
Plakkk!
Hanya diam Joe Nathan menerima pukulan dari ibundanya. Ia tidak memegangi wajahnya meski saat ini terlihat sangat merah.
"Anak keras kepala! Mommy tidak menyangka telah melahirkan putra yang tidak bertanggung jawab seperti mu!" Teriak tante Rea seraya ia menunjuk wajah Joe Nathan dengan telunjuknya.
Di malam hari wanita paruh baya itu mengunjungi putranya dengan membawa amarah yang telah ia bawa sejak berada di rumah sakit. Tepatnya, saat Sellya Nara merengek padanya dan memohon agar Joe mau datang dan menemani malamnya di sana.
"Jadi mommy datang hanya untuk ini?" Tanya Joe. Ia sangat dingin menatap ibundanya sendiri. "Hufhh..." Joe menghela nafas dalam, lalu ia hembuskan kembali penuh kecewa.
"Mau kemana?" Tanya nyonya Rea.
"Tidur." Sahutnya.
"Tidur? Joe! ... Joe Nathan!"
Gelapnya rumah mewah Joe Nathan hanya menampakkan kemeja putih yang di sinari sinar bintang dan rembulan yang masuk melalui kaca jendela kediamannya. Nyonya Rea hanya diam menatapnya penuh kecewa. Ia bahkan belum mampu membuka sepasang kepalan tangannya saat menatap putranya terus menaiki satu per satu undakan anak tangga.
Craaanng!
"Katakan apa pun yang mommy inginkan dari ku. Kecuali itu." Ucap Joe lalu terhenti dan menoleh.
"Tidak ada lagi yang mommy inginkan dari mu Joe Nathan! Kecuali, Mommy ingin menimang cucu dari Sellya." Sahutnya.
"Selamat malam." Sahut Joe lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Braakkk!!
Nyonya Rea pun tertunduk seraya ia menatap telapak tangan yang memerah akhibat memukul wajah putranya sendiri. Bagaimana mungkin ia melakukannya kali ini?
"Huhuhu... Maafkan mommy Joe. Mommy tidak bermaksud..."
Joe Nathan mendengar tangisan itu. Ia lantas menghampiri balkon kamarnya dan melihat wanita itu telah pergi dengan mobil mewahnya. Entah kemana? Mungkin, ia akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Sellya sebagai gantinya, karena ia tidak mampu membujuk putranya yang sangat keras seperti batu.
"Maaf mommy, sampai kapan pun Sellya tidak akan pernah memberikan cucu untuk mu. Karena, dia tidak akan pernah mengandung anak ku."
Memutar tubuh. Joe Nathan lantas menyalakan korek apinya lagi untuk menikmati sebatang rokok yang telah biasa ia lakukan setiap malam. tepatnya, satu bungkus rokok setiap malam.
"Bagaimana cara ku agar bisa merebut Violet kembali? Apa? Aku harus membunuh Zayn Keenan..."
"Tapi, bagaimana jika dia tahu aku membunuhnya? Apa Violet akan sudi menghabiskan sisa hidupnya bersama pria keji seperti ku?"
"Tidak. Dia akan membenci ku jika aku membunuh suaminya."
🍁
Braakkk!
Pintu kamarnya tertutup rapat bahkan terkunci ketika baru saja Violet membanting pintu, ia mengusir suaminya dari dalam kamar karena alasan yang sangat tidak jelas!
"Haahh! Aku bisa gila!"
Melihat tuan besarnya keluar dari dalam kamar hanya dengan mengenakan jubah tidur dan terlihat sangat marah. Jeon lantas menghampirinya.
"Tuan, apa yang terjadi?" Tanya Jeon.
"Istri ku sedang demam!" Sahutnya marah.
"Tapi dokter sudah memeriksanya, seharusnya anda bisa tenang sekarang."
"Bagaimna bisa tenang?! Aku ingin menjaganya tapi dia bilang benci melihat ku! Dia benci mencium aroma tubuh ku!"
"A-itu, anu tuan, biasanya saat trimester pertama ibu hamil akan sangat sensitif."
"Aku tahu!"
"Lalu kenapa tuan marah?"
"Aku marah karena tidak bisa menyentuhnya selama beberapa minggu terakhir!" Sahut Zayn Keenan seraya ia raih dasi Jeon sekuat tenaganya. "Wanita itu. dia lebih mengerikan daripada aku saat aku sentuh!"
