Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
"Aku Sedang Marah! "




Sore itu langkah kaki Violet dan Leon saling bersahutan. Entah kemana pria itu akan membawanya? yang jelas, suasana di sekitar mereka saat ini sangatlah tenang.


"Indah bukan?" Ucap Leon seraya mereka menghentikan langkah kakinya bersama.


"Iya." Sahut Violet.


Leon menoleh lalu memutar tubuh. Tapi, ia terdiam, melihat Violet hanya diam berdiri menatap matahari tenggelam di hadapannya.


"Matahari tenggelam akan lebih indah jika di lihat dari tempat ini." Ucap Leon, ia tidak dapat mengalihkan pandangannya.


"Violet." Panggil Leon.


"Hmm?" Sahut Violet lalu ia menoleh padanya, terdiam menatap dia yang begitu dalam menatap matanya.


"Apa aku boleh memotret mu? ... Kita?" Tanya Leon.


"Aku akan terlihat seperti ikan mas koki Leon Park."


"Pfftt..."


"Kamu tertawa, jika begitu aku benar?"


"Iya, benar. Hahahaha..."


Melihat Leon tertawa sampai seperti itu. Sungguh Violet pun senang melihatnya. Tapi, tiba-tiba saja senyum manis di wajah wanita itu menghilang begitu saja ketika ia melihat seseorang di balik tubuh Leon.


"Leon, aku harus pulang." Ucap Violet lalu pergi.


"Tunggu! Violet, aku belum mendapatkan potret mu." Panggil Leon seraya ia terus mengikutinya.


Hanya menunduk Violet tidak berani menoleh padanya, ia terus melangkah kian lebar dan menghilang di keramaian hingga membuat langkah kaki Leon Park terhenti seraya pandangannya terus menjelajah.


"Violet!" Panggil Leon.


"Violet!" Nama itu terucap berulang kali. Tapi, Leon tidak dapat mendengar jawaban dan ia juga tidak bisa melihat wanita itu lagi.


"Violet!"


Kecewa. Sejujurnya, Leon sangat menantikan moment ini, di mana wanita itu keluar dari sangkar emasnya lalu, dengan begitu ia bisa menemuinya.


Hanya saja, pertemuan ini terlalu singkat jika di bandingkan dengan penantiannya selama ini. Apa yang Leon harapkan?


"Aku hanya ingin bersama mu. Sedikit lebih lama Violet Grizelle." Batin Leon.


Menghentikan langkah kaki seraya tangan melambai untuk memanggil taxi. Violet kabur, bukan berarti ia takut bertemu dengan suaminya. melainkan, ia takut jika Zayn Keenan melihatnya bersama Leon Park.


"Bagaimana pun aku tidak mau tuan Zayn mengenal diri mu Leon Park. Cukup, dia mengenal Joe Nathan saja." Batin Violet.


Tidak ada satu taxi pun berhenti. Melainkan, kini sebuah mobil mewah berwarna hitam yang ia kenal telah berhenti tepat di hadapannya.


Zayn Keenan keluar dari sana dengan langkah lebar dan amarahnya. ia mendekat ke arah wanita yang langsung memeluknya sangat erat.


"Jangan marah tuan Zayn, aku hanya ingin keluar sebentar." Ucap Violet, ia memohon ampun sebelum suaminya meledak karena tingkahnya.


"Kamu selalu saja membuat ku cemas!" Sahut Zayn seraya ia menarik diri sambil memegangi ke dua lengan wanitanya. "Kamu mudah drop! bagaimana kamu berpikir keluar rumah hanya sendirian tanpa pengawalan?! Sayang!" Teriak Zayn.


"Baru kali ini aku keluar sendiri. Kenapa tuan Zayn harus semarah itu pada ku?!"


"Baru kali ini? Lalu kamu pikir akan ada lain kali?! Kamu pikir aku akan membiarkan mu-"


"Hentikan!"


Terdiam seraya saling menatap dalam. Violet lantas mengalihkan pandangan lalu pergi dari hadapan suaminya.


"Rasanya benci sekali melihat tuan Zayn." Gumamnya.


"Mau pergi kemana lagi?" Ucap Zayn lalu ia gendong tubuh Violet.


"Lepas! Turunkan aku tuan Zayn!" Teriak Violet.


Zayn Keenan tidak menggubrisnya. ia lantas memasukan wanitanya ke dalam mobil lalu meninggalkan tempat itu.


"Kamu sedang hamil. Kita sudah menantikannya sayang." Ucap Zayn seraya ia mengemudikan mobilnya. "Jangan kekanakan."


"Anda yang kekanakan." Sahutnya lalu melipat sepasang tangan di dada.


