zayn Keenan segera bangkit dari duduk untuk mendekat.


Zayn layangkan ke dua tangan kokohnya hingga membuat Violet tersentak lalu menggunakan ke dua tangan untuk berjaga. Zayn pun terdiam menatapnya begitu waspada hingga menyembunyikan wajah di balik ke dua tangannya.


Grebb!


Tanpa kata Zayn Keenan meraihnya ke dalam dekapan. "Aku tidak berniat memukul atau pun menyakiti mu. Kenapa kamu sampai merasa setakut ini pada ku sayang?" Ucapnya.


"Tolong kali ini ampuni Joe Nathan tuan Zayn." Sahut Violet lalu menangis di dalam dekapan tubuh suaminya.


"Memangnya ada apa?" Tanya Zayn Keenan. Sesungguhnya ia mengetahui segalanya termasuk juga dari mana asal kalung berlian mewah yang saat ini melingkar di leher istrinya. Hanya saja, Ia tidak akan membuatnya semakin merasa ketakutan padanya. Zayn Keenan pun memilih untuk bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa.


"Tidak ada." Sahut Violet sambil menggelengkan kepala berulang kali.


"Jika begitu ayo kita kembali pulang." Ucapnya sambil mendekap tubuh wanita itu semakin erat lalu mencium keningnya sangat lembut. "Aku sangat mencintai mu sayang. Aku sangat mencintai mu istri ku." Ucap Zayn Keenan.


"Aku pun mencintai anda tuan Zayn. Aku pun mencintai anak kita." Sahut Violet menangis tersedu sedu di pelukannya.


Menjelang sore hari, Violet dan Zayn Keenan melambaikan tangan kepada Axel Zayn dan Racel Zayn. Mereka lalu menuju pesawat dan pesawat itu membawanya kembali ke Amerika.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...