
Tok… tok…
Kepala pelayan mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar nonanya. Ia melihat Selly duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang di ganjal 2 tumpuk bantal. Nona itu hanya diam menatap jendela terang yang terututup dengan tirai panjang.
“Nona memanggil ku?” Tanya kepala pelayan mendekat.
“Tolong bukakan jendela kamar ku.” Perintahnya.
“Baik.”
Kepala pelayan patuh dan langsung menghampiri jendela lalu membukanya. Selly lantas mengerutkan dahi seraya sepasang matanya menyipit saat cahaya matahari masih terlihat begitu terang.
“Joe belum pulang?” Tanya Selly.
“Belum nona.” Sahut kepala pelayan. Ia mendekat lagi. “Ada yang nona butuhkan lagi?”
Tin!
Terdengar suara nyaring klakson mobil dari halaman utama kediamannya. Sellya dan kepala pelayan lantas melempar pandangan seksama ke arah sumber suara itu berasal.
“Joe?” Tanya Sellya.
“Saya akan melihat siapa yang datang nona.” Sahutnya lalu merunduk sopan dan bergegas pergi dari dalam kamar mewah itu.
Kepala pelayan melangkah cepat menuruni anak tangga lalu terhenti saat melihat sekertaris Bian memapah tuannya.
“Tuan!” Ucapnya panik lalu bergegas. Kepala pelayan raih satu tangan Joe Nathan dan memapahnya bersama menuju kamar di lantai dua.
Sesampainya di sana Joe ambruk di atas tempat tidurnya dan kepala pelayan langsung menyambar sepasang kaki tuan itu untuk menaikannya ke atas tempat tidur satu per satu lalu melepaskan sepatu dan kaus kakinya.
“Tuan mabuk. Saat dia bangun nanti, kau siapkan air hangat untuknya mandi.” Perintah sekertari Bian.
“Baik tuan.” Sahutnya lalu bangkit dan mengangguk berulang kali.
“Dan panggilkan nona Selly. Katakan padanya aku ingin bertemu di ruang utama.”
“Baik tuan.”
Kepala pelayan kembali menganggukan kepala saat sekertaris Bian memutar tubuh hendak pergi meninggalkan kamar. Tapi, tiba-tiba saja ia terhenti. Ia kembali memutar tubuhnya dan focus matanya begitu tajam menatap sebuah foto yang terpajang rapih di atas nakas di dekat tempat tidur mewah tuannya.
Sekertaris Bian mendekat lalu ia raih foto itu. Rasanya ia tidak asing melihat sosok yang berada di dalam rangkulan tuannya di dalam foto yang nampaknya di ambil beberapa tahun yang lalu.
“Kepala pelayan.” Panggilnya.
Kepala pelayan yang sedang menyelimuti tuannya lantas menoleh ketika Bian memanggilnya. Ia mendekat dan Bian memperlihatkan foto itu padanya.
“Apakah nona di dalam foto ini adalah Violet Grizelle?” Tanya Bian.
Kepala pelayan terdiam sejenak, memikirkan ada apa di balik pertanyaan sekertaris itu padanya. Tapi ia lantas mengangguk karena dia menunggu jawabannya. “Iya, benar tuan. Ada apa?”
Tanpa menjawab sekertaris Bian lantas meletakan foto itu di tempatnya kembali lalu pergi meninggalkan kepala pelayan yang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaanya.
Tidak memikirkan hal lain. Kepala pelayan lantas keluar dari dalam kamar tuannya untuk memanggil Sellya. Ia mengetuk pintunya lalu masuk. “Nona Selly.” Sapanya.
“Iya, apa itu benar Joe?” Sahut Selly lalu di sambung pertanyaan pada kepala pelayan.
“Iya benar. Tuan mabuk berat.”
“Apa?! Joe mabuk lagi?!”
“Iya nona, sekertaris Bian mengantarnya pulang dan sekarang berada di ruang utama menunggu nona menemuinya.”
“Aku? Ada apa?”
Selly bergumam dan kepala pelayan hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita itu lantas bergegas dan mulai melangkah pincang di bantu kepala pelayan menuju ruang utama sebelum ia menemui suaminya.
Sekertaris Bian bangkit dari duduk saat ia melihatnya datang. “Silahkan duduk.” Ucapnya.
“Bagaimana kondisi anda sekarang nona?” Tanya sekertaris Bian.
“Jauh lebih baik. Apa kau? Orang kiriman papa?” Tanya Sellya.
