
“Ayah.” Panggil Axel.
“Iya.” Sahutnya.
“Sejujurnya apa yang ayah janjikan pada ayah Mikka dulu?”
“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”
“Aku merasa tidak nyaman.”
“Sejujurnya tidak ada yang ayah janjikan padanya.”
“Bagaimana mungkin? Jika tidak ada, tentu Mikka tidak akan menuntut untuk aku menikahinya.”
“Ayah hanya bilang menyukai Mikka pada ayahnya dan jika kau menyukainya juga, maka lebih baik di jodohkan. Tapi, kau tidak menyukainya kan? Lalu apa yang harus mereka tuntut dari mu? Ayah tidak menjanjikan apa pun.”
“Mikka dan ayahnya bilang, ayah telah menjodohkan kami. Itu sebab Mikka selalu mengganggu wanita-wanita yang ada di sekitar ku.”
“Cih! Seharusnya kau bicara sejak awal tentang itu Axel. Ayah bisa membantu mu mengatasinya. Jika perlu, segera ayah akan mengirim Mikka ke One Zayn Group Inggris.”
“Jika dia menolak bagaimana?”
“Seperti peraturan Internal One Zayn Group yang sudah di tetapkan sejak lama. Seluruh karyawan wajib menaati peraturan, termasuk juga menerima jika mereka harus di pindah ke negara mana pun. Seluruh karyawan yang bergabung bersama kita tentu menyetujui itu karena mereka sudah tanda tangan sebelum di nyatakan resmi menjadi bagian dari One Zayn Group. Jika dia menolak, maka dia harus berkemas dan angkat kaki, karena One Zayn Group hanya untuk orang-orang yang mau serius bekerja.”
“Apa aku harus memanggilnya besok?”
“Iya, panggil dia dan ayah yang akan menemuinya.”
Kini mereka telah sampai di kediaman Zayn. Semua keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah.
“Ayah dan Violet lebih baik makan dulu, setelah itu istirahat. Kepala pelayan sudah membersihkan kamar utama.” Ucap Axel.
“Tidak. Aku lelah tuan Zayn.” Sahut Violet lalu menoleh pada suaminya.
“Kalau begitu ayah akan langsung istirahat. Besok, kita semua pergi ke makam untuk berdoa.” Ucap Zayn.
“Iya.” Sahut Axel.
“Aku juga yah?” Tanya Racel, ia terlihat tidak menyukai ide itu.
“Jika ayah bilang semua. Maka kamu termasuk di dalamnya.” Sahut Zayn.
“Besok aku harus menemui klien. Jadi maaf, aku tidak bisa ikut.” Ucap Racel lalu pergi.
“Sudah lah. Biarkan saja, anak itu memang sulit di atur.” Gerutu Zayn Keenan.
“Aku akan membujuknya.” Ucap Axel.
“Tidak perlu, besok kita pergi bertiga saja. Setelah itu baru ke One Zayn Group.”
“Baik ayah, istirahatlah.”
Zayn Keenan menuntun istrinya menaiki satu per satu undakan anak tangga dengan sangat hati-hati. Axel pun hanya bisa diam memperhatikannya. Setidaknya, ia tahu jika ayahnya sangat memperhatikan wanita itu.
Waktu terus berputar. Langit cerah mulai meredup dan semakin gelap, kini mulai menampakkan rembulan di tengah hamparan bintang-bintang yang sangat terang.
Violet berbaring di sofa panjang nan lebar di balkon kamarnya di temani Zayn Keenan yang selalu berada di sisinya. Telapak tangan lebar pria itu tidak juga menyingkir dari perutnya. Zayn juga terus menerus menciumi perut buncit itu seolah ia sangat menantikan buah hatinya telah lahir dan menangis di pelukan istrinya, berada di antara mereka untuk menerima limpahan kasih dan sayang yang pasti akan mereka berikan.
“Tuan Zayn.” Sapa Violet.
“Iya sayang?” Sahutnya lalu mendongak.
Cup~
Violet cium kening Zayn lalu pria itu pun tersenyum.
“Kamu sudah tidak benci melihat ku lagi?” Tanya Zayn.
“Terkadang, tiba-tiba aku sangat muak melihat anda. Tapi, sekarang perasaan itu sudah tidak aku rasakan.” Sahutnya seraya ia membelai manja rambut suaminya.
“Itu bagus sayang.” Ucap Zayn lalu ia rebahkan kepalanya di perut Violet.
“Anda sedang apa?” Tanya Violet.
“Anak kita semakin aktif di dalam.” Ucap Zayn.
Zayn Keenan tersenyum lalu bangkit. Ia mendekat, mengelus pipi Violet dan turun ke bibirnya yang kering dan tidak memiliki warna.
