
Dalam diam Joe Nathan menunduk, memejakan mata menahan rasa sakit. Seperti kata Violet "Aku janji ini tidak akan menyakitkan." Maka seperti itu lah Joe Nathan berusaha menahan rasa sakitnya agar Violet tidak berhenti atau merasa bersalah padanya.
Darah yang terus mengalir dari bekas luka tembak di lengan Joe Nathan kini mulai berhenti saat Violet membalutrnya dengan alkohol. Wanita itu juga membersihkan noda merah di sana dengan sangat hati-hati dan telaten agar tidak menyakitinya. Violet telah berjanji untuk itu.
"Kamu kesakitan?" Tanya Violet saat menyadari jika sejak tadi Joe Nathan hanya diam menundukkan kepala.
Joe Nathan membuka mata lalu menoleh, ia mengucap "Tidak." Sambil tersenyum padanya seolah ia merasa baik-baik saja.
Violet pun tersenyum lalu meraih perban. "Aku akan berhati-hati." Ucapnya.
Joe Nathan tatap bagaimana cara wanita itu menggunakan ke dua tangan indahnya untuk membelit perban di lengannya. Perlahan, pandangan mata Joe Nathan teralihkan.
"Kamu semakin cantik." Ucapnya.
Saat itu Violet hanya diam saja seolah berpura-pura tidak mendengarnya. Tapi, gerak tubuh canggung dan gemetar di ke dua tangannya menyadarkan Joe Nathan, jika saat ini Violet merasa sangat gugup.
Kembali Joe Nathan pandang wajah itu, wajah cantik yang selalu hadir di setiap saat ia merindukannya, kala resah dan gelisahnya.
"Aku hidup dalam bayang mu." Ucap Joe Nathan. Suara pria itu sangat lembut terhadapnya, membuat Violet terjun bersamanya menuju angan yang sama.
Violet tertunduk mendengarnya. Bagaimana mungkin di sini dia berusaha menerima, bahagia dengan tawa di sisi suaminya. Sedangkan di sisi lain, seseorang telah terluka dan hancur karenanya.
"Aku akan menempel plesternya." Ucap Violet, kali ini wanita itu tidak berani mengangkat pandangan untuk melihat wajah pria yang duduk di sisinya.
"Aku ingin tahu. Apa yang kamu rasakan saat ini pada ku?" Tanya Joe Nathan.
"Sudah selesai." Sahut Violet lalu kembali merapihkan perban, kapas dan semuanya. Ia memasukkannya ke dalam kotak P3K tanpa berani bertemu pandang dengannya.
"Sayang..." Panggil Joe Nathan lalu meraih dagu Violet hingga membuatnya saling menatap.
...
"Aku mencintai mu." Ucap pria itu.
"Sampai saat ini kamu terluka karena perasaan itu. Jadi tolong berhentilah agar kamu bahagia Joe Nathan. Aku menginginkannya." Sahut Violet.
"Bagiamana jika aku tidak bisa?"
"Tapi kamu harus bisa."
"Bagaimana jika aku menunggu?"
"Sampai kapan? Sekarang, aku bahkan tidak bisa pergi dari tuan Zayn. Aku sedang mengandung anaknya dan aku ingin membesarkan anak ini bersama ayah kandungnya."
Mendengar alasan itu. Joe Nathan lantas menatap perut Violet. Perlahan, ia mengulurkan tangan lalu mengelusnya sangat lembut hingga membuat Violet terdiam memandangnya.
"Joe?"
"Jika begitu aku akan menunggu." Sahut Joe Nathan lalu tersenyum sendu menatap mata Violet. "Kelak, anak ini akan menjadi anak ku. Aku berjanji untuk itu."
"Dada ku terasa sesak mendengarnya Joe... Tolong jangan membuat belenggu untuk diri mu sendiri, dan tolong cabut kembali ucapan itu."
"Aku sudah berjanji, dan tidak akan menariknya kembali."
"Tapi bukan ini yang aku inginkan." Sahut Violet lalu pergi untuk menyimpan kembali kotak P3K nya. Di sana Violet membuka laci lalu menyimpan kotak itu sambil menyeka air mata yang sejak tadi ia tahan.
"Kenapa harus bersembunyi dari ku untuk menangis? Kamu bisa menggunakan dada ku untuk melepas semua rasa itu." Ucap Joe Nathan. Ia sudah berdiri di pintu ruangan menatap Violet.
Violet segera bangkit lalu menyembunyikan wajahnya untuk menghapus air mata. Ia kembali menatap Joe Nathan dengan senyum manis di wajahnya lalu mendekat.
"Aku akan ambilkan pakaian tuan Zayn untuk mu." Ucap Violet.
Joe Nathan mendekat lalu meraih ke dua telapak tangan Violet, ia menggenggamnya sangat erat seraya tatapan matanya begitu dalam.
