
Mengalihkan pandangan. Sellya semakin geram ketika melihat Joe Nathan sungguh tidak bisa mengendalikan pandangannya. Pria itu masih saja menatap Violet yang duduk di sebrang sana.
"Joe, mau aku ambilkan sesuatu untuk di makan?" Tanya Sellya, ia peluk tangan kiri Joe Nathan seraya mendongak manja untuk bertemu pandangan dengannya.
Joe Nathan alihkan pandangan lalu tersenyum pada Sellya. "Tidak perlu, tetaplah di sisi ku." Sahutnya lalu merangkul Sellya seraya menariknya bersandar di bahunya.
Hanya diam Violet menyaksikan pemandangan indah itu. Ia lantas mengalihkan pandangan ketika melihat Joe Nathan kembali menatapnya di barengi dengan Sellya yang tersenyum picik ke arahnya.
"Kamu bilang pernikahan mu hanyalah sebatas pernikahan kontrak, kamu juga bilang tidak akan pernah menyentuhnya. Tapi, aku melihatnya tidak seperti itu Joe Nathan. Cih! Kenapa aku merasa kecewa?" Batin Violet.
Kembali menatap Zayn Keenan. Violet lantas memeluk tangan kokoh pria itu lalu bersandar di bahunya. Ia perlihatkan senyum meledeknya kepada Sellya Nara seolah menjelaskan padanya. Jika,
"Aku sudah memiliki tuan Zayn, dan aku tidak akan merebut milik mu."
Melihat senyum penuh kemenangan yang terukir indah di wajah Violet, sepasang telapak tangan Sellya perlahan mengepal sangat kuat.
"Cih! Ja*lang, aku tidak menduga kau ternyata sangat mengesalkan." Batin Sellya.
Suara gertakkan gigi kemudiam menyita perhatian Sellya. Ia mendongak dan terdiam ketika melihat amarah mulai menguasai diri suaminya.
"Joe..." Sellya raih pipi Joe Nathan agar pria itu mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah yang telah menyulut emosinya. "Lihat kemari." Pintanya.
Gertakkan gigi Joe Nathan berubah menjadi senyuman. Pria itu lantas mencium puncak kepala Sellya yang saat ini bersandar di bahunya lalu kembali menatap Violet.
"Sayang." Panggil Zayn Keenan, membuat Violet tersentak lalu menoleh padanya. "Kamu harus sedikit mengisi perut, jangan sampai anak kita kelaparan." Ucapnya sambil mengelus perut Violet.
"Jika begitu ayo kita nikmati hidangan di luar gedung tuan Zayn, lagi pula udara di sini terasa sangat panas." Sahut Violet.
Zayn Keenan tersenyum lalu bangkit dari kursinya. Ia raih telapak tangan kiri Violet untuk membantunya bangkit dari duduk.
"Sayang..." Batin Joe Nathan.
Melihat Violet nampak mesra dengan suami yang sedang merangkul pinggangnya untuk meninggalkan ruangan bersama. Joe Nathan lantas menarik diri dari Sellya lalu meraih Wine di atas meja.
Sellya hanya diam melihatnya. Joe Nathan yang segera melepaskannya saat wanita itu pergi lalu menjadikan Wine sebagai pelampiasan atas amarah yang telah menguasainya.
Tak!
Suara itu terdengar saat Joe Nathan meletakkan gelas bekas minumnya di atas meja dengan kasar, pandangan mata pria itu bahkan terus menatap ke arah Violet dan suaminya pergi tadi.
"Zayn Keenan." Batin Joe Nathan.
"Joe..." Panggil Sellya, ia segera meraih tangan suaminya sebelum tangan kokoh itu berhasil meremukkan gelas di dalam genggaman tangannya. "Kamu akan terluka lagi." Ucap Sellya.
Plak!
Joe Nathan hempaskan tangan wanita itu dari tangannya lalu menoleh untuk menatapnya. "Tidak berguna!" Tandasnya pelan, namun sangat menyesakkan.
Melihat tatapan tajam menusuk penuh amarah yang terpancar dari sepasang bola mata milik suaminya. Sellya lantas mengalihkan pandangan penuh kecewa karena merasa sangat bodoh.
Sedangkan di luar gedung. Zayn Keenan mengambilkan bebera jenis makanan untuk istrinya. "Makan yang banyak." Pintanya, ia tersenyum sambil meraih ponsel dari dalam sakunya. "Aku akan menelpon Jeon sebentar."
