
Tok... tok...
Axel Zayn mengetuk pintu lalu masuk. Membuat Zayn Keenan menoleh, menatap putra yang saat ini berdiri dengan wajah datar di hadapannya.
"Masalah pencabutan saham yang di lakukan Albert tempo hari, biar ayah yang membereskannya." Ucap Zayn Keenan. Ia kembali duduk di kursinya, menatap Axel Zayn yang hanya diam menatapnya.
Zayn raih secangkir kopi hangat yang tersaji di atas meja untuk ia mencicipinya. Pria itu mengerti jika kedatangan Axel Zayn menghadap, bukanlah untuk membahas tetang masalah One Zayn Group.
"Hentikan obsesi ayah untuk membunuh Joe Nathan." Ucap Axel.
"Iya, ayah akan berhenti untuk sementara waktu." Sahutnya begitu santai sambil meletakan cangkir kopinya kembali di atas meja. Zayn Keenan lantas mengangkat pandangan, ia tersenyum padanya.
"Cih!" Axel tersenyum kecewa sambil mengalihkan pandangannya. Ia lantas kembali menatap mata tajam ayahnya, terdiam.
"Kamu tahu, ayah tidak suka siapa pun mencampuri urusan pribadi ayah, Axel Zayn." Ucap Zayn Keenan, itu pertanda jika ia sedang memberinya peringatan.
"Jika Violet mengetahuinya, dia pasti akan kabur lagi dari ayah. Aku harap. Joe Nathan tidak memberitahukan masalah ini padanya." Sahut Axel.
"Jika pun Violet tahu, dia tidak akan bisa lari dari ayah. Axel Zayn, Violet tidak akan pernah bisa pergi kemana pun." Ucapnya.
"Aku pikir ayah sudah berubah, ternyata aku salah." Sahut Axel lalu pergi tanpa memberi hormat.
Melihat putranya pergi, Zayn Keenan lantas menarik satu sudut bibirnya lalu mengucap. "Ayah telah menjeratnya, maka Violet tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari ayah."
Secangkir kopi hangat lantas ia raih kembali. Zayn Keenan tersenyum penuh kemenangan akan dunia ini begitu memihak padanya. Ia cicipi lagi secangkir kopinya.
"Harta, tahta, wanita. Aku sudah memiliki semuanya dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya. Terlebih itu adalah istri ku, Violet Grizelle." Ucap Zayn Keenan.
Di waktu yang sama. Sebuah mobil mewah berwarna putih terhenti di garasi mobil kediaman Zayn Keenan. Racel Zayn keluar dari dalamnya sambil melepaskan kaca mata hitam bernilai fantastis untuk kembali menyimpannya di dalam tas.
Langakahnya tertata, penampilannya elegan dan dia sangat cantik. Racel Zayn, sebagai putri dari seorang Pengusaha kaya raya, Actress, Model sekaligus bintang iklan. Sedikit banyak Selena mengajarkannya cara berpakaian meski tidak untuk bersikap ramah kepada orang lain. Ya, sampai saat ini Racel Zayn adalah gadis angkuh.
"Ayaaah, kakaaak, aku pulaaang." Teriaknya dari lantai dasar, tepatnya, baru saja dia masuk melalui pintu utama dan langsung merebahkan tubuh di atas sofa ruang keluarga. "Capek!" Ucapnya.
Dari dalam ruang kerja Zayn Keenan menoleh ke arah pintu ketika ia mendengar suara putrinya memanggil. Pria itu bangkit lalu keluar, menatap putri cantiknya dari lantai dua lalu bergegas menemuinya.
Mendengar suara langkah kaki milik sang ayah. Racel lantas menoleh lalu berlari ke arahnya. "Ayaaah..." Sapa Racel, ia peluk tubuh kokoh Zayn Keenan yang terhenti di tangga.
"Kamu baru kembali setelah 3 hari ayah meminta mu untuk pulang?" Sahut Zayn Keenan.
"Mamah memohon agar aku tinggal sedikit lebih lama, dan aku tidak berdaya menolaknya." Ucap Racel, ia menarik diri dengan sepasang bola mata polos seperti kucing, seolah memohon agar Zayn Keenan tidak menghukumnya.
"Sudahlah." Sahutnya lalu menuju sofa ruang keluarga bersama Racel yang terus menggelendoti tangannya.
"Wanita itu di mana?" Tanya Racel. Ia duduk di sisi Zayn Keenan yang sedang menyalakan televisi dengan remote di genggaman tangan.
"Wanita itu siapa?" Sahut Zayn Keenan, ia bersandar santai namun tidak menoleh.
"Wanita hamil itu, Istri ayah." Ucapnya.
