Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Terabaikan




Deeerrrt...


Ponsel di dalam saku celana terus menerus bergetar. Ben Giorgino lantas meraihnya lalu terdiam menatap foto seorang gadis cantik yang memenuhi layar pada ponselnya.


Ben lemparkan ponsel itu ke atas tempat tidur lalu melepaskan kancing kemeja satu persatu sambil berjalan menuju kamar mandi di sebuah apartment miliknya di kota Seoul. Tepatnya, apartment yang letaknya tidak jauh dari One Zayn Group. Ben membiarkan ponsel itu terus bergetar dan berputar di atas tempat tidurnya.


Crasss!


Air mengalir menghujani sekujur tubuhnya ketika baru saja Ben menghidupkan shower. Ia mendongak untuk merasakan tiap tetes air itu begitu menenangkan dirinya di masa-masa sulit ini.


Beberapa hari yang lalu Mr. Albert telah menarik seluruh sahamnya dari One Zayn Group. Dan itu mampu membuat Ben semakin stress dengan perkerjaannya di kantor. Ya, kejadian itu berdampak cukup besar dan menimbulkan kerugian.


Kini kamar mandi itu menjadi sangat sepi ketika air dari shower tidak lagi mengalir. Ben membasuh wajah dengan ke dua telapak tangannya lalu mengusapnya ke atas hingga membuat rambut hitamnya tersapu ke belakang.


Langkah kaki pria itu sangat santai, ia meraih handuk persegi panjang berwarna putih untuk menutupi bagian keperkasaannya dan terhenti di depan cermin di temani suara tetes air yang tersisa dari shower bekas pakainya.


Braakk!


Suara pintu tertutup lantas menyita perhatiannya. Ben menoleh, terdiam menatap pintu kamar mandi lalu mendekat.


Klak!


Pria itu keluar dengan hanya bertelanjang dada, air bahkan masih mengalir membasahi tubuhnya yang kokoh. Ben lantas menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat Racel Zayn sedang duduk di sofa panjang di dalam apartment nya.


"Kau menghilang dan mengabaikan aku belakangan ini." Ucap Racel tanpa menoleh.


"Aku pikir kau salah." Sahut Ben. Ia lantas meninggalkan gadis itu menuju ruang ganti. Ben buka lemarinya lalu mengambil satu helai kemeja berwarna hitam polos dan langsung memakainya di sana.


"Kau marah aku pergi ke Australia tempo hari?" Tanya Racel, ia sudah berdiri di belakang Ben.


"Untuk apa marah?" Sahut Ben, ia memutar tubuh lalu pergi meninggalkannya menuju kamar.


Racel terdiam menatapnya. Ia lantas membuntutinya lalu duduk di sisinya di sofa panjang untuk menonton televisi. Meski sesungguhnya ia tidak ingin.


Ben hanya diam saja menatap layar tanpa suara itu. Entah apa yang dia lakukan? Racel pun terus mengamatinya.


"Aku tidak bisa mendengar apa pun." Ucap Racel lalu merampas remote dari tangan Ben untuk menambah volume hingga suara televisi itu menggema, mendominasi apartment itu.


"Kau akan mengganggu penghuni apartment lain." Sahut Ben, ia rampas kembali remote itu dari tangan Racel lalu mengurangi volumenya menjadi 0.


Kembali Racel mengamatinya. Ia mengerutkan dahi karena tidak mengerti sosok Ben Giorgino sama sekali sampai saat ini.


"Kenapa kau tidak membalas pesan atau pun menerima panggilan dari ku?" Tanya Racel.


"Aku sibuk." Sahutnya terus menatap layar televisi.


"Sesibuk itu? Sampai-sampai tidak ada waktu meski hanya 1 menit untuk mengetik pesan balasan untuk ku? Atau sekedar menerima panggilan lalu mengucap. "Racel aku sibuk, tolong hubungi aku lagi nanti." Itu sangat mudah. Apa bagi mu itu sangat sulit?"


Ben hanya diam saja sambil mengganti channel berulang-ulang kali hingga kembali lagi ke channel awal.


"Cih!" Racel tersenyum kecut melihatnya. Ia lantas merampas kembali remote itu dari tangan Ben lalu mematikan televisinya. "Tidak perlu menonton televisi jika kau tidak menikmatinya."


"Kenapa kau kemari?" Tanya Ben, ia menoleh lalu membalas tatapan mata Racel Zayn padanya.


"Karena pelayan mu bilang, kau tidak pulang ke rumah pribadi mu beberapa hari terakhir." Sahut Racel.


"Sudah ku katakan, aku sibuk di kantor jadi aku menetap di sini agar lebih mudah jika sewaktu-waktu kakak mu memanggil ku."


