
“Apa?! Violet pindah ke Los Angeles?” Tanya Joe Nathan kepada seseorang yang berada di sebrang telponnya.
“Iya tuan.” Sahutnya.
Tak lagi mampu mengucap meski hanya sepatah kata. Kini tangan kanan Joe Nathan terkulai lemas hingga ponsel di dalam genggamannya terjatuh ke lantai.
“Halo tuan?”
“Haaahh!!”
Teriakan itu begitu menggema mendominasi kamar mewahnya seraya ia membasuh wajah dengan sepasang telapak tangan sangat kasar lalu bangkit dari duduk dan mulai melangkah tanpa arah. Ia frustasi! Marah dan tidak menerima keadaan ini!
“Aku mencintai mu sayang! Sejak lama aku hanya mencintai mu! Lantas? kenapa kamu harus melakukan semua ini pada ku?!”
Craaaanng!!
Suara itu terdengar berulang kali bahkan saling bersahutan. Ia lemparkan tubuhnya di atas sofa seraya kembali membasuh wajah dengan telapak tangannya.
“Bagaimana mungkin kamu pindah ke Amerika tanpa berpamitan pada ku sayang?”
Berusaha untuk tenang namun tak mampu. Menahan air mata pun kini tak lagi sanggup ia lakukan. Kini wanita yang sangat di cintainya telah di bawa pergi oleh suaminya. Apalah daya? Ketika rasa terlarang itu begitu kuat bahkan kian lama kian membesar hingga mendominasi dirinya, merubah sifatnya dan semua itu sangatlah menyiksa bagi Joe Nathan.
Termenung menatap kosong. Joe Nathan bangkit dan menghampiri jendela di dalam kamarnya. Ia buka jendela itu lalu menatap langit meski di sana sangat gelap hingga membuat satu bintang pun tak lagi nampak.
“Aku hanya mencintai mu, maka aku akan menunggu mu sayang. Aku percaya, KITA PASTI BERTEMU LAGI.”
🍁
Di pagi hari ketika langit Los Angeles mulai terang. Zayn Keenan mulai membuka sepasang kelopak matanya lalu ia menoleh ke samping dan mendapati istrinya sudah tidak berada di sisinya, di atas tempat tidur.
Kokoh tubuhnya kini mulai beranjak. Ia bangkit lalu menghampiri jendela di dalam kamar mewahnya hanya dengan bertelanjang dada.
Sraaakkk!
Suara itu mendominasi seisi kamar hingga membuat Violet yang saat ini berada di dalam kamar mandi pun menoleh kearah sumber suara itu berasal. Wanita muda berparas cantik itu pun mulai kembali menatap cermin wastafel seraya senyum manis tertoreh di wajahnya ketika ia kembali memandang noda-noda merah di sekujur tubuhnya.
Indah dan sejuk. Pemandangan pantai berpasir putih di dekat tempat tingganya itu mampu membuat seorang Zayn Keenan memejamkan matanya.
Kini pria itu tersenyum ketika sepasang telapak tangan mulai menyentuh kulitnya dari belakang, meraba kearah perut kencangnya lalu berakhir dengan lingkaran sepasang tangan lembut seorang wanita yang begitu erat memeluknya tanpa celah.
“Selamat pagi tuan Zayn.” Sapa Violet. Ia tersenyum di balik kokoh punggung suaminya lalu menyandarkan kepala di sana, memejamkan mata untuk merasakan hangat tubuh seorang Zayn Keenan.
“Pagi sayang.” Sahutnya lalu memutar tubuh dan sepasang tangannya kini melingkar di pinggang ramping Violet untuk ia menarik istrinya mendekat. Melekat menjadi satu dengannya.
Melihat tatapan mata Zayn padanya. Violet pun merasa malu hingga membuat wajahnya merona merah seraya ia menundukkan kepala di hadapannya.
“Lihat kemari sayang.” Pinta Zayn.
Mendengarnya Violet pun patuh. Ia kembali mengangkat pandangannya lalu terdiam menatap sepasang bola mata indah namun terlihat sangat mengerikan milik suaminya. Entah kenapa? Seolah ia terhipnotis akan ketampanan wajah Zayn Keenan yang kini telah ia sadari meski ketampanan pria berusia 49 tahun itu sudah melekat pada dirinya sejak kecil.