"Tu-tuan, tolong tenang. Ak-aku tidak bisa bernafas."
Braakkk!!
"Haahh! Bagaimana aku menghukum wanita itu." Ucap Zayn Keenan seraya ia menghempaskan Jeon lalu pergi dengan setelan jubah tidurnya.
"Uhuk! uhuk!"
Jeon sungguh kesulitan bernafas beberapa minggu ini karena tuannya yang sering melampiaskan amarah padanya. Tapi, setidaknya, sekarang Jeon tahu alasan apa di balik sikap kasar pria itu kembali seperti dulu dalam sekejap mata.
"Pantas saja belakangan ini tuan Zayn Keenan kembali menjadi mengerikan seperti dulu. Ternyata, Nona Violet tidak memberinya jatah makan malam. Hehee~ lucu sekali..."
Deg!
"Dia tahu aku mentertawainya? padahal dia terus berjalan, menatap ke depan." Gumam Jeon lalu bergegas menuruni anak tangga untuk menyusul tuannya.
"Siapkan mobil."
"Mobil? ... Baik."
Meninggalkan kediamannya. Di dalam mobil itu Jeon hanya melirik dan memperhatikan tuannya dari kaca spion tengah.
"Pantas saja aku merinding sejak tadi. Tuan? Barusan dia marah-marah dan sekarang senyum-senyum sendiri?"
Menyadari akan sepasang bola mata telah mengintainya. Jeon pun tersentak saat tatapan tajam Zayn Keenan kini telah menatap matanyanya melalui kaca spion tengah.
"Maaf tuan Zayn."
"Katakan." Sahutnya dengan tatapan dingin.
"Katakan? Katakan apa tuan?"
"Bagaimana cara merayu wanita muda seperti istri ku? Apa aku harus kembali dengan membawa buket bunga mawar merah untuknya?"
"Ehmm... Anda bilang nona tidak menyukai aroma tubuh anda?"
"Iya."
"Aku pikir. Nona akan melemparkan buket bunga itu ke dalam tong sampah tepat di hadapan anda tuan."
"Kenapa?! Kau meremehkan aku?!"
"Tidak! Bukan begitu. Hanya saja, hari ini, bukankah anda mengenakan parfume rose."
"Haiiiss~ Kenapa aku melupakan itu? Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membujuknya? Kita sama-sama pria. Kau pasti tahu bagaimana rasanya menahan itu seperti apa? Akh! Aku mulai frustasi!"
"A-anuh, apa, nona bahkan tidak mau membantu anda mengatasi itu?"
"Bagaimana dia bisa membantu mengatasi itu?! Dia bahkan bilang "Jijik" Saat melihatnya!"
"Aku mengerti~ anda pasti sangat kesulitan dan gelisah tuan." Sahut Jeon seraya menghela nafas diam-diam.
"Sebelumnya dia tidak seperti ini." Gumamnya.
"Kalau samapi seperti itu. Lalu? apa yang membuat tuan tersenyum tadi?" Gumam Jeon.
"Itu karena dia sangat manis! Sampai-sampai, aku menurut saja saat dia mengusir ku keluar dari dalam kamar... Akh! Aku ingin segera melihat anak ku."
"Agar?"
"Tentu saja agar aku bisa menyentuh ibunya lagi! ... Sudahlah."
"Sekarang kita kemana?" Tanya Jeon seraya ia menahan tawa yang menggelitik perutnya.
"Restoran K&Y."
"Anda belum makan tuan?"
"Tidak. Bukan untuk ku."
"Apa untuk nona?"
"Iya, belakangan ini dia suka makan. Jika begitu aku akan membelikannya banyak makanan yang enak."
"Anda sangat perhatian."
"Tentu saja. Di negara asing ini, baginya, siapa yang akan memperhatikannya jika bukan aku? Suaminya."
"Tapi, anda?"
"Ada apa dengan ku?"
"Apa anda akan masuk ke dalam restoran dengan setelan jubah tidur itu?" Tanya Jeon ragu-ragu.
"Akh! Ini semua gara-gara wanita itu! Seharusnya dia memberi ku kesempatan untuk mengganti pakaian! Bukan malah mendorong ku keluar saat itu juga!"
"Dasar tuan ini. Dia memiliki sisi seperti itu juga rupanya." Batin Jeon.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......