Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
“Aku adalah aku dan Aku bukanlah dia”




Membuka mata di sore hari, dalam samar pandangan Violet kian jelas hingga membuantnya segera beranjak bangkit dari tempat tidur.


Hanya diam ia memandang sekeliling. Sepi, sungguh sangat tenang suasana kamarnya saat ini. Violet lantas beranjak meninggalkan tempat tidur ketika ia takut di tinggal Zayn pergi ke One Zayn Group lagi.


“Tuan Zayn?” Panggil Violet.


Belakangan kondisi tubuhnya kurang baik dan membuatnya sering mual hingga memuntahkan kembali isi perutnya. Violet pun mencoba kuat meski sekarang pandangannya membayang.


“Tuan Zayn?” Panggilnya lagi.


Menyisir setiap ruangan di lantai dua kediaman mewahnya. Kini Violet mulai nemuruni anak tangga ketika sekilas ia mendengar suara-suara.


Memijak anak tangga terakhir. Langkah kaki Violet pun mulai melamban ketika ia melihat Zayn Keenan sedang sibuk mengatur dekorasi untuk mengadakan pesta perayaan kehamilan Violet di kediamannya itu. Tepatnya, di halaman belakang rumah bak istana miliknya.


“Letakkan bunganya di sana. Kau, geser mejanya agar tidak menghalangi jalan istri ku. Dan kau…”


Melangkah kian dekat tanpa suara. Tiba-tiba Zayn Keenan pun terdiam lalu menoleh ke belakang ketika sepasang tangan wanita kini melingkar di tubuhnya lagi.


“Jangan terlalu lelah tuan Zayn.” Pinta Violet lalu ia rebahkan kepalanya di punggung suami yang tersenyum mendengar keinginannya.


“Aku tidak lelah sama sekali.” Sahutnya lalu perlahan memutar tubuh untuk ia memeluk istrinya dari belakang, mengelus perut wanitanya seraya ia bertanya. “Apa tidur mu nyenyak? Apa anak kita sudah mulai bergerak?”


Tersenyum lucu. Violet sungguh geli dengan pertanyaan itu. “Anda jangan pura-pura polos tuan Zayn. Aku tahu jika anda pun tahu, anak kita baru akan bergerak setelah usianya 4 bulan kan.” Sahutnya.


“Tapi aku sudah tidak sabar ingin melihatnya.” Sahut Zayn Keenan lalu ia cium pipi istrinya sangat lembut dan penuh kasih.


“Di sini ramai tuan Zayn. Aku malu.” Bisik Violet.


“Mau aku kembali menggendong mu ke kamar?”


“Tidak, aku bisa jalan sendiri.” Sahutnya lalu melepaskan pelukan Zayn untuk meninggalkan keramaian.


Melihat istrinya pergi karena malu. Zayn Keenan pun tersenyum memperhatikannya. Ia lantas segera menyusulnya.


🍁


Sedangkan di kota Seoul Axel hanya diam duduk di sofa di dalam ruangannya dengan sepasang telapak tangan yang terselip di kedua saku celana. Ia bersandar di sana dengan raut wajah yang terlihat tidak biasa.


Menghabiskan banyak waktu hanya untuk menatap wanita yang saat ini duduk di sofa tepat di hadapannya. Wanita yang hanya diam duduk tegap menundukkan kepala dengan sepasang telapak tangan yang menyatu di atas pangkuan. Ia pun sama, terlihat tidak baik-baik saja ketika melihat kemarahan begitu dalam terpancar dari sepasang bola mata tajam Presdirnya.


Tok… tok…


Membuka pintu lalu masuk. Mikka pun terhenti tepat di antara Axel dan anak baru yang sudah berani membuat Presdirnya sangat marah.


“Sudahlah Axel. Sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu?” Ucap Mikka padanya, pada dia yang tersenyum kecut lalu menggertakkan gigi saat melihat Caramel mulai mengangkat pandangan untuk menatapnya.


“Berani sekali kau memotong rambut mu tanpa izin dari ku!” Ucapnya kian berat hingga berteriak dengan sepasang bola mata membelalak.


“Hanya karena memotong rambut apa kau harus semarah itu?” Tanya Mikka. Ia sungguh sangat marah melihat Axel begitu memperhatikan Cara hingga sampai ke rambutnya.


Braaakkk!!


Menendang meja hingga membuat meja itu bergeser dan terhenti hanya berjarak 1 cm dari sepasang kaki Caramel. Axel lantas menumpang satu kakinya di atas paha seraya ia kembali diam menatapnya sangat tajam.


“Katakan apa alasan mu memotong rambut?”


Pertanyaan itu terdengar mudah dan tidak penting. Tapi, Axel menyampaikannya dengan nada halus penuh penekanan hingga membuat Caramel ragu untuk mengucap dan pada akhirnya ia memejamkan mata sangat kuat untuk kembali tertunduk di hadapan Presdirnya.


“Aku bertanya! Apa kau tuli?!”


“Ak… aku, aku hanya…”


“Aku tidak bisa.” Sahutnya tidak sanggup menatap mata Axel.


“Tidak bisa?” Tanya Axel lalu bangkit dan menghampirinya. Berdiri tepat di hadapannya untuk ia meraih dagu wanita itu. “Tidak ada yang tidak bisa. Maka kau harus bisa.”


“Kau gila Axel! Dia Caramel! bukan Violet!” Ucap Mikka.


“Tutup mulut mu!” Tandasnya seraya tangan kanan pria itu begitu lurus menunjuk wajah Mikka dengan menggunakan jari telunjuknya.


“Setelah Violet datang kau mengabaikan aku. Sekarang, Dia sudah pergi pun kau masih mengabaikan aku! Ingat Axel! Aku lah wanita yang tuan besar Zayn Keenan jodohkan dengan mu!” Sahut Mikka.


“Hahahahaha…. Mikka, apa kau terlalu bodoh? Seharusnya kau sadar dan tahu malu. Aku, Axel Zayn. Tidak akan pernah mencintai wanita seperti mu.” Ucapnya lembut namun menusuk.


Bergetar ponsel di dalam saku celananya. Axel lantas mengalihkan pandangan seraya ia menerima panggilan.


“Kau yakin tidak pergi dengan helicopter?” Tanya Ben.


“Ya, aku dan Racel akan pergi menggunakan pesawat.”


“Baiklah, jika begitu aku akan bereskan semuanya segera.”


“Iya. Oh iya, Rapat peluncuran produk baru aku mau kau lah yang memimpinnya untuk menggantikan aku.” Ucap Axel lalu keluar dari ruangan untuk ia bicara dengan Ben.


Melihat Axel menghilang dari pandangannya. Mikka lantas mengalihkan pandangan ke arah Caramel yang mulai bangkit dari duduk untuk hendak pergi.


“Mau kemana?” Tanya Mikka seraya ia menutup jalan Cara dengan sepasang tangan yang melipat di dada.


Hanya diam Cara tidak berniat untuk meladeninya. Meladeni dia yang begitu tajam menatap matanya.


Mengalihkan pandangan seorang Caramel. Gadis itu lantas terhenti kembali ketika Mikka melakukan hal yang sama.


“Apa lagi? Tidak kah kau puas melihat Presdir memarahi ku sejak pagi? Aku memotong rambut ku karena perintah dari mu Manager Mikka!” Ucap Caramel.


“Aku mau. Kau tidak mematuhi ucapannya dan hanya patuh pada ku.” Sahutnya.


“Cih!” Senyum kecut Caramel seraya ia melempar pandangan ke sisi lain. Tersenyum geli sekaligus jijik mendengarnya.


Kembali saling menatap. “Apa yang bisa kau lakukan saat Prsdir meluapkan kemarahannya pada ku karena mu?” Tanya Cara. “Kau tidak bisa membantu ku melepaskan diri dari amarahnya bukan? Jadi, Manager Mikka. Tolong untuk tidak mengganggu ku lagi.”


Menggertakkan gigi. Mikka lantas tersenyum ketika ia melihat Caramel pergi meninggalkannya.


“Kau bukan Violet. Maka bukan hal sulit untuk ku menyingkirkan mu dari One Zayn Group.” Gumam Mikka lalu tersenyum lagi.


Melempar tubuh di kursi kerjanya. Caramel hanya diam memandang foto dengan sosok cantik yang ada di hadapannya. Ia ingat ketika Axel melemparkan foto itu padanya untuk ia berpenampilan sama sepertinya.


“Itu adalah foto Violet saat dia masih bekerja di sini. Mulai sekarang, Rubah penampilan mu menjadi seperti dia. Aku mau melihat mu terlihat mirip dengannya.” Perintah Axel.


Menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Caramel sungguh tidak ingin menghabiskan waktunya di One Zayn Group lebih lama lagi karena ia memiliki pendiriannya sendiri.


“Aku adalah aku dan Aku bukanlah dia.”


🍁


Violet Grizelle



🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......