"Iya." Sahut Violet lantas mencicipi makanan itu. Ia melihat suaminya pergi dengan ponsel di genggaman tangannya.
Di saat yang sama, Joe Nathan bangkit dari kursinya di susul Sellya. Wanita itu tidak berani mengucap apa pun lagi karena Joe Nathan pasti tidak akan baik meresponnya.
Sellya terus berjalan bagaikan berlari agar bisa mengimbangi langkah lebar Joe Nathan. Ia tidak bertanya akan pergi kemana? Tapi, Sellya dapat mengetahui jika saat ini pria itu berniat untuk pulang. Itu semua dapat di tebaknya saat mereka telah sampai di area parkir lalu Joe Nathan masuk ke dalam mobil.
Hanya diam Joe Nathan mengendarai mobilnya dengan emosi dan kecepatan yang semakin tinggi. Membuat Sellya merasa sangat takut hingga segera berpegangan.
"Joe Nathan, tolong kendalikan diri mu." Pinta Sellya.
Joe Nathan hanya diam saja seraya menginjak gas pada mobilnya semakin dalam.
"Joe~ tolong... stop!" Pinta Sellya dan Joe Nathan masih sama.
Degup jantung Sellya kacau. Ia menelan ludah karena ketakutan mondominasi dirinya. Joe Nathan tidak bisa ia kendalikan sama sekali.
"Joe awas!" Teriak Sellya ketika sinar dari lampu senter kendaraan lain dari lawan arah melenyapkan pandanagannya, membuat Joe Nathan banting stir hingga mobilnya berputar tidak terkendali di tengah jalan lalu terplanting dan terhenti di sisi jalan raya. Ya, pembatas jalanan sepi itu cukup kuat untuk menahan mobil Joe Nathan hingga tidak terjatuh ke parit yang dalam, dengan air yang sangat deras memenuhinya.
Gemetar menguasai sekujur tubuh Sellya, membuatnya berpegangan kian erat dengan pandangan kosong begitu lurus ke depan. Hampir saja, nyawanya lenyap di tangan suaminya.
Mobil Cam*ry yang semula mulus kini telah ringsek. Bersyukur mobil itu tidak terplanting berulang kali hingga tidak menimbulkan cidera serius bagi penumpangnya.
Joe Nathan bersandar di kursinya, ia nampak tenang hingga tidak menoleh untuk bertanya pada Sellya, tentang bagaimana keadaanya.
"Joe... Apa kamu sadar? Kita hampir mati." Ucap Sellya.
"Mati tinggal mati." Sahut Joe Nathan. Sellya tidak melihat ekspresi apa pun dari wajahnya saat pria itu mengucap kata-kata putus asa itu.
Melihat Joe Nathan terus menatap ke depan. Sellya lantas mengalihkan pandangan untuk menatap apa yang di lihat suaminya saat ini?
"Joe~" Panggil Sellya, ia segera memeluk tangan Joe Nathan. "Siapa mereka?" Tanyanya.
Mobil yang semula menghadangnya dari lawan arah kini terparkir tepat di depan mobilnya. Beberapa orang keluar dari dalam mobil itu dengan membawa tongkat besi di genggaman tangan mereka.
"Cih!" Senyum kecut Joe Nathan ketika ia menyadari jika kecelakaan ini bukanlah murni kecelakaan. Melainkan, seseorang telah merancang skenario untuk membunuhnya.
Joe tatap satu per satu wajah mereka yang mendekat ke arah mobilnya. Dia sadar, dengan tongkat itu, orang yang ada di belakangnya pasti menginginkan dia tersiksa lalu mati secara perlahan. Jika tidak? Kenapa mereka lebih memilih benda tumpul di bandingkan dengan senjata tajam seperti pisau atau senjata api? Yang bisa merenggut nyawanya dengan sekali tempak atau beberapa tusukan saja? Persetan dengan itu semua.
Joe Nathan terlihat sangat tenang. Ya, ini bukan kali pertama ia menghadapi orang-orang yang ingin membunuhnya. Tapi, satu hal telah membuatnya sangat penasara akan siapa dalang di balik semua ini? Joe Nathan ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Pembunuh bayaran." Batin Joe Nathan.
5 orang itu memutari mobilnya. Tersenyum dengan wajah-wajah jelek mereka yang di penuhi bekas luka. Beberapa di antara mereka mengepulkan asap dari mulut lalu melempar putung rokoknya ke tanah dan menggilasnya. Seolah memberi aba-aba jika saat ini adalah saat yang tepat untuk mengeksekusi targetnya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......