“Iya.” Sahutnya menganggukan kepala.
“Ada apa menemui ku? Bagaimana jika Joe Nathan tahu?! Kau akan menarik ku kedalam masalah!” Ucapnya pelan namun penuh penekanan. Sellya nampak tidak menyukainya.
“Tuan Joe Nathan yang memintanya.”
“Joe?”
“Iya, sebentar lagi anda ulang tahun. Jadi tuan meminta ku menanyakan pada nona. Apakah menginginkan sebuah pesta perayaan atau tidak?”
“Joe? Sungguh?”
“Dan tuan juga bertanya, hadiah apa yang nona inginkan darinya?”
“Sungguh?! Joe meminta mu menemuiku untuk itu?!” Tanya Selly. Ia terlihat girang mendengarnya.
“Rupanya Joe mengingat hari kelahiran ku dan dia berinisiatif menanyakan ini pada ku. Menginginkan pesta atau tidak? Dan, hadiah? Apa dia akan memberikan apa pun yang aku inginkan sebagai hadiah?” Batin Sellya.
“Nona?” Panggil sekertaris Bian pada nona yang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Aku mau pesta yang megah dan di hadiri banyak rekan Joe Nathan dan rekan ku. Untuk hadiah… aku akan memberitahukannya langsung pada Joe saat dia bangun nanti.”
“Baik, akan saya sampaikan pada tuan. Dan, aku melihat nona keluar dari dalam ruangan yang berbeda. Apa mungkin, nona dan tuan, tidur di kamar yang berbada?” Tanya Bian dengan tatapan penuh selidiknya.
“A- untuk itu, Ak- aku tidur bersama tuan mu! Kenapa kau bertanya sampai sejauh itu?!” Ucap Sellya. Ia terlihat panik saat menjawabnya.
“Dari jawaban nona. Sepertinya nona berbohong.”
“Kau hanya seorang sekertaris! Apa yang membuat mu memiliki kebaranian ikut campur di dalam rumah tangga tuan mu?!”
“Karena tuan ku tidak hanya tuan Joe Nathan.” Sahutnya lalu Selly pun bungkam. “Apa yang akan terjadi jika tuan John mengetahui ini? Dia pasti akan bertindak keji saat mengetahui nona tidak akan melahirkan seorang tuan muda yang bisa mewarisi seluruh harta tuan Joe Nathan.” Ucapnya pelan penuh sindiran.
Selly mematung memangku sepasang telapak tangan gemetar mendengarnya. Ya, sekertaris itu benar dan dia tidak bisa lagi menyangkal.
“Aku akan menyingkirkan mu dari sisi papa dan suami ku jika kau berani mengadu pada papa!” Sahutnya mengancam.
“Cih! Jika di pikir. Sifat nona terlihat mirip dengan tuan John. Memang, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.”
“Kau sedang menghina ku?! Berani sekali!”
Selly mulai meninggikan suaranya dan sekertaris Bian bangkit dari duduk sambil merapikan dasinya. “Sudah tidak ada yang harus saya tanyakan pada nona. Selamat sore.” Ucapnya lalu bergegas pergi.
“Kau ini!” Sahut Selly. Ia juga bangkit dari duduk dengan sepasang telapak tangan yang mengepal serta suara gertakkan giginya sampai ke telinga sekertaris Bian yang terhenti.
“Jika sampai kau menghianati aku dan papa. Kau akan menanggung akhibatnya.” Ancam Sellya.
Mendengar itu sekertaris Bian menarik satu sudut bibirnya. Tanpa menoleh atau berniat mejawab, ia lebih memilih melanjutkan langkah kakinya meninggalkan nona yang terbakar amarah menatapnya sangat tajam.
“Sekertaris sialan!” Gumam Selly.
“Nona.”
Deg!
Selly langsung memutar tubuh dan dia terkejut mendapati kepala pelayan sedang berdiri di belakangnya. “K-kau. Sejak kapan kau berdiri di situ?” Tandas Selly.
“Aku baru datang. Aku membawakan minuman ini, tapi, sepertinya sudah tidak di butuhkan lagi.” Sahut kepala pelayan. Ia mulai ketakutan melihat tatapan tajam seorang Sellya Nara. “Permisi nona.” Kepala pelayan merunduk sopan lalu kembali menuju dapur. Ia lantas melirik dan mendapati nona itu masih menatapnya penuh selidik.
“Wanita lugu yang sangat mengerikan.” Batin kepala pelayan.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......