Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Kejutan




“Aku memaafkan mu ayah.” Ucap Axel lalu ia membuka mata.


“Kau menangis kakak.” Ucap Violet. Ia menyeka air mata Axel lalu memekuk ke dua pria itu sangat erat. “Aku sangat menyayangi kalian.”


Kini mereka mulai bangkit untuk pulang. Seperti yang telah di sepakati semalam antara Axel dan Zayn, jika mereka akan pergi ke One Zayn Group sepulang dari makam.


Sesampainya di rumah Violet pun keluar dari dalam mobil setelah Zayn membukakan pintu untuknya.


“Aku punya kejutan untuk mu.” Ucap Zayn.


“Kejutan apa?” Tanya Violet.


Tanpa menjawab Zayn Keenan pun mengulurkan tangan ke arah pintu utama kediamannya. Violet menoleh, dan dia tersenyum.


“Nana?” Ucapnya pada wanita yang saat ini berdiri tegap di sana, tersenyum padanya. “Dia tidak berubah, masih sangat kaku.” Ucap Violet seraya ia kembali menatap suaminya.


“Selama kamu di kota ini, dia akan menjaga mu lagi.”


“Bukankah anda yang akan menjaga ku tuan Zayn?”


“Iya, hanya saja, sesekali aku pasti kembali ke Amerika.”


“Jika begitu percayalah pada Nana.”


“Iya, sekarang istirahatlah di dalam. Aku akan pergi bersama Axel.” Ucap Zayn Keenan seraya ia mencium kening Violet.


“Iya, hati-hati di jalan.” Sahut Violet lalu melambaikan tangan.


Zayn Keenan dan Axel Zayn telah pergi. Tinggal lah Violet berdiri sendiri di sana. Ia lantas menoleh ketika suara langkah kaki kian jelas terdengar di telinganya.


“Kita berjumpa lagi nona.” Ucap Nana lalu senyuman terlukis di wajahnya yang datar.


“Kamu masih hidup? … Nana.” Sahut Violet lalu membalas senyumannya.


“Anda sedang hamil sekarang. Apa boleh aku menyentuh perut anda?” Tanya Nana.


“Tentu saja.” Sahut Violet.


Nana tersenyum lalu menekuk lutut di hadapannya. Ia pegang perut Violet dengan ke dua tangannya lalu ia rebahkan kepalanya di sana, ingin merasakan gerak bayi nonannya yang sangat aktif.


“Setelah apa yang pernah aku lalui bersama anda dulu. Aku tidak percaya jika anda menerima tuan besar pada akhirnya.” Ucap Nana lalu ia bangkit kembali. “Bahkan, tuan junior akan segera hadir di tengah-tengah kalian.”


“Semua bisa berubah seiring berjalannya waktu.” Sahut Violet lalu ia melangkah di ikuti bodyguardnya. “Terakhir kali kita bertemu. Tuan Zayn memukuli mu dan aku di usir dari rumah. Lalu, apa yang terjadi pada mu setelah itu?”


“Jeon mengembalikan aku ke markas untuk menerima hukuman cambuk.” Sahut Nana.


“Apa?! Apa … itu perintah dari tuan Zayn?”


“Tentu saja. Tuan besar Zayn Keenan hanya lembut kepada anda nona, dan berbeda saat berhadapan dengan kami anak buahnya.”


“Dia pernah menghajar ku juga.” Sahut Violet.


“Percaya atau tidak. Apa yang tuan lakukan pada anda. Itu hanya sebagian kecil dari kekejamannya.”


“Kau sedang menjelekan suami ku?” Tanya Violet.


“Apa sekarang tuan ku baik di mata anda?” Sahut Nana lalu menatapnya.


Mendengar sahutan berisi pertanyaan itu membuat Violet melempar pandangannya ke depan lagi. Ia kembali melangkah lalu senyum manis terlukis di wajahnya.


“Anda tersenyum?”


“Terkadang dia memang kasar pada ku. Tapi, kasih sayang yang dia berikan jauh lebih banyak. Menurut ku itu sudah cukup baik, dan… sedikit manis.” Sahut Violet, tersenyum-senyum mengingat suaminya.


“Sedikit manis? Cih! Sepertinya anda telah luluh padanya.” Ucap Nana.


“Sepertinya begitu.”


Masuk ke dalam kamar. Nana lantas menyusun bantal di atas tempat tidur nonannya dan Violet duduk bersandar di sana.


“Anda tidak terlihat baik nona.” Ucap Nana.


“Aku seperti mengambang. Pusing sekali.” Sahutnya.


“Istirahatlah dulu.”


Nana tarik selimut untuk menyelimuti nonannya. Ia lantas keluar dari dalam kamar lalu menuju dapur untuk menemui kepala pelayan.


