Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
Sebuah Nama




Seperti yang Zayn katakan pada Violet sebelum mereka pergi berkencan jika malam ini mereka tidak akan pulang ke rumah.


Pukul 22:55 Violet keluar dari dalam kamar hotel tanpa sepengetahuan Zayn Keenan untuk ia menemui Jeon di dekat lift yang terletak tidak jauh dari kamarnya.


“Tuan Jeon.” Sapa Violet.


“Nona. Ini cake yang anda minta.” Sahut Jeon lalu ia menyerahkan cake itu pada Violet. “Dan ini kado anda.”


“Terimakasih tuan.”


“Iya nona.”


“Jika begitu aku akan kembali sekarang sebelum tuan Zayn bangun.”


“Baik, silahkan nona.”


Tersenyum kepada Jeon yang juga membalas senyumannya. Violet lantas kembali dengan membawa sebuah cake berukuran medium dan kotak kado berukuran small.


Dengan langkah ringannya ia sangat berhati-hati saat membuka pintu kamar. Masih gelap seperti saat ia keluar tadi. Maka wanita cantik itu pun merasa lega dan segera masuk lalu menutup pintu secara perlahan agar ia tidak menimbulkan suara meski hanya sedikit saja.


Ctakk!!


“Darimana?”


Terkejut ketika lampu kamar menyala seraya suara berat itu terdengar di telinganya. Tanpa sengaja Violet menjatuhkan Cake nya hingga membuat ke duanya membeku menatap objek yang sama.


Panik yang menguasai diri Violet kini tidak lagi nampak. Melainkan kesedihan lah yang terlihat dari raut wajahnya saat ini. Zayn terdiam di kejauhan ketika ia melihat istrinya menekuk lutut lalu meraih cake yang jatuh tengkurap di dekat sepasang telapak kakinya.


“Hancur…”


Maksud hati ingin memberi kejutan untuk merayakan hari kelahiran suaminya. Violet pun hanya diam ketika ia melihat cake itu tidak berbentuk lagi dan tidak dapat di makan sama sekali.


“Bagaimana ini?”


Merasa jika dirinya telah gagal. Sepasang bola mata Violet pun memerah dan berkaca seraya ia mencicipi cake yang mengotori jemarinya.


Sepasang kaki berbalut sandal kini terhenti tepat di hadapannya yang terus menundukkan kepala. Wanita muda itu lantas mulai mengangkat pandangannya ketika Zayn Keenan kini menekuk lutut sama sepertinya.


“Selamat ulang tahun tuan Zayn.” Ucap Violet lalu air matanya terjatuh membasahi ke dua pipinya.


Tanpa kata Zayn Keenan hanya diam menatapnya. Ia ulurkan tangan untuk menggenggam pergelangan tangan Violet agar berhenti mencicipi cream cake yang sudah jatuh ke lantai.


“Terimakasih sayang.” Sahut Zayn Keenan lalu ia cicipi cream cake yang tersisa di jemari tangan istrinya.


“Jangan tuan Zayn.” Pinta Violet seraya ia berusaha menarik tangannya untuk menghentikannya namun Zayn tidak berniat untuk melepaskan genggaman tangannya.


Menjilati jemari tangan istrinya sampai bersih. Zayn lantas berhenti lalu sepasang bola matanya kini menatapnya lagi. “Cake nya enak sayang. Aku akan memakannya sampai habis.” Ucap Zayn lalu ia merapihkan cake yang saat ini tergeletak di lantai.


Hanya diam seorang Violet memperhatikan apa yang di lakukan Suaminya saat ini. Ia pun bangkit saat melihat Zayn tersenyum padanya lalu membawa cake itu untuk ia letakkan di atas meja di dalam kamar hotel mereka.


Zayn duduk di sofa lalu ia mulai menyantap cake hancur itu tanpa ragu. Violet yang menyaksikannya dari kejauhan lantas mendekat tanpa kata seraya ia hanya diam berdiri di hadapan suaminya. Hanya terpisahkan oleh sebuah meja di hadapan Zayn Keenan.


“Tuan Zayn.” Panggil Violet.


“Iya sayang?” Sahut Zayn seraya ia mengangkat pandangannya.


“Aku takut anda akan sakit perut.” Ucap Violet.


“Sakit perut? Bagaimana mungkin cake se-enak ini bisa membuat ku sakit perut? Kemarilah sayang temani aku menghabiskannya.” Sahut Zayn lalu ia menepuk-nepuk ruang kosong di sisinya.


Patuh. Violet mendekat lalu duduk di sisi Zayn seraya tatapan wanita itu masih terfukus pada lahapnya seorang Zayn Keenan menyantap cake yang telah jatuh tengkurap di lantai.


