Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Rencana




Empat hari setelah penyerangan malam itu. Joe Nathan mengendarai mobilnya dengan pandangan kosong. Memar masih membiru, serta luka tembak di lengannya juga masih basah hingga sangat menyakitkan. Beberapa luka sayatan bahkan masih terbalut oleh perban.


Rasa kecewa kepada pihak kepolisian ia rasakan. Seperti kata Axel Zayn malam itu. "Kau akan kecewa dengan jawabannya."


Kenapa pria itu benar? Apakah ini semua hanya kebetulan ataukah memang berkaitan? Entah lah, Joe Nathan sangat stress memikirkannya.


Beberapa saat yang lalu pihak kepolisian menyatakan jika sekumpulan orang yang menyerangnya malam itu adalah sekumpulan perampok yang menginginkan hartanya. Tapi, jelas-jelas Joe Nathan mendengar jika pembunuh itu mengucap. "Ka-kami, utusan, tu-tuan be-" lalu pembunuh itu mati di tangan Axel Zayn sebelum ia mendapatkan jawaban.


"Utusan tuan siapa?!" Ucap Joe Nathan sambil memukul kemudi mobilnya. "Kenapa pihak kepolisian begitu cepat mengambil kesimpulan dari penyelidikannya?" Gumamnya.


Sedangkan hari ini, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Zayn Keenan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya untuk menemui Jeon yang telah menunggu lama.


Pria itu duduk di kursi putarnya dengan hanya mengenakan setelan jubah tidur. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya serta kepulan asap keluar dari mulutnya. "Kau sudah bereskan semuanya?" Tanya Zayn Keenan seraya membuka dan membaca tiap lembar dari dalam dokumen yang di letakkan Jeon di atas mejanya.


"Iya tuan, pihak kepolisan berada di pihak anda." Sahut Jeon.


"Bagus." Ucap Zayn Keenan lalu ia tutup kembali dokumen berisi penyelidikan keplolisian atas laporan dari Joe Nathan. "Hentikan pergerakan untuk sementara waktu." Perintah Zayn Keenan.


"Tentang bodyguard yang mengawasi tuan Joe Nathan, apa tidak sebaiknya di-"


"Biarkan mereka tetap mengawasi pemuda itu. Aku tidak akan membiarkannya bertemu dengan istri ku lagi." Ucap Zayn Keenan lalu mematikan rokoknya di dalam asbak yang berada di atas meja kerjanya. Ia bersandar di kursinya, menatap mata Jeon hingga membuatnya segera menundukkan kepala. "Konsekuensi menginginkan istri ku adalah mati." Ucapnya.


Zayn Keenan sangat konsisten pada ucapannya. Sejak dulu ia mengucap demikian dan sampai saat ini ia masih sama. Pria itu tidak akan membiarkan siapa pun berusaha merebut Violet darinya. Zayn Keenan tidak akan pernah membiarkannya.


Brakkk!


"Bawa dokumen dan semua bukti-bukti itu. Simpan di brangkas ku, jangan sampai istri ku melihatnya." Perintahnya seraya melemparkan dokumen di atas meja tepat di hadapan Jeon.


"Baik tuan." Sahut Jeon lalu meraihnya.


Zayn Keenan lantas membuka laci lalu menekan tombol rahasia untuk membuka pintu ruang rahasianya di dalam rumah itu. Jeon segera bergegas masuk ke dalamnya. Di sana Jeon terhenti, ia tidak melihat keberadaan foto Clara dan Selena lagi. Melainkan, foto Violet lah yang terhias indah di hadapannya.



"Tuan ku sungguh tidak akan melepaskan anda nona. Anda harus bersiap untuk itu sampai ia telah habis usia. Selama itu, anda adalah miliknya. Apa pun yang terjadi, anda adalah milik tuan ku Zayn Keenan." Ucap Jeon.


Jeon mengalihkan pandangan dari sosok cantik nona mudanya. Ia menuju brangkas tempat tuannya menyimpan segala sesuatu yang bersifat rahasia. Termasuk segala bukti kejahatan yang pernah ia lakukan selama hidupnya.


Selesai menyimpan dokumen yang kesekian kali. Jeon kembali menghadap tuan yang sedang menuang wine ke dalam gelas slokinya seraya pintu ruang rahasia itu tertutup secara otomatis saat ia keluar dari dalamnya.


Zayn Keenan menenggak wine itu hanya dengan sekali tegukan lalu. "Hahahaha..." Dia tertawa. Membuat Jeon hanya membisu di hadapannya.