"Ben."


...


"Aku merasa kau tidak serius dengan ku." Ucap Racel.


"Ben..."


...


Melihat Ben kembali menyalakan televisi lalu mengabaikannya lagi. Racel lantas bersadar di sofa sambil tertunduk memainkan jemari dari ke dua tangannya.


Sepi,


Tidak ada yang bisa di lakukan dan tidak ada yang patut di bicarakan lagi. Racel dan Ben hanya membisu sambil menatap layar tanpa suara itu.


"Aku pergi." Ucap Racel lalu bangkit dari duduk melewati Ben.


Ben menoleh menatap kepergian gadis itu. Ia lantas mematikan televisi saat Racel telah menghilang dari pandangan matanya. Rasanya, Ben ingin gadis angkuh itu duduk di sisinya sedikit lebih lama. Tapi, entah lah...


"Terserah kau saja." Gumam Ben lalu merebahkan tubuh di atas sofa itu, ia memejamkan mata.


Di sepanjang jalan Racel mengendarai mobil mewahnya dengan pandangan kosong. Hatinya bergetar membuatnya merasa tidak nyaman dan menyisakan rasa sesak di dada. Tidak sepatah kata pun terucap dari mulutnya.


Saat itu, Racel tidak ingin kembali ke rumah karena takut pada ayahnya. Tapi, ia juga tidak mungkin menetap di apartment Ben sedikit lebih lama karena pria itu mengabaikannya. Di saat seperti ini, Bar adalah pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu.


Racel menepikan mobilnya lalu masuk ke area parkir Bar ternama. Ia keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam Bar itu. Wine akan menamaninya dan dia akan melupakan segalanya. Ya, dia akan melupakan bagaimana cara Ben berbicara dengan wajah datar dan dingin padanya.


Satu gelas sloki tidak ia lepaskan dari genggaman tangan dan seorang bartender pun selalu setia menuang wine ke dalam gelasnya.


Racel Zayn menundukkan kepala sambil memejamkan mata untuk mencoba mengontrol dirinya. Mencoba melupakan ancaman Zayn Keenan, Axel Zayn dan dingin sikap Ben yang seolah tidak menginginkannya. Entah kenapa? Tamparan Axel Zayn tiba-tiba kembali menyengat pipinya. Membuat Racel tersentak hingga langsung memegangi pipi bekas tamparan pria itu.


"Huhu..."


Isak tangis gadis itu akhirnya terdengar. Membuatnya tertunduk menyembunyikan wajah menyedihkannya semakin dalam. Ia merasa, semua orang terdekatnya tidak lagi dekat di hatinya. Perlahan, mereka menjauh dan melupakannya. Tidak ada teman, tidak ada siapapun yang perduli padanya.


Deeerrrtt...


Ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja bergetar, berputar saat ia menatapnya. Nama Selena terukir di sana di sertai wajah cantiknya tersenyum memandangnya.


Racel lantas meraihnya lalu ia menerima panggilan itu, terdiam.


"Racel kamu sudah sampai di Seoul?" Sapa Selena, Racel tersenyum mendengar suaranya.


"Hanya mamah yang menyayangi aku." Sahut Racel lalu menyeka air mata.


Mendengar ucapan putrinya. Selena terdiam. Itu bukanlah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaanya.


"Mamah selalu mengingat ku meski jauh. Mamah selalu bertanya apa yang aku lakukan setiap hari. Aku..."


"Mamah sangat menyayangi kamu dan kakak. Racel, jangan pernah merasa kesepian." Sahut Selena.


"Aku..."


Selena mendengarkan isak tangis putrinya. Sungguh ia sangat ingin memeluknya lalu mengatakan padanya. "Jangan bersedih sayang, semua akan baik-baik saja." Ucapnya pada Racel.


"Aku sangat buruk. Semua orang tidak menyukai aku... Kenapa? Kenapa saat itu mamah memilih berpisah dengan ayah? Lalu meninggalkan aku, kakak, meninggalkan rumah kita hanya demi karir. Aku... Jika saja saat itu mamah tidak egois dan menelantarkan kami. Wanita itu pasti tidak akan pernah ada di tengah-tengah keluarga kita, wanita itu tidak akan pernah merampas semua kasih sayang ayah dan kakak dari ku. Aku pun tidak akan seperti ini, aku tidak akan..."


"Sayang... Tinggal lah bersama mamah di sini, mamah janji akan menebus semua dosa itu hingga kamu tidak akan merasa kesepian lagi. Mamah sungguh tidak akan mengabaikan mu lagi Racel." Ucap Selena.


🍁


Ben Giorgino



🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...