“Tidak perlu di habiskan tuan Zayn. Di pameran aku memaksa anda untuk mencicipi semua makanan yang telah ku pesan.” Ucap Violet. Dia tau jika saat ini Zayn pasti masih sangat kenyang karenanya.


Mendengarnya. Zayn Keenan lantas terhenti lalu ia menarik beberapa lembar tissue yang ada di atas meja untuk membersihkan jemari tangannya. Pria itu meletakkan tissue bekas pakainya di atas meja lalu menoleh dengan senyuman hangatnya pada Violet.


Menarik diri lalu mengangkat pandangan untuk menatap mata suaminya. Kini Violet mengulurkan tangan kanannya untuk menyeka cream cake yang tersisa di bibir Zayn seraya ia mengucap. “Selamat ulang tahun tuan Zayn. Semoga tuhan selalu memberkati anda, sehat dan Panjang umur.”


Kembali Violet menyandarkan kepala di dada Zayn Keenan. Pria itu pun mendekapnya lalu berbaring di sana. Mengelus hingga membelai rambut panjang Violet yang berbaring di atas tubuhnya.


“Semoga semua doa mu terkabulkan sayang. Karena aku pun ingin hidup lebih lama lagi untuk terus bersama mu seperti ini.” Ucap Zayn.


“Jika anda memiliki satu permintaan. Maka apa yang ingin anda minta pada sang pencipta tuan Zayn?” Tanya Violet seraya jemari tangannya memainkan jubah tidur Zayn Keenan.


“Seorang putra. Milik kita.” Sahutnya penuh harap menatap lurus ke langit-langit.


“Semoga sang pencipta mendengar dan mengabulkan harapan anda tuan Zayn. Harapan kita.” Ucap Violet.


Dalam keheningan malam penuh harap itu Violet meraih kotak kecil dari dalam saku jubah tidurnya. Diam-diam ia membukannya lalu mengangkat pandangan.


Sebuah penjepit dasi yang sangat mewah kini mampu membuat Zayn terperanjak duduk di sofa. Pria itu langsung menyambarnya ketika dalam diam Violet memperlihatkan benda kecil itu di depan matanya.


“ZV?” Gumam Zayn Keenan.


“Zayn Violet.” Sahut Violet lalu memeluknya dari samping.


Tersenyum. Zayn lantas membalas pelukan Violet seraya ia mengucap. “Terimakasih istri ku.” Dan kecupan manis kini mendarat di kening wanita manis itu.


🍁


Sedangkan di waktu dan tempat yang berbeda. Selly masuk ke dalam rumah baru yang mulai hari ini akan ia tinggali bersama dengan Joe Nathan. Ia tarik kopernya lalu seorang pelayan wanita menyapa.


“Nona Selly.”


Menoleh. Selly lantas melepaskan gagang kopernya ketika pelayan wanita di dalam rumah itu menghampirinya.


“Perkenalkan aku Rara kepala pelayan di rumah ini.” Ucapnya.


“Kepala pelayan? Aah~ aku Selly.” Sahutnya lalu mereka berjabat tangan.


“Mari saya antar anda ke kamar nona.” Ucap kepala pelayan.


“Baik.” Sahut Selly lalu membuntuti kepala pelayan yang dengan sigapnya menarik koper menuju anak tangga.


“Dimana Joe?” Tanya Selly.


“Tuan? Hari ini jadwalnya bertemu dengan seseorang di ruang pribadinya nona.”


“Seseorang? Di ruang pribadi? Di mana ruang pribadinya?”


“Iya, di sana nona.” Sahut kepala pelayan seraya ia menunjuk salah satu ruangan di lantai dua.


“Bawa koper ku kekamar dan tunggu aku di sana. Aku akan menemui Joe dulu untuk menyapanya.” Ucap Selly seraya pandangannya terus terfokus pada satu ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.


“Baik nona.”


Berpisah dengan kepala pelayan ketika kini ia telah sampai pada anak tangga yang terakhir. Selly pun mulai melangkah lamban ketika ia ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu.


“Pintunya masih sedikit terbuka. Apa mungkin di dalam bukan tamu dari perusahaan?”


Mengetuk pintu lalu masuk ketika ia melihat Joe duduk bersandar memejamkan mata di atas sofa. Selly mendekat hingga pandangannya kian jelas atas apa yang ia lihat di sana.


Seorang pria dengan sebuah alat di genggaman tangannya terlihat sangat serius mengukir sebuah nama tepat di dada sebelah kiri Joe Nathan.


“Violet?” Gumam Selly ketika nama Violet kini terukir indah di dada suaminya. Tepat di posisi jantungnya.


“Siapa yang mengizinkan mu masuk?” Tanya Joe seraya ia masih memejamkan matanya.


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......