Sampai saat ini, Jeon tidak pernah berani menentang orang itu meski ia sering di jadikan pelampiasan atas kemarahannya. Jeon selalu patuh pada semua ucapan tuannya.


"Kau bilang aku harus pergi ke Australia untuk menemui Albert?" Tanya Zayn Keenan.


"Negosiasi? Cih! Hahahaha..." Zayn Keenan tertawa seolah sesuatu telah menggelitik perutnya. Tapi, melihat tawa mengerikan seorang Zayn Keenan, justru membuat Jeon semakin merasakan aurah mengerikan dari sosoknya. "Dia ingin bernegosiasi? Bukan kah seharusnya dia yang menghadap pada ku? Mencabut seluruh saham atas niatnya sendiri, lalu? Dia ingin bernegosiasi? Hahahaha... Aku pikir dia lupa siapa Zayn Keenan." Ucapnya.


Ya, Albert adalah ayah dari Mikka. Dia mencabut seluruh saham dari One Zayn Group karena berharap Zayn Keenan akan datang untuk melakukan negosiasi dengannya. Seperti, menyatukan putra dan putri mereka ke dalam ikatan sebuah pernikahan bisnis. Tapi sayangnya, semua itu hanyalah hayalnya seorang diri.


"Aku tahu apa yang dia inginkan, dan aku tidak akan pernah mengabulkan keinginannya." Ucap Zayn Keenan.


"Tapi sahamnya akan di pindah ke Perusahaan musuh tuan, kita tidak bisa membiarkannya." Sahut Jeon, ia nampak khawatir.


"One Zayn Group tidak akan mati hanya karena dia mencabut sahamnya. Melainkan, Perusahaannya lah yang akan segera mati karena telah berani melawan Zayn Keenan. Hahahaha..."


Zayn Keenan tertawa lagi dan dalam sekejap tawa itu lenyap, tergantikan oleh wajah dingin serta tatapan mata tajamnya. Ia jadikan ke dua siku sebagai penopang tubuh di atas meja lalu menatap mata Jeon seraya senyum picik terlukis di wajah.


"Siapkan beberapa orang management, suruh mereka menghadap ku besok." Perintah Zayn Keenan. Dia bangkit lalu menatap ke luar jendela dengan ke dua tangan yang melipat di dada. "Perusahaan RD Group, selama ini mereka tidak melaporkan keseluruhan Asset atas pajak yang seharusnya mereka tanggung. Gunakan itu untuk menghancurkannya dari belakang." Perintahnya.


"Anda? Dari mana anda mengetahui tentang itu tuan? Aku pikir mereka pasti menutupnya sangat rapat." Tanya Jeon, ia terkejut atas ucapan tuannya.


Zayn Keenan menoleh lalu mengetuk sisi kepala dengan ujung dari jari telunjuknya. "Gunakan ini untuk melawan musuh." Ucapnya.


"Lagi-lagi tuan Zayn ingin membunuh perusahaan lawan tanpa rasa iba. Pria ini, diam-diam dia sangat berbahaya." Batin Jeon.


"Baik tuan." Sahut Jeon.


"Lalu, siapkan makan malam romantis untuk istri ku, besok malam aku ingin memberinya kejutan." Perintah Zayn Keenan.


"Baik tuan." Sahut Jeon.


"Dan, siapkan buket bunga mawar merah berukuran sedang, tiket bioskop, eemmm... usahakan kau beli tiket film horor, dan pergilah mengambil gaun ini." Perintahnya sambil berpikir lalu menyerahkan ipad nya kepada Jeon.


Jeon meraih ipad itu lalu melihat gaun cantik yang di inginkan tuannya. Itu adalah gaun produksi One Zayn Group sendiri.


"Ini gaun hasil desain nona Caramel, hanya di buat satu di setiap One Zayn Group seluruh Plan, dan anda ingin nona Violet yang memakainya?"


"Iya, sekilas istri ku tersenyum melihat gaun itu, jadi aku menginginkannya." Sahut Zayn Keenan, dia tersenyum seolah aurah hitamnya yang tadi telah lenyap begitu saja.


"Hanya karena sekilas nona Violet tersenyum melihat gaun ini? Tuan menginginkannya?" Batin Jeon.


"Baik tuan." Sahut Jeon seraya merunduk sopan lalu pergi setelah melihat Zayn Keenan menggerakkan telapak tangan seolah mengusirnya.


Zayn Keena  kembali menatap ke luar jendela sambil melipat ke dua tangan di dada, dia tersenyum.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...