“Kamu pucat. Apa yang kamu rasakan? Jika tidak nyaman, bicara saja pada ku sayang.” Pinta Zayn Keenan.
“Entahlah, terkadang aku merasa mengambang dan semua yang ada di dekat ku berputar.” Sahutnya.
“Maafkan aku dan anak ku, sayang.” Ucap Zayn lalu memeluknya sangat erat.
“Untuk apa minta maaf? Aku senang tuan Zayn, aku bahkan sudah tidak sabar menanti anak kita lahir.” Sahut Violet, ia merebahkan kepala di ketiak suaminya, duduk bersandar bersama menatap indahnya langit malam kota Seoul.
🍁
Sedangkan di kediaman Joe Nathan. Ia sedang melakukan panggilan telpon pada seseorang yang di sebutnya sebagai Sekertaris Bian. Sama-samar Selly mendengar percakapan mereka karena Joe sedang berada di dalam kamarnya.
“Iya, aku punya tugas untuk mu. Datanglah ke rumah malam ini.” Ucapnya.
“Sekertaris Bian? Apa mungkin dia adalah orang yang ayah masukkan ke dalam perusahaan Joe Nathan? Sepertinya nama itu tidak asing bagi ku.” Batin Selly.
Diam-diam ke dua orang tua Sellya Nara memasukkan beberapa orang kepercayaan mereka untuk menjadi bagian di dalam lingkaran perusahaan yang sedang Joe Nathan pimpin. Mungkin saja, mereka melakukan itu dengan maksud tertentu.
Dan diam-diam, Joe juga tahu latar belakang orang-orang itu. Maka dia akan menjadikan mereka orang-orang penting di perusahaan yang sedang di bangunnya untuk mencari tahu, apa motif di belakang semua itu.
“Tuan John dan nyonya Renata, aku akan ikut bermain di dalam permainan kalian.” Batin Joe Nathan.
“Joe.” Panggil Selly dan Joe pun menoleh. Ia mendekat sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
“Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Tanya Joe Nathan.
“Tidak, aku hanya…”
“Jika begitu tidurlah. Aku akan menemui orang ku.” Ucap Joe lalu ia tarik selimut untuk menyelimuti Selly yang mulai berbaring.
Sellya pun hanya patuh. Sejujurnya, sangat banyak yang ingin ia bicarakan pada pria tampan itu. Tapi, ia tidak mampu dan takut akan merusak suasana hati Joe jika terlalu banyak bicara dan bertanya padanya.
“Kenapa Joe memanggil orang itu malam-malam begini?” Batin Selly.
Tidak butuh waktu lama Sekertaris Bian pun datang. Ia masuk ke dalam rumah tuan muda itu dengan di pandu oleh kepala pelayan menuju ruang kerja tuannya.
Tok… tok…
Dia mengetuk pintu lalu masuk. Joe Nathan yang sedang duduk di kursinya menatap ke luar jendela lantas berputar dan menjadikan sepasang tangannya sebagi tumpuan di atas meja.
“Anda memanggil saya tuan?” Ucap Sekertaris Bian.
“Iya. Seperti yang kau tahu. Aku berencana merubah nama perusahaan property ku.” Sahutnya.
“Apa anda sudah memutuskan?”
“Iya, aku akan merubah namanya dari King Property menjadi Violet Proprty.”
“Violet Proprty?”
“Kau urus semua persyaratan perubahan nama itu sesuai peraturan yang berlaku.” Perintahnya.
“Tapi…”
“Dan satu lagi. Semua Asset yang aku milikki. Rubah nama kepemilikannya dari Joe Nathan menjadi Violet Grizelle.”
“Semua Asset yang anda milikki? Itu berarti mencakup Apartment, Hotel, lahan, mobil dan rumah?” Tanya sekertaris Bian. Ia menjadi gagap mendengarnya.
“Iya, jika aku bilang semua. Maka semua yang semula adalah nama ku. Kau harus merubahnya dengan nama Violet Grizelle, tidak perduli serumit atau semahal apa aku harus mengeluarkan biaya. Kau hanya perlu mengurusnya dengan baik.”
“Tapi tuan… Jika semua Asset anda alihkan kepemilikkannya pada nona Violet Grizelle. Lalu, bagimana dengan istri anda?”
“Semua keputusan ada di tangan ku. Kau pikir? Kau memiliki hak untuk bertanya sejauh itu?”
“Tidak. Saya minta maaf.”
“Sudah tidak ada perintah lainnya. Sekarang kau bisa keluar dan urus semua sesuai perintah ku.”
“Baik tuan.” Sahutnya merunduk sopan lalu pergi.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......