Menghela nafas dalam, Zayn Keenan menoleh dengan wajah dingin menatap putrinya. "Panggil dia mamah. Seperti kamu memanggil mamah Selena. Kenapa kamu sangat sulit di atur?" Ucapnya.
"Aku malas berdebat, aku pulang karena rindu ayah, jadi tolong jangan memarahi aku." Sahutnya lalu bersandar di sofa, memeluk tangan Zayn Keenan semakin erat.
"Ayah tahu, kamu pergi ke Australia untuk menghindarinya bukan? Meski ada ayah di rumah ini. Apa ayah harus membawa Violet kembali ke Los Angeles?" Ucap Zayn Keenan.
"Tidak. Aku mau ayah menetap sedikit lebih lama." Sahutnya.
"Kamu hanya menginginkan ayah, tapi tidak menginginkan istri ayah." Ucapnya.
"Aku mohon ayah, jangan marah ya." Sahut Racel lalu mencium pipi Zayn Keenan.
"Mamah ada di kamar. Temui dia untuk menyapanya." Perintahnya.
"Baiklah." Sahut Racel lalu meraih tas dan sebuah paper bag bawaanya.
"Hadiah untuk mamah." Sahut Racel.
"Hadiah?" Tanya Zayn, ia tersenyum.
"Iya, rujak mangga." Sahutnya.
"Gadis baik, segera temui mamah." Perintahnya lagi.
"Baik ayah." Sahut Racel lalu pergi menuju lantai dua.
"Meski sangat menyebalkan, aku tahu jika putri ku gadis yang baik." Gumam Zayn Keenan, dia terlihat sangat bahagia.
Kini Racel telah sampai di depan pintu kamar Violet. Ia tersenyum lalu mengetuknya.
Tok... tok...
Klakk!
Violet membuka pintu. "Racel?" Ia nampak terkejut melihat kehadiran gadis itu.
"Aku membawa hadiah untuk mu." Sahutnya sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa dengan cara mendorongnya di dada Violet hingga membuat Violet refleks menangkapnya.
"Hadiah?" Tanya Violet, dahinya berkerut menatap mata Racel.
"Mmm..." Sahut Racel, ia hanya mengangguk lalu pergi.
Senyum manis lantas terlukis indah di wajah Violet. Bagaimana pun, ini adalah kali pertama seorang Racel Zayn memberinya hadiah.
"Terimakasih Racel." Ucap Violet dan Racel mengangkat tangan tanpa menoleh.
Violet terlihat sangat bahagia meski hanya di beri rujak mangga oleh si gadis kaya raya di usianya yang masih sangat muda itu. Baginya, ini sebuah kemajuan dan ia akan menghargainya sekecil apa pun.
Menuruni anak tangga perlahan. Violet menemui suaminya di ruang keluarga lalu menyapa. "Tuan Zayn."
Zayn Keena menoleh lalu menggeser posisi untuk sang istri agar duduk di sisinya. "Sayang." Sahutnya lalu mengelus perut Violet.
"Racel memberi ku hadiah." Ucapnya.
"Kamu sangat senang?" Sahut Zayn Keenan, ia tersenyum saat melihat istrinya bahagia.
"Iya, aku pikir Racel mulai menyukai ku." Sahut Violet, ia lantas meletakkan paper bag nya di atas meja sambil membongkarnya. "Dia tahu aku ingin rujak mangga?" Gumam Violet.
"Kamu ingin rujak mangga? Kenapa tidak bilang pada ku sayang? Aku bisa membelikannya untuk mu." Ucap Zayn Keenan.
"Aku pikir anda akan marah jika aku makan-makanan asam, jadi aku tidak berani." Sahut Violet lalu mencicipi rujak mangga pemberian dari Racel, seolah ia tidak sabar ingin melahapnya segera.
Satu suapan rujak mangga itu di kunyahnya penuh semangat sampai perlahan kunyahanya melamban. Senyum manis di wajah Violet lenyap begitu saja, satu suapan itu mampu membuatnya terdiam tanpa kata dengan wajah yang semakin memerah.
"Sayang?" Panggil Zayn Keenan. Ia mengerutkan dahi saat melihat istrinya berhenti mengunyah dan hanya diam saja dengan wajah yang semakin merah.
"Hmm?" Sahut Violet, ia menoleh dan air mata mengalir begitu saja dari ke dua sudut mata merahnya.
Melihat air mata istrinya tiba-tiba mengalir deras. Zayn Keenan yang semula bersandar di sofa lantas bergegas meraih rujak mangga itu lalu mencicipinya. Zayn Keenan pun terdiam dengan tatapan tajam.
Braakkk!!
"Racel Zayn!!" Panggil Zayn Keenan.
Meja di hadapannya terbang saat Zayn Keenan melemparkannya hingga terbalik.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...