Melihat wanita itu terus menatap keluar jendela. Zayn lantas menepikan mobilnya lalu ia mencondongkan tubuh ke arah wanitanya.


Cup~


Satu kecupan manis di pipi Violet telah ia curi. Tapi, melihat wanita cantik itu masih tidak mau menatapnya. Zayn Keenan lantas meraih dagunya lalu ia cium paksa wanitanya di sana.


Seperti itu cara Zayn Keenan menjinakan istri kecilnya yang manis. sejauh ini, Violet tidak bisa melepaskan diri dari jerat suaminya dan pada akhirnya ia akan melemah dan patuh padanya.


"Menyingkirlah tuan Zayn! Aku sedang marah!" Ucap Violet seraya ia mendorong dada suaminya sangat kasar.


Zayn Keenan pun terdiam menatapnya. Tapi, pria itu justru tersenyum padanya.


"Hahaha..."


Melihat Zayn Keenan malah tertawa saat ia sedang marah. Violet lantas melempar pandangan ke luar jendela lagi. Terdiam.


"Mana ada orang marah bicara? "Aku sedang marah!" Seperti itu? Heemm? Sayaaang." Ucap Zayn lalu ia raih dagu Violet lagi untuk menatap matanya. "Lihat kemari." Pinta Zayn Keenan.


"Tidak mau!" Sahutnya.


"Lihat kemari atau-"


"Apa? Selalu saja anda mengancam ku! atau! atau! Anda mengesalkan sekali tuan Zayn! Mmm!"


"Tutup mulut mu sayang." Batin Zayn Keenan.


Berulang kali Zayn mencium bibir istrinya di sana. Ia tidak akan berhenti sebelum Violet tersenyum padanya. Tentu saja, hal itu adalah hukuman bagi Violet karena telah berani marah-marah pada suami yang sangat mengkhawatirkannya sejak tadi.


"Tersenyum sekarang!" Perintah Zayn Keenan.


"Tidak mau!" Sahutnya.


"Tidak mau? Baik, jika begitu kita akan bermalam di sini."


"Mmm! Ah! Tuan Zayn! anda sudah gila!"


"Mmm! Hentikan! Jangan gigit lagi!"


🍁


Sedangkan di Rumah Sakit terbaik kota Seoul. Selly hanya diam menatap kosong ke langit-langit ketika dirinya kini hanya sendirian di dalam ruang inapnya.


Tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu lalu masuk. Dia adalah kepala pelayan.


"Di mana Joe Nathan?" Tanya Selly.


"Malam ini tuan akan beristirahat di rumah nona. Tuan menyuruh ku untuk menjaga anda di sini." Sahut kepala pelayan lalu mendekat dan duduk di dekat ranjang nonanya.


"Apa dia pergi ke kantor hari ini?" Tanya Selly.


"Iya, tuan beraktivitas seperti biasanya."


"Apa dia bertanya pada mu tentang perkembangan ku?"


"Tadi pagi tuan pergi pagi-pagi sekali dan saat pulang langsung masuk ke dalam kamar. Tuan tidak bertanya tentang nona Selly. Mungkin, dia sedang lelah."


Mendengar itu Selly pun terdiam lagi. Sunnguh! dia tidak mau bertanya lebih banyak karena, ia tahu, jika jawabannya pasti tidak akan sesuai dengan harapannya.


"Aku sedang sakit Joe Nathan. Tapi kamu bahkan tidak datang untuk menengok ku hari ini. Atau hanya sekedar bertanya tentang kabar ku. Sepertinya, kamu sungguh-sungguh tidak perduli pada ku." Batin Sellya.


"Nona jangan melamun." Ucap Kepala pelayan.


"Kepala pelayan, tolong panggilkan mama ku. Beri tahu dia jika aku sakit dan, beri tahu juga pada tante Rea." Pinta Sellya.


"Nyonya Rea? Tapi, jika begitu aku akan minta izin tuan sebelum menelpon nyonya." Sahut kepala pelayan.


"Tidak perlu. Langsung saja telpon." Perintah Selly.


"Nona, tuan akan-"


"Aku nona mu."


Melihat tatapan mata Selly padanya. Kepala pelayan lantas menunduk seraya ia menjawab. "Baik."


"Telpon sekarang." Perintah Selly.


"Baik nona." Sahut kepala pelayan lalu ia bangkit sambil melakukan panggilan.


"Mau kemana? Di sini saja. aku mau memastikan kau benar-benar menghubungi tante atau tidak." Ucap Selly.


"B-Baik." Sahut kepala pelayan lalu kembali duduk di kursinya. "Halo Nyonya..."


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......