“Besok tuan Zayn ulang tahun yang ke 50. Aku harus memberinya hadiah apa? Aku ingin. Hadiah dari ku adalah yang paling special untuknya.”
“Iya sayang.” Sahutnya lalu semakin erat melingkarkan sepasang tangannya di pinggang Violet untuk mengangkat tubuh wanita muda itu lalu mendudukkanya di atas meja.
“Nanti malam. Apa kita bisa pergi berkencan yang ke dua?” Tanya Violet.
“Kencan? Tentu saja. Aku akan lebih senang jika kamu meminta kencan dengan ku setiap malam.” Sahutnya lalu gigi putih nan rapih miliknya kembali ia perlihatkan pada Violet.
Mendengarnya Violet pun tersenyum lalu mengigit bibir bawahnya sendiri. Apa yang wanita muda itu perlihatkan pada Zayn Keenan mampu membuat pria itu mengerti yang mana ia pun merasakan jika sejak tadi Violet menginginkan sesuatu darinya. Namun, Violet rupanya malu untuk memulainya. Maka ia hanya bisa diam menahan rasa sampai suaminya lah yang memulainya.
“Tuan Zayn.”
“Hmm?”
“Aku ingin mandi tapi kesulitan menggosok punggung.” Ucap Violet seraya ia mengalihkan pandangan karena tidak mampu menatap sepasang bola mata seperti elang milik suaminya lebih lama lagi.
Melihat rona merah di wajah istrinya. Zayn pun tersenyum lalu bertanya padanya. “Jadi kamu ingin aku membantu mu mandi sayang ku?”
Pertanyaan itu terdengar seperti menggodanya. Maka Violet pun mulai melingkarlan sepasang tangannya di leher Zayn untuk ia kembali menatap matanya.
“Mmm~” Sahut violet mengangguk manja seperti anak kecil dan pemandangan itu sukses membuat Zayn langsung menggendongnya.
“Kamu akan menyesali keinginan mu sayang.” Ucap Zayn lalu membawanya ke kamar mandi.
Bukannya menyesal. Violet malah tersenyum menyembunyikan wajah di dada Zayn Keenan. Ya, rencananya berhasil karena sesungguhnya di dalam kamar mandi itu Violet berencana akan membuat Zayn semakin cinta mati padanya.
🍁
Menandatangani kontrak pernikahan Bersama Selly. Joe Nathan melemparkan dokumen dan penannya di atas meja tepat di hadapan calon istrinya.
“Lihat dan kau bisa pergi dari hadapan ku sekarang.” Ucapnya.
Mencoba tenang menghadapi sikap Joe Nathan yang sangat berbeda untuk memperlakukannya. Selly tahu jika sesungguhnya pria itu dulu tidak seperti pria yang saat ini menatapnya penuh kebencian.
Kenapa? Kini Joe Nathan sangat berbeda. Ia yang dulu telah mati dan tergantikan dengan dirinya saat ini. Tatapan mata pria itu tidak lagi lembut seperti dulu melainkan kini tatapan itu terlihat setajam pedang yang mampu menebas lawan hanya dengan menatapnya.
“Aku akan mematuhi semua isi kontak ini. Joe Nathan… tolong percaya pada ku.” Ucap Selly.
Tidak mengucap sepatah kata pun. Joe Nathan lantas bangkit dari duduk dan pergi dengan membanting pintu ruang pribadinya seperti yang pernah ia lalukan pada Selly sebelumnya.
Rupanya. Joe Nathan tidak cukup mampu menghadapi segala kesulitannya selama ini. Tepatnya, semenjak Violet memutuskan untuk mencintai suaminya seorang.
Air mata pun kembali terjatuh. Selly sungguh akan patuh pada semua isi di dalam kontrak itu. tapi…
“Setidaknya. Bersikaplah sedikit lebih baik pada ku Joe Nathan.”
Itu pintanya. Tidak lah banyak. Selly hanya menginginkan Joe Natahn sedikit mereda kebencinnya saat mereka sedang bersama. Tentu harapnya tak akan sanggup ia ungkapkan mengingat secara finansial Joe Nathan telah sangat membantu perusahaan orang tuannya. Maka Selly tidak akan sanggup meminta apa pun padanya. Ia tidak mampu menuntut Joe Natahan meski hanya seujung kuku saja.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......