“Nona.” Sapa kepala pelayan, ia mendekat.


“Nona Violet sudah kembali. Buatkan susu untuknya sekarang.” Perintah Nana.


“Baik.” Sahut kepala pelayan lalu bergegas.


Setelah beberapa lama Nana kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi segelas susu untuk ibu hamil. Violet yang saat ini masih terjaga pun memperhatikannya.


“Iya.” Sahut Nana lalu ia letakkan nampan di atas nakas. “Hanya saat tuan memberi perintah.”


“Uhuk! Uhuk!”


“Hati-hati Nona.”


Violet tersedak mendengarnya. “Maksud mu? Sumami ku pernah memberi perintah untuk membunuh seseorang?” Tanya Violet.


“Hanya untuk menyingkirkan kerikil yang menghalangi jalannya.” Sahut Nana lalu ia menerima gelas kosong dari nonannya untuk ia simpan di atas nakas.


“Akh! Nana. Kepala ku semakin pusing. Aku mau tidur sebentar.” Ucap Violet, ia kembali merebahkan tubuhnya dan Nana menyelimutinya lagi.


“Selamat tidur nona.” Ucap Nana. Ia raih nampan berisi gelas kosong bekas minum nonannya lalu keluar dari dalam kamar.


“Tuan Zayn, sejenak aku lupa jika anda adalah orang jahat. Pantas anda sangat di segani dan di takuti banyak orang. Di mata mereka, anda adalah orang yang sangat mengerikan. Tapi, kenapa di mata ku anda tidak terlihat seperti itu sekarang? Apakah benar yang Nana katakan? Jika anda hanya baik pada ku dan apa yang anda lakukan selama ini hanya sebagian kecil saja. Akh! Rasa takut kembali menghantui ku karena mengingat sosok anda dulu.” Gumam Violet lalu ia memejamkan mata sangat kuat.


“Tidur dan lupakan!”


🍁


Sedangkan di One Zayn Group. Ben menemui Mikka di dalam ruangannya atas perintah dari Axel Zayn.


“Kau sedang sibuk?” Tanya Ben.


“Tidak. Laporan tutup buku bulan ini sudah aku selesaikan.” Sahutnya.


“Kau tahu hari ini tuan besar Zayn Keenan datang berkunjung?”


“Iya, tadi pagi aku ikut menyambutnya. Dari dulu, tatapan mata itu selalu tajam melihat ku. Aku mulai berpikir-”


“Tidak usah di pikirkan.”


“Maksud mu?”


“Tatapan matanya memang setajam itu pada semua orang.”


“Tapi aku wanita.”


“Mau kau itu wanita atau pun pria. Dia memang terlihat mengerikan karena tidak pandang bulu.”


“Hah~ sudahlah. Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Tumben sekali kau menemui ku, Ben?”


“Aku datang atas perintah Presdir.”


“Axel? Dia memanggil ku?” Tanya Mikka, ia terlihat sangat bersemangat.


“Bukan dia yang memanggil mu.”


“Langsung saja ke intinya?! Kenapa kau berbelit-belit?!”


“Karena kau akan menangis. Sebagai rekan kerja yang baik, tentu saja aku harus menghibur mu dulu.” Sahut Ben, ia tersenyum picik setelah mengucapkannya.


“Seharusnya aku mengingat jika selama ini kau memang tidak menyukai ku. Tidak ada bedanya dengan tuan mu.”


“Berhentilah mengoceh dan cepat temui CEO di ruang VVIP.” Sahut Ben lalu bergegas pergi.


“Apa?! CEO?”


Mikka langsung berlari dan meraih tangan Ben. “Maksud mu tuan besar Zayn Keenan memanggil ku?”


“Kau terlihat ketakutan.”


“Tidak! Mana mungkin aku takut untuk menemui calon ayah mertua ku?!” Sahutnya.


“Tangan mu sangat dingin.”


Mikka lantas menarik ke dua tangannya. Ia mainkan kuku dari kedua tangan itu seolah benar apa yang Ben ucapkan. Dia memang ketakutan.


“Kau gemetar. Cih!” Ucap Ben.


“Apa kau tahu sesuatu?” Tanya Mikka. Ia raih kembali tangan Ben dengan sepasang telapak tangan dinginnya. “Maksud ku, apa yang akan tuan besar Zayn Keenan bicarakan dengan ku? Kenapa? Kenapa tiba-tiba dia memanggil ku?”


“Aku tidak tahu.” Sahut Ben lalu menghempaskan tangan wanita itu untuk pergi lagi.


“Ben.” Panggil Mikka. Ia berdiri di sana, berharap Ben mau membantunya.


“Kau hanya perlu bersiap.” Sahut Ben tanpa menoleh, lalu pergi.


“Ada apa?” Batin Mikka.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......