Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Pertarungan




Craaang!


"Aah!" Teriak Sellya ketika para pembunuh itu menghancurkan seluruh kaca mobil Joe Nathan hingga percikan kaca menghujani dirinya dan suaminya. "Aku takut Joe!" Ucapnya sambil memeluk tangan Joe Nathan semakin erat.


"Minggir!" Sahut Joe Nathan seraya menghempaskan istrinya lalu membuka pintu.


"Tidak! Jangan keluar Joe." Pinta Sellya, ia segera meraih pergelangan tangan Joe Nathan dengan ke dua tangannya, menatapnya sendu sambil menggelengkan kepala.


"Kau mau mati konyol?!" Tanya Joe Nathan lalu menghempaskannya lagi.


Joe Nathan keluar dari dalam mobilnya dan para pembunuh itu tertawa menatapnya. Mereka memutarinya lalu melayangkan sabetan tongkat besinya tanpa rasa ragu.


Pertarungan pun terjadi, di mana 5 orang menyerang dari segala arah dengan tujuan untuk menyiksanya hingga mati.


Pukulan dan tendangan tidak ter-elakkan, membuat Joe Nathan terluka hingga mengeluarkan banyak darah. Kini para pembunuh itu berhasil menahannya, mereka tertawa karena Joe Nathan tidak akan bisa melawan lagi setelah ke dua pergelangan tangannya terbelenggu.


"Hahahaha..."


Suara tawa para bajing*an itu menyulut emosinya, membuat Joe Nathan menarik satu sudut bibirnya lalu memberontak secara mengejutkan. Pria itu telah berhasil membuat mereka terpental hingga memegangi dada merasa kesakitan setelah Joe Nathan menyerang bagian inti dari diri mereka, yaitu jantungnya.


"Joe Awas!" Teriak Sellya hingga refleks Joe Nathan memutar tubuh sambil menjulurkan tangannya ke atas, membuat pisau di genggaman tangan pembunuh itu berhasil melepaskan belenggunya. Ya, kali ini mereka menggunakan pisau dan tidak menutup kemungkinan mereka juga akan menggunakan senjata api pada akhirnya. Joe Nathan harus waspada atas segala kemungkinan itu.


"An*jing!" Ucap pembunuh itu lalu menyerangnya lagi.


Dengan kemampuan Taekwondo yang Joe Nathan kuasai. Dengan mudah ia mampu melumpuhkan lawannya, mematahkan tulang-tulang mereka hingga tidak akan bisa berdiri dengan ke dua kakinya lagi selama sisa hidupnya.


"Aaahh!"


Bajing*an itu mengerang kesakitan memegangi kakinya dan bajing*an yang lain sudah terkapar namun ada juga yang bangkit kembali\, mereka mendekat sambil mengayun tongkat besi panjang di genggaman tangan.


Joe Nathan menatapnya tajam sangat mematikan, ia gertakkan giginya sambil bersiap, waspada akan segala serangan yang akan melumpuhkannya.


Braakk!


"Ah! Joe!" Teriak Sellya.


Joe Nathan terlempar hingga ambruk di atas kap mobilnya, membuat Sellya menjerit melihat suaminya melemah dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Uhuk! Uhuk!"


Joe Nathan bangkit lalu menyeka darah yang tersisa di sudut bibirnya, pria itu tersenyum seolah tidak akan mau mengalah dan memberikan nyawanya pada bajing*an seperti mereka.


"Kepa*rat!" Teriak Joe Nathan lalu bangkit, dia berdiri di atas kap mobilnya lalu melompat ke arah pembunuh sambil menggepal tangan hingga tinjunya mendarat tepat di wajah lawan yang saat ini ambruk di kakinya.


Joe Nathan injak leher pembunuh itu sambil menggertakkan gigi, ia menggilasnya bagaikan ingin meremukkannya. "Katakan selamat tinggal pada suara mu, karena setelah ini, kau tidak akan pernah bisa berbicara lagi bajing*an." Ucap Joe Nathan, ia tersenyum picik, merasa sangat puas melihat para pembunuh itu merasakan kesakitan.


DOR!


Satu peluruh berhasil menembus lengan Joe Nathan yang lengah. Satu dari mereka yang sudah tidak bergerak kini bangkit dengan senyum mengerikan di wajahnya. Meski sesungguhnya peluruh itu meleset karena Joe Nathan berhasil menghindar. Pembunuh yang semula membidikkan senjata apinya ke arah jantung Joe Nathan, ia mulai membidiknya lagi di posisi yang sama, jantungnya.


"Pemuda yang tangguh." Ucap pembunuh itu sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. Ia terus mendekat dengan senjata api yang mengarah tepat di posisi jantung Joe Nathan. "Hahaha..."


Hanya diam dengan kilap sepasang bola mata tajam di kegelapan, Joe Nathan kembali menyeringai.


DOR!


"Katakan!" Ucap Joe Nathan, ia menarik kerah pakaian pembunuh itu lalu meninju wajahnya lagi sampai hancur dan penuhi darah. "Siapa tuan mu?!" Tanyanya dengan wajah merah serta urat yang menonjol, menjulur ke leher sampai ke tangan kokohnya yang berselimut noda merah.


Pembunuh itu hanya diam saja dan Joe Nathan tidak akan berhenti meninju wajahnya sampai ia mau membuka mulut. "Katakan!" Perintahnya.


"Ka-kami, utusan, tu-tuan be-"


DOR!


"Shit!" Teriak Joe Nathan ketika seseorang telah membunuh pria itu sebelum ia mendapatkan jawaban.


Joe hempaskan mayat itu lalu menoleh ke sisi kanan. Di sana ia melihat wajah dingin seorang pria dengan senjata api di genggaman tangannya.


"Axel Zayn." Gumam Joe Nathan.


Prakk!


Axel lemparkan senjata api nya tepat di kaki Joe Nathan yang menatapnya sangat tajam. Ia tersenyum sambil menyelipkan ke dua tangan ke dalam saku celananya.


"Kemampuan Taekwondo yang saaaangat mengagumkan. Sepertinya, aku, tertarik belajar dari mu... Joe Nathan." Ucap Axel.


Joe Nathan menggertakkan gigi ketika ia melihat ekspresi aneh seorang Axel Zayn. Ia mendekat lalu meraih kerah pakaian Axel hingga tatapan mata tajam ke duanya saling beradu. Membuat malam itu terasa semakin dingin karena keangkuhan pria itu.


"Kenapa kau membunuhnya sebelum aku mendapatkan jawaban darinya?!" Tanya Joe Nathan penuh penekanan.


Plakk!


Axel Zayn singkirkan tangan Joe Nathan dari kerah pakaiannya. Ia tersenyum sambil merapikan dasi lalu senyuman itu lenyap begitu saja tergantikan oleh dingin tatapan matanya.


Axel Zayn melangkah sambil menyelipkan ke dua telapak tangan di saku celananya lagi. "Belakangan sangat membosankan, aku butuh hiburan." Sahut Axel lalu tersenyum picik.


"Apa maksud mu Axel Zayn?!" Tanya Joe Nathan.


Axel menoleh padanya. "Apa yang akan kau lakukan jika mereka semua adalah orang ku?" Tanya Axel.


"Aku akan membunuh mu!" Sahut Joe Nathan lalu kepalan tangan berselimut darah kini hanya berjarak beberapa senti meter saja dari wajah Axel Zayn.


Axel Zayn menatap tangan itu, lalu melirik dan tersenyum lagi ketika ia melihat Joe Nathan terlihat sangat serius. "Kenapa kau berhenti? Cih!"


"Karena. Bukan kau orangnya." Sahut Joe Nathan lalu pergi. "Polisi akan memberi ku jawaban." Ucap Joe Nathan, sejenak ia terhenti lalu melanjutkan langkahnya kembali.


"Kau akan kecewa dengan jawabannya." Sahut Axel, ia tersenyum lalu pergi setelah Joe Nathan memutar tubuh untuk menatapnya lagi.


Joe Nathan hanya diam menatap kepergian mobil mewah milik Axel Zayn. Kali ini ia bisa lolos dari kematian lagi untuk ke sekian kali. Maka, kematian demi kematian berikutnya mungkin akan terus mengintainya sampai ia benar-benar telah mati.


"Mungkin kah?" Batin Joe Nathan.


Sosok pria tangguh sekilas terlintas di pikirannya. "Mungkin kah? Dia orangnya?" Gumam Joe Nathan.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......