"Setiap kali aku melihat wajah mu sangat pucat. Tolong jaga lah kesehatan mu sayang. Demi aku, demi anak mu." Ucap Joe Nathan lalu mencium ke dua punggung telapak tangan itu. Di sana Violet tidak menolaknya, ia hanya mampu mendongak untuk menahan air mata agar tidak mengalir lagi.
"Tuan Zayn selalu mengetahui apa pun yang aku lakukan meski itu di rumah atau pun di luar. Mungkin, saat ini dia pasti sedang berada di jalan untuk pulang."
"Apa dia akan membunuh ku di depan mu?" Tanya Joe Nathan lalu mengangkat pandangan untuk menatap mata Violet lagi. "Aku telah berani mencium tangan mu di rumahnya."
"Dia bisa melakukan apa pun, dan aku tidak mau kamu terluka lagi karenannya." Ucap Violet lalu meraih pergelangan tangan Joe Nathan. "Aku akan membantu mu keluar dari rumah ini dan aku harap ini yang terakhir kali kamu memijakkan kaki mu di sini Joe. Tolong jangan membahayakan diri mu lagi."
Violet raih kemeja Joe Nathan lalu memakaikannya. Ia kancing satu per satu kancing kemeja itu lalu meraih tuxedonya. "Rentangkan tangan mu Joe." Joe Nathan patuh dan Violet mulai membantunya. "Kamu akan merasa tidak nyaman menggunakan pakaian ini lagi."
"Apa kamu juga memakaikan kemeja dan tuxedo di tubuh suami mu?" Tanya Joe Nathan.
"Apa kamu cemburu?" Tanya Violet, dia tersenyum menatapnya.
"Iya. Sangat." Sahut Joe Nathan lalu membalas senyuman manisnya.
"Untuk apa cemburu? Kamu pun memiliki istri yang pasti memakaikan kemeja dan tuxedo di tubuh mu!" Ketus Violet.
"Kamu cemburu?"
"Sudah lah, kamu harus segera pergi." Ucap Violet lalu meraih tangan Joe Nathan dan menariknya menuju pintu utama.
Klakk!
Pintu itu terbuka semakin lebar sebelum Violet membukanya. Membuat Violet terhenti lalu melangkah mundur hingga tertahan oleh tubuh Joe Nathan.
"Tuan Zayn." Gumam Violet.
"Jangan khawatir." Bisik Joe Nathan.
Zayn Keenan sudah berdiri di depan pintu bersama Jeon dan para bodyguardnya. Ia mendekat ke arah Violet dengan tatapan tajam terlihat sangat mematikan.
Beberapa saat yang lalu, saat Zayn Keenan berada di perjalanan bersama Jeon menuju suatu tempat. Seorang bodyguard yang mengawasi Joe Nathan menelponnya.
"Tuan Joe Nathan menuju kediaman anda tuan, Nona Racel bersamanya." Ucap Bodyguard itu.
Mendengar informasi itu. Zayn Keenan segera mengakhiri panggilan lalu melihat rekaman CCTV yang terkoneksi dengan Ipad nya.
"Bajing*an!" Ucap Zayn Keenan ketika ia melihat istrinya sedang membalut luka di tubuh pria itu. "Kembali ke rumah!" Perintahnya pada Jeon hingga membuatnya segera memutar arah.
Di sepanjang jalan Zayn Keenan menatap layar pada ipad nya penuh amarah. Rasanya ia ingin segera sampai ke rumah untuk menghajar pria di dalam rekaman CCTV itu hingga membuatnya benar-benar jera dan menyerah.
"Cepat!" Perintahnya pada Jeon, saat ia melihat Joe Nathan berani mencium ke dua punggung telapak tangan Violet di rumahnya.
"Tidak akan ada yang menolong mu kali ini." Ucapnya sambil menggertakkan gigi saat melihat Violet membantunya memakai kemeja dan tuxedonya. Ia bahkan melihat senyuman di wajah ke duanya.
Kini Zayn Keenan telah sampai. Petugas kemanan segera membuka gerbang saat melihat mobil tuan besarnya kembali.
"Tutup rapat semua akses keluar." Perintah Zayn Keenan pada Jeon lalu ia keluar bersamanya menuju pintu utama.
Para bodyguard segera menghadap dan satu dari mereka membuka pintu, membuat Violet terhenti lalu melangkah mundur karena terkejut akan kehadiran dirinya.
"Mau pergi bersamanaya?" Tanya Zayn Keenan. Ia mendekat dengan tatapan tajam terlihat sangat mematikan.
Joe Nathan menahan tubuh wanita itu di dadanya, Ia berbisik di telinganya. "Jangan khawatir." Pinta